Adi Nasir Denz Asad IB Times Opini

Arab Saudi Janji Bangun 200 Masjid di Jerman

Arab Saudi menawarkan untuk membangun 200 masjid bagi para pengungsi di Jerman Krisis pengungsi muslim Suriah Arab Saudi janji bangun 200 masjid di Jerman khalifah Islam Ahmadiyyah Raja Pena Capture

Arab Saudi menawarkan untuk membangun 200 masjid bagi para pengungsi di Jerman. (Ilustrasi dari IB Times)

ARAB SAUDI telah menawarkan untuk membangun 200 masjid di Jerman untuk menampung gelombang pengungsi Muslim jika diijinkan oleh pemerintah Jerman, demikian dilaporkan oleh media setempat.

Ratusan ribu warga Syiria atau , Irak, , dan pencari suaka lainnya dari negara Afrika Utara dan Timur Tengah telah mengungsi ke Eropa dalam waktu ini.

Surat kabar Ad-Diyar dari Lebanon pertama kali melaporkan penawaran tersebut, mengutip permintaan sebuah komite para sheik.

Arab Saudi pun berjanji untuk menyumbang setidaknya 200 juta USD, demikian menurutr surat kabar Lebanon tersebut, meski tidak begitu jelas apakah sumbangan tersebut ditujukan untuk para pengungsi atau untuk membangun masjid seperti yang diutarakan sebelumnya.

Tawaran tersebut muncul di tengah maraknya tuduhan kemunafikan yang ditujukan langsung kepada negara di wilayah Teluk yang kaya-raya dan negara tetangganya karena hanya menampung, jika memang ada, sebagian kecil saja pengungsi dari Suriah yang menghadapi perang saudara yang telah berlangsung 4 tahun lamanya. Malah, mereka, negara-negara Teluk yang kaya, memberikan sokongan bagi kelompok yang bertikai di sana.
Menurut laporan PBB, di tahun 2014, Arab Saudi hanya menerima 561 orang pengungsi dan 100 pencari suaka, demikian dilaporkan Wall Street Journal. Sebagian kecil pengungsi lainnya mengungsi ke Qatar dan .

Sebaliknya, Jerman, telah menyatakan bahwa ia akan menerima 800.000 orang pengungsi, dan negara-negara yang berbatasan dengan Suriah—, Lebanon dan Turki—masing-masing negara secara resmi telah mengambil ratusan ribu pengungsi.

Usulan untuk membangun masjid di Jerman memiliki latar belakang yang tidak mudah di sana.

Bulan Juli yang lalu, saat sebuah media center Islam memutuskan untuk mengubah peruntukan gereja di Jerman bagian Utara, warga setempat memprotesnya menjadi sebuah masjid.

Persatuan Kristen Demokrat meminta agar peruntukan gereja tidak diubah, sementara seorang pastor menyarankan untuk meruntuhkan bangunan gereja tersebut.

Pembangunan masjid megah oleh Turki di Cologne, Jerman, pun memicu kemarahan warga setempat, di tahun 2012.

Asosiasi Islam Turki ada di belakangnya, menantang kedaulatan Kristen di kota Cologne, demikian disebutkan oleh “aktivis anti-jihad” Michael Höhne-Pattberg kepada kator berita CBN saat itu.

Warga lainnya di kota-kota di mana jumlah penduduk Muslim mengalami peningkatan juga mengkritik apa yang mereka sebut dengan “Islamisasi” di kota tempat tinggal mereka.

SEBENARNYA, jauh sebelum Arab Saudi memberikan penawaran pembangunan 200 masjid di Jerman, sejak tahun 1920-an Jamaah Muslim Ahmadiyah telah merintis usaha untuk mendirikan masjid di sana.

Atas keinginan Khalifah Islam Ahmadiyah Kedua Alhajj r.a. bahwa Jamaah Ahmadiyah harus membangun 2.500 masjid di Eropa, tentunya masih sangat jauh pencapaiannya namun bukan merupakan sesuatu yang dapat memutuskan harapan mulia tersebut.

Untuk masa ini, Jamaah Muslim Ahmadiyah di Jerman menargetkan pembangunan 100 masjid, atas persetujuan dan pengawasan Khalifah Islam Ahmadiyah Kelima atba., salah satunya adalah yang berlokasi di Heinersdorf, bekas wilayah Jerman Timur, bagian timur kota Berlin.

Masjid Khadijah mulai dibangun pada tahun 2007 dan dibuka pada 2008. Ia merupakan masjid pertama di lokasi tersebut, dapat menampung 500 jamaah dan dibangun dengan dana yang dikumpulkan oleh Lajnah Imaillah organisasi badan perempuan Jamaah Muslim Ahmadiyah.

Perlu diingat bahwa tujuan mendirikan masjid bukanlah untuk sesuatu yang bersifat riya, bermewah-mewahan, apalagi menjadi sesuatu yang mengintimidasi orang lain—warga setempat atau penganut lain. Seyogianya, masjid menjadi sumber untuk meningkatkan ibadah kepada Allāh swt. juga untuk sarana syiar Islam dengan damai.

Selain itu, keberadaan masjid jangan sampai mengundang reaksi negatif dari penduduk sekitarnya; menyangkut perizinan, lokasi yang tidak terlalu padat penduduk, dan—tidak lupa—hubungan yang baik dengan pihak pemerintah dan warga sekitarnya.

Allāh Ta‘ālā menjanjikan masjid di surga, bagi mereka yang mendirikan rumah-Nya di , dengan disertai niat baik serta ketulusan yang hakiki.

Elizabeth Whitman (@elizabethwhitty; e.whitman@ibtimes.com) | International Business Times | ADS | DNZ | RP

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia