Opini

Komunisme, Jubah Usang Radikalisme yang Tak Layak Ditakuti Lagi

komunisme

Saat mendengar kata , mungkin yang terlintas di benak khalayak umum adalah gerombolan pemuja kekerasan yang gila dan tak ber-Tuhan, kisah suram pembantaian, serta berbagai hal mengerikan yang sanggup mengguncang kewarasan. Betapa tidak, dosa-dosa yang secara umum diidentikkan terhadap Partai Indonesia atau yang dulu pernah nyaris menduduki hampir segala lini kursi pemerintahan Indonesia, benar-benar dinarasikan dengan doktrin sejarah panjang nan pelik yang buru-buru diakhiri dengan tanda titik, bukannya koma, apalagi tanda tanya. Sedangkan saat mendengar kata , bisa jadi pemikiran beralih kepada wajah-wajah bertudung, bersenapan otomatis, yang meskipun tampak bengis, tetap saja terbalut aroma yang lebih agamis, dan terkadang tak tampak terlalu mengerikan, bahkan dipuja sebagian kalangan, maka bagaimana mungkin keduanya dapat dibandingkan?

Peristiwa sejarah yang membuat nama PKI ditulis dengan noktah darah dalam lembaran hitam sejarah Indonesia, tidak lain dan tidak bukan adalah peristiwa pembunuhan terhadap enam orang jenderal dalam upaya kudeta sistematis yang dilancarkan di malam tanggal 30 September , dan lebih dikenal dengan peristiwa G30S/ PKI, atau Gerakan 30 September oleh PKI, meskipun terkadang dikenal pula dengan istilah Gestapu (Gerakan September Tigapuluh), maupun Gestok (Gerakan Satu Oktober), dimana kudeta yang gagal tersebut “dibalas” pula dengan tragedi pembantaian massal selama nyaris setahun penuh oleh negara yang dimulai pada tahun 1965 hingga 1966, kepada lebih dari 78.000 masyarakat sipil, (sebagian sejarah bahkan mencatat jumlah korban yang mencapai satu juta orang) yang dituduh terlibat dengan segala aktivitas PKI, maupun berafiliasi dengan segala pernik ideologi berlambang palu dan arit tersebut.

Terlepas dari pro-kontra riwayat kontroversial pemberontakan PKI yang identik dengan sejarah Indonesia, beberapa sejarah berdirinya kekuatan-kekuatan besar berpaham komunisme di dunia sebenarnya juga tidak lepas dari bayang-bayang tragedi kekerasan, yakni perpecahan antara kalangan ekonomi lemah atau proletariat, yang menyebut diri mereka sebagai “kelas pekerja” versus kaum penguasa yang disebut sebagai “kelas kapital” yang begitu makmur dari hasil perasan keringat kelas pekerja tanpa harus meneteskan peluh yang sama. Kelas kapital berada secara sadar maupun tanpa sadar menjadi musuh kelas pekerja dalam pandangan komunisme ekstrim, musuh yang harus dimusnahkan atas nama keadilan, sehingga lahirlah berbagai peristiwa pemberontakan serta pembantaian berdarah oleh para pengusung ideologi komunis demi memberantas kelas kapital tersebut. Seperti terjadi dalam Revolusi Bolshevik di Russia, maupun Revolusi Budaya di Tiongkok, demi terwujudnya sebuah tanah utopia dalam rezim komunisme, yakni kehidupan yang setara tanpa ada pembatasan kelas antara pekerja dan penguasa, makanan yang akan selalu tersedia, serta janji bahwa negara adalah sebuah lahan garapan tanpa batas yang seluruhnya dikuasai negara, tanpa adanya tuan-tuan tanah yang menghalangi penggunaannya demi hajat hidup bersama.

Setelah membaca kilasan sejarah komunisme di dunia tadi, mari kesampingkan segala kontroversi, antipati, maupun simpati terhadap masa lalu yang sudah terlanjur terjadi tersebut, karena dibaliknya ada sumber permasalahan yang lebih mendalam dari sekadar ideologi, jika kita lucuti sejarah dibalik segel palu dan arit ini, maka akan kita temukan sebuah pemikiran yang sebenarnya jauh lebih berbahaya dari sekadar upaya penegakan komunisme tadi, yakni sikap radikalisme.

Dengan merujuk pada definisi radikalisme berdasarkan KBBI, maka radikalisme yang dieja dengan ra·di·kal·is·me, merupakan (1) sebuah paham atau aliran yang radikal dalam politik; atau (2) paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; serta (3) sikap ekstrem dalam aliran politik.

Radikalisme bukanlah barang baru dalam sejarah, perwujudan sederhananya dapat dikenali dari sikap bermusuhan terhadap perbedaan, keengganan untuk belajar membaur dalam keberagaman, memaksakan idealnya kepada yang tak sejalan, dan lain sebagainya. Hal tersebut pada dasarnya merupakan naluri purba yang dibawa manusia yang secara bawah sadar, yakni dimana seseorang cenderung lebih memilih untuk besikap akur dengan makhluk yang lebih “serupa”, merasa aman di dalamnya, membangun aliansi dengan kelompok yang berpikir sama, lalu memerangi kelompok lain yang berbeda, dan selanjutnya tumbuh keyakinan bahwa hanya kelompoknya yang paling digdaya, mengharapkan anak-cucunya merasakan fanatisme yang juga membara, sehingga menjadi bekal keturunannya untuk menjadi generasi paling dominan di atas dunia.

Radikalisme dapat membuat seorang individu menjadi ancaman bagi orang lain yang cara berfikirnya tak ia kenal, cukup gabungkan tiap-tiap dari mereka yang sama bebal, beri seragam agar mereka saling hafal, lalu tunjuk orator berandal yang bisa menjanjikan bahwa ideologi mereka sedang diancam bayangan musuh nun jauh dari kelompok seberang. Tak perlu bukti terang, tak perlu alasan yang matang, cukup seruan paranoia yang paling lantang, maka akan segera lahir kelompok radikal militan sesat pikir yang siap berperang.

Begitu pula yang dialami kaum komunis Bolshevik yang dipimpin Vladimir Lenin, dan merupakan salah satu faksi politik yang berperan besar dalam berdirinya negara Uni Soviet, dimana mereka mengobarkan peristiwa “Red Terror” atau Teror Merah yang menjadi alasan berakhirnya kekuasaan kekaisaran lama Russia. Mereka begitu yakin bahwa demi menjadikan masyarakat yang ideal dalam tatanan politik komunis, maka masyarakat kelas majikan, atau kelas burjois yang banyak berkuasa semasa kekuasaan Kaisar Romanov dianggap layaknya gunung batu yang menghambat berdirinya sebuah negara dengan masyarakat tanpa kelas yang bersatu, begitu pula nasib yang menanti masyarakat kelas rendah yang tidak bersedia membantu, seluruhya harus dimusnahkan tanpa peduli meski yang tersisa hanya tinggal puing dan debu, asalkan di atasnya dapat dibangun Soviet-Russia yang baru. Begitu pula semangat radikal serupa yang membakar para pendukung Mao dalam segala upaya revolusi budaya demi berdirinya Republik Rakyat China.

Maka tidak berbeda pula dengan gerombolan radikalis masa kini yang mengaku-aku maju atas nama Islam sembari tersesat dalam kebutaan ruhani nan kelam. Mereka berupaya mendirikan sebuah “Negara Islam” yang penuh janji-janji utopia yang berlanjut pada penguasaan dunia tidak peduli bagaimanapun caranya, sehingga dalam prakteknya mereka merasa berhak membantai siapapun yang tidak sejalan dengan standar berpikir mereka yang pandir, tidak peduli anak kecil dengan keyakinan berbeda, maupun saudara seagama yang sekedar berbeda dalam cara berdzikir, seluruhnya bisa jadi ikut dibariskan dan diberi cap “kafir” lalu ikut dibantai sembari mereka bertakbir. Naudzubillah min ‘dzalik.

Pemahaman radikalisme tidak selalu berhubungan dengan urusan agama, karena hampir selalu ada dalam banyak riwayat perpecahan antar individu, peperangan antar dinasti, pandangan anti-semitis, serta beragam sentimen rasialis. Dengan didasari keyakinan para radikalis bahwa mereka adalah superior, dan mereka yang berbeda baik dari sekadar aspek kesukuan, keturunan, hingga keimanan, tak lebih dari sekadar makhluk yang lebih kotor.

Radikalisme adalah hantu yang bergentayangan di setiap zaman, radikalisme dapat dibilang sebagai titisan iblis demi memenuhi janjinya akan kehancuran anak-cucu Adam. Jubahnya pun berbeda-beda bagaikan pembunuh berantai dalam penyamaran, tidak peduli warna yang dijualnya, ia bisa saja menjahitnya dalam janji manis ideologi komunis, kapitalis, maupun rayuan surgawi nan erotis. Yang terkadang disandang dengan bangga oleh anak manusia tanpa disadari, tersamar begitu rupa dalam munculnya rasa curiga, kebencian terhadap yang berbeda, serta keringnya rasa cinta terhadap sesama.

Alangkah sialnya jika kita hanya terjebak dalam paranoia ilusi kebangkitan PKI maupun paham komunis yang merupakan jubah usang radikalisme yang nyatanya sudah mati, dilarang konstitusi, bahkan tak laku lagi dalam percaturan dunia baik di bidang politik maupun ekonomi. Semangatnya pun nyaris mustahil untuk bangkit kembali di antara masyarakat yang semakin hedonis di masa kini. Pun tidak perlu takut terhadap ancaman liberalis, kapitalis, maupun zionis, yang “katanya” berkonspirasi besar demi menutupi fakta bahwa bumi ini datar dan bertepi.

Waspadalah pada ancaman paham radikalisme dengan segala tipuannya yang berapi-api, berkeras merasuki kalbu dengan berkedok ganjaran pahala surgawi, namun membisikinya dengan berbagai ketakutan serta keraguan yang menyesatkan hati, lalu melupakan rasa nikmat persatuan serta kemerdekaan yang sepatutnya disyukuri. Yang semuanya hanya bisa dihindari dengan ditanamkannya rasa cinta menyeluruh, tanpa diiringi noda kebencian bagi siapapun di muka bumi.

Sumber Gambar: http://www.iasoybeans.com/TheBeanBlog/?p=1584

Tentang Penulis

Irfan Sukma Ardiatama

Tinggalkan komentar