Opini

Konsep Jihad yang biadab dan berlumuran darah

ilustrasi jihad dari jihadwatch.org

ilustrasi dari jihadwatch.org

HANYA sehari menjelang dimulainya bulan Ramadhan atau pada Rabu (17/6/), lima serangan bom yang menyasar sejumlah masjid Syiah dan kediaman para pemimpin milisi Houthi mengguncang ibu kota Yaman, Sana’a. Dalam serangan yang diklaim oleh Negara Irak dan Suriah (ISIS) itu menewaskan sedikitnya 31 orang. Demikian penjelasan aparat keamanan Yaman. Serangan bom ini terjadi sekitar tiga bulan setelah ISIS meledakkan sejumlah bom di beberapa masjid Syiah yang kala itu menewaskan 142 orang.

Antara melaporkan, jauh-jauh hari, ISIS telah mendesak para pengikutnya untuk memperluas serangan melawan Kristen, Syiah dan Sunni yang berperang bersama koalisi pimpinan AS melawan kelompok ultraradikal ini. Jihadis mesti mengubah bulan suci Ramadan menjadi malapetaka bagi kaum kafir, Syiah dan kaum murtad, kata juru bicara ISIS Abu Muhammad al-Adnani dalam pesan audio. Dia mendesak untuk lebih banyak lagi serangan di Irak, Suriah dan Libya. Al-Adnani juga mendesak untuk meningkatkan serangan di Irak, Suriah dan Libya. Bahkan, dia meminta Arab di Levant dan Arab Saudi untuk bangkit melawan “pemimpin tirani” mereka.

Baru-baru ini, laporan Reuters, serangan teroris serempak terjadi di tiga benua, Jumat (26/6). Korban tewas sejauh ini bertambah 16 orang, dari sebelumnya 38 orang menjadi 54 orang.

Kejadian pertama ada di tenggara Perancis. Penyerang menabrakan mobilnya ke sebuah pabrik gas milik Amerika Serikat (AS) dan memicu ledakan. Ledakan itu melukai setidaknya satu orang karyawan gedung tersebut.

Mengutip harian lokal Le Dauphine, sebuah mayat tanpa kepala berbalut tulisan Arab ditemukan di pagar kawat dekat pabrik usai serangan tersebut.

Di Tunisia, The Guardian melaporkan sedikitnya 28 orang tewas, termasuk wisatawan asal Inggris, ketika seorang pria bersenjata melepaskan tembakan secara mebabi-buta di Imperial Marhaba Hotel yang berada di tepi pantai kawasan wisata Sousse. Jumlah korban tewas saat ini bertambah satu orang dari laporan sebelumnya 27 orang meninggal dunia.

Di antara korban tewas, jasad seorang pria bersenjata ditemukan tergeletak masih memegang sepucuk senapan Kalashnikov yang dia gunakan dalam adu tembak dengan pihak kepolisian. Selain korban tewas, sejauh ini enam orang dikabarkan Reuters terluka dan dilarikan ke rumah sakit.

Aksi berikutnya terjadi di Kuwait, dimana seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya di sebuah masjid Muslim Syiah saat shalat Jumat berlangsung. Kabar terakhir dari The Guardian, serangan ini menewaskan sedikitnya 25 orang atau bertambah 15 orang dari laporan sebelumnya. Sementara itu, lebih dari 200 orang terluka akibat bom bunuh diri tersebut. Kelompok militan Negara Islam Iraq dan Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. (CNN)

Turut berbelasungkawa yang teramat dalam atas kejadian tersebut. Inn­­ā li’l-­L­āhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

 

SALAH satu penyebab ekstremisme, penindasan, kekerasan, maupun terorisme yang mengatasnamakan agama adalah ulah beberapa umat Islam sendiri. Kita pun turut andil di dalam pengabaian tersebut. Ini ditambah dengan interpretasi yang keliru mengenai jihad oleh beberapa kaum ulama Islam tertentu.

Kita yang memiliki mata, kita yang menelaah ḥadīts-ḥadīts, dan kita yang mengkaji Al-Qur’ān harus memahami baik bahwa jenis jihad yang dipraktekkan oleh banyak orang barbar saat ini bukanlah jihad yang diajarkan Islam. Tindak kesesatan yang telah menyebar di antara umat Islam tersebut adalah dihasut oleh nafsu ammarah, keadaan diri yang selalu ingin berbuat kejahatan dan telah diracuni oleh khayalan-khayalan indah lagi semu akan surga.

Tindak penumpahan darah atas nama agama tersebut bukanlah jihad dari syariat Islam. Itu adalah dosa besar dan pelanggaran terhadap perintah-perintah yang jelas dari Allāh dan nabi-Nya saw..

Pemahaman mereka tentang jihad sama sekali tidak benar. Mestinya, jika mau mengobarkan jihad maka yang harus pertama dikedepankan adalah rasa simpati kita kepada umat manusia.

Tindak kejahatan yang mengatasnamakan jihad agama itu hanya alasan untuk memenuhi ambisi pribadi saja. Ia adalah kegilaan, hasrat untuk menumpahkan darah.

Hari ini pun para jihadis sudah ada banyak membunuh orang-orang yang tak berdosa di tempat-tempat ibadah mereka, di angkutan umum dan di ruang-ruang publik, atas nama jihad.

Kaum alim-ulama mesti terpanggil hatinya dan bertanggung jawab dengan munculnya fanatisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama.

Semoga Allah swt. mengembalikan para alim-ulama itu ke arah jalan yang lurus. Mereka telah menyesatkan umat manusia dengan dogma bahwa kunci surga itu terletak pada keyakinan yang benar-benar menindas, kejam dan tidak bermoral.

Kaum jihadis menganggap Jihad sebagai sebuah kewajiban di dalam hati mereka. Mereka mematuhi begitu kuat kesesatan doktrin jihad mereka yang sudah jelas-jelas bertentangan dengan Islam.

Kaum alim-ulama jihadis yang malang itu telah menghancurkan citra Islam. Mereka menjadi musuh dari orang-orang mereka sendiri, melalui kecerobohan, kebodohan, serta kebejatan moral mereka.

Melalui makna jihad yang hakiki, apapun-dan-bagaimanapun kekuatan serta kekerasan tidaklah dapat digunakan dengan mengatasnamakan agama.

Islam saat ini kian dipandang banyak orang di Barat sebagai agama agresif yang mempromosikan terorisme. Sayangnya, sering terjadi bahwa pembunuhan orang tak bersalah, bom bunuh diri, dan kegiatan teror itu dilakukan orang-orang yang mengaku muslim.

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia