Facebook Fatimah Zahrah Peristiwa Travel

Lebih Kafir dari [yang] Kafir

“JAWABAN-jawaban duabelas responden membuat saya terkejut: Betapa masyarakat kita sangat intoleran terhadap perbedaan. Setidaknya dari hasil survey saya.” Penulis: Fatimah Zahrah, mahasiswi Universitas Paramadina Jakarta; via Page Facebook “Ahmadi Socialite”, 27 Januari 2011

Penulis: Fatimah Zahrah, mahasiswi Universitas Paramadina Jakarta
Dipublikasikan di : Facebook Page “Ahmadi Socialite”
Rilis: «13:09 27-Jan-2011»; akses: «10:51 14-Sep-2013»

Jumlah: 2158 kata

CATATAN: Tulisan ini telah melewati penyuntingan ulang oleh admin RajaPena.org.

“APAKAH Anda setuju dengan tindakan warga menyegel/merusak rumah atau fasilitas milik anggota Ahmadiyah?”

“Apakah Anda bersedia jika diajak untuk menyegel/merusak rumah atau fasilitas milik anggota Ahmadiyah?”

Dua pertanyaan yang harus saya ajukan pada responden. Saya bekerja sambilan sebagai surveyor riset lembaga independen. Judulnya, “Hubungan Radikalisme dengan Pelajaraan Agama Islam di Sekolah”. Responden—orang yang diwawancarai—guru agama se-Jabodetabek. Kali ini saya dapat jatah ngubek-ngubek daerah Jakarta Utara dan Pulau Tidung, Kepuluan Seribu Selatan.

Letak geografis, keadaan ekonomi, riwayat pendidikan, pandangan terhadap wacana pendirian negara Islam, penegakan hukum syariat, juga inklusifitas terhadap perbedaan baik di dalam atau di luar adalah garis besar faktor yang diteliti. “Dirangkum” dalam 186 daftar pertanyaan. Responden tentu dipilih secara acak. Datanya kami dapat dari Departemen Agama (Depag) Republik Indonesia (RI) yang tidak up to date. Banyak guru sudah pindah tugas, atau meninggal dunia karena produk 2008 punya.

Jawaban-jawaban duabelas responden membuat saya terkejut: Betapa masyarakat kita sangat intoleran terhadap perbedaan. Setidaknya dari hasil survey saya.

***

GURU itu belum bisa dibilang tua, 30—40 taksir saya. Saat dihubungi via telepon sekolah yang saya dapat dari jasa “mbah Google”, dia menolak. Saya sudah berusaha nego, tetap. Sibuk katanya. Untuk saya, ini masalah. Menurut peraturan lembaga, responden terpilih tak boleh diganti seenaknya kecuali dia meninggal atau tak di Jakarta selama kurun waktu dua minggu (rentang survey kami). Lalu terbayang sosok bapak guru itu. Tak banyak cakap, orang super sibuk, dingin, dan galak.

Ah, bagaimanapun saya harus bisa! Saya putuskan pakai jurus nekat. Datang dan todong. Skenario sudah direncanakan: kalau bapak guru ini menolak, tunjukan senjata,  gaya resmi dan berakting sok-sok meyakinkan juga. Perlengkapan senjata dari lembaga: surat izin dari Kementrian Dalam Negeri RI, Kementrian Agama RI, Dinas Pendidikan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Dinas Pendidikan Dasar Pemerintah Jakarta Utara. Lengkap! Ah tak lupa, tentu akan jadi “empat sehat lima sempurna” dengan ini: Surat tugas dari lembaga beserta kartu identitas.

Semuanya sudah saya persiapkan serapih mungkin. Waktunya terjun ke lapangan. Datang ke sekolah, tanya satpam. Bersyukur bapak guru yang dimaksud masih dan sedang ada di sekolah. Berdasarkan saran satpam, saya cari ruang guru.

Ini dia, pintu ruang guru. Kembali saya ingat-ingat skenario. Tarik nafas, baiklah, go!

“Permisi, saya ada perlu dengan pak Mamat. Beliaunya ada?” senyum manis ditambah gaya resmi, secukupnya.

“Oh, ada, itu orangnya,” tunjuk ibu guru.

“Selamat siang, pak Mamat? Saya dari sedang bertugas dari lembaga bla…bla…bla… sedang mengadakan bla…bla…bla… tujuannya bla…bla…bla…,” sedikit panjang lebar untuk menunjukan bahwa ini tugas resmi. Diakhiri dengan gaya postur body language wanita karir kelas jempolan.

Hening sejenak.

“Oh…! Yang waktu itu ‘nelpon..?” sambutnya dengan sangat ceria.

“Iya, Pak. Betul sekali. Ada waktu ‘kan? Sekitar 30—45 menit.” Kembali senyum super manis saya pasang.

“Silahkan, silahkan. Mau lebih juga enggak apa-apa, kok!” Matanya berkedip-kedip. Saya samarkan kernyit keheranan. Efek terkejut; bayangan dan kenyataan ternyata berbeda.

***

“OH, setuju sekali,” tersenyum-senyum genit menjawab pertanyaan penyerangan pada Ahmadiyah.

“Soalnya, orang Ahmadiyah itu nikahnya sembarangan, kalau kita kan harus kenal dulu dan dengan cinta kan, kalau mereka ‘tidak’, asal nikah aja.” Sepersekian detik saya melongo bercampur ekspresi aneh. Cepat-cepat saya sembunyikan demi profesionalitas.

“Oh ya? Bapak dapat info dari mana?” saya tersenyum samar aneh.

“Oh, banyak, dari internet juga.”

Nada “ooh” diucapkan dengan gaya seolah yang bertanya gadis lugu tak tau apa-apa dan bapak ini pahlawan pengetahuan. Gayanya mirip ustad-ustad yang suka ‘ndagel (ngelawak) di tivi-tivi.

Hmm. Well, jujur, saya agak kesal dengan bapak ini. Di pertanyaan mengenai setuju tidaknya dengan poligami, entah mengapa dia menjawabnya—untuk sekian kalinya—dengan senyum genit dan alis yang dimainkan. Tentu, saya berusaha untuk tidak subyektif. Profesional. Kekesalan itu lebih karena sikapnya yang kata saya tadi; kecentilan. Tentang jawaban dan pandangannya saya lebih condong untuk: miris.

Bapak ini memang tampaknya spesies pergaulannya tak beragam. Cenderung membatasi dan mungkin terkondisikan menjadi homogen. Dari jawaban yang saya dapat, dia tak terlalu banyak—malah sedikit sekali—bergaul dengan bukan sesama (muslim). Juga termasuk ke dalam daftar bersama limapuuh persen responden lainnya yang sangat menyetujui penegakan syariat Islam sebagai hukum negara di Indonesia.

***

KALI lain. Postur alim, tinggi standar dengan berat badan standar, mendekati agak kurus. Saat saya temui sedang memakai peci. Jabat tangan saya disambut dengan tak bersinggungan tangan. Tak terlalu ramah, tapi juga bukan responden yang menyusahkan.

Jawabannya cepat dan singkat. Cukup cerdas dan cepat memahami maksud pertanyaan. Waktu yang kami miliki memang sempit, hampir magrib, dengan 186—seratus delapanpuluh enam—pertanyaan yang harus dijawab. Dari pertanyaan demografis dan sedikit intrepretasi, beliau agamawan muda terpandang di lingkungannya.

“Sangat setuju,” singkat dan yakin.

“Apakah Anda setuju dengan tindakan warga menyegel/merusak rumah ibadah agama lain (selain Islam) yang terkait masalah izin?”

“Kurang setuju.”

“Setujukah bahwa hanya orang Islam yang perbuatan baiknya diterima di sisi Tuhan?”

“Setuju.” Dia meyakini, seperti juga jawaban hampir delapanpuluh persen responden lainnya. Dengan kata lain, hanya pengikut Islam-lah yang benar. Menurut mereka, yang bukan Islam—Nasrani, Katholik, Hindu, dan lain-lain—itu tidak benar atau: KAFIR.

Kalau Ahmadiyah? Ini lebih kafir dari yang kafir. Lha wong dia lebih setuju fasilitas orang Ahmadiyah yang dirusak daripada yang bukan Islam.

***

“NAK, sini nak, udah makan belum?” seorang guru keibuan.

“Bener? Tantemu nggak ngapa-ngapain kamu kan?” tanyanya lembut pada seorang murid.

Terharu, masih ada juga guru seperti ini di daerah Jakarta dan jawabannya kali ini membuat saya agak bingung harus merumuskan hipotesa macam apa.

“Gimana ya. Soalnya, mereka itu—orang Aḥmadiyyah—ngeyel-sih, Nak. Mungkin memang harus di-seperti-itu-kan. Mm, mungkin kalau merusaknya agak kurang setuju ya. Yang menyegel aja.” Mendingan.

Ibunda Guru ini termasuk orang yang cukup terbuka, terlihat dari jawabannya dengan pertanyaan tentang bergaul dengan orang nonmuslim. Beliau fine-fine saja. Besebrangan dengan tujuhpuluh persen responden lain yang merasa harus berhati-hati (kalau perlu sangat berhati-hati) bergaul dengan orang non muslim. Mengenai apabila didirikan rumah ibadah non muslim di sekitar lingkungannya, tak masalah.

Pernah menjadi staff di Kementrian Agama. PNS pangkat cukup tinggi, suami, bisa dibilang pengusaha. Tidak seenaknya generalisir masalah, cari akarnya. Saya pikir ini terkait media dan informasi. Ibu guru orang fair. Saya sebutkan nama kampus saya, yang menurut beberapa masyarakat—termasuk ibu ini—“kampus liberal” dengan konotasi negatif. Kampus orang-orang atheis. Dia bertanya dengan sopan dan terbuka, saya pun menjelaskan ihwal kampus saya dengan terbuka. Tak ada prejudge.

Mungkin bila orang-orang seperti beliau ini mendapatkan informasi yang benar, ya, baik pula jadinya. Inklusivitas adalah proses edukasi. Banyak pihak yang harus bertanggung jawab secara aktif di dalamnya, termasuk kaum minoritas itu sendiri. ‘Simpulanku cepat.

***

TENTU tak semua seburuk di atas, seingat saya masih ada dua-tiga jawaban melegakan.

“Itu, kan, sudah ada peranti hukumnya sendiri”—atau, “Nggak ‘lah, kita semua sama ‘aja kok!”

Itu jawaban yang—dalam proses survey kali ini—tergolong jawaban, minoritas. Berasal dari responden ini: [i] Guru muda lulusan S2 dan salah satu pengurus PBNU, aktif; [ii] ibu guru—paruh baya bergaya koboi—teman sejawat rektor UIN serta sederet nama mentereng lain, tapi memilih mengabdi menjadi guru bersahaja gaji tak seberapa; [iii] bapak guru paruh baya, bersahaja, menghargai, dan bergaul dengan siapa saja, tulus tapi tak kunjung-kunjung jua diangkat PNS padahal sudah bertahun-tahun mencoba.

Tak lupa, teringat pengakuan para guru bersahaja: Guru agama sering kali dianaktirikan. Nasibnya macam bawang putih, harga tak naik-naik. Tunjangan tak seperti guru lain. Mengajukan pengangkatan PNS lama dikabul, padahal berangkat bareng dengan rekan-rekan bidang lain. Kalau mengurus apa-apa, termasuk juga pemberian seragam guru, seringkali berubah jadi kompetisi bola ping-pong: kata Diknas, ini urusan Depag. Eh, kata Depag, monggo ke Diknas saja. “Bawang putih jadi bola pingpong”, jerit mereka.

***

AH, hampir saja lupa cerita saya bertualang ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan.

Pertama kali, survey ke pulau—katanya—eksotik, dibatalkan. Responden terpilih sudah tak mengajar di sekolah yang dimaksud. Berdasarkan peraturan dari lembaga tak boleh diteruskan. Ganti dengan responden di Jakarta Utara. Tak tahunya untuk survey ronde kedua—respondennya murid SMP dan SMA—saya ditodong ke sana. Menggantikan seorang surveyor lain, kakak kelas.

Sistem survey tak jauh berbeda dengan sebelumnya, berarti tak banyak kendala dalam penguasaan materi. Lagi pula—dan ini alasan sebenarnya—bisa sekalian berlibur dan berpisah dengan Jakarta, gratis pula. Biaya transport ditanggung. Mengapa tidak?

Ijab kabul diresmikan. Saya terima tawaran ini dengan tulus. Kelak saya baru tahu ternyata keputusan saya dipandang ‘rada nekat’ oleh teman-teman lembaga dan kampus.

Pagi-pagi sebelum subuh, saya mandi dan berkemas. Lalu menyongsong kereta pukul 05.00 dari stasiun Lenteng Agung. Tiba stasiun Jakarta Kota pukul 06.00, naik taksi ke Muara Angke. Harus siap di dermaga pukul 07.00, tiga jam perjalanan laut, berarti tiba di sana sekitar pukul 10.00. Itu rute yang saya tahu dari hasil tanya sana-sini, termasuk muballigh yang bertugas di Jakarta Barat (juga Pulau Tidung), lalu kakak, dan—tak lupa—pasang pengumuman di status FB, heungarep.

Semua sesuai rencana. Profesional. Tiba di Muara Angke sebelum pukul 07.00, disambut semburat jingga yang masih samar-samar di ufuk timur. Sisa-sisa keelokan fajar. Oh, bonus bau amis pasar lelang ikan jadi sama sekali tak tercium, euforia bayangan perjalanan laut kali pertama. Pulau elok menanti di ujung sana.

Kapal kayu, disebut kerapu, warna putih muatan 60—100 orang, hitung saya. Mendapat tempat dekat jendela, itu artinya bisa melihat pemandangan laut dengan puas. Perfecto!

Satu per satu penumpang lain menyusul. Cari tempat nyaman. Bergerombol. Cekakak-cekikik dengan yang lain. Tak lupa narsis ria dengan kamera, saya perhatikan. Tiba-tiba saya menjadi merasa aneh, seperti ada yang kurang. Apa pikirku. Hm…

Aih, baru sadar: saya sendirian. Tak ada kawan yang bisa diajak menggila juga ataupun cekakak-cekikik. Tak juga sempat meminjam kamera, tawaran saya terima jam delapan malam dan pukul empat sudah harus berkemas. Yang saya bawa diktat Matrikulasi Inggris karena ada PR yang harus saya selesaikan. Traveler menyedihkan.

Cepat-cepat saya tepis pikiran negatif—berdasarkan fakta—yang bisa merusak weekend indah. Saya habiskan waktu di kapal mengerjakan PR Matrikulasi Inggris dengan segenap ketulusan dan senang hati. Berharap ilmunya cepat masuk, dengan cara yang saya sendiri tak mengerti. Cara menghibur diri aneh.

Sesekali saya keluarkan tangan dan wajah ke jendela. Membiarkannya diterpa angin laut. Tercium bau laut yang khas. Semakin menjauh dari Jakarta, warna lautnya semakin indah saja. Benar-benar biru laut, bukannya hijau atau—warna apa pun itu—kalau sudah dekat-dekat yang namanya Jakarta. Lalu mulai tampak ceceran-ceceran pulau. Pulau-pulau itu kadang bergerombol seperti penumpang yang lain di kapal ini, kadang juga pulau itu sebatang kara di laut luas. Seperti saya di kapal bersahaja. Muncul-menghilang. Tak salah disebut Kepulauan Seribu. Tak ada salahnya juga mengerjakan PR di atas kapal. Bukan ide buruk. Indah malah.

Saya tertidur. Bangun-bangun laju kapal terasa melambat. Saya longok jendela. Terpana takjub. Masya Allah, di depan, beberapa puluh meter lagi, terhampar sebuah, eh, dua buah pulau. Satu tampak lebih kecil dari kembarannya. Terhubung oleh jembatan kayu yang tampak eksotik. Dengar-dengar namanya “Jembatan Cinta”. Aiihh, tiba-tiba di tengah kesendirian itu saya merasa sangat romantis. Benar, seringkali romantisme muncul dalam wujudnya yang berbeda-beda. Bagi saya, keberanian ini (baca: nekat), menerima tantangan adalah romantisme.

Menginjak pulau pukul 09.30, setengah jam lebih cepat dari rencana. Tak lama-lama, saya cari sekolahnya; SMP 241 Kepulauan Seribu. Tepat di tengah-tengah. Tak di barat, tak di timur. Dekat pantai. Mantabe!

Langsung saya cari pak Diki, seorang guru yang telah saya hubungi untuk koordinasi sebelum berangkat. Nomornya saya dapat dari ibu Maliyatun, yang batal jadi responden karena sudah pindah sekolah. Nomor ibu Maliyatun saya dapat dari ibu Nurlaila, istri ketua cabang Aḥmadiyyah setempat yang juga rekan seprofesi bu Maliyatun, nomornya saya dapat dari pak muballigh Aḥmadiyyah Jakarta Barat. Tak usah susah-susah ikut merunut rute nomornya, kawan.

Dari daftar siswa yang saya dapat dari seorang ibu guru—pak Diki tak di tempat dan kasih mandat—saya pilih acak empat responden, berdasarkan rumus yang sudah dititahkan dari lembaga. Ternyata, murid-murid sudah tak ada di sekolah. Ini hari sudah pembagian raport. Ada yang di rumah, ada pula yang berkemah di ujung timur pulau.

Dari tengah, saya berjalan ke timur, mencari rumah wali kelas untuk tanda tangan. Formalitas. Lalu lebih ke timur lagi. Mencari dua murid yang ada di perkemahan. Lalu kembali agak ke barat, ke rumah wali kelas tadi, menanyakan rumah dua anak muridnya. Satu di ujung timur satu lagi di ujung barat katanya. Waduh, rempong, lelah, tadi belum sempat sarapan, tenaga sudah terkuras.

Melihat orang lalu lalang naik sepeda, lalu eureka! Terbitlah sebuah gagasan, mengapa saya tak menyewa sepeda saja? Limabelas ribu rupiah sehari semalam.

Pukul 14.00 sudah rampung tugas survey. Para responden, anak-anak itu, tak cukup menyusahkan, lagi pula kalau berani-berani menyusahkan, jitak saja. Hmm… anak SMP dengan kehidupan polos di pulau asri, tak banyak tahu isu-isu yang ditanyakan: Ahmadiyah, penyegelan Gereja, pendirian Negara Islam—mungkin Pulau Islam lebih cocok, pemberlakuan hukum syariat, dan kawan-kawan. Jadi, jawabannya tak cukup bisa dijadikan patokan.

Saya laporan ke korlap, koordintaor lapangan. Pemberitahuan bahwa tugas sudah beres.

“Udah beres? Bisa langsung pulang?”

“Bisa mas, renang tapi. He he… Kagak bisa, Bos. Katanya harus nginep, kapal baru ada besok pagi lagi.”

“Terus, ‘nginepnya ‘gimana?” tentu dia khawatir, tak disediakan biaya untuk menginap dari lembaga. Curang.

Baru ‘ngeh juga saya, tapi dengan gaya sok-sokan saya balas SMS itu, “Calm down, ‘nyantai aja. I can hold it alone.” Dalam hati ‘mikir juga sih.

Bener ya?”

Iyeh…”

Survey selesai dengan hasil yang tak seseram daratan Jakarta.[]

Tentang Penulis

Raja Pena