Denz Asad Peristiwa Rahmadi Solidaritas Palestina Terjemahan

Kisah pilu para pelempar batu Palestina

Kisah pilu para pelempar batu Palestina the dailybeast com

Para pelempar batu Palestina. (/, via ; the dailybeast.com)

PETUGAS keamanan telah menahan Odeh, sebanyak 22 kali dalam rentang tujuh tahun.

Muslim Odeh adalah penduduk di wilayah .

Saat tengah malam, dia ditangkap di rumah dengan mata tertutup dan mengalami pemukulan selama interogasi.

Muslim Odeh ditahan pertama kali pada usia sembilan tahun, karena pelemparan batu.

Terakhir, sekitar Desember akhir tahun lalu, Odeh ditahan selama semalaman setelah ditangkap di dekat sekolahnya.

Odeh menceritakan bahwa kepalanya ditutupi dengan karung, kemudian dipukuli sampai muntah.

Lembaga Hak Asasi mengkonfirmasi pengalaman Muslim Odeh dan anak-anak Palestina terkait penahanan petugas keamanan Israel.

Dilaporkan 30 pemuda Yerusalem Timur berusia antara 9 sampai 17 tahun telah ditahan pada Bulan Januari sampai Juni, tahun ini.

Sebanyak 16 pemuda telah melaporkan kekerasan fisik selama interogasi.

Perlakuan kasar ini dilakukan tanpa pengawasan orang tua, menurut LSM bernama Defense for Children International Palestine ().

Menanggapi Human Right Watch (), Pihak Israel bertahan bahwa semua tindakan hukum berdasarkan peraturan dan prosedur operasional, dengan tetap memastikan bahwa tersangka memiliki hak nya dan selalu terlindungi.

Ditambahkan pula bahwa kasus yang dilaporkan HRW tidak ada dalam basis data.

Israel mengesahkan hukum yang ditujukan bagi para pengunjuk rasa dari Palestina.

Hukum ini menyebutkan ancaman sanksi hingga 20 tahun bagi tersangka pelempar batu saat melakukan protes.

Sanksi ini juga berlaku bagi anak-anak.

Bahkan, ancaman sanksi 10 tahun berlaku jika sasaran pelemparan batu adalah mobil non militer.

Peraturan baru ini mendapat kritik keras dari Negara-negara .

 

MIRZA Masroor Ahmad, Khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah Internasional mengutip sabda Nabi Muhammad saw. bahwa “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

Ditafsirkannya bahwa hal ini tidak hanya berlaku untuk sesama muslim, tapi setiap orang merasa damai dan aman dari tangan dan lidah seorang Muslim, tidak memandang iman dan keyakinannya.

Hal ini, karena Islam mengajarkan untuk menghormati agama lain dan para pendiri suci mereka, oleh karena itu tindakan merusak, tidak dibenarkan dengan maksud apapun.

 

HRW | Rahmadi | DNZ | RP

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia