Aqidah

Makna Khataman Nabiyyin Berdasarkan Lughat Arab

Penulis Raja Pena

Dari segi lughat, makna-makna hakiki dan majazi bagi kata khaatam yang telah  digunakan  dalam bahasa  Arab,  Jemaat  Ahmadiyah  berdasarkan  kesemua  itu  meyakini  Raslullah s.a.w. sebagai Khataman Nabiyyin.  Misalnya:

Nabi  Terakhir

Berdasarkan ayat-ayat Alquran dan Hadits-hadits Nabawi, kedudukan Yang Mulia Muhammad Mushthafa s.a.w. sebagai Khataman Nabiyyin, adalah terbukti dan jelas dalam arti bahwa beliau s.a.w. adalah yang terakhir di antara para nabi pembawa syariat. Syariat beliau s.a.w. senantiasa tegak dan abadi, tidak akan pernah mansukh. Makna Khataman Nabiyyin seperti ini diakui dan disepakati di kalangan sejumlah firqah. Jemaat Ahmadiyah juga mengimani makna-makna itu. Menyinggung tentang kedudukan Khataman Nabiyyin, Imam Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Hafidz Mirza Nasir Ahmad mengatakan:

“Yang Mulia Muhammad Rasulullah s.a.w. adalah satu-satunya dalam kedudukan muhammadiyyat beliau. Selain beliau s.a.w. tidak ada orang lain yang memperoleh kedudukan itu. Beliau s.a.w. adalah Khataman Nabiyyin. Dan dari segi pengangkatan/ketinggian rohani, beliau s.a.w. adalah nabi terakhir. Beliau s.a.w. sudah menjadi nabi terakhir sejak saat Adam a.s. belum menjadi nabi dan bahkan belum dianugerahi wujud jasmani ini. Ringkasnya, segenap kenabian telah diraih di bawah kenabian Muhammad s.a.w.. Sebab, demi kenabian itulah dan demi kedudukan muhammadiyyat itulah Allah Ta’ala telah menciptakan seluruh alam semesta ini. Oleh karena itu, walaupun Ibrahim a.s. telah diangkat secara rohani mencapai Langit ketujuh, hal itu tidak bertentangan dengan Khatamun Nubuwwat. Demikian pula walaupun Adam a.s. telah diangkat secara rohani mencapai Langit pertama, hal itu tidak menimbulkan kerusakan pada Khatamun Nubuwwat. Rasul Karim s.a.w. sampai mengatakan bahwa putra-putra rohani beliau, yakni ulama-ulama sejati, yang memperoleh ilmu-ilmu Alquran dari beliau lalu menjaga Syariat Quran Karim agar tetap hidup dan berkilauan, dan mereka akan senantiasa datang di setiap abad, merekapun akan seperti para nabi itu. Yakni para nabi yang di antaranya ada yang telah mencapai Langit pertama, ada yang di Langit kedua, ada yang di Langit ketiga, ada yang di Langit keempat, ada yang di Langit kelima, dan ada yang di Langit keenam. Dan ada satu yang akan lahir, yaitu yang setelah menempuh seluruh tahap penghambaan dan kecintaan yang mendalam, serta karena memperoleh kedudukan-kedudukan kecintaan sangat tinggi, dia akan mencapai Langit ketujuh di sisi Ibrahim a.s., dan akan memperoleh tempat di telapak kaki Yang Mulia Muhammad Mushthafa s.a.w.. Sebagaimana pengangkatan Ibrahim a.s. secara rohani ke Langit ketujuh tidak menentang Khatamun Nubuwwat, demikian pula pengangkatan secara rohani hingga ke Langit ketujuh terhadap putra rohani agung Nabi Akram s.a.w. tidaklah menimbulkan cela/kerusakan pada kedudukan muhammadiyyat yang dimiliki Rasulullah s.a.w..

Gambaran yang kedua, hakikat Mi’raj mengajarkan kepada kita bahwa pengangkatan-pengangkatan seseorang secara rohani hingga ke Langit ketujuh tidak menimbulkan cela/kerusakan apapun pada kedudukan Khatamun Nubuwwat. Sebab, kedudukan khataman Nubuwat ini adalah lebih tinggi dari kedudukan tersebut. Dan telah diperintahkan kepada kita agar berusaha sesuai kemampuan kita masing-masing untuk meraih pengangkatan-pengangkatan secara rohani. Dan kepada kita telah diberikan kabar suka bahwa di dalam umat Islam akan lahir seorang putra perkasa Rasulullah s.a.w. yang akan mencapai Langit ketujuh, dan kedudukannya berada di telapak kaki Rasul Akram s.a.w..” (Al-Fadhl, 17 April 1973).

Lebih lanjut silahkan simak suplemen no. 8 berupa pamplet “Maqaam Muhammadiyyat Ki Tafsir.” Pendiri Jemaat Ahmadiyah, dalam buku beliau Izalah Auham menuliskan: “Junjungan kita [Rasulullah] s.a.w. telah mencapai kedudukan paling tinggi di Langit, yang sesudahnya tidak ada lagi kedudukan lain. Berada di Sidratul Muntaha di sisi Sang Rafiqul A’la. Dan salam serta shalawat umat senantiasa dipanjatkan ke hadapan Rasulullah s.a.w..

Pemimpin Nabi-nabi

Kenabian adalah suatu kedudukan rohani. Nabi adalah seorang yang memiliki martabat/derajat. Khaatam di kalangan wujud yang memiliki kedudukan dan martabat, adalah dia yang meraih derajat paling akhir dalam kedudukan tersebut.

Sebagai bukti akan hakikat tersebut, di bawah ini dituliskan 41 contoh penggunaan istilah khaatam dalam makna demikian, di anak benua India dan Pakistan, serta di negeri Arab:

  1. Penyair Abu Tamam (188-231 H / 804 – 845 M) dijuluki Khaatamusy Syu’ara (Wafiyatul A’yan, jld.I).
  2. Abu Thayyib (303 – 354 H / 915 – 965 M) dijuluki Khaatamusy Syu’ara (Muqaddimah Diwan al-Mutanabbi, Mesir, halaman “ya”.).
  3. Abul ‘Alaa Al-Ma’arra ( 363 – 449 H / 973 – 1057 M) dijuluki sebagai Khaatamusy Syu’ara (Muqaddimah Diwan al-Mutanabbi, Mesir, catatan kaki halaman “ya”.).
  4. Syekh Ali Hazin (1113-1180 H / 1701-1767 M) diakui di India sebagai Khaatamusy Syu’ara (Hayat –e- Sa’adi, h.117).
  5. Habib Syerazi diakui sebagai Khaatamusy Syu’ara di Iran (Hayat-e-Sa’adi, h. 87).
  6. Sayyidina Ali r.a. merupakan Khaatamul Awliyaa (Tafsir Shaafi, surat Al-Ahzab).
  7. Imam Syafi’i (150-204 H / 767-820 M) merupakan Khaatamul Awliyaa (Al-Tuhfah al-Suniyyah, h.45).
  8. Syekh Ibnu Arabi (560-638 H/1164-1240 M) merupakan Khaatamul Awliyaa (Futuhaat Makiyyah, lembar judul).
  9. Kafur dijuluki Khaatamul Karaam (Syarah Diwan al-Mutanabbi,h. 304).
  10. Imam Muhammad Abduh Mishri dijuluki Khaatamul Aimah (Tafsir Al-Fatihah, h.148).
  11. Sayyid Ahmad al-Sanusi dijuluki Khaatamul Mujaahidiin (Surat kabar Al-Jami’atul Islamiyah, Palestina , 27 Muharram 1352 H).
  12. Ahmad bin Idris dijuluki Khaatimatul Ulama al-Muhaqqiqiin (al-Uqd al-Nafis).
  13. Abul Fadhl al-Alusi dijuluki Khaatamul Muhaqqiqiin (Tafsir Ruhul Ma’aani, lembar judul).
  14. Syek al-Azhar Salim al-Basyri dijuluki Khaatamul Muhaqqiqiin (Al-Harab,h.372).
  15. Imam Suyuthi (wafat 911 H/1505 M) dikatakan sebagai Khaatimatul Muhaqqiqiin (Tafsir Itiqaan, lembar judul).
  16. Syah Waliullah Dhelwi disebut Khaatamul Muhaddatsiin (‘Ijalah Naafi’ah).
  17. Syekh Syamsyuddin dijuluki Khaatimatul Huffaadz (Al-Tajrid al-Shariyh, muqadimah h. 4).
  18. Wali yang paling agung adalah Khaatamul Awliyaa (Tadzkiratul Awliyaa, h.422).
  19. Seorang wali yang mengalami kemajuan demi kemajuan dapat menjadi Khaatamul Awliyaa (Futuhul Ghaib, h.43).
  20. Syekh Najib diakui sebagai Khaatimatul Fuqahaa (Surat kabar Shirothol Mustaqiim, Yafa, 27 Rajab 1354 H).
  21. Syekh Rasyid Ridha dijuluki Khaatimatul Mufassiriin (Al-Jami’atul Islamiyah, 9 Jumaditsaani 1354 H).
  22. Syekh Abdul Haq (958-1052 H/1551-1642 M) dijuluki Khaatimatul Fuqahaa (Tafsir Al-Aklil, lembar judul).
  23. Syekh Muhammad Najib merupakan Khaatimatul Muhaqqiqiin (Al-Islam Mishri, Sya’ban 1354 H).
  24. Wali yang paling afdhal adalah Khaatamul Walaayah (Muqaddimah Ibnu Khaldun, h. 271).
  25. . Syah Abdul Aziz (1159-1236 H) merupakan Khaatamul Muhadditsiin wal Mufassiriin (Hadiyatusy Syi’ah, h.4).
  26. Manusia merupakan Khaatamul Makhluqaat al-Jasmaniyyah (Tafsir Kabir, jld. 6, h. 22, cetakan Mesir).
  27. Syekh Muhammad bin Abdullah merupakan Khaatimatul Huffaadz (Ar-Rasail al- Nadirah, h. 30).
  28. ‘Allamah Sa’aduddin Taftazani merupakan Khaatimatul Muhaqqiqiin (Syarah Hadits Al-Arba’in, h. 1).
  29. Ibnu Hajar Al-Asqalaani merupakan Khaatimatul Hufaadz (Tabqatul Mudassiin, lembar judul)
  30. Maulwi Muhammad Qasim (1148-1297 H) dijuluki Khaatamul Mufassiriin (Israr Qur’ani, halaman judul).
  31. Imam Suyuthi merupakan Khaatimatul Muhadditsiin (Hadiyatusy Syi’ah, h. 210).
  32. Raja merupakan Khaatamul Hukkaam (Hujjatul Islam, h. 35).
  33. Nabi Isa merupakan Khaatamul Ashfiyaa al-Aimah (Baqiyatul Mutaqaddimiin, h. 184).
  34. Ali merupakan Khaatamul Awshiyaa (Minarul Hudaa, h. 109).
  35. Syekh Ash-Shadduq dijuluki Khaatamul Muhadditsiin (Kitab Man Laa Yahdharuhul Faqiyh)
  36. Abul Fadhl Syahabul Ulusi (773-854 H/1371-1450 M) disebut Khaatamul Udabaa (Ruhul Ma’aani, halaman judul).
  37. Penulis Ruhul Ma’aani menjuluki Syekh Ibrahim al-Kurani sebagai Khaatimatul Muta-akhiriin (Tafsir Ruhul Ma’aani, jld. 5, h. 453).
  38. Maulwi Anwar Syah Kasymiri disebut Khaatamul Muhadditsiin (Kitab Rais al Ahrar, h. 99)
  39. Fariduddin ‘Athaar (513-620 H/1116-1223 M) mengatakan tentang Umar r.a. di dalam Manthiq ath-Thair, hal. 29:
  40. Maulana Haali menuliskan tentang Syekh Sa’adi:

    “Menurut saya, sebagaimana penguraian tentang tangkisan dan serangan serta tentang peperangan dan pertempuran telah khatam/berakhir pada Firdausi, demikian pula penguraian tentang akhlak, nasihat dan petunjuk, tentang cinta dan semangat muda, tantang lelucon dan kejenakaan, tentang zuhud dan riya, dan sebagainya telah khatam/berakhir pada Syekh [Sa’adi].” (Hayat-e- Sa’adi, h. 108).

  41. Maulwi Muhammad Qasim Nanutwi (1148-1297 H). menuliskan:

    “Jadi, seseorang yang di dalam dirinya sifat ini banyak tampil, yaitu Khaatamush Shifaat, yakni sifat yang di atasnya tidak ada lagi sifat lain, yakni tidak ada sifat lebih tinggi lagi dari itu yang patut dianugerahkan kepada makhluk-makhluk, berarti orang itu di kalangan makhluk merupakan Khaatamul Maraatib, dan orang itu merupakan pemimpin semua pihak, dan merupakan yang paling afhdal/mulia.” (Intisharul Islam, h. 45)

Dari penggunaan-penggunaan ini tampak jelas bahwa menurut orang-orang Arab dan para ulama muhaqqiqiin lainnya, bila saja seorang tokoh tertentu disebut khaatamusy syu’araa, atau khaatamul fuqahaa, atau khaatamul muhadditsiin, atau khaatamul mufassiriin, maka artinya adalah penyair terbaik, faqih paling besar, dan muhaddits atau mufassir yang memiliki derajat paling tinggi.

Berdasarkan makna-makna tersebut, arti Khaatamun Nabiyyiin adalah, pada wujud Yang Mulia Muhammad Mushthafa s.a.w. telah berakhir segenap potensi kenabian dan kerasulan. Tidak ada nabi yang lebih besar atau yang menyamai beliau. Dan tidak ada yang mampu untuk itu. Beliau s.a.w. merupakan Afdhalul Anbiyaa (Nabi yang paling afdhal/unggul) dan Sayyidul Mursaliin (Rasul paling mulia), dan beliau s.a.w. merupakan himpunan potensi segenap nabi. Ulama umat tetap sepakat dengan makna-makna Khaatamun Nabiyyiin demikian. Dan Jemaat Ahmadiyah juga mengakui makna Khaatamun Nabiyyiin ini dari segala segi. Pendiri Jemaat Ahmadiyah bersabda:

“Adalah akidah saya bahwa jika Rasulullah s.a.w. diletakkan terpisah dan segenap nabi yang telah berlalu hingga saat itu kesemuanya berkumpul lalu mereka ingin melakukan pekerjaan dan perbaikan yang telah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w., maka mereka sama-sekali tidak akan dapat melakukannya. Di dalam diri mereka tidak terdapat kalbu dan kekuatan seperti yang dimiliki Nabi kita s.a.w.. Jika ada yang mengatakan [pernyataan] ini merupakan — ma’adzallaah — suatu ketidaksopanan terhadap para nabi itu, berarti orang bodoh itu melontarkan kedustaan terhadap diri saya. Saya menganggap sikap menghormati para nabi sebagai bagian dari keimanan saya. Akan tetapi keunggulan Nabi Karim s.a.w. atas segenap nabi lainnya, adalah suatu hal yang merupakan bagian terbesar keimanan saya dan telah bercampur dalam urat nadi darah saya. Ini bukanlah ikhtiar saya untuk mengeluarkannya.” (Al-Hakam, 17 Januari 1901).

Yang Menutup/Mengakhiri Para Nabi

Jika diartikan sebagai seorang “yang menutup/mengakhiri para nabi,” maka perlu disimak, dalam bentuk apa Rasulullah s.a.w. telah menutup/mengakhiri para nabi. Masalahnya bukanlah menutup/mengakhiri kehidupan jasmani dan lahiriah. Segenap nabi itu memang sudah wafat sejak sebelumnya. Ada satu nabi yang dianggap masih hidup, Isa a.s.. Beliau dinyatakan masih hidup setelah Yang Mulia Khaatamun Nabiyyiin s.a.w.. Selebihnya, menutup/mengakhiri secara makna, adalah benar. Yakni, Yang Mulia Khaatamun Nabiyyiin telah menutup/mengakhiri segenap nabi dari segi potensi/kemampuan-kemampuan. Yakni, beliau s.a.w. merupakan yang paling sempurna, paling tinggi, dan paling mulia dari sekalian nabi. Dan kelebihan beliau s.a.w. adalah, tidak hanya kenabian saja, melainkan segenap potensi rohanipun telah berakhir pada beliau s.a.w..

Lebih lanjut beliau menuliskan di dalam buku beliau Taudhih Maram:

“Sayyidina wa Maulaanaa Sayyidul Kul wa Afdhalur Rusul, Yang Mulia Khaatamun Nabiyyiin, Muhammad Mushthafa shallallaahu ‘alaihi wasallam, bagi beliau…terdapat kedudukan paling mulia dan derajat paling tinggi, yang telah berakhir pada Pribadi Pemilik Sifat-sifat Paling Sempurna itu. Tidak ada yang dapat mencapai kondisi beliau itu. Tidak ada yang mampu meraihnya.”

Stempel Nabi-nabi

Di dalam bahasa Arab, kata khaatam berarti stempel. Jemaat Ahmadiyah juga meyakini Rasulullah s.a.w. sebagai stempel nabi-nabi. Pendiri Jemaat Ahmadiyah menuliskan di dalam buku beliau Haqiqatul Wahyi:

“Allah Ta’ala telah menjadikan Rasulullah s.a.w. sebagai pemilik khaatam. Yakni, kepada beliau telah diberikan stempel untuk menyampaikan karunia/berkat sempurna, yang sama-sekali tidak diberikan kepada nabi lainnya. Itulah sebabnya beliau s.a.w. telah dinamakan Khaatamun Nabiyyiin. Yakni, upaya mengikuti beliau s.a.w. akan menganugerahkan potensi-potensi kenabian, dan sorotan rohani beliau dapat membentuk nabi. Dan quwwat qudsiyah ini tidak dimiliki oleh nabi lainnya. Inilah arti hadits ‘Ulama ummatiy ka-anbiyaai Baniy Israaiyl.’ Dan di kalangan Bani Israil, walaupun banyak nabi telah datang, tetapi kenabian mereka bukanlah akibat mengikuti Musa a.s.. Melainkan, kenabian-kenabian itu secara langsung merupakan suatu anugerah dari Tuhan. Disitu sedikitpun tidak ada peran upaya mengikuti Musa a.s..” (Haqiqatul Wahiy, catatan kaki, h.97).

Bersama itu Pendiri Jemaat Ahmadiyah dengan warna yang sangat tegas menyatakan bahwa dampak-dampak stempel Muhammad s.a.w. ini hanya dapat diraih melalui penghambaan diri terhadap Rasulullah s.a.w. saja. Dalam buku beliau Haqiqatul Wahiy, beliau menuliskan:

“Saya senantiasa melihat dengan pandangan penuh takjub, yakni Nabi Arabi yang bernama Muhammad s.a.w. ini (ribuan dan ribuan shalawat serta salam atasnya), betapa ia merupakan nabi yang berderajat paling tinggi. Puncak akhir kedudukannya yang paling tinggi itu tidak dapat diketahui. Dan mengukur dampak kekudusannya bukanlah pekerjaan manusia. Sangat disayangkan, sebagaimana seharusnya kebenaran itu dikenali, derajatnya ternyata tidak dikenali demikian. Padahal Tauhid yang telah hilang dari dunia, justru dialah seorang satria yang telah membawanya kembali ke dunia ini. Dia telah menjalin kecintaan yang paling tinggi dengan Allah. Dan dalam bersikap solider terhadap umat manusia, dia paling hebat dalam merelakan jiwanya untuk menanggung segala penderitaan. Oleh karena itu, Allah yang mengenal rahasia kalbunya, telah menganugerahkan keunggulan kepadanya atas segenap nabi dan segenap awwaliin maupun akhiriin. Dan Allah telah memenuhi cita-cita/impiannya dalam hidupnya juga. Dialah yang merupakan mata-air setiap karunia/berkat. Dan seseorang yang menda’wakan suatu fadhilah (keunggulan) tanpa melalui karunianya, berarti orang itu bukanlah manusia, melainkan anak setan. Sebab, kunci fadhilah telah diserahkan kepadanya.” (Haqiqatul Wahiy, h. 115,116).

Segala sesuatu yang telah dituliskan oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai Khatamun Nubuwwat pada sisi tersebut, juga didukung dan dibenarkan oleh para ulama masa sekarang. Ulama terkenal dari kelompok Deobandi, Maulana Mahmudul Hasan dan Maulana Syabbir Ahmad Usmani, menuliskan di dalam Tarjamah-e-Quran:

“Sebagaimana segenap jenjang cahaya di alam sarana ini berakhir pada matahari, demikian pula untaian segenap jenjang dan potensi-potensi kenabian serta kerasulan berakhir pada Ruh Muhammad s.a.w.. Berdasarkan itu dapat dikatakan bahwa dari segi derajat dan zaman, beliau adalah Khaatamun Nabiyyiin. Dan siapa-siapa saja yang telah memperoleh kenabian, itu diperoleh setelah mendapatkan stempel beliau s.a.w. terlebih dahulu.”

Demikian pula Pimpinan Daarul ‘Uluum Deoband, Maulana Qaadir Muhammad Thayyib mengatakan:

“Kemuliaan beliau s.a.w. tidak hanya pada kenabian, melainkan juga pada potensi penganugerahan kenabian. Yakni, siapapun yang telah tampil di hadapan beliau dengan memperoleh kemampuan-kemampuan kenabian, maka dia telah menjadi nabi,” (Aftaab Nubuwwat Kaamil, h. 109, Idarah Usmaniyah, Anarkali, Lahore).

Sumber : Mahzarnamah

Tentang Penulis

Raja Pena