Kebebasan Beragama Qureta

Memberangus Para Pembajak Agama

“Memberangus Para Pembajak Agama”; oleh Akhmad Faizal Reza | Agama adalah keselamatan. Agama adalah harmoni. Namun, mengapa dalam sejarahnya begitu banyak kekerasan yang mengatasnamakan agama?
Penulis Akhmad Reza

“Sikap beragama tanpa disertai pengetahuan yang cukup, ibarat anjing gila” —Ali bin Abi Thalib r.a.

AGAMA hari ini ibarat bensin. Terpantik sedikit saja, ia terbakar. Ia tidak lagi merekatkan, tapi justru menyekat. Ia tidak lagi mendamaikan, namun meneror.

Aksi bom bunuh diri yang gagal di Gereja Katolik Stasi, Medan (28/8) kemarin, atau pembakaran vihara di Tanjung Balai, Sumatera Utara dan pembakaran masjid di Tolikara, Papua, adalah wajah agama “kekinian.” Sebuah kosakata muda-mudi sekarang untuk menjelaskan kecenderungan yang tengah berlaku.

Tentu, hal ini sangat bertolak belakang secara diametral dengan jargon yang senantiasa diusung agama. Bahwa agama adalah solusi. Pembawa obor perdamaian. Agama adalah . Agama adalah . Namun, mengapa dalam sejarahnya begitu banyak kekerasan yang mengatasnamakan agama?

Setali-tiga-uang dengan kondisi di tanah air, rentetan aksi yang belakangan terjadi di seantero dunia pun membawa embel-embel agama. “Banyak orang hari ini, tampaknya lebih ingin menjadi benar daripada penuh kasih,” tulis Karen Armstrong dalam bukunya, Compassion. Maka ‘nampaklah kemudian media sosial dijejali konten yang mengampanyekan kebencian (hate speech).

Peniruan atau “copycat” eksekusi cara-cara barbar seperti pemenggalan leher, pembakaran hidup-hidup, dan cara-cara lain yang di ambang batas kewarasan menjadi konsumsi keseharian. Kesemuanya itu kemudian dibungkus dengan dalil dan ayat-ayat yang dicomot dari kemudian dilabeli “ Suci.”

Bagaimanapun, teks kitab suci ibarat dua sisi koin yang sama. Di satu sisi, ia bisa mencetuskan perdamaian dan melahirkan sosok-sosok humanis seperti Gandhi, Bunda Theresa, atau Abdus Sattar Edhi. Tetapi di sisi lain, ia bisa mencetuskan aksi teror keji di luar akal sehat. Kedua tindakan ini sama-sama mengklaim agamalah sebagai motifnya. Agama menjadi “manual book” yang mengabsahkan tindakan mereka.

Fenomena ini menggiring kita pada sebuah pertanyaan ultima: Apakah agama sudah membawa cacat bawaan semenjak lahir? Agama yang diselewengkan menurut Kimball adalah ketika para pengikutnya yang taat dan bersemangat mengangkat ajaran dan kepercayaan agama mereka hingga ke tingkat klaim kebenaran mutlak—absolute truth claim. (Kimbal, Charles, 2013)

Namun, agama mana yang tidak? Semua agama adalah benar menurut pendapatnya masing-masing yang berarti otomatis menafikan yang lainnya.

Lantas, bagaimana agama bisa bermetamorfosis sedemikian rupa dari ajaran yang pro menjadi pro kematian, terorisme dan hal-hal yang sifatnya destruktif? Salah satunya adalah jika agama sudah ditunggangi kepentingan pragmatis. Kepentingan yang paling kental yang sering menunggangi agama adalah . Simbol-simbol agama, tokoh agama, dan kegiatan keagamaan tidak jarang diperalat untuk memuluskan hasrat seseorang atau kelompok tertentu.

Jadi, apa yang dipertontonkan hari ini oleh ISIS, Boko Haram, Al-Qaeda dan Taliban adalah nafsu kekuasan (politik) yang membajak simbol-simbol agama. Dan yang mereka bajak adalah Islam. Kelompok-kelompok garis keras “membajak” agama sesuai dengan penafsiran mereka. Dan mereka mengklaim penafsiran merekalah satu-satunya yang—meminjam istilah Khaled Abou El Fadl—merupakan “Keinginan Tuhan” (The Will of the Divine).

Jadi, bagaimana solusi yang harus segera diambil pemerintah untuk memberangus para pembajak agama? Pertama, pendekatan terhadap pucuk-pucuk pimpinan agama yang bersangkutan. Mengajak mereka dialog. Meneguhkan komitmen mereka akan perdamaian. Menekankan bahwa kehadiran agama adalah untuk , bukan justru anti kemanusiaan.

Kedua, memastikan bahwa komitmen dan pesan perdamaian yang telah diteguhkan bersama-sama dengan pemimpin agama tersebut sampai hingga akar rumput. Efektif tidaknya pesan yang disampaikan, tergantung juga dengan karakter si penyampai pesan. Lebih dari 2000 tahun lalu, Aristoteles berbicara tentang ini. “Karakter personal pembicara” adalah pesan yang lebih dipercaya . Karenanya, pilih personal yang baik dan kuat karakternya untuk menyemai pesan perdamaian.

Ketiga, pemerintah—tanpa bermaksud campur tangan terlalu jauh—dapat mendorong pemimpin agama untuk menafsir ulang ayat-ayat kitab suci yang selama ini “dibajak” dan dijadikan alat justifikasi tindakan kekerasan. Diakui atau tidak, ayat-ayat ini terkandung di hampir setiap kitab suci. Masalahnya, para pembajak agama melepaskan konteks sosial ketika ayat-ayat itu diwayhukan dan menerapkan untuk kepentingannnya sendiri.

“Sepanjang , ayat-ayat suci Yudaisme, Kristen, dan Islam telah digunakan dan disalahgunakan, ditafsirkan, dan disalahtafsirkan, untuk membenarkan perlawanan dan perjuangan pembebasan, ekstremisme dan terorisme, perang suci dan tidak suci.” Tulis John Esposito, Professor Studi Islam dan Hubungan Internasional dari Universitas Georgetown, Washington D.C.

Keempat, supremasi hukum mesti tegak. Praktek intoleransi, kekerasan atas nama agama harus dicegah dengan menjatuhkan hukum setimpal bagi para pelakunya. Yang terjadi di negeri ini justru kebalikannya, yakni keberpihakan aparat negara terhadap praktek intoleransi. Temuan yang cukup mengejutkan dipaparkan Yenni Wahid—Direktur The Wahid Institute—bahwa sepanjang 2015 lalu, salah satu pelaku intoleransi di tanah air adalah aktor negara (23 Februari 2016, dalam merdeka.com). Artinya, berdasarkan data tersebut, pemerintah sedang bermain-main memakai simbol-simbol agama untuk kepentingan politik mereka!

Kelima, last but not least, program deradikalisasi harus didukung semua pihak. Program ini bukan bermaksud menyudutkan salah satu agama, namun merupakan proyek bersama demi mewujudkan negara kita yang toleran, ramah sesuai nilai-nilai Pancasila dan kebhinnekaan. Sebuah pekerjaan rumah yang masih sebatas retorika di negara ini.

#LombaEsaiPolitik

_
qureta.com

Tentang Penulis

Akhmad Reza

Tinggalkan komentar