Opini

Konsep Nabi Terakhir Justru Menurunkan Derajat Nabi Muhammad SAW

khataman nabiyyin

Konsep yang diyakini oleh kebanyakan umat di seluruh dunia adalah bahwa tidak ada lagi setelah . Jadi beliau adalah “penutup para Nabi”. Setelah kewafatan beliau tidak mungkin lagi ada Nabi yang akan datang.

Itulah sebabnya, kalau ada orang yang mengaku dirinya sebagai nabi setelah beliau, orang tersebut dipastikan sesat dan otomatis keluar dari agama Islam. Inilah diktum yang dipercayai qath’i tanpa ada kemungkinan penafsiran lagi.

Saya jadi bertanya-tanya, mengapa setelah Nabi Muhammad SAW tidak perlu lagi datang seorang nabi lainnya? Saya akan mengesampingkan dulu dalil-dalil naqli tentang tertutupnya pintu kenabian. Kita perlu menjawab pertanyaan tersebut dengan pendekatan lain yang sifatnya aqliyah. Sebab, pendekatan akal lebih mudah dan praktis untuk dipakai. Bukan berarti dalil-dalil naqli itu tidak penting. Tapi itu nanti.

Nabi Muhammad saw adalah Nabi pembawa syari’at terakhir yakni . Tidak akan ada syari’at lagi setelahnya, sebab, kesempurnaan syari’at ini telah dikonfirmasi oleh Quran sendiri. Sebelum Nabi Muhammad SAW, telah berlalu Nabi-nabi pembawa syari’at yang lain. Contohnya, Nabi Musa as.

Konsep kenabian yang diterangkan dalam Quran meliputi Nabi pembawa syari’at dan Nabi yang meneruskan syari’at. Nabi Musa as membawa syari’at Taurat, dimana beliau diikuti oleh ribuan Nabi-nabi setelahnya. Ada Nabi Harun as, Nabi Daud as, Nabi Ismail as, hingga kepada Nabi Isa as. Nabi-nabi yang saya sebut tadi adalah Nabi-nabi yang meneruskan syari’at Nabi Musa as. Mereka tidak membawa syari’at baru setelah Nabi Musa as.

Jadi. Dari syari’at Nabi Musa as, terlahir begitu banyak nabi setelahnya. Kalau kita umpamakan Kenabian pembawa syari’at itu seperti “universitas”, maka universitasnya Nabi Musa as telah mencetak banyak sekali nabi. Sedang, universitas Nabi Muhammad SAW tidak menghasilkan meskipun satu saja lulusannya, menurut kebanyakan umat Islam.

Melalui Karomah Nabi Musa as dengan syari’at Tauratnya, dalan jenjang waktu 1400 tahun, telah lahir ribuan nabi-nabi untuk membimbing kaum Bani Israil. Itu artinya urusan kerohanian memang dibutuhkan ahlinya, yakni nabi-nabi tadi. Hanya seorang nabi yang mampu menangani masalah perbaikan akhlak, sebab Allah sendiri yang membimbingnya.

Sebuah hukum Tuhan telah digariskan bahwa saat keadaan rohani (akhlak) suatu umat sedang rusak, terjerumus dalam lembah kekafiran, terjerembab dalam perilaku-perilaku hewani, dalam keadaaan seperti Kasih Sayang Tuhan tidak akan tinggal diam. Dia akan menurunkan utusan-utusannya. Hanya cara inilah yang dapat menyelesaikan masalah akhlak.

Itulah mengapa, dalam rentang 1400 tahun syari’at Nabi Musa as, ribuan nabi telah diturunkan untuk menuntaskan masalah perbaikan akhlak.

Lalu, kembali ke pertanyaan di awal,  mengapa setelah Nabi Muhammad saw tidak perlu lagi datang seorang nabi lainnya? Apakah akhlak kaum muslimin telah sempurna? Yang sempurna ajarannya (Quran) atau manusianya? Ajaran yang telah sempurna akankah berdampak pula pada kesempurnaan akhlak umat Islam? Yang perlu dipahami adalah, ajaran hanyalah alat untuk mencapai penyempurnaan akhlak. Yang namanya alat perlu user sebagai pengguna alat tersebut. Tanpanya, alat hanya alat, sebagus apapun itu.

Katanya, Xiaomi Redmi Note 3 Pro itu bagus, mampu memberikan kenyamanan dan kepuasan. Kata-kata itu akan terbukti saat saya, misalnya, menggunakan alat tersebut. Kalau tidak digunakan, kenyamanan dan kepuasan, tidak akan bisa terkonfirmasi.

Apakah anda yakin akhlak umat Islam telah sempurna hingga pintu kenabian harus ditutup, padahal, seorang nabi lah yang memiliki kompetensi dalam urusan ini?

Rasulullah saw pernah memperingatkan kita tentang datangnya sebuah musibah besar di antara umat Islam. Dikatakan, “Apabila umatku telah melakukan 15 perkara ini, maka bala’ pasti akan turun kepada mereka. 1. Apabila harta negara hanya beredar pada orang-orang tertentu, 2. Apabila amanah dijadikan sumber keuntungan, 3. Zakat dijadikan hutang, 4. Suami memperturutkan kemauan istri, 5. Anak durhaka pada ibunya, 6. Sedang ia berbuat baik pada temannya, 7. Ia menjauhkan diri dari ayahnya, 8. Suara-suara ditinggikan dalam masjid, 9. Yang menjadi ketua suatu kaum adalah orang terhina di antara mereka, 10. Seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya, 11. Khamr sudah diminum di segala tempat, 12. Kain sutera banyak dipakai laki-laki, 13. Para biduanita disanjung-sanjung, 14. Musik banyak dimainkan, 15. Generasi akhir umat ini melaknat generasi awal. Ketika itu tiba mereka sedang menanti angin merah atau gerhana dan gempa bumi.” (HR. Tirmidzi)

Bukankah ke-lima belas kejahatan di atas sudah kita saksikan bersama-sama? Bahkan, kita lihat sekarang, moral umat Islam sungguh jauh sekali dari apa yang Rasulullah saw ajarkan kepada kita. Lalu, adakah hubungannya antara sempurnanya ajaran Islam (Quran) dengan umat yang otomatis sempurna akhlaknya? Jawabannya “tidak” ada hubungannya.

Sebab, urusan perbaikan akhlak adalah hak prerogatif seorang utusan Allah. Itu sudah dari dulu, sejak zaman Nabi Adam as. Sehebat apapun ulama atau orang suci di suatu masa, tetap saja, urusan perbaikan akhlak adalah tugas para Nabi Allah. Sebab, nabi adalah seseorang yang mendapat “kabar” (ghaib) dari Allah. Ia akan diberitahukan formulasi yang tepat untuk memperbaiki akhlak manusia. Hanya ia yang tahu. Meski tanpa perlu pendidikan agama sekalipun. Sebab, guru seorang nabi adalah Tuhan sendiri.

Dari perspektif ini saja, diktum yang menyatakan bahwa setelah Nabi Muhammad saw tidak ada lagi nabi, yang tugasnya untuk melanjutkan tongkat estafet perbaikan akhlak manusia, sungguh merupakan kekeliruan yang berbahaya. Sebab, itu sama saja dengan “kufur nikmat”. Karena Allah berjanji dalam Quran:

Allah tidak akan membiarkan orang-orang mukmin dalam keadaan kamu sekarang, sampai Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah tidak akan memberitahukan yang ghaib kepadamu. akan tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. (QS. Ali-Imran 180)

Saat terjadi kejatuhan moral dan kehancuran akhlak orang-orang beriman, saat itulah melaui sifat Rahman dan Rahim Allah, Dia menurunkan kepada manusia seorang utusannya. Apakah benar pintu kenabian telah tertutup rapat-rapat? Kalau benar, justru kita telah menurunkan derajat Nabi Muhammad saw.

Silahkan direnungkan. Tunggu bahasan selanjutnya.

Sumber Gambar: http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/09/apakah-al-quran-lebih-tua-dari-era-nabi-muhammad-saw

 

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin

Tinggalkan komentar