Opini

Konflik Yerusalem dari Kacamata Hukum Internasional dan Hukum Islam [Bagian 2/2]

israel

Isu menurut Hukum

Titik temu konflik - dapat diketengahkan dari prinsip hukum-hukum Islam. Landasan-landasan hukum Islam yang disepakati oleh para ulama secara berturut-turut adalah Alquran, , dan ijtihad.

Prinsip-prinsip tersebut, yang telah dijelaskan secara rinci dalam Alquran dan hadis, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Bersikap Adil Secara Mutlak

Prinsip yang paling penting dan utama untuk menyelesaikan suatu perkara adalah keadilan. Sebab, akar dari setiap permasalahan yang muncul di dunia pada hakikatnya bersumber dari ketidakadilan. Ketidakadilan sendiri bermula ketika suatu perjanjian yang telah disepakati tidak dilaksanakan dengan baik dan benar. Untuk itu, Allah Taala berfirman dalam Surah al-Isrā’ ayat 35:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا ﴿﴾

“Penuhilah janji, Sebab, janji itu pasti akan ditanyai.”

Dia juga berfirman dalam Surah Al-Mu’minūn ayat 8:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ﴿﴾

“Salah satu ciri orang yang berhasil adalah bahwa mereka menjaga amanat dan janji mereka.”

Prinsip ini menyatakan bahwa segala bentuk perjanjian mesti ditegakkan, ditepati, dan dijalankan. Sehubungan dengan konflik Israel-Palestina, kedua negara tersebut harus tunduk dan patuh pada peraturan yang berlaku, dalam hal ini adalah hukum internasional yang pada hakikatnya merupakan perjanjian dan kesepakatan yang ditekan oleh negara-negara di dunia. Ketika eksistensi kedua Negara Israel dan Palestina telah diakui sah, baik secara de facto maupun de jure, menurut aturan yang berlaku, merupakan kewajiban kedua negara tersebut untuk saling menghargai hak eksis dan hak hidup satu sama lain. Kemudian, ketika PBB telah menetapkan bahwa Yerusalem harus berada di bawah administrasinya, Israel dan Palestina tidak berhak mengklaim bahwa kota tersebut adalah bagian dari negaranya. Apabila salah satu pihak memaksakan kehendaknya, di situlah konflik akan bermula karena yang lain pasti akan merasakan ketidakadilan.

  1. Menolong Pihak Yang Dizalimi

Dalam sebuah hadis, Nabi Suci MuḥammadSAW diriwayatkan pernah bersabda:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ: تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ.

“Dari Anas bin Malikra, beliau bersabda: RasulSAW bersabda: Tolonglah saudara kalian, baik yang menzalimi maupun yang dizalimi. Kami berkata: Wahai Rasul! Jelas, kami akan menolong orang yang dizalimi. Akan tetapi, bagaimana mungkin kami akan menolong orang yang zalim? Beliau menjawab: Kalian menolongnya dengan mencegah tangannya menzalimi orang lain.”11

Beliau juga diriwayatkan pernah bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ.

“Dari Abū Sa‘īd al-Khudrīra, beliau berkata: Aku pernah mendengar Nabi SuciSAW bersabda: Barangsiapa di antara kalian yang melihat keburukan, hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Apabila ia tidak mampu, dengan lisannyalah. Apabila ia tidak mampu, dengan hatinyalah. Itulah selemah-lemahnya iman.”12

Jika prinsip pertama berbicara tentang tindakan preventif, prinsip kedua memperbincangkan langkah-langkah kuratif. Prinsip ini sangat bermanfaat bagi lembaga-lembaga internasional yang memiliki pengaruh otoritatif di dunia, seperti PBB. Ketika PBB melihat Israel atau Palestina melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan, PBB harus mengambil sikap tegas dan menggunakan otoritasnya untuk menanggulangi hal tersebut. Selain itu, diplomat-diplomat dunia pun dapat mengambil faedah dari prinsip ini, yaitu dengan bersuara secara lantang, lugas, dan jelas dalam menentang pelanggaran yang dilakukan oleh satu pihak serta membela di forum-forum resmi pihak yang hak-haknya dilanggar. Adapun orang-orang yang tidak memiliki kuasa secara langsung untuk bertindak secara formal atau menyampaikan suara melalui jalur-jalur yang diakui dapat membantu lewat doa dan gerakan-gerakan kemanusiaan yang membangkitkan semangat persaudaraan.

  1. Mendamaikan konflik

Allah Taala berfirman dalam Surah An-Nisā’ ayat 129:

وَالصُّلْحُ خَيْرٌۗ ﴿﴾

“Perdamaian itu lebih baik.”

Ayat ini menyatakan bahwa, apabila terjadi pertikaian antara dua pihak, perdamaian harus segera diciptakan. Dalam kasus Israel-Palestina, apabila penzaliman dari pihak yang satu terus berlangsung terhadap pihak yang lain, mediasi dan perundingan mesti secepat mungkin digelar. Jika konflik bersenjata tidak diatasi dengan cepat, keadaan yang berlarut-larut akan menambah permasalahan baru. Pihak-pihak yang bertikai sendiri perlu selalu ingat bahwa, kapanp un jalan perdamaian terbuka, mereka wajib untuk segera menyongsongnya. Dalam Surah Al-Anfāl ayat 62, Allah berfirman:

وَإِن جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِۚ ﴿﴾

Jika mereka condong pada perdamaian, kalian pun harus condong kepadanya lalu bertawakal kepada Allah.”

  1. Menjaga Hak Hidup Manusia

Dalam Surah Al-Mā’idah ayat 53, Allah Taala berfirman:

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًاۚ ﴿﴾

“Oleh sebab itu, Kami tetapkan bagi Bani Israil bahwa barangsiapa membunuh suatu jiwa tanpa kebenaran atau dengan keonaran, ia seolah-olah telah membunuh semua manusia. Adapun ia yang menghidupkannya seolah-olah telah menghidupkan semua manusia.”

Berdasarkan prinsip ini, baik Israel maupun Palestina dilarang menargetkan warga sipil dalam peperangan yang berlangsung antara mereka. Hak-hak kaum wanita, anak-anak, dan mereka yang sudah lanjut usia harus dijaga. Para pemuka agama yang membaktikan diri semata-mata demi agama pun harus dihormati. Satu jiwa yang dibunuh tampak sama artinya dengan semua jiwa di dunia.

  1. Bersatu menghadapi Keburukan

Prinsip ini sangat penting dan fundamental bagi umat Islam secara khusus dan semua manusia secara umum. Allah Taala berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿﴾

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman adalah bersaudara. Saling berdamailah, lantas, antara sesama saudara kalian! Betakwa pulalah kepada Allah supaya kamu dikasihani.”

Ayat ini mengumumkan bahwa, terlepas dari segala perbedaan yang ada, umat Islam adalah satu dan bersaudara. Sebagai satu saudara, mereka harus bersatu menghadapi kejahatan. Selama mereka tidak bersatu, sangat mustahil diharapkan bahwa mereka akan berhasil menghadapi kekuatan yang menentang mereka. Demikian juga, semua negara di dunia harus bersatu-padu untuk membela kebaikan dan melawan keburukan. Suatu negara sama sekali tidak diperbolehkan melanggar kesepakatan umum dalam menentang kejahatan demi kepentingan pribadi.

Pidato ini disampaikan dalam Seminar Tabligh Nasional “Ahmadiyah dan Palestina” di Jakarta, 23 Desember 2017.

Catatan Kaki

1 http://www.jewishvirtuallibrary.org/united-nations-special-committee-on-palestine-unscop.

2 Al-Shaybani Society of International Law, The Palestine Yearbook of International Law (Nicosia: Al-Shaybani Society of International Law Ltd, 1990), hlm. 64.

3 http://www.mideastweb.org/181.htm.

4 http://www.nytimes.com/learning/general/onthisday/big/1129.html.

5 Gross A. 1998. The politics of rights in Israeli Constitutional Law. Israel Studies. 3(2): 80–118.

6 https://mondediplo.com/focus/mideast/arafat88-en.

7 https://en.oxforddictionaries.com/definition/international_law.

8 https://ihl-databases.icrc.org/applic/ihl/ihl.nsf/WebART/380-600056.

9 http://itisapartheid.org/Documents_pdf_etc/IsraelViolationsInternationalLaw.pdf.

10 http://repository.un.org/handle/11176/68006.

11 Ṣaḥīḥ Muslim.

12 Ṣaḥīḥ Muslim.

Sumber Gambar: https://www.myjewishlearning.com/article/what-is-the-temple-mount/

Tentang Penulis

Fazal-E-Mujeeb