Opini

Menemukan Cita Rasa dalam Shalat

shalat

“Bu, saya dulu berpikir, kenapa orang Islam ibadahnya sering sekali? Kami hanya beribadah seminggu sekali, atau seminggu dua kali. Orang Islam ini sehari sampai 5 kali. Wajib pula,”

***
“Tapi, setelah saya masuk Islam, saya merasakan nikmatnya Shalat. Saya tergolong orang yang sulit sekali mengendalikan Amarah. Hal-hal kecil bisa menyulut emosi saya. Sejak dahulu saya percaya, ketika beribadah, maka hati kita harus bebas dari kebencian dan amarah. Begitulah cara saya untuk menghadap Tuhan. Ketika saya marah, saya harus menunggu berhari-hari hingga waktu Ibadah agar amarah saya reda. Namun saat saya masuk Islam dan mempraktekan Ibadah Shalat 5 waktu, saya mulai merasakan perbedaan yang signifikan. Saat saya marah di pagi hari, maka pada waktu Shalat Zuhur amarah saya pun reda. Begitu pun seterusnya, ketika amarah saya datang setelah Shalat Zuhur, maka pada saat Ashar, amarah itu kembali reda. Tidak perlu menunggu berhari-hari. Cukup 2-3 jam saja. Sungguh nikmat ya Shalat itu?”

***

Cerita tersebut berasal dari seorang Muallaf yang berdiskusi dengan saya dua tahun silam. Sebenarnya, saya sendiri agak kaget dengan ‘testimoni’nya tentang Shalat. Jujur saja, hal itu tidak pernah terpikirkan oleh saya yang sudah beragama Islam sejak lahir. Bagaimana ia menghubungkan Ibadah dengan pengendalian emosi. Bagaimana ia melihat Shalat yang jaraknya berdekatan sebagai peluang untuk meredam amarahnya. Tak bisa dipungkiri, beberapa dari kita-mungkin termasuk Saya sendiri, sering mengeluh tentang waktu Shalat yang jaraknya berdekatan. Namun di sisi lain, seseorangyang baru mengenal Islam melihat waktu Shalat dari sudut pandang yang berbeda. Yang baginya, Shalat selalu ditunggu-tunggu kapan tiba waktunya.

Mengatakan bahwa ‘Shalat itu nikmat’ adalah dambaan kita sebagai seorang Muslim. Ibarat kudapan yang dicerna oleh tubuh kita setiap hari, Shalat adalah makanan bagi rohani. Rasulullah SAW bersabda :

“Ketahuilah, di dalam jasmani itu ada mudhghah. Apabila ia baik, baiklah jasmani seluruhnya, dan apabila ia rusak, rusaklah jasmani seluruhnya, dia adalah hati.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hati yang dimaksud dalam Hadits tersebut adalah rohani atau spiritualitas yang ada dalam diri manusia. Menganalogikan Shalat sebagai makanan sangat tepat untuk dapat menemukan cita rasa dalam ibadah ini. Sebagaimana tubuh yang perlu makan, maka rohani pun perlu makan.

Untuk dapat memutuskan bahwa makanan itu lezat dan baik untuk tubuh, perlu dicicipi oleh indera perasa dan dicerna oleh system pencernaan dalam tubuh. Sama halnya dengan Shalat. Untuk dapat merasakan kelezatan Shalat, kita perlu mencoba dan terus mencobanya. Akan tetapi, seperti apa kelezatan dalam Shalat itu? Bagaimana kita tahu bahwa Shalat yang kita kerjakan ini terasa nikmat? Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali muncul dalam benak kita.

Kenikmatan dalam Shalat bisa kita rasakan ketika kita tidak merasa sendiri saat Shalat. Merasakan kehadiran Allah di hadapan kita, seolah-olah kita sedang bercaakap-cakap dengan-Nya. Suasana spiritualitas ini membuat manusia merasa semakin dekat dengan Tuhan. Tidak heran jika sebelum Shalat, kita harus membersihkan diri baik secara jasmani dan rohani, karena secara tidak langsung kita meminta Allah untuk mendengar dan memperhatikan kita. Sama dengan makan, sebelum makan kita harus membersihkan tangan dan memastikan tempat makan bersih dari kuman.

Setelah merasakan kenikmatan Shalat, maka hati pun mendapatkan ketenangan. Bisa dikatakan, inilah yang disebut kebahagiaan sesungguhnya. Ketika hati menjadi tentram dan selalu cenderung pada Allah Ta’ala. Sungguh Shalat dapat memberikan cita rasa yang tinggi dan kebahagiaan yang hakiki. Banyak cara yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan dalam Shalat. Tentu saja Shalat harus Khusyu’, memastikan bahwa diri sendiri dan tempat Shalat harus bersih, bahkan suasana yang sunyi tanpa adanya suara sangat dibutuhkan untuk menemukan cita rasa dalam Shalat. Shalat harus dengan tenang tanpa terburu-buru. Ibarat makan, tidak mungkin kita merasakan nikmatnya makan jika kita terburu-buru.

Seperti cerita seorang Muallaf yang telah saya sampaikan sebelumnya, tak heran jika Shalat dapat merubah manusia yang dulunya penuh kebencian dan selalu dikuasai oleh amarah menjadi manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Melakukan gerakan Shalat dengan tenang tanpa tergesa-gesa dapat melatih diri untuk selalu berhati-hati dan berpikir sebelum bertindak. Itulah cita rasa yang dapat ditemukan dalam Shalat. Semakin sering kita berusaha mendapatkan rasa dalam Shalat, semakin cepat kenikmatan itu kita dapatkan. Semoga saja..

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram.” (Q.S. Ar-Ra’d: 29)

 

Sumber Gambar: http://wahdah.or.id/fadhilah-shalat-al-bardain/

Tentang Penulis

Mumtazah Akhtar

1 komentar

Tinggalkan komentar