Akhlaq Faḍi'l-Lāh Qureta

Mempertimbangkan Hukuman Mati untuk Pemerkosa

HUKUMAN apa yang pantas untuk menghukum kekerasan fisik semacam ini? Hukuman kebiri saja tak akan bisa menjadi jawabannya. Dalam Islam sendiri, hukuman mati tidak dilarang. …✨?

MASYARAKAT Indonesia tengah berduka. Seorang gadis muda berusia 14 tahun bernama Yuyun, tewas setelah diperkosa dan dibunuh oleh 14 pemuda. Kasus ini seolah membelalakkan mata masyarakat kita, menyadarkan kita betapa kasus kejahatan seksual sudah pada tahap yang sangat memprihatinkan.

Untuk saya pribadi, sebagai seorang perempuan, bukan kasus ini saja yang membuat hati saya tersayat. Kasus-kasus perkosaan sebelumnya telah menorehkan luka yang sama. Terlebih lagi mengetahui bahwa hukuman yang diterima pelaku kejahatan seksual tak pernah setimpal. Ibarat luka hati yang menganga, semakin perih ditabur garam ketidakadilan.

Berkaca dari kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun yang dilakukan 14 pemuda ini, saya meyakini bahwa tak ada hukuman yang lebih adil daripada hukuman mati. Pendapat ini bukan semata-mata karena saya perempuan, tetapi atas beberapa pertimbangan.

Saya tak bisa menyetujui pendapat para aktivis HAM yang menolak hukuman mati. Apabila kejahatan yang dilakukan telah sedemikian fatalnya, kerusakan yang ditimbulkan sedemikian besarnya, maka hukuman apa yang bisa—atau bahkan pantas—menggantikan hukuman mati?

Hukuman kebiri dianggap layak untuk menghukum ‘nafsu birahi’ yang tak terkendali. Tetapi, bukankah kejahatan seksual tidak hanya melibatkan alat kelamin? Ada kekerasan di sana, berupa pemukulan dan penyiksaan yang tak hanya menimbulkan trauma fisik tetapi juga psikologis. Hukuman apa yang pantas untuk menghukum kekerasan fisik semacam ini? Hukuman kebiri saja tak akan bisa menjadi jawabannya.

Dalam Islam sendiri, hukuman mati tidak dilarang. Allāh swt. berfirman, “Dan pembalasan terhadap suatu pencederaan (melukai) adalah pencederaan yang setimpal dengannya, tetapi barang siapa yang dan memperbaiki, maka ganjarannya ada pada Allah. Sesungguhnya, Dia tidak menyukai orang-orang aniaya.”[1]

Dari ayat ini bisa disimpulkan bahwa adalah menghukum seseorang dengan tindakan yang sama seperti kejahatan yang dilakukannya. Hukuman yang setimpal untuk seorang pembunuhan adalah membunuhnya.

Tetapi Islam pun mengajarkan maaf. Apabila yang melakukan kejahatan sadar dan mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan bertaubat, maka hakim bisa mempertimbangkan untuk memaafkannya.

Islam Ahmadiyah Ḥaḍrat Mirza Masroor Ahmad–atba. menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut “terdapat perintah yang di dalamnya ada dimungkinkan untuk pemberian hukuman terhadap pelaku pelanggaran dan kejahatan, namun juga bersamaan dengan itu terdapat dorongan untuk ishlaah (perbaikan).”[2]

Beliau pun menjelaskan lagi bahwa tujuan utama pemberian hukuman adalah iṣlah atau perbaikan akhlak.  Hukuman yang diberikan haruslah sesuai dengan kejahatan yang dilakukan. Dan, pemberian hukuman pun harus bisa menimbulkan perbaikan akhlak dari pelaku kejahatan tersebut. Beliau pun mengutip kisah-kisah di zaman Rasulullah saw..

“Lihatlah sebuah contoh, seorang penentang Nabi bernama Habar bin Al-Aswad yang telah menyerang putri beliau, Ḥaḍrat Zainab–rāḍiya’l-Lāhu ta‘ālā ‘anha (r.a.) dengan tombak pada saat hijrah dari Mekkah ke Madinah yang mengakibatkan kandungannya mengalami keguguran, dan pada akhirnya luka inilah yang mengakibatkan beliau wafat. Atas kesalahannya itu Rasulullah saw. memutuskan untuk membunuhnya.

“Pada saat penaklukan kota Mekkah oleh kaum Muslimin, dia (Habar bin Al-Aswad) lari lalu bersembunyi entah dimana, tetapi tatkala Rasulullah saw. kembali ke Madinah maka Habar hadir di hadapan Rasulullah saw. dan sambil memohon belas kasih berkata, ‘Sebelumnya saya telah lari karena takut, tetapi akan sifat pemaaf Tuan-lah yang membawa saya kembali (datang) ke sini. Wahai, Nabi Allah, kami tadinya berada dalam kejahilan dan kemusyrikan. Kemudian, dengan perantaraan Tuan, Allāh telah memberikan petunjuk kepada kami dan menghindarkan kami dari kehancuran. Saya mengakui akan pelanggaran-pelanggaran saya maka maafkanlah kejahilan saya.’

“Maka dari itu Rasulullah saw. memaafkan pembunuh perempuan beliau itu dan beliau bersabda, ‘Hai Habar, pergilah, saya telah memaafkan engkau. Ini merupakan kebaikan Allāh bahwa Allāh telah menganugerahkan taufik [kepada engkau] untuk masuk Islam.”[3]

Kisah ini menjadi contoh bagaimana Rasulullah saw. menerapkan hukuman yang sebenarnya sesuai untuk kejahatan yang dilakukan oleh Habar bin Al-Aswad. Habar bin Al-Aswad telah menyerang putri beliau yang mengakibatkan keguguran pada kehamilannya dan akhirnya menyebabkan kewafatannya. Hukuman yang dijatuhkan Rasulullah saw. adalah hukuman mati kepada Habar bin Al-Aswad.

Tetapi, karena Habar menunjukkan rasa penyesalannya dan permohonan maaf atas kesalahannya maka Rasulullah saw. pun memaafkannya. Pemberian maaf ini tentu saja dengan mempertimbangkan usaha Habar dalam menunjukkan rasa bersalahnya dan keinginannya untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Tetapi, bila pemberian maaf malah hanya menjadikan si pembuat kejahatan bukannya menunjukkan penyesalan dan mengalami perbaikan, malah semakin menjadi-jadi dalam kejahatannya, maka hukuman harus diberikan.

Pemberian maaf dan pemberian hukuman tidak boleh diberikan secara membabi buta. Seperti yang dijelaskan Khalifah Ḥaḍrat Mirza Masroor Ahmad–atba., “Ringkasnya, Allāh Ta‘ālā berfirman bahwa hendaknya kita tidak membiasakan diri untuk memberi maaf secara membuta, melainkan pertimbangkanlah dengan seksama. Dimana terletak kebaikan yang sejati: Apakah dalam sikap memaafkan, atau dalam sikap memberi hukuman? Jadi, ambillah tindakan yang tepat menurut keadaan dan tempatnya.”

Kemudian, beliau mengutip sabda pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad–a.s. yang menyatakan, “Berkaitan dengan hukuman dan pemaafan tidak ragu lagi agar memperhatikan perkara penting ini bahwa apa dampak hukuman dan pemaafan bagi masyarakat, jika pemaafan membuat penjahat atau pelaku kejahatan bertambah berani dalam melakukan kejahatannya maka akan sangat penting untuk mendorong penghukuman dan bukan pemaafan/pengampunan.”

Dalam kasus Yuyun, begitu pula kasus pemerkosaan lainnya, apabila pelaku dihukum ringan dan tidak setimpal dengan kejahatannya, maka mereka yang merasa ringan dalam berpikir dan berbuat kejahatan tidak akan merasa berat untuk melakukan kejahatan yang sama. Penjara beberapa belas tahun bukanlah hukuman yang bisa mewakili rasa keadilan mengingat begitu dalam dan luasnya kerusakan yang telah ditimbulkan kejahatan ini.

Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad–a.s. menyatakan lagi, “… Jika ada orang yang menyerang tampilan putri seseorang lainnya atau saudari seseorang lainnya dan merusak kehormatannya maka wajib diambil tindakan melawannya berdasarkan proses hukum pada lembaga hukum yang berlaku, tidak ada maaf dalam hal itu, maka hendaknya mengenali perbedaan antara memaafkan dan ketiadaan rasa malu, tetapi dalam keadaan apa saja tidak boleh untuk mengambil hukum diatas tangan sendiri (main hakim sendiri).”

Dalam kisah-kisah di zaman Rasulullah saw., beliau beberapa kali memutuskan hukuman mati bagi siapa saja yang menyerang perempuan, baik menyerang secara fisik atau menyerang kehormatan. Bahkan apabila pelecehan dilakukan dalam bentuk syair kotor pun, Rasulullah saw. memberikan hukuman berat.

Saya tidak mengatakan bahwa selayaknya Indonesia mengikuti aturan Islam, walaupun menurut saya pribadi aturan Islam telah sangat adil dalam menerapkan hukuman. Namun tidak ada salahnya mempertimbangkan untuk mencontoh aturan Islam untuk mewakili rasa keadilan bagi korban dan .

Juga, apabila kesalahan yang dibuat menimbulkan kerusakan yang luar biasa dan pelaku tak menunjukkan penyesalan dan rasa bersalah yang seharusnya menjadi modal untuk memperbaiki diri, maka hukuman berat harus diberlakukan.

Dengan melalui berbagai pertimbangan, saya rasa tak ada hukuman yang lebih adil dalam kasus pemerkosaan selain hukuman mati. Hukuman mati akan menimbulkan efek jera bagi mereka yang menganggap remeh kasus ini dan juga sangat mewakili rasa keadilan bagi korban dan keluarganya.

_
Qureta.com

[1] QS Asy-Syūrā {42}:41

[2] Khotbah Jumat oleh Sayyidina Amirul Mu’minin Ḥaḍrat Mirza Masroor Ahmad, Khalīfatu’l-Masīḥ al-Khāmis–ayyadahu’l-Lāhu ta‘ālā binaṣrihi’l-‘azīz (atba.) pada 22 Januari 2016 di Masjid Baitul Futuh ; Alislam.org; {link PDF}; akses Sabtu, 14 Mei 2016, pukul 08.51 WIB.

[3] As-SīratulHalabiyyah Jilid III, halaman 106; cetakan Beirut…

Tentang Penulis

Lisa Aviatun Nahar