Sejarah

Memaknai Hari Kartini

KARTINI telah banyak menginspirasi kaum wanita masa kini, dan yang paling mudah diangkat sebagai contoh kongkrit terkait hal ini mungkin dalam bidang pendidikan.
Penulis Harpan Ahmad

TANGGAL 21 April merupakan salah satu hari yang bersejarah bagi kaum di negeri ini, pasalnya hari tersebut menjadi hari nasional yang biasa diperingati sebagai Hari . Bukan tanpa hikmah, peringatan Hari biasa dimaknai sebagai aktualisasi simbol kemerdekaan wanita dari kebodohan dan keterkungkungan peran dalam suatu . Hal ini terinspirasi dari kuatnya kemauan seorang dalam memperjuangkan -haknya di tengah lingkungan masyarakat yang ‘kolot’.

Kartini muda—demikian sejarah mengenangnya—adalah sosok wanita yang tekun lagi cerdas, dengan modal yang hanya sampai usia 12 tahun dan bahasa Belanda yang  dimilikinya Kartini mampu mengelaborasi daya nalarnya melebihi wanita-wanita pada umumnya di masa itu. Hal ini terbukti dari surat-surat peninggalan yang merupakan hasil korespondensi dirinya dengan teman-teman dari negeri Belanda. Bahkan sejarah mencatat bagaimana kepeduliannya yang sangat besar akan dunia khususnya bagi kaum wanita, yang kemudian terwujud dengan sekolah wanita yang berhasil didirikannya.

Muncul pertanyaan kemudian, seberapa besar Kartini telah menginspirasi kaum wanita masa kini? Apakah kesetaraan hak dan kebebasan yang ada kemudian telah mampu dimanfaatkan guna kebaikan kaum wanita sebagaimana semestinya? Menarik tentunya untuk menelisik lebih jauh pertanyaan-pertanyaan tadi, bukan untuk menghakimi namun sebatas koreksi sejauh mana kepedulian kita sebagai bangsa terhadap kaum wanita. Sambil kemudian mencari gambaran dari tuntunan tentang hak dan tugas kaum hawa.

Tak bisa dipungkiri bahwa Kartini telah banyak menginspirasi kaum wanita masa kini, dan yang paling mudah diangkat sebagai contoh kongkrit terkait hal ini mungkin dalam bidang pendidikan. Dimana tidak ada lagi sekat antara wanita dan haknya untuk mendapatkan pendidikan sejauh mana yang ia mampu bahkan tidak sedikit kaum wanita memiliki kegigihan dan prestasi lebih dari kaum pria dalam berbagai bidang akademik.

Demikian juga halnya terkait kesetaraan hak dalam suatu tatanan masyarakat telah sampai pada puncaknya, dimana wanita bebas untuk memilih peran sesuai dengan apa yang disuka dan dicita-citakan.

Namun lain halnya dengan bidang pendidikan, kesetaraan hak ini belum seutuhnya termaknai guna kemanfaatan bagi kaum wanita bahkan dalam beberapa segi peranannya terkesan plinplan.

Oleh karenanya mesti menjadi catatan bahwa kesetaraan itu dalam hal menyelamatkan wanita dari ancaman eksploitasi dan objek pelampiasan berahi, bukan dalam segala hal. Jika pendapat terakhir yang dipegang maka dalam hal olahraga petinju wanita pun bisa diadu dengan petinju pria, namun pada kenyataannya kan tidak demikian.

Selangkah lebih maju, Islam memberikan suatu penawaran kedudukan yang ideal bagi wanita. Tanpa mengurangi haknya Islam mengakomodir peranan wanita yang signifikan dalam suatu masyarakat.

Surga terletak di bawah kaki ibumu.

Betapa agungnya ungkapan yang disabdakan oleh Rasulullahsaw. ini. Suatu sanjungan yang jika ditujukan kepada seseorang maka martabatnya akan langsung menjulang tinggi. Dan memang kalimat ini dikhususkan kepada kaum wanita, karena tidak kita jumpai pujian yang luhur itu kepada kaum lain. Beliau tidak mengatakan surga berada di bawah telapak kaum pria. Melainkan, “Al-jannatu tata aqdāmi’l-ummahāt.”

Sabda ini tidak hanya menyatakan tentang janji yang akan dipenuhi di akhirat tetapi juga tentang surga sosial yang dijanjikan bagi mereka yang menunjukkan penghormatan dan pengagungan serta mendedikasikan dirinya untuk menyenangkan ibu-ibu mereka.

Ada ulasan menarik dari mendiang keempat Jamaah Islam Ḥaḍrat –raḥmatu’l-Lāh ‘alaih(r.h.)—berkaitan hadits tersebut diatas bahwa:

“Biasanya sabda Rasulullahsaw. ini diartikan sekedar sebagai suatu perintah kepada keturunan maupun kepada kaum pria supaya menghormati kaum wanita, supaya menyanjung kaum wanita, supaya meminta berkah dari kaum wanita dan supaya menaati kaum wanita. Padahal sebenarnya makna yang terkandung di dalam kalimat tersebut jauh lebih luas lagi. Di dalam kalimat tersebut terkandung banyak tanggung-jawab serta tugas yang diamanatkan kepada kaum wanita.” (Pidato Qadian, 1994)

Jadi sabda Rasulullahsaw. ini bukan sekedar sanjungan bagi kaum wanita, melainkan suatu amanat juga. Kata aqdam yang berarti telapak kaki itu memiliki fungsi untuk berjalan dan atau melangkah.

Oleh karenanya, kelahiran generasi-generasi surgawi yang didambakan oleh setiap kita, setiap orang tua dan masyarakat itu tergantung kepada bagaimana sang ibu mengambil langkah-langkah yang tepat dalam mendidik anak-anaknya.

Generasi-generasi yang berakhlak luhur dan berbudi pekerti baik hanya akan lahir dari ibu-ibu yang sadar dan berpegang teguh bahwa hanya dibawah naungannyalah akan lahir generasi-generasi surgawi.

Untuk itu sedari awal Islam menekankan tentang pentingnya pendidikan bagi kaum wanita, sedemikian penting penekanan itu sehingga seakan-akan surga yang merupakan tempat kembali yang diidam-idamkan menjadi tak layak bagi mereka yang tidak memberikan kepada anak perempuannya hak memperoleh perlindungan dan pendidikan.

“Jika seseorang mempunyai anak-anak dan ia telah berusaha agar mereka mendapat pendidikan dan ia berusaha keras memelihara mereka, Tuhan akan menyelamatkannya dari siksa neraka”. (HR Tirmīdzī)

Selamat Hari Kartini, semoga Allāh Ta‘ālā senantiasa mengaruniakan berkat untuk Anda semua. Jayalah para wanita Indonesia!

Tentang Penulis

Harpan Ahmad

Tinggalkan komentar