Opini

Kisah Manusia Durhaka dan Bumi yang Terluka

ibu bumi
Penulis Amatul Shafi

Ini adalah kisah nyata, ketika seorang yang fisiknya mulai termakan usia, namun ia masih menanggung kehidupan banyak anaknya, ada yang kecil hingga dewasa. Meski tubuhnya tak lagi prima, ia senantiasa memberi makan, sandang dan papan tentu saja secara cuma-cuma.

Ia juga rela menerima dan mengolah apapun sisa makanan anak-anaknya, kotoran dan sampah. Betapa besar pemberian dari rahimnya, tak terhitung, tak terhingga.

Anak-anaknya tak hentinya mengeruk segenap harta dan daya sang ibu yang kian melemah. Padahal kadangkala sang ibu menunjukkan gejala sakitnya dengan sedikit terbatuk, muntah, ataupun gemetar.

Hanya segelintir anaknya yang peka, namun tak banyak berbuat. Sebenarnya sang ibu tengah terluka, sejak lama karena ulah para anak durhaka. Sang ibu yang bernama ibu .

Sejak biliunan tahun penciptaannya, ibu Bumi dipersiapkan Sang Khalik menyambut kelahiran anak manusia. Ketika rahimnya telah matang, tanaman siap dipetik, hewan dapat disembelih, lahirlah sang anak yang dinanti-nanti. Anak manusia yang digadang-gadang menjadi khalifah yang akan membawa kemakmuran bagi keluarga besar ibu Bumi.

“Dan bumi, setelah itu, Dia menghamparkannya.

Dia mengeluarkan dari padanya air dan padang rumputnya,

Dan gunung-gunung ia meneguhkannya,

Semua itu perbekalan untukmu dan ternakmu.”

(QS. An-Nazi’at, 79: 31-34)

Ibu Bumi membesarkan anak-anak manusia dari perkembangannya yang paling primitif hingga menjadi beradab. Ketika ilmu pengetahuan anak manusia semakin berkembang, mereka menciptakan teknologi guna mempermudah pemenuhan hajat hidup mereka—yang ternyata tak pernah cukup. Ambisi berlapis ketamakan menguasai akal pikiran, teknologi yang diciptakan menjadi titik mula malapetaka.

Menurut data NASA, kecenderungan Global Warming adalah hasil aktivitas manusia sejak pertengahan abad ke-20 dan berlanjut pada tingkat yang belum pernah terjadi selama beberapa dekade bahkan ribuan tahun sebelumnya. Tidak dapat dipungkiri peningkatan gas rumah kaca adalah penyebab Bumi menjadi lebih panas.

Dampaknya mulai terasa mengganggu anak manusia, permukaan laut yang meningkat pesat, angin topan dan badai yang mengamuk kuat, banjir juga kekeringan, krisis air tawar, penyakit berbahaya mewabah, persediaan makanan akan menurun.

Tak sampai disitu, anak manusia tak hanya menyakiti ibu Bumi, tapi juga saling membunuh antar saudara sekandungnya demi dominasi wilayah kekuasaan. Hasil dari teknologi brilian berupa senjata-senjata mematikan, dan magnum opus-nya, bom nuklir yang tak hanya meluluhlantakkan ekosistem juga melumuri wajah ibu Bumi dengan darah dan gelimang jenazah pertikaian para anaknya yang berebut sumber daya.

Menyadari keringkihan sang ibu Bumi, para anak manusia mulai panik dan khawatir akan terancamnya keberlangsungan hidup ras mereka. Berbagai metode dipikirkan dan diteliti, hingga muncullah suatu gagasan yang amat jalang.

Mencari induk semang baru, sebuah ide untuk pindah ke planet lain. Ide yang persis seibarat pria hidung belang yang pergi begitu saja selepas melampiaskan syahwatnya, anak manusia ini berpikir pula untuk mencampakkan ibu bumi setelah memperkosa habis seluruh mahkotanya, sepah dibuang.

Beruntungnya masih ada sekumpulan anak manusia yang merumuskan upaya memulihkan kesehatan ibu bumi. Kendati langkah mereka dilandasi lebih kepada egoisme cari aman agar tak punah.

Walaupun begitu, ibu Bumi tetap ikhlas menjalankan takdir ilahi yang  ia emban, menjadi perwujudan sifat rahmaniyat Tuhan. Seandainya ibu Bumi bisa bicara, mungkin ia hanya ingin para anaknya menjelma menjadi sebaik-baik makhluk, berbudi luhur, berakhlak mulia, menjadi insan kamil mencapai ketinggian derajat taqwa.

Itulah cintanya yang tak terbatas, I have loved you for a thousand years, I’ll love you for a thousand more.

Wahai anak manusia, sampai kapan kau berlaku durjana? Apa yang sudah kau perbuat demi kebaikan ibu Bumi? Setidaknya mulai dari yang paling sederhana.

Sudahkah tiap kali bersantap kau memakan habis isi piringmu?

Sudahkan kau berhemat menggunakan air dan listrik?

Sudahkah memilah sampah rumah tanggamu? Atau jangan-jangan buang sampah saja kau masih sembarangan?

Masihkah kau menggunakan wadah styrofoam atau belanja menggunakan plastik ketimbang membawa wadah makanan dan tas belanja sendiri?

Masihkah kau menggunakan bahan bakar bersubsidi yang tingkat emisinya tinggi, sementara dengan mengurangi foya-foya-mu di mall atau nongkrong di kedai kopi mahal kau mampu menjangkau harga bahan bakar yang ramah lingkungan?

Berapa jumlah pohon yang kau tanam dalam lima tahun terakhir? Bahkan kau lebih memilih memasang pendingin ruangan agar kau merasa sejuk ketimbang menanam pohon merasakan segar udara rindang pepohonan bukan?

Adakah kau mencari tahu cara apalagi yang dapat diperbuat untuk merubah pola hidupmu menjadi lebih selaras dengan ibu Bumi dan tentu saja berupaya mengamalkannya?

Berhenti sekarang juga menjadi anak durhaka! Mari bergerak serentak. Pastikan anggota keluargamu, sanak saudara, teman sekolah, teman sekantor, teman arisan, teman pengajian, dan semua yang berhubungan denganmu mulai memulihkan ibu bumi.

Hendaknya kita renungkan bahwa sejatinya, “Sooner or later, we will have to recognise that the Earth has rights, too, to live without pollution. What mankind must know is that human beings cannot live without Mother Earth, but the planet can live without humans (Evo Morales).

Selamat memperingati , tidak ada kata terlambat untuk memulai langkah kebaikan. Untukmu ibu bumi.

Sumber Gambar: http://www.keywordlister.com/bWFkcmUgdGllcnJhIG9sZGVy/

Tentang Penulis

Amatul Shafi