Opini

Meneladani Kembali Pengorbanan Keluarga Nabi Ibrahim as

Sejarah ada karena kehendak-Nya

Sejarah ada bukan hanya menjadi cerita

Sejarah ada untuk diteladani bersama

Jumat pertama di bulan September, seluruh kaum muslimin di Indonesia merayakan hari raya . Begitu pun di seluruh penjuru dunia, umat muslim ikut merayakan hari raya . Hari Raya ini tidak terlepas dari sejarah pengorbanan Keluarga di masa lampau. Allah Taala memilih Nabi Ismail as, putra Nabi Ibrahim as sebagai sosok untuk melaksanakan rencana – Nya. Rencana yang begitu besar di masa lampau yang tidak hanya menjadi sebuah sejarah di masa lalu, namun sejatinya menjadi amanat di masa kini.

Mari mencoba untuk menyelami bagaimana perjuangan Keluarga Nabi Ibrahim as di kala itu. Nabi Ibrahim as membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dikarunia seorang keturunan. Saat usianya yang sudah lanjut dan dirasa tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keturunan yang diharapkan, merupakan ujian tersendiri untuk keluarga Nabi Ibrahim as. Namun, Nabi Ibrahim as senantiasa bersabar dan tidak luput memanjatkan doa kehadirat Allah Taala, untuk memohon dianugerahkan anak – anak yang shaleh. Dari segala ketidakmungkin di dunia ini. Allah Taala memungkinkan semuanya. Allah Taala menjawab doa Nabi Ibrahim as:

“Maka Kami memberi kabar suka kepadanya tentang seorang anak laki – laki yang lembut hatinya” (Surah As Saffat ayat 101)

Buah dari kesabaran dan doa Nabi Ibrahim as, lahirlah bayi Ismail as. Kebahagian besar tercurah untuk keluarga Nabi Ibrahim as kala itu. Tidak lama kemudian, Allah Taala hendak menguji lagi Keluarga Nabi Ibrahim as. Bayi Ismail as dan ibundanya, Siti Hajar diharuskan ditinggalkan di padang tandus belantara Arabia. Padang yang tandus dan gersang itu menjadi momok yang menakutkan. Mengapa tidak, menurut riwayat, pada masa itu tiada satu pun tanda adanya kehidupan dan tiada syarat untuk dapat hidup di tempat itu (Bukhari)

Siti Hajar dengan segala ketaatannya pada Allah Taala dan pada sang suami, dengan segenap keikhlasan dan kesabaran berjuang hidup dan menjaga Nabi Ismail as kecil di tempat itu. Kembali lagi, doa Nabi Ibrahim as tak luput dipanjatkan kala itu:

“Wahai Tuhan – ku! Jadikanlah kota ini tempat yang aman, dan lindungilah aku dan anak – anaku dari menyembah berhala – berhala” (Surah Ibrahim ayat 35)

Allah Taala pun menjawab kesabaran dan doa – doa keluarga Nabi Ibrahim as. Tempat tandus itu menjadi tempat yang aman untuk Siti Hajar dan Nabi Ismail. Allah Taala sendiri yang membantu Siti Hajar dan Nabi Ismail as pada kala itu. Kegigihan Siti Hajar mencari – cari air untuk Nabi Ismail kecil dari bukit safa ke bukit marwa, dihadiahkan air zam –  zam oleh Allah SWT. Asma Allah Taala senantiasa dikumandangkan oleh keluarga Nabi Ibrahim as di masa itu.

Doa Nabi Ibrahim as pada masa itu pun sejatinya tidak hanya dipanjatkan untuk Siti Hajar dan Nabi Ismail as saja. Karena, ditempatkannya Nabi Ismail as di padang tandus tersebut tidak hanya berdampak untuk keluarga kecil Nabi Ibrahim as saja, Allah Taala memilih Nabi Ismail sebagai alat untuk melaksanakan rencana ilahi. Rencana Allah yang sedemikian rupa sehingga menjadikan tempat yang semula tiada tanda kehidupan menjadi medan kegiatan bagi amanat terakhir dari Allah untuk manusia.

Mengapa tidak, di tempat yang semula padang tandus itulah, kini, seluruh umat dari penjuru dunia melaksanakan ibadah haji sebagai bentuk perwujudan kewajiban rukun yang terakhir. Doa Nabi Ibrahim as tersebut bermula dari perjuangan dan ketaatan Keluarga Nabi Ibrahim as, hingga berlanjut dan berkesinambungan disempurnakan oleh perjuangan Rasulullah SAW. Sehingga di masa Rasulullah SAW hingga saat ini berhala – berhala pun sirna, Ketauhidan senantiasa menggema di seluruh penjuru kota Mekkah.

Mari kembali ke masa keluarga Nabi Ibrahim as, karena, saat Nabi Ismail as beranjak remaja, Allah Taala pun kembali menguji keluarga Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail as sebagai bentuk pengorbanan kepada Allah Taala. Sebagaimana berbunyi dalam surah As Saffat 102:

“Maka ketika anak itu telah cukup usia untuk bekerja bersamanya, ia berkata “Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu sebagai kurban. Maka pikirkan apa pendapatmu?” Ia menjawab “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepada Engkau, insyaAllah Engkau mendapatiku termasuk orang yang sabar dalam keyakinanku””

Begitu taatnya Nabi Ismail as saat itu kepada Allah Taala dan kepada ayahnya. Keikhlasan dan ketaatan Nabi Ibrahim as & Nabi Ismail as sudah Allah SWT terima Namun, Allah Taala berkehendak lain, secara lahiriah, Allah Taala meminta Nabi Ismail digantikan dengan hewan kurban. Perintah Allah Taala di kala itu pun sejatinya dimaksudkan menghapuskan pengorbanan manusia. Yaitu suatu kebiasaan yang sangat tidak manusiawi yang lazim dilakukan kebanyakan bangsa di masa itu untuk mengorbankan manusia.

Penghapusan pengorbanan manusia yang Allah SWT kehendaki dengan hewan kurban menjadi amanat tersendiri yang dilakukan kaum muslimin hingga saat ini. Pada saat hari raya Idul Adha ini lah, umat Islam menyembelih hewan kurban untuk dibagikan kepada sesama.

Begitu banyak sejarah – sejarah keluarga Nabi Ibrahim as yang menjadi amanat untuk umat Islam di masa kini. Kesabaran, keihlasan, pengorbanan,  hingga ketaatan kepada Allah SWT sudah sangat teruji. Pantas memang, shalawat pun senantiasa tercurah untuk Keluarga Nabi Ibrahim as di setiap tahiyat akhir shalat. Namun, tidak hanya sekedar rutinitas shalawat dalam shalat saja. Umat Islam sejatinya harus meneladani perjuangan keluarga Nabi Ibrahim as. Dengan segala ujian – ujian yang Allah Taala berikan kepada keluarga Nabi Ibrahim as, hanyalah kesabaran, keihlasan, hingga ketaatan yang senatiasa keluarga Nabi Ibrahim as jalankan. Itulah point penting yang harus senantiasa diteladani oleh setiap kaum muslimin. Kesabaran, keihlasan, pengorbanan,  hingga ketaatan kepada Allah SWT harus senantiasa dipelihara dan diasah demi mencapai keridhaan Ilahi semata.

Sumber gambar: https://duniatimteng.com/7-budaya-arab-saudi-yang-perlu-anda-ketahui-sebelum-ke-tanah-suci/

 

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar