Opini

Lonewolf, bukan Werewolf

lonewolf
Penulis Denz Asad

Tidak biasanya Jumat itu saya Sholat Jumat ke daerah Cengkareng. Ya, biasanya saya Sholat Jumat di yang dekat jalan besar itu bersama teman yang lain. Tapi kali ini berbeda karena suatu urusan. Rumah yang menjadi mesjid itu terletak jauh ke tengah, di dalam perumahan penduduk.

Jalan menuju ke sana cukup menantang karena melewati gang sempit perkampungan padat khas Jakarta dan memang sebuah rute yang memotong karena jika melewati jalan besar maka jaraknya akan berlipat 2 kali. Repot memang melewati jalanan kampung ini, di mana anak-anak bertelanjang dada lari-larian, motor penduduk yang parkir cuek bebek di depan rumah, sehingga hanya menyisakan satu ruas kira-kira 1 meter untuk dilalui motor.

Rumah-rumah mereka saling berdempetan, berdesak-desakan. Satu rumah dengan yang lainnya hanya dibatasi tembok selebar 20 atau 30 centimeter saja, sehingga suara dari satu rumah dapat terdengar cukup jelas di rumah sebelahnya. Ada pikiran aneh menyelusup ketika menyaksikan pemandangan yang saya lewati, tapi segera saya tepis karena waktu sudah hampir jam 12 dan keinginan saya  hanya bagaimana dapat sampai ke masjid sebelum sang Khatib memulai khutbahnya.

Selesai Sholat Jumat, saya bergegas naik motor kembali dan melewati rute yang sama. Perkampungan kumuh itu saya lewati kembali. Selama melewati jalan kecil yang tepat disebut gang itu, terlihat aktivitas para penduduknya. Anak muda yang asyik nongkrong sambil merokok, ibu-ibu bergosip, ada bapak-bapak yang mengelap motor kesayangannya. Di tempat lain anak-anak ramai berlarian memainkan sebuah permainan. Gurat-gurat kepolosan dan kesederhanaan terlihat di muka mereka.

Tekanan ekonomi jelas terlihat di sini dan mungkin inilah salah satu hal yang membuat mereka begitu apa adanya dan cendrung tidak dianggap oleh zaman. Tiba-tiba saya tertegun pada sebuah pemandangan. Seorang anak muda berbaju, bercelana  dan berpeci putih keluar dari rumahnya dan berangkat menggunakan motor entah ke mana. mukanya bersih, polos bahkan nyaris tersenyum. Saya menerka-nerka kemanakah ia pergi. Dalam pikiran saya terlintas sesuatu hal yang membuat saya bergidig.

Entah bagaimana, pemandangan mengenai pemuda itu mengingatkan saya dengan kejadian-kejadian teroris beberapa waktu silam. Kejadian pengeboman dan penembakan  yang semuanya dilakukan oleh anak muda, usia-20 atau 30 an.  Masih segar dalam ingatan kita akan pelaku pengeboman di Kampung Melayu atau di Sarinah dilakukan oleh pemuda-pemuda yang berasal dari  daerah dan  kebanyakan dari keluarga yang miskin dan berprofesi kurang jelas. Ya, dari tempat-tempat yang akrab dengan kemiskinan dan kekumuhan  seperti yang saya lalui saat ini.

Teroris tunggal, pelaku pemboman bunuh diri  atau biasa disebut sang “pengantin”, memang sebuah fenomena yang sangat berbahaya. Selain cara kerjanya yang sangat berani dan tidak terduga, teroris seperti ini sangat sulit dikenali atau diantisipasi karena berpenampilan dan berciri-ciri sama dengan orang kebanyakan. Pihak kepolisian menyebut mereka dengan nama atau Serigala tunggal yang telah menjadi target buruan tetap pihak yang berwajib.

Lonewolf memang bukan Werewolf, makhluk jadi-jadian yang ada di film-film Holywood, namun banyak kemiripan dari keduanya. Sama-sama kejam, tidak kenal takut dan bisa kamuflase. Pembedanya adalah, werewolf mahluk yang lebih cendrung ke mistis, dongeng sedangkan lonewolf ini ancaman yang nyata.

Istilah lonewolf ini juga menunjukan praktik penyerangannya yang sendiri, mandiri berbeda dengan penyerangan biasa serigala yang cenderung untuk berkelompok dalam jumlah besar dan terang-terangan.  Kapolri Jendral Tito Karnavian dalam sebuah wawancaranya dengan Kompas TV, Sabtu (8/7/2017), mengatakan ” Kalau yang terstruktur sepanjang kami mengetahui peta strukturnya, orangnya bisa dilumpuhkan .

Tapi kalau yang lonewolf lebih sulit. Sehingga strategi penanganannya berbeda. Kalau yang struktur, kunci terpentingnya adalah intelejen untuk memonitor dan memetakan jaringan,”.

Sudah banyak korban dari mereka ini dari mulai bom bunuh diri di Bali sampai yang di Kampung melayu kemarin itu. Walaupun sepertinya terpisah dari struktur, tapi biasanya tetap bersentuhan dengan jaringan teroris yang ada, Perekrutan lonewolf ini memang cukup misterius. Hal ini seringkali dilakukan dengan cara scouting  dalam waktu yang lama, menanamkan doktrin dengan sangat efektif dan sangat rapi.

Namun jelas, mereka membidik pemuda-pemuda polos yang mempunyai semangat keagamaan/jihad yang tinggi, mempunyai faham intoleran atau kebencian terhadap suatu pihak dan bukan berasal dari kalangan berada dan perkotaan.

Tidak terasa saya sudah sampai kembali ke kantor, dan menuju parkiran. Dalam hati saya berdoa, semoga pemuda tadi yang saya lihat hanya pergi ke majlis taklim yang mengajarkan kesejukan dan kedamaian. Menjadi muslim yang betul-betul menghayati ajaran yang sejati yang penuh cinta kasih untuk sesama.

Saya juga berdoa semoga Bangsa ini menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera, sehingga rakyatnya bisa lebih mawas diri lagi terhadap faham-faham radikalis dan ekstrimis.  Oleh karenanya tugas kita juga untuk selalu menjaga anggota keluarga dari faham-faham ekstrim tersebut.

Islam bukan teroris dan teroris bukan Islam. Terorisme adalah kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan, musuh seluruh umat manusia dan utamanya musuh Tuhan yang maha pengasih dan penyayang.

Sumber Gambar: https://www.huffingtonpost.com/matthew-harwood/the-lonewolf-terror-trap_b_6621498.html

Tentang Penulis

Denz Asad

Tinggalkan komentar