Opini

Masalah Islam, Menon-Islamkan yang Berbeda Pandangan

menuduh
Penulis Harpan Aziz

Senin, 05 Juni 2017. Saya melihat sebuah siaran salah satu acara di televisi swasta bertajuk Tafsir Al-Mishbah, yang narasumbernya tiada lain adalah Bapak Prof. Dr Qurais Shihab. Dalam penjelasannya menyangkut tafsir Khaataman-Nabiyyiin dalam Qs. Al-Ahzab, 33:40. Ia menyinggung;

“Khaatamun-Nabiyyiin artinya penutup para nabi, kelompok-kelompok yang mengatakan ada nabi lagi seperti , bahaiyah adalah di luar , boleh punya pendapat seperti itu tapi jangan menganggap dirinya tapi itu diluar .

Sebatas menjelaskan ta’wil yang beliau fahami bahwa Khaatamun-Nabiyyin itu penutup para nabi, it’s oke. Toh setiap kita punya hak meyakini atau tidak meyakini, dan lagi Rasulullah saw pernah bersabda ikhtilafi ummati rahmatun, kita anggap saja sebagai bagian dari itu. Tapi ketika beliau menyampaikan bahwa kelompok-kelompok yang berbeda faham atas ta’wil ayat tersebut adalah diluar Islam atau jangan menganggap dirinya Islam, cukup membuat saya terheran-heran.

Apakah perbedaan pandangan atas suatu ayat bisa dijadikan pembenaran untuk menekan seseorang atau suatu kelompok supaya keluar dari Islam? Apakah pak Qurais Shihab menganggap bahwa ke-Islaman kita saat ini diukur hanya dari kesamaan penafsiran atas al-Quran? Jika benar demikian, maka tidak akan ada seorang mufasir pun yang masih beragama Islam, mungkin termasuk pak Qurais Shibab. Karena perbedaan pandangan dalam sebuah tafsir adalah keniscayaan.

Imam Al-Khatthabi Rachimahullaahu dalam Syawahidul-Haqq, hal.125 telah berkata:

وَلَمْ يَثْبُتْ لَنَا اَنَّ الْخَطَأَ فِى التَّـأْوِيْلِ كُفْرٌ

“Kami tidak mempunyai keterangan yang sah bahwa oleh karena kesalahan tentang takwil maka orang yang mentakwilkan itu menjadi kafir.”

Jadi, jika kesalahan dalam memahami suatu ayat suci saja tidak bisa dijadikan alasan kafirnya seseorang, maka bagaimana bisa perbedaan pemahaman atas suatu ayat Al-Quran dijadikan alasan untuk mengeluarkan seseorang atau suatu kelompok dari ke-Islamannya??

Adalah suatu mukjizat Al-Quran bahwa bahasa yang dikandungnya memiliki keluasan makna yang tak terhingga (Qs.31:27, Qs.18:109), sehingga dengan mempersempit maknanya tentu sama dengan mengabaikan keluhurannya. Imam As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqaan mengatakan:

وَقَدْ جَعَلَ بَعْضُهُمْ ذَلِكَ مِنْ اَنْوَعِ مُعْجِزَاتِ الْقُرْانِ حَيْثُ كَانَتِ اْلكَلِمَةُ اْلوَاحِدَةُ تَتَصَرَّفُ اِلَى عِشْرِيْنَ وَجْهًا

“Perihal satu kata dalam Al-Quran yang mengandung banyak arti adalah merupakan mukjizat bagi Al-Quran sehingga kadang-kadang satu kata mengandung 20 (dua puluh) arti”.

Sampai pada tahap ini, maka prof. Dr Qurais Shihab tidak bisa mengklaim bahwa pendapatnya yang paling benar dan mengesampingkan adanya kebenaran di pihak lain. Apalagi sampai berani menyeru mereka yang berbeda pandangan sebagai di luar Islam atau harus keluar dari Islam, hal itu jelas  berlebihan.

Dalam dunia tafsir tak ada kebenaran mutlak melainkan sebatas upaya mendekati kebenaran (mungkin benar), karena kebenaran itu sendiri sejatinya hanya pada Allah Swt semata, “wamaa ya’lamuu ta’wiilahu illallaahi” (Tidak ada yang mengetahui ta’wil yang pasti tentang suatu ayat kecuali Allah (3:7).

Pada akhirnya, setiap kita tentu punya dasar dan diberi hak untuk berpegang pada apa yang kita yakini (dengan tidak mengesampingkan kemungkinan adanya kebenaran di pihak lain), sebab pada dasarnya kebenaran dan penghakiman antara benar-salah sejatinya hanya pada Allah Swt semata.

Untuk itu, perbedaan pandangan dan apa yang diyakini semestinya tidak dijadikan pemantik api, atau dinding penyekat bagi toleransi dan persaudaraan, inilah yang diingini oleh Nabi Saw bahwa “ihktilafu ummati rahmatun”, perbedaan (pendapat) di kalangan umatku adalah sebuah rahmat. Salam **

Sumber Gambar: http://thoughtcatalog.com/chelsea-fagan/2013/04/judging-other-people-only-makes-you-worse/

Tentang Penulis

Harpan Aziz

1 komentar

  • Bukan masalah takwil, masalah bahwa ada nabi lagi setelah nabi Muhammad itu adalah nabi palsu. tidak ada lagi nabi.Karena memang tidak ada lagi nabi.Sudah disempurnakan Islam dan dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai agama orang2 muslim beriman.Orang Islam nabinya dan nabi terakhirnya ya nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bukan siapapun lagi.Ya kalau ada nabi lagi kata sebagian kelompok aliran, perlu dipertanyakan memang ke Islamannya, atau sesat.Kalau bersi keras ada nabi lagi setelah nabi Muhammad, waduh2..orang2/kelompok itu merasa lebih hebat ajarannya lebih benar daripada nabi Muhammad dan melanggar ketentuan2 Allah dan Rasulullah.

Tinggalkan komentar