Opini

Konflik antara Galileo Galilei dan Gereja

salib
Penulis Ammar Ahmad

Sejarah merekam catatan merah atas kekeliruannya dalam menentang para ilmuwan dan kemajuan ilmu pengetahuan di abad pertengahan. Gereja bahkan menghukum keras beberapa ilmuan yang diantaranya adalah Galileo Galilei karena dianggap telah sesat.

Kasus ini tentu mencoreng nama baik dan melemahkan pengaruh Gereja Katolik di mata dunia. Kenapa Gereja menentang dengan keras seorang “Bapak ilmu pengetahuan modern” ? mari kita simak tulisan ini!

Galileo Galilei lahir di PisaToscana15 Februari 1564 dan meninggal di ArcetriToscana8 Januari 1642 pada umur 77 tahun. Ia adalah seorang astronomfilsuf, dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah. Ia disebut sebagai “bapak observasional”, “bapak ilmu fisika modern” ,”bapak metode ilmiah” dan “bapak ilmu pengetahuan”.

Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai pengamatan astronomi seperti planet Yupiter memiliki bulan-bulan, temuan bahwa Bulan bumi itu tidak mulus tapi banyak gunung-gunungnya, dan juga hukum gerak pertama dan kedua (dinamika). Selain itu, Galileo juga dikenal sebagai seorang pendukung teori ilmuan Copernicus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari dan matahari sebagai pusat sistem tata surya.

Teori yang diyakini dan dibuktikan kebenarannya oleh Galileo namun ditentang keras oleh Gereja Katolik adalah teori Heliosentris yakni teori yang menyatakan bahwa bumi dan planet-planet di galaxy Bima Sakti mengelilingi matahari sehingga matahari adalah pusat dari sistem tata surya. Ia menyatakan bahwa bumi itu bulat dan berputar pada porosnya. Perputaran bumi inilah yang menjadi salah satu sebab terjadinya pasang-surut air laut.

Bila kita perhatikan teori dari Galileo maka sudah dapat kita pastikan bahwa teorinya memang benar meski sebagian pendapat menyatakan tidak sepenuhnya benar karena Galileo meyakini kalau matahari itu pusat tata surya namun diam pada posisinya sedang kita mengetahui lewat penelitian yang lebih mutakhir, matahari ternyata bergerak juga meski sebagai pusat galaxy. Lalu apa yang membuat otoritas dan para pendeta Gereja Katolik kala itu menentang keras teori Galileo padahal itu sebuah kebenaran ?

Alasan dari penentangan Gereja terhadap teori Heliosentris dan pribadi Galileo adalah karena teori tersebut dianggap sangat bertentangan dengan keyakinan Gereja, teori Aristoteles dan masyarakat luas saat itu. Keyakinan Gereja dan Aristoteles adalah bumi lah yang merupakan pusat tata surya dan matahari lah yang mengelilingi bumi (Geosentris). Kemudian Gereja meyakini kalau bumi itu datar dan bukan bulat.

Jelaslah Gereja menentang teori Galileo yang dianggap sesat oleh otoritas Gereja. Namun Alasan utama Gereja menentang teori Heliosentris adalah karena teori tersebut tampak bertentangan dengan teks-teks Bibel berkenaan dengan Astronomi (Ilmu Perbintangan).

-ayat yang dianggap bertentangan dengan teori Heliosentris Galileo adalah:

  1. “you have set the earth firmly on its foundations, and it will never be moved.” (Today’s English Bible, Psalms 104: 5) terjemahannya: “yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya.” ( 104:5)
  2. “Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali.” (Pengkhotbah 1: 5) ayat ini tampak sesuai dengan gejala alam tapi di era Galileo melalui ayat ini Gereja dan umat berkeyakinan kalau Matahari terbit dan terbenam karena mengelilingi bumi dan matahari bergerak terburu-buru menuju tempat terbitnya menimbulkan kesan matahari lah yang bergerak sedang bumi diam.
  3. “Ia akan menaikkan suatu panji-panji bagi bangsa-bangsa, akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang-orang Yehuda yang terserak dari keempat penjuru bumi.” ( 11:12) Dari ayat ini Gereja dan umat percaya kalau bumi itu datar karena memiliki 4 sudut sehingga teori bahwa bumi itu bulat adalah hal baru saat itu.

Ayat-ayat inilah yang dianggap ditentang oleh teori Heliosentris dan teori bahwa Bumi itu bulat. Sedang Gereja sangat yakin kalau sabda Tuhan dalam -kitab-Nya itu pasti benar karena terdapat ayat,


“Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2 Petrus 1:20-21).

Salah satu penulis Mazmur adalah Daud as, kitab Pengkhotbah ditulis Sulaiman as dan Yesaya adalah kitab tulisan Yesaya as. Melalui 2 Petrus 1:20-21 Gereja yakin bahwa tulisan mereka adalah ilhami sehingga Gereja berkeyakinan hal-hal yang terkesan bertentangan dengan ayat-ayat pasti bukanlah kebenaran.

Alasan lainnya adalah bila masyarakat luas mempercayai teori tersebut maka masyarakat akan mulai meragukan kebenaran kitab suci mereka sendiri bahkan meragukan otoritas Gereja. Bahkan Hd. Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra menyatakan umat akan berfikir bahwa pokok ajaran adalah sesuatu yang bertentangan dengan akal. Sudah barang tentu hal ini membangkitkan sensitifitas pertahanan Gereja untuk menjaga image-nya dimata masyarakat luas.

Para pendeta Gereja menganggap teori Heliosentris sebagai kebodohan dan keluar dari agama (sesat). Mereka menetapkan bahwa menaruh perhatian pada teori-teori itu adalah suatu dosa dan menentang agama. Para pendeta beralasan bahwa turun pada manusia, dan manusia itu tinggal di bumi.

Oleh karena itulah bumi itu paling tinggi derajatnya (dari planet dan bintang lainnya). Akan tetapi bila bumi mengelilingi matahari maka bumi lebih rendah kedudukannya dari matahari sehingga manusia yang tinggal didalam bumi juga dianggap rendah. Oleh karena itulah pendeta-pendeta memberikan fatwa kafir pada teori Heliosentris.

Hal lain yang membuat Gereja menentang perkembangan ilmu pengetahuan yang dianggap menyimpang dari ajaran Bibel (Alkitab Kristen) adalah situasi saat itu yang mana Gereja Katolik tengah kerepotan menghadapi berbagai konflik lain yakni kemunculan gelombang reformasi Protestan di Jerman pada 1517 yang mengakibatkan perang 30 tahun yang memakan ribuan korban nyawa.

Hampir bersamaan dengan itu, Eropa juga dihantui oleh apa yang disebut Wabah Hitam, yang diawali oleh penyebaran  penyakit pes dari daratan Cina lewat tikus-tikus yang terbawa kapal-kapal dagang, dan menewaskan hampir sepertiga penduduk Eropa hanya dalam 25 tahun. Wabah ini dipercaya sebagai hukum yang diturunkan Tuhan pada manusia yang akidahnya telah rusak.

Dengan demikian, para pemuka agama Kristen menjadi begitu sensitif dengan apapun yang akan semakin melemahkan kepercayaan umat kepada Gereja. Oleh karena itulah Gereja merasa perlu melawan mereka yang berlawanan paham dengan Gereja agar pengaruh dan supremasi Gereja dikalangan masyarakat dapat dipertahankan.

Alhasil, pada hari Rabu, 22 Juni 1633 Gereja melalui inkuisisinya (pengadilan yang dibuat oleh Vatikan) memutuskan:

  1. Galileo telah melakukan bidah karena meyakini Matahari tidak bergerak dan menjadi pusat alam semesta serta Bumi bukan pusat alam semesta dan justru mengitari Matahari. Gereja Katolik memerintahkan Galileo untuk “mengharamkan, mengutuk, dan membenci” teori tersebut.
  2. Galileo dijatuhi hukuman penjara dan dia kemudian menjalani status tahanan rumah seumur hidup.
  3. Buku karya Galileo “Dialogue Concerning the Two Chief World Systems” yang menentang teori geosentris dilarang dan pengadilan juga melarang publikasi hasil karya Galileo termasuk yang akan ditulisnya di masa depan.

Hasil inkuisisi membuat Galileo menyerah pada teorinya secara terpaksa dan menuruti kemauan otoritas Gereja. Karena ia dihadapkan pada pilihan akan keselamatan nyawanya atau mempertahankan kebenaran yang diyakininya. Maka berlakulah hukum tahanan rumah seumur hidup kepada Galileo hingga ia wafat pada usia 77 tahun (Masa Paus Urbanus VIII).

Bahkan saat kondisi kesehatannya memburuk yakni saat ia menjadi buta, ironisnya hukuman kejam itu tetap diberlakukan. Galileo dihukum karena kebenaran yang ditemukannya, padahal ternyata ia sendiri adalah seorang pengikut Katolik yang setia. Namun ia malah dianggap mengganggu keimanan umat dan dicap telah menentang Bibel yang diyakininya sendiri sebagai kitab dari Tuhan untuk umat manusia agar mencapai keselamatan.

Kabar baiknya adalah pada 1982, Paus Yohanes Paulus II membentuk Komisi Galileo yang terdiri dari empat kelompok untuk meneliti persoalan Galileo. Sepuluh tahun kemudian barulah Paus Yohanes Paulus II dengan terbuka menyatakan dukungannya atas pemikiran Galileo dan disayangkannya sikap para teolog Kristen kala itu yang kurang memahami makna non-harfiah ayat-ayat Alkitab.

Pada 31 Oktober 1992, Paus Yohanes Paulus II menyatakan penyesalan terkait tindakan yang dilakukan Gereja Katolik terhadap Galileo. Paus Yohanes Paulus II akhirnya mengumumkan bahwa Gereja Katolik telah melakukan kesalahan saat menghakimi pandangan keilmuan Galileo. Pada Desember 2008, Paus Benediktus XVI memuji kontribusi Galileo untuk ilmu astronomi.

Inilah sejarah Ilmu Pengetahuan dan Agama yang pernah bergesekkan satu sama lain. Ingatlah bahwa baik agama dan hukum alam adalah sama-sama diciptakan oleh Tuhan maka tidak mungkin saling bertentangan. Kasus ini tentu memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita yakni kita harus menghormati dan menghargai perbedaan pemikiran dan pendapat orang lain yang mungkin bertentangan dengan keyakinan kita demi terjaganya kemaslahatan umat.

Referensi:

Basyiruddin Mahmud Ahmad, Mirza.Anwarul Ulum Jilid 6. Fazl Umar Foundation: Qadian India.

Tahir Ahmad, Mirza.2014.Wahyu Rasionalitas Pengetahuan dan Kebenaran Cet.I Edisi Bhs.Indonesia.R.Ahmad Anwar & A.Q.Khalid (penterjemah).Neratja Press

https://id.wikipedia.org/wiki/Galileo_Galilei

https://internasional.kompas.com/read/2018/02/13/13193451/hari-ini-dalam-sejarah-galileo-galilei-diadili-gereja-katolik?

https://adearmando.wordpress.com/2009/06/24/pelajaran-dari-galileo-agama-tidak-pernah-bertentangan-dengan-ilmu-pengetahuan/

Ketiga situs ini diakses pada 20 08 2018

Sumber Gambar: https://santapanrohani.org/2017/04/14/ingatlah-salib-nya/

Tentang Penulis

Ammar Ahmad