Politik Qureta

Media Sosial dan Politik Pecah Belah

media sosial | roundpeg.biz | RAJA PENA | “Media Sosial dan Politik Pecah Belah”; oleh *Akhmad Faizal Reza* (… kata; estimasi baca ±3') KATA-kata Menteri Propaganda NAZI Joseph Goebbelz bahwa “kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi sebuah kebenaran” menemukan momentumnya di media sosial. Sebab, masyarakat awam cenderung “mengunyah” apapun luberan informasi yang ditawarkan media sosial tanpa mengecek apakah informasi tersebut fakta atau rekayasa.
Penulis Akhmad Reza

PEMILU Presiden 2014 sudah rampung 2 tahun lalu, namun, pertarungannya belum benar-benar usai. Dan gelanggang tempat dua kandidat berlaga masih penuh dengan para suporter yang riuh rendah mendukung jagoan mereka.

Gelanggang yang dimaksud adalah . Ya, jika selepas Pemilu 2014 media konvensional praktis menghentikan persaingan di antara dua kandidat, adalah ajang pertarungan sesungguhnya. Fanatikus dua kandidat masih melanjutkan “kepenasaran” mereka. Jadilah perang kata-kata, meme dan berita simpang siur memenuhi jagad maya tanah air hampir setiap harinya.

Media sosial sesuai dengan definisinya menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein memungkinkan penciptaan dan pertukaran “user-generated content” yang sering disingkat UGC. Artinya, siapapun ia, asal ada koneksi internet dapat menciptakan dan menyebarluaskan beragam konten berupa berita, foto, video, dan memerluas jaringan.

Tak perlu jasa seorang profesional, karena semakin hari aplikasi media sosial dirancang semakin user friendly. Sejatinya, media sosial—menurut Antony Mayfield—adalah mengenai menjadi manusia biasa. Aktivitas manusia seperti berbagi ide, bekerja sama, berpikir, berdebat, menemukan pasangan dan membangun sebuah komunitas seolah terwakili dalam media sosial.

Dengan segudang kelebihan media sosial, kelemahan serta dampak negatifnya pun muncul ke permukaan. Ia cenderung bebas, melewati batas-batas negara sekalipun. Tak ada tembok redaksional yang memfilter pendapat dan opini kita. Dengan demikian, tidak ada gatekeeper yang menilai apakah informasi yang kita buat dan sebarkan sudah sesuai dengan norma-norma yang berlaku atau tidak. Di sinilah timbul masalah, kepentingan nasional, dan persatuan bangsa menjadi barang usang ketika berbicara di ranah media sosial.

Yang justru mengemuka adalah kepentingan orang-perorang, golongan, atau bahkan kelompoknya. Pemilu 2014 mengajarkan sebuah pelajaran berharga. Kata-kata Menteri Propaganda NAZI Joseph Goebbelz bahwa “kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi sebuah kebenaran” menemukan momentumnya di media sosial. Sebab, masyarakat awam cenderung “mengunyah” apapun luberan informasi yang ditawarkan media sosial tanpa mengecek apakah informasi tersebut fakta atau rekayasa.

Verifikasi atau konfirmasi atas kebenaran informasi justru merupakan proses yang sulit karena orang kadung memercayai narasumbernya dan mengabaikan narasumber lain. Kredibilitas si narasumber seringkali tidak diperhitungkan. “People only hear what they want to hear,” tulis novelis Brazil, Paulo Coelho.

Seperti konten pornografi yang sulit dimusnahkan, konten yang memberitakan dan menyebarluaskan informasi yang simpang siur, kampanye hitam terus saja diproduksi, bahkan direproduksi. Jadi, ketika siapa saja, dapat menyebarkan apa saja, dengan sarana apa saja seperti blog, website, atau akun-akun palsu tanpa narasumber yang jelas, maka jangan harap kaidah jurnalisme, seperti objektifitas, atau liputan berimbang (cover both sides) diterapkan di sana.

Disadari atau tidak, masyarakat yang melek internet di tanah air masih terbelah di antara dua kubu, baik yang pro Jokowi maupun pro Prabowo. Jika kita berada di salah satu kubu, maka sulit untuk melakukan penilaian yang objektif kepada kubu yang berseberangan.

Maka, apapun kebijakan atau langkah pemerintahan Jokowi akan selalu dianggap salah dan tidak elok di mata kubu seberang. Hal yang sebaliknya terjadi, apapun gerakan atau aktivitas Prabowo dan partai pendukungnya dianggap sebagai langkah yang melulu merongrong kewibawaan pemerintah. Dan mesti diakui, alih-alih sebagai jembatan yang mendekatkan, peran media sosial malah memperlebar jurang diantara keduanya.

Dan dibalik itu semua, ada aktor-aktor yang memang dengan sengaja memelihara jurang-jurang perbedaan itu. Mereka mengeruk keuntungan dengan sebanyak mungkin mendapatkan follower dan status “like” yang pada gilirannya mendatangkan pundi-pundi uang bagi mereka. Aktor-aktor ini dikenal dengan istilah “spin doctor” yang bekerja memburukkan citra lawan sembari menyanjung citra majikan atau tokoh idolanya.

Spin doctor ini benar-benar memanfaatkan eforia masyarakat internet tanah air. Dengan data terakhir pengguna internet yang mencapai 88,1 juta, dan 79 juta di antaranya merupakan pengguna media sosial aktif menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara teraktif di media sosial (techinasia.com; cek link 1link2). Berdasar data ini maka bisa dipastikan media sosial semakin besar pengaruhnya menyaingi media konvensional.

Jika dibiarkan, efek negatif media sosial bisa meretakkan dan memecah persatuan bangsa. Ibarat bola salju, efeknya tidak boleh dipandang sebelah mata. Hujatan, fitnah hingga yang menjurus SARA tidak berhenti dilontarkan pihak-pihak yang berseberangan. Aturan dan batasan terkait komunikasi di dunia maya melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 atau dikenal dengan UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) masih terkesan longgar dalam prakteknya di lapangan. Pelaku yang telah dijerat terkesan “tebang pilih” dan tidak menimbulkan efek jera.

Tentu, kita tidak ingin setback ke zaman Orde Baru, yakni ketika corong informasi diatur, suara kritik disebut subversif, dan pendapat yang berbeda dianggap mbalelo. Namun sebaliknya, membiarkan jagad maya dan media sosial bebas nilai bisa-bisa meruntuhkan kesatuan dan persatuan yang sudah susah payah kita bangun selama ini. To be or not to be, usaha menjadikan media sosial sebagai sarana positif, bermanfaat dan sehat harus terus dikampanyekan. Alih-alih merenggangkan, fungsi media sosial justru harus merekatkan silaturahmi di antara anak bangsa.

 

#LombaEsaiPolitik | qureta.com

Tentang Penulis

Akhmad Reza

Tinggalkan komentar