Opini

Lebah dan Bukti Tetap Terbukanya Pintu Wahyu

wahyu
Penulis Ammar Ahmad

Perdebatan dan pembahasan mengenai apakah pintu masih terbuka, tetap berlangsung hingga sekarang. Kali ini penulis akan memaparkan suatu dalil yang jarang sekali terdengar dalam pembahasan tersebut. Dalil ini datang dari ayat Al-Quran sendiri yang mendukung bahwa pintu tetap terbuka.

Kita sudah tidak asing lagi mendengar bahwa pun menerima wahyu dari Allah Ta’ala. Berikut ayat Al-Quran yang menyinggung masalah ini,

“Dan engkau telah mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang digunung-gunung, pada pohon-pohon dan di tempat-tempat yang manusia buat.’” (QS,Al-Nahl:69)

Dari ayat ini kita ketahui bahwa hewan seperti lebah pun menerima wahyu. Manfaat dari wahyu tersebut adalah lebah menjadi mampu membuat sarang-sarangnya di gunung, pohon atau tinggal di sarang buatan manusia.

Bahkan lebih daripada itu, kehidupan mereka pun jadi demikian teratur. Ini hanya contoh yang paling menonjol saja dari luar biasanya alam ini tertata. Ketahuilah bahwa bekerjanya alam semesta dan seluruh isinya sangat tergantung dengan adanya wahyu.

Tanpa adanya wahyu maka alam semesta pun akan hancur seketika, karena sumber bimbingan berjalannya alam telah tidak ada. Ayat ini mendukung bahwa berjalannya sistem alam semesta itu sangat tergantung pada wahyu Penciptanya.

Berkenaan dengan ayat ini Masih Mau’ud as. bersabda:

Sekarang baik menurut kalian wahyu kepada lebah madu telah tertutup ataupun masih berlanjut….saat wahyu kepada lebah madu itu hingga sekarang tidak terputus maka wahyu yang biasanya turun kepada manusia bagaimana mungkin bisa terputus ?…” (Al-Badr Jld.2 no.33 tanggal 4 September 1903 hal.258)

Bila memang wahyu kepada lebah itu terputus maka seharusnya lebah tidak sanggup lagi untuk membuat sarang lagi bahkan sistem hidup koloni mereka akan kacau balau. Namun sampai sekarang lebah tetap bisa membuat sarang dan hidup koloni mereka demikian sangat teratur.

Hal ini membuktikan bahwa wahyu kepada para lebah itu masih tetap berlangsung. Allah tetap membimbing kehidupan mereka. Logika yang digunakan oleh Masih Mau’ud as adalah bila wahyu kepada lebah saja tetap berlangsung maka mana mungkin wahyu kepada manusia sebagai mahluk Allah yang paling sempurna bisa terputus ? Jelas tidak mungkin. Hal ini justru mencederai martabat manusia sebagai mahluk terbaik.

Maka dari penjelasan diatas kita ketahui bahwa dengan berjalannya sistem alam raya ini, membuktikan masih adanya wahyu Allah yang mengaturnya. Demikian juga wahyu kepada manusia tidak akan mungkin terputus karena wahyu adalah bimbingan terbaik bagi mahluk Allah Ta’ala.

Sedang sebagaimana alam masih memerlukan bimbingan berupa wahyu demikian juga manusia masih memerlukan bimbingan berupa wahyu juga. Wahyu adalah sarana komunikasi Tuhan dengan para utusan-Nya dan semua mahluk-Nya.

Ini adalah sarana untuk mengenal wujud-Nya karena kita tidak bisa mengenal-Nya hanya atas daya upaya sendiri. Kita perlu bimbingan Tuhan sendiri untuk mengenal wujud-Nya. Menganggap wahyu terputus justru sama dengan mengatakan bahwa kita tidak memerlukan bimbingan Tuhan lagi. Secara tidak langsung kita telah berlaku sombong dalam hal ini.

Namun ingat bahwa wahyu yang tetap berlangsung adalah wahyu tanpa syariat atau hukum. Karena wahyu jenis ini telah tertutup dengan adanya kitab suci Al-Quran. Allah Ta’ala menyatakan bahwa syariat Islam telah sempurna dan nikmat ajaran Al-Quran pun telah sempurna (QS.Al-Maidah:4).

Jadi pintu wahyu yang tidak mengandung syariat tetaplah terbuka bagi kita semua. Sebagaimana pintu wahyu pun tetap terbuka bagi para lebah.

 

Sumber Gambar: https://pixabay.com/id/bunga-matahari-lebah-musim-panas-1643800/

Tentang Penulis

Ammar Ahmad