Pendidikan Qureta

Menjawab Keberatan Richard Dawkins: Kritik Ateis atas Pendidikan Anak Berbasis Agama

SEBENARNYA orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai ateis juga dibesarkan dan dididik dalam lingkungan keagamaan tertentu.

Karena nyata-nyata mereka adalah , lalu mengapa para orangtua yang religius tidak boleh membesarkan anak-anak mereka dengan ajaran-ajaran agama yang mereka yakini masing-masing?

 

ADALAH suatu pemandangan umum dan biasa kita lihat di mana orangtua membesarkan anak-anak mereka atas dasar doktrin agama yang mereka anut. Disadari ataupun tidak, doktrin agama yang dianut orangtua akan berperan besar dalam mempengaruhi cara mereka mendidik anak-anaknya.

Hal inilah yang dikritisi oleh Richard Dawkins, profesor ahli Biologi dan pegiat Ateisme dalam sebuah artikel yang ditulisnya dengan judul “Don’t Force Your Religious Opinions on Your Children”.

Dawkins mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat penting antara mengikutsertakan anak-anakmu di dalam tradisi-tradisi keagamaan yang tidak berbahaya bagi mereka, dan memaksa mereka dengan opini-opini yang tak berdasar tentang sifat dasar ataupun kosmos.

Dawkins juga menambahkan bahwa pelaksanaan tradisi keagamaan adalah sah-sah saja selama itu hanya sebatas nyanyian-nyanyian, literatur, style dari pakaian ataupun arsitektur bangunan. Namun tradisi tersebut juga merupakan dasar yang buruk atas berbagai etika, maupun keyakinan-keyakinan tentang asal muasal dari alam semesta ataupun evolusi kehidupan.

Hal senada juga diungkapkan oleh beberapa pegiat Ateisme lainnya yang menyebutkan bahwa upaya para orangtua mengajarkan nilai-nilai agama terhadap anak-anak mereka adalah sama halnya dengan ‘brainwashing’—cuci otak.

Ketika orangtua melakukan apa yang mereka sebut sebagai ‘brainwashing’ ini atas keyakinan-keyakinan religiusnya kepada anak-anak mereka akan menimbulkan pengaruh yang tidak selayaknya atas masa depan anak-anak mereka.

Mereka mengusulkan satu pendekatan yang menurutnya adalah ‘fairest approach’ yakni membesarkan anak-anak dengan tanpa memperkenalkan mereka sama sekali dengan nilai-nilai agama apa pun hingga mereka mencapai ‘intellectual maturity’—kematangan intelektualnya yang mana mereka akan mampu untuk memilih pilihan keimanan mereka ataupun ketidakimanan mereka atas suatu agama.

Melihat secara sepintas, hal ini tampak sebagai hal yang ‘logis’ maupun ‘reasonable’ namun sebenarnya juga terdapat kecacatan dalam pandangan ini.

Jika kita kembali kepada statemen-statemen dari Dawkins maupun pegiat Ateisme yang lainnya yang menyerukan untuk membesarkan anak-anak tanpa mengajarkan kepada mereka ‘religious values’, hal ini akan menjadi hipokrit atas pernyataan mereka sendiri.

Buat para ateis yang tidak meyakini nilai-nilai agama apapun, saat mereka membesarkan anak-anak mereka, sebenarnya mereka sendiri telah membesarkan anak-anak mereka dengan doktrin ‘ateisme’.

Jadi jika Dawkins dan para pegiat ateisme lainnya berhak membesarkan anak-anaknya tanpa sama sekali mengajarkan ‘religious values’ karena nyata-nyata mereka adalah ateis, lalu mengapa para orangtua yang religius tidak boleh membesarkan anak-anak mereka dengan ajaran-ajaran agama yang mereka yakini masing-masing? Inikah yang Dawkins sebut sebagai ‘fairest approach’—pendekatan yang paling adil?

Selanjutnya adalah sebuah kewajaran bila orangtua membesarkan anak-anak mereka atas dasar nilai-nilai yang mereka ‘judge’—hakimi sebagai sesuatu yang baik untuk anak-anak mereka. Mereka menghendaki anak-anak mereka tumbuh dan berkembang sebagai anak-anak yang memiliki kepribadian baik. Dan para orangtua yang religius ini melihat segala itu ada pada doktrin-doktrin yang mereka anut.

Sebagai orangtua mereka tidak dapat mengambil risiko begitu saja untuk memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada anak-anak mereka tanpa membekali mereka dengan apa yang orangtua ‘judge’ sebagai sesuatu yang baik buat mereka. Jadi hak orangtua untuk membesarkan anak-anak mereka sesuai dengan nilai-nilai yang mereka yakini baik tetap harus dihormati.

Namun tentu saja hak orangtua dalam hal ini pun memiliki keterbatasan juga. Sebagaimana di dalam Quran disebutkan mengenai ‘Lā ikrāha fi’d-diin’—tidak ada paksaan di dalam agama.[1] Orangtua berhak untuk menanamkan nilai-nilai agama yang menurutnya baik kepada anak-anaknya.

Namun hingga pada saatnya nanti anak-anak telah mencapai ‘intellectual maturity’, mereka juga punya hak menentukkan sendiri apa yang terbaik menurutnya. Orangtua melakukan yang terbaik untuk menanamkan nilai-nilai agama yang dianggapnya benar dan baik, namun mereka juga tidak dapat memaksakannya ketika anak-anak mereka menentukkan pilihan yang lain.

Sama halnya ketika Nuh dengan segala upayanya telah mendakwahkan ajarannya kepada keluarganya, namun pada akhirnya anaknya memutuskan untuk tidak mengikutinya sehingga diceritakan dalam Quran anaknya menolaknya untuk ikut naik ke bahtera yang dibuatnya atas perintah Tuhan sebelum banjir besar melanda negri itu.

Dawkins dalam argumennya juga menyebutkan,‘Indoctrinating your opinions into the vulnerable minds of your children is bad enough’─ Indoktrinasi opini-opinimu ke dalam pikiran anak-anak yang masih lemah adalah hal yang buruk. Jadi biarkan anak-anak tumbuh dan berkembang tanpa iman.

Mengkiritisi apa yang disampaikan Dawkins, bahwasanya anak-anak perlu juga mendapatkan informasi yang baik tentang segala sesuatu. Termasuk juga tentang doktrin agama. Berbicara mengenai agama bukan hanya pada tataran intelektual semata namun juga tataran praksisnya.

Bagaimana anak-anak diperkenalkan kepada kebenaran akan Tuhan, lalu kemudian anak-anak juga dapat berpengalaman dengan sendirinya menjalin hubungan spiritual dengan Tuhan. Misalnya mengajarkan mereka tentang doa dan dari doa.

Hal ini membutuhkan pengalaman secara langsung. Inilah yang disebut dengan anak-anak perlu juga untuk menjadi ‘well-informed’ atas doktrin agama sebelum mereka juga dapat menentukkan pilihan mereka sendiri.

Fakta lain yang ingin juga dikemukakan dalam tulisan ini adalah sebenarnya orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai ateis juga dibesarkan dan dididik dalam lingkungan keagamaan tertentu, sebagai contohnya agama Kristen.

Para ateis di Barat rata-rata dibesarkan dalam lingkungan dengan doktrin Kristennya termasuk Dawkins sendiri. Dawkins menyebutkan bahwa setelah dirinya yang dibesarkan dengan doktrin Kristen oleh orangtuanya, saat mencapai usia remaja, dia memutuskan untuk menjalani kehidupan ateisnya.

Apalagi ditambah dengan fakta yang terjadi di dunia barat belakangan ini saat ateis melonjak dan pengikut agama menjadi menurun drastis. Misalnya fakta yang dikemukakan oleh Pew Research Center pada tahun 2014 yang menyebutkan bahwa di USA terjadi peningkatan jumlah ateis sebesar tiga persen setiap tahunnya.

Hal ini semakin kuat membuktikan bahwa proses orangtua yang membesarkan anak-anak mereka dengan doktrin agama adalah bukanlah hal yang bersifat permanen. Bila hal ini bersifat permanen, barangkali tidak ada yang akan menjadi ateis.

Jadi diasumsikan lonjakan pengikut ateis ini akan tetap terjadi tanpa harus mengikuti pandangan dari Dawkins selama ‘religion’s truth’—kebenaran agama tidak dapat memuaskan secara ‘intellectual’ maupun ‘experiential’. So don’t worry and be happy, Mr. Dawkins!

_

QURETA.com

[1] QS Al-Baqarah {2}:257

Tentang Penulis

Muhammad Idris