Opini

Laitul Qadr yang Hakiki

 

Menghitung hari,, Ramadan tak lama lagi pergi..

Tersisa beberapa hari,, akankah lebih berarti..?

Atau hanya sebatas rutinitas yang harus dijalani?

 

Pada hari ini, yakni hari ke-23 Ramadan, umat muslim sedang menjalani 10 hari terakhir dibulan Ramadan ketika, menurut sabda Nabi Muhammad SAW, pintu surga dibukakan selebar–lebarnya dan pintu neraka ditutup rapat-rapat. Namun, mirisnya, pada 10 hari terakhir ini, tak sedikit umat muslim yang tergoda dalam kefanaan dunia. Mengapa tidak, pusat perbelanjaan mulai disemarakkan hingga ramai riuh oleh umat muslim yang berburu persiapan di hari raya nanti. Entahlah, itu sudah menjadi hal yang lumrah pada setiap bulan Ramadan.

Padahal, sejatinya, pada 10 malam terakhir di bulan Ramadan, ada suatu malam yang dinamakan . Diriwayatkan dari Aisyah radiyallahu anha bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Carilah lailatul qadr pada malam–malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Merujuk pada sabda tersebut, sudah seharusnya pada malam ini hingga habisnya bulan Ramadan umat muslim sibuk dengan serentetan kegiatan rohani untuk mencari lailatul qadr. Lalu, apakah malam lailatul qadr itu? Siapakah yang berhak mendapatkan lailatul qadr tersebut?

Hazrat Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, menjelaskan bahwa ada tiga bentuk lailatul qadr, yaitu suatu malam tertentu pada bulan Ramadan, zaman seorang nabi Allah, serta suatu waktu yang khas bagi seseorang ketika ia menjadi suci dan bersih.

Untuk poin pertama, sesuai dengan sabda Nabi kita Nabi Muhammad SAW, umat muslim dapat mencarinya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan ini. Tak sedikit umat muslim yang melaksanakan itikaf di setiap masjid guna mencari lailatul qadr tersebut.

Adapun poin kedua terjadi pada zaman kedatangan Nabi Allah. Lailaut qadr menurut bahasa berarti malam ketetapan. Mari menelisik sejenak contoh di zaman Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Bangsa Arab berada dalam kegelapan rohani yang luar biasa bagaikan malam tanpa cahaya sedikitpun. Nabi Besar Muhammad SAW diibaratkan sebagai Syams (matahari), Beliaulah yang memberikan cahaya terang dan membawa lailatul qadr untuk para umatnya.

Pada point ketiga, lailatul qadr bagi seseorang ketika ia menjadi suci dan bersih, yakni ia yang senantiasa membersihkan diri dari kekotoran dan kejahatan duniawi. Dengan segala kerendahan hatinya, hidupnya hanya diperuntukan untuk mencari rida Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

“…Seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadr dengan iimaanaw wahtisaaban (penuh keimanan, penuh harap akan pahala dan rida-Nya, dan penuh koreksi terhadap diri sendiri), niscaya akan diampuni juga dosa–dosanya yang telah lalu.

Dosa–dosa yang telah lalu akan diampuni pada malam lailatul qadr. Namun, penghapusan dosa tersebut bersyarat sesuai sabda Nabi Muhammad SAW, yaitu dengan penuh keimanan, penuh harap akan pahala dan rida-Nya, serta senantiasa dengan penuh koreksi diri. Syarat ini tentunya tak hanya dilakukan sehari atau dua hari saja saat bulan . Iimaanaw wahitsaaban yang diinginkan oleh Allah Taala sejatinya harus dilakukan pula oleh umat muslim setelah usainya bulan Ramadan. Itulah umat muslim yang akan mendapatkan lailatul qadr yang hakiki.

Sebagai anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah, kita harus bersyukur karena lailatul qadr terbesar bagi kita adalah mengimani kedatangan Imam Mahdi as. Beliau, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, diibaratkan sebagai qamar (bulan) yang menjadi cahaya di kegelapan rohani. Beliau sebagai penerus Nabi Muhammad SAW membawa lailatul qadr untuk para anggotanya. Sebab, pada hakikatnya, cahaya bulan yang menyinari anggotanya saat ini merupakan pantulan dari cahaya matahari Nabi Muhammad SAW.

Sebagai penerus Nabi Muhammad SAW, Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah mengimbau para pengikut beliau untuk senantiasa merevolusi kerohanian agar mendaptkan lailatul qadr yang hakiki, yaitu senantiasa menjadi mukmin sejati yang selalu mengingat Allah SWT. Setiap perkataan dan perbuatannya semata–mata dilakukan hanya untuk mencari keridaan Allah Taala serta tak henti–hentinya melakukan intropeksi diri untuk menjadi pribadi yang diinginkan Allah Taala. Hazrat Mirza Masroor Ahmad atba, Khalifah yang saat ini memimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah, senantiasa mengingatkan para anggota beliau untuk mencapai ketakwaan sejati pada bulan Ramadan ini. Beliau selalu mengingatkan para anggotanya untuk mengamalkan apa yang diajarkan Rasulullah SAW serta menjadi anggota Ahmadi yang diharapkan Sang Pendiri Ahmadiyah, Hazrat Masih Mauud as. Inilah mata rantai kerohanian yang senantiasa tak akan terputus dengan bimbingan wakil Allah Taala melalui khalifah-Nya.

Memang tak mudah untuk mendapatkan lailatul qadr yang hakiki karena dibutuhkan kebersihan dan kesucian rohani semata–mata untuk mencari rida ilahi. Namun, jika ditelusuri dan senantiasa dikembalikan pada fitrah penciptaan manusia di bumi ini, sejatinya tak sulit untuk mendapatkan lailatul qadr yang hakiki. Kita terlahir sebagai hamba-hamba-Nya dan sudah menjadi keharusan bahwa segala perkataan, perbuatan, hingga pengorbanan kita semata–mata hanya diperuntukan bagi-Nya, yaitu Allah Azza Wa Jalla.

 

Sumber gambar: http://www.artikelsiana.com/2015/06/pengertian-tanda-tanda-malam-lailatul-qadar.html

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar