Peristiwa

Kisah Inspiratif: Hidayah Dari Lembata (2/2)

Penulis Riyanti

Episode 2

Lembata

, NTT. (TravelEsia)

AWAL tahun di kampung kami, biasanya tanah-tanah membasah penuh lumpur sebab tergerus  hujan yang terus mengguyur. Namun hingga hari ini, ia tak kunjung datang. Yang ada hanyalah mentari yang menggantung di ufuk timur memendar udara panas hingga menelusup ke kulit ari.

Aku yang tak tahan dengan panasnya pun mulai keluar, sekedar mengeringkan peluh yang sedari tadi melekat disekujur tubuh. Kuputuskan untuk menemui Bu Siti. Tiga rumah dari tempatku, sedepa demi sedepa kujajaki jejalan berubin batu-batu karang dan segurit pasir.

Di bawah dapur beratap alang-alang, kulihat Bu Siti tengah mencuci kangkung.

“Assalaamu‘alaikum, Ibu…,” sapaku penuh ceria.

Ia pun menjawab salamku dengan senyum utuh. Sesegera ia menghentikan aktivitasnya lalu menyodorkan jongkok kayu dan mempersilahkanku duduk. Setelah lama menyulam bincang, aku pun mulai menyampaikan bahwa Bibi Tura telah bai’at tadi malam. Bu Siti tersenyum, rupanya ia sudah tahu.

“Benar, Ibu. Tadi pagi, Ade Mastura ada duduk omong dengan saya, katanya dia sudah bai’at dan dia menceritakan bahwa setelah bai’at ia bermimpi saya memberinya baju baru dan langsung memakainya. Ia pun melihat perahu yang sangat besar. Lalu menaikinya dan berlayar bersama saya, ibu, ustad dan suami saya.”

Maa syaa’ Allaah… Kutatap dalam kedua bola mata Bu Siti. Tak mampu rasanya mengungkap haru yang kian membahang. Ini benar-benar kehendak Engkau, Tuhan. Engkau.

Aku pun semakin menguatkan Bu Siti akan kebenaran Jemaat Ilahi ini. Kami pun semakin lahap dengan obrolan, tak terasa waktu pun kian tengah dan mentari mulai merangkak menuju ubun-ubun. Aku pun pamit.

Di beranda rumah, kulihat Bibi Tura tengah asik mengobrol dengan Bu Hani, ibu muda yang juga tetangga kami. Tetiba Bu Hani menceritakan bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang kiyai dan kiyai tersebut memberinya Al-Qur’an.

Allaahu akbar! Mimpi yang baik sayang, bukankah Al-Qur’an adalah petunjuk?” Ucapku penuh kesan.

Tetiba aku pun teringat akan mimpiku beberapa malam lalu. Aku memimpikan seseorang berbaju serba putih dan berwajah cerah duduk bersila dan mengajariku Al-Qur’an. Dia memintaku untuk menyebut kata “fahadaa” secara berulang-ulang. Dengan lugas aku pun menyebut-nyebut kata itu.

Ketika terbangun aku pun langsung bertanya kepada suami, “Apakah kata fahadaa ada dalam Al-Qur’an?”

Suamiku pun langsung menjawab. “Ya ada, artinya Dia (Allah) memberi petunjuk.”

Subhaana’lLaah… Dadaku serasa retak rengat tatkala kudengar jawaban itu. Apakah kisah orang-orang yang bai’at ini adalah pemenuhan dari mimpiku itu? Cara Allah memang unik memberikan kabar suka kepada hamba-hamba-Nya.

Esok malamnya, aku kembali bermimpi, Kudengar seorang lelaki yang suaranya amat syahdu membacakan Surat Al-Alaa kepadaku. Ketika bangun, aku pun baru teringat bahwa dalam surat tersebut ada kata “fahadaa.”

Mimpi-mimpi ini meyakinkanku bahwa Allah memang terus berbicara kepada hamba-hamba-Nya. Sebab, di dalam sebuah hadits dikatakan bahwa mimpi yang baik adalah seper-46 kenabian, kurang lebih bunyinya seperti itu.

Dan aku juga teringat sabda dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bahwa agama yang benar adalah agama yang mampu menyajikan wujud Tuhan yang terus berbicara dan mendukung pengikut-pengikut agama tersebut. Tuhan Yang Maha Berbicara dan Maha Menolong bukan hanya ada tertulis dalam Kitab Suci tapi dalam kehidupan hamba-hamba-Nya Dia pun selalu hadir. Memperlihatkan pertolongan-pertolongan-Nya yang membuat iman seorang hamba-Nya semakin kokoh.

Sore harinya, selesai mentari rekatkan senja di ambang langit lazuardi, seperti biasa aku melangkah ke masjid sebab bebunyi adzan maghrib tinggal menghitung jemari. Aku yang biasa berangkat dengan suami, kali ini hanya sendirian sebab ia tengah keluar kota. Tapi, hati ini masih saja mengagumi cara Tuhan yang begitu unik. Aku menjadi tak sabar menyaksikan mukjizat-mukjizat kecil dari-Nya meski itu cuma sekedar mimpi baik.

Selepas sholat, sebelum mengaji bersama anak-anak, tetiba Pak Amin hendak bercerita. Perasaanku mulai membuncah lagi. Ini bukan disebabkan aku kege-eran atau terlalu terbawa perasaan. Tapi, aku pikir, Allah memang tidak sedang tidur di atas sana. Dia senantiasa memanjakan hamba-hamba-Nya dengan kondisi-kondisi spiritual yang sulit untuk diterjemahkan. Pak Amin pun menceritakan bahwa beberapa malam lalu ia bermimpi seorang lelaki membacakan doa, “Rabbanaa aatinaa fii’d-dunya hasanah, wa fi’l-aakhiroti hasanah, waqinaa adzaaba’n-naar”. Mimpi tersebut beliau dapat setelah beberapa hari bai’at.

Allaahu akbar! Hatiku semakin terkikis, inikah petunjuk samawi untuk meneguhkan para Ahmadi awalin di Pulau Lembata ini? Aku tak bisa lagi menerjemahkan mimpi-mimpi baik ini dalam bentuk yang lain.

Apa yang kualami hari ini benar-benar melelapkanku dalam dekapan iman yang paling utuh. Bebulir airmata yang meleleh di pipi mengiringi doaku dalam hati. Semoga Engkau, Tuhanku, selalu meridhoi para Ahmadi ini.

_
Episode 1 | Episode 2

Tentang Penulis

Riyanti

Tinggalkan komentar