Membaca ulang pencitraan di media, menjadi penting saat ini. Masyarakat sebagai konsumen media dituntut “melek” bagaimana media dikonstruksi dan diakses. Apalagi kelompok masyarakat rentan, yang terlalu sering menjadi korban pemberitaan media karena dinilai berbeda. Entah karena kepercayaan, agama, gender, penyakit dan orientasi seksualnya. Mereka yang berbeda, akan diposisikan sebagai pihak yang selalu salah.

Dalam upaya mewujudkan akses kesetaraan kelompok masyarakat rentan tersebut, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung menggelar Workshop Literasi Media yang melibatkan perwakilan komunitas dari beberapa kota/kabupaten di Jawa Barat pada Mei 2017.

Kenapa Jawa Barat?

Pada 2018 Jawa Barat akan melaksanakan pesta demokrasi, dimana tahapannya akan dimulai sejak Juli 2017. Masyarakat Jabar akan memilih Gubernur dan Wakil Gubernur baru, juga para Bupati dan Walikota.

Saya lihat, kita harus belajar dari proses Pemilukada DKI Jakarta. Bagaimana kencangnya isu agama dihembuskan di media.

Di Jakarta isu politik yang dikemas dengan diksi “jihad”, jadi mantera sakti yang sukses menggiring masyarakat. Sukarela mengupayakan (segala cara) untuk membela gerakan kelompok-kelompok islamis itu.

“Butuh dua bulan untuk mendinginkan Pangandaran,” kata Dedi Supriatna. Ia pengajar di SMK Multikultural Karya Bakti, Parigi-Pangandaran.

“Iya, dituduh Kritenisasi lah,” ungkap Anjar, siswa SMK tersebut.

Begitu dahsyatnya Pemilukada DKI Jakarta, menggoreng isu agama. Pangandaran bukan satu-satunya yang terimbas “efek samping” racikan obat dokter-dokter politik bersorban putih. Berjilid-jilid kota dan kabupaten, keracunan, sampai mabuk kepayang dengan racikan obat mujarab itu.

Jihad, bela agama atau ulama.

Apa yang terjadi di Jakarta tak lepas dari peran media. Masyarakat terlalu sering menyantap menu “penista agama”. Sesat!

Peranan penting media

Media juga menghidangkan sudut pandang para penguasa, yang semakin menambah derita panjang para korban. Sangat jarang, ada ruang bagi para korban untuk berbicara. Sekali berbicara, dipelintir sesuai selera -lagi-lagi- penguasa.

Melihat fenomena ini, para pemateri memantik para peserta workshop agar mampu memahami dan memproduksi informasi yang ramah akan . Mereka harus membongkar dengan kritis pencitraan di media. Kelompok masyarakat rentan harus terlatih menulis dengan kritis.

Mereka dituntun mampu menyuguhkan rilis, kronologi dan berita yang sesuai dengan kaidah-kaidah standar jurnalistik, sehingga dapat menembus ruang-ruang di media. Sebuah beban yang tidak ringan.

Kelompok masyarakat rentan diajak untuk terus menyuarakan diskriminasi. Melalui tulisan-tulisan, mereka dapat bersuara untuk setiap perampasan hak-hak warga negara, tanpa melihat latar belakang, kepercayaan, agama, gender, penyakit dan orientasi seksualnya. Bersolidaritas!

Bermedia dalam Komunitas

Semakin banyak orang yang terlibat, tentu akan meringankan kerja-kerja dalam bermedia. Dalam komunitas rentan sebuah tim media mutlak dibentuk. Di Tasikmalaya, teman-teman Ahmadiyah membangun tim yang konsen bersuara lewat media. Ada tiga posisi penting dalam tim ini: juru bicara, perekam data dan perekam gambar. Tim juga berusaha menjalin komunikasi dengan para jurnalis.

Ketika terjadi penyegelan Masjid Nur Khilafat, milik komunitas Ahmadiyah Ciamis pada 2014, tim media tersebut melakukan pendokumentasian: video, audio, foto dan tulisan. Dokumentasi tersebut menjadi modal kuat membuat kronologi yang cepat dan mudah dicerna.

Kronologi dikonstruksi sejernih mungkin, yang bukan hanya menceritakan, tetapi berusaha untuk menggambarkan peristiwa penyegelan masjid. Berdasar fakta dan data yang didapat di lapangan, dilengkapi foto-foto, kemudian disebar ke media. Sebaran krolonogi yang baik lantas membuat para awak media tertarik hadir dalam proses pembukaan segel masjid.

Media massa mengambil peran sebagai penyambung lidah bagi kelompok masyarakat rentan yang tak dapat bersuara dalam kehidupan bernegara. Media, memang harus dipaksa menjalankan fungsi kontrol sosialnya terhadap kebijakan yang diskriminatif sebagai pilar ke empat Demokrasi.

Penulis: Firmansyah
Editor: Firdaus Mubarik

Firmansyah adalah anggota komunitas Ahmadiyah di Cianjur. Dia praktisi media komunitas dan fasilitator untuk isu “keamanan komunitas”. Tulisan-tulisan Firmansyah dapat diikuti di firmanCJR.com

Sumber: http://sobatkbb.org/melek-media/