109 Tahun Khalifah Ahmadiyah

Benarkah ada organisasi Islam yang mengusung Khalifah dan tetap diterima di 210 negara? Jawabannya bisa kita lihat pada Ahmadiyah. Bagi yang belum pernah mendengar, Ahmadiyah merupakan bagian dari organisasi Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah bernama Mirza Masroor Ahmad. Meskipun memiliki Khalifah, Ahmadiyah sudah berada diterima di 210 negara, termasuk Indonesia. Sejak tahun 1920, Ahmadiyah mulai menyebarkan pemahamannya di kota Tapaktuan, Aceh melalui seorang uztad bernama Maulana Rahmat Ali H.A.O.T. Sampai sekarang, Ahmadiyah sudah tersebar di berbagai kota-kota besar di seluruh Indonesia.

Pemerintah sudah resmi membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berdasarkan revisi Perppu Ormas yang baru. Tak terima dengan pembubaran ini, HTI pun mengadu ke Komnas HAM. HTI mempersoalkan mengapa organisasi yang sama-sama memiliki Khalifah seperti Ahmadiyah malah diberi tempat di Indonesia. Menurut mereka, seharusnya Ahmadiyah juga turut dibubarkan. Lantas, mengapa Ahmadiyah bisa diterima hingga 210 negara, sementara Hizbut Tahrir (HT) dibubarkan di beberapa negara?

Jawabannya terletak bagaimana HT dan Ahmadiyah memandang konsep Khalifah dalam Islam. Namun, pertama-tama kita bahas dulu sesungguhnya apa itu Khalifah. Khalifah , menurut Al Quran dan bahasa Arab, adalah seseorang yang meneruskan (penerus) yang melanjutkan perjuangan dari sosok sebelumnya. Untuk memahami apa tugas dari sang penerus, kita harus lebih dahulu memahami apa tugas dari sosok yang diteruskan tersebut. Contohnya bisa kita lihat pada Khalifah penerus beliau, yakni Khulafa-e-Rasyidin, yang meneruskan perjuangan Rasulullah SAW. Tugas Rasulullah SAW, menurut Al Quran surat Ali Imran ayat 165 adalah:

  1. Membacakan Firman-Firman Allah Ta’ala
  2. Mensucikan dan membersihkan jiwa
  3. Mengajarkan Al Quran Karim
  4. Mengajarkan kebijaksanaan (Al Hikmah)

Karena itu, inilah tugas utama keempat Khalifah Rasyidin pada masa pemerintahannya. Karena Rasulullah SAW juga diberikan karunia oleh Allah Ta’ala untuk memimpin suatu negara berlandaskan hukum Islam, maka keempat Khalifah Rasyidin pun hanya meneruskan kepemimpinannya tersebut. Atas dasar ini, HT pun memandang seorang Khalifah harus memimpin suatu negara, yakni negara Islam. Negara yang memakai dasar-dasar hukum Islam sebagai landasan hukumnya dengan presiden dari negara tersebut adalah seorang Khalifah. Khalifah tersebut memiliki wilayah kekuasaan dan juga tentara militer layaknya seorang pemimpin negara.

Anggapan HT bahwa Khalifah harus memiliki negara adalah padangan yang keliru. Seperti disebutkan di awal, tugas Khalifah hanyalah meneruskan karena Rasulullah SAW memiliki juga kekuasaan negara, otomatis para Khalifah penerusnya juga memilikinya. Tentu ini adalah tanggung jawab yang sangat berat, lantaran seorang Khalifah harus memimpin negara dan umat. Lantas, Khalifahnya HTI meneruskan perjuangan siapa?

Mereka tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah perjuangan Rasulullah SAW, karena Khalifah penerus beliau hanyalah 4. Apa penerus ulama? Ulama HT pun tidak ada yangmemiliki negara. Arab Saudi yang pemerintahannya dipimpin seorang Ulama pun membubarkan HT. Apakah penerus pendiri HT? Tidak juga karena tidak ada sosok yang diteruskan, Khalifah ala HTI hanyalah namanya saja “Khalifah”, jauh dari makna sebenarnya.

Lebih sadisnya lagi HT memakai embel-embel “Islam”. Jika digabungkan dengan kata “Khalifah” maka artinya menjadi seorang penerus pemimpin Islam yang akan meneruskan perjuangannya untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia layaknya Khalifah Rasyidin yang meneruskan perjuangan Rasulullah SAW menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Sudah tidak ada yang diteruskan, HT pun mengklaim Khalifah nya pantas memimpin perjuangan Islam. Seakan-akan sosok yang diteruskan itu adalah pemimpin Islam yang memang diturunkan oleh Allah Ta’ala untuk kembali memimpin Islam. Tidak, sama sekali tidak karena tidak ada pemimpin Islam yang diteruskan, maka tidak akan pernah ada yang namanya “Khalifah” atau “Khalifah Islam” yang diangkat oleh HTI, ISIS, atau siapapun.

Anehnya, HT tetap berusaha mendirikan negara Islam dengan, secara tidak langsung, “menggulingkan” pemerintahan di negara setempatnya. Di Indonesia, cara HTI adalah dengan menanamkan pemikiran kepada masyarakat muslim Indonesia di setiap lini bahwa sistem pemerintahan Islam adalah yang terbaik, sedangkan mentaati Pancasila berarti musyrik. “ membela nasionalisme, nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya | membela Islam, jelas pahalanya, jelas contoh tauladannya”. Kira-kira begitulah argumen yang mereka paparkan. Inilah mengapa 17 negara di dunia membubarkan HT, termasuk di Indonesia. Alasannya sama, yakni dianggap dapat mengancam keutuhan negara. Bravo untuk Presiden Jokowi.

Lantas bagaimana dengan Ahmadiyah? Sama seperti HTI, Ahmadiyah juga menyetujui adanya konsep Khalifah dalam Islam. Namun terdapat perbedaan yang sangat dalam diantara keduanya. Ahmadiyah menjunjung tinggi kedaulatan suatu negara karena Khalifah mereka lebih bersifat spiritual. Tugas dari seorang Khalifah dalam perspektif Ahmadiyah adalah membimbing seluruh anggota Jemaat Ahmadiyah untuk melaksanakan ajaran Islam sesuai Al Quran dan Petunjuk Nabi Besar Muhammad SAW tanpa harus memiliki kekuasaan negara. Mengapa? Khalifah Ahmadiyah adalah penerus sosok dari seorang Imam Mahdi dan Nabi Isa as yang oleh Rasulullah SAW sendiri dinubuwatkan kedatangannya untuk mengembalikan Islam ke masa kejayaannya. Adalah Mirza Ghulam Ahmad, seorang yang Ahmadiyah percaya sebagai Imam Mahdi dan Nabi Isa as yang dijanjikan. Karena Mirza Ghulam Ahmad tidak memiliki kekuasaan negara, maka semua Khalifah Ahmadiyah pun tidak perlu memiliki kekuasaan negara. Semua Khalifah sangat menjunjung tinggi ideologi ke 210 negara yang menerimanya. Di Indonesia, Khalifah Islam Ahmadiyah menjunjung tinggi Pancasila dan kedaulatan NKRI.

Di masa-masa pra Kemerdekaan, Khalifah ke 2 Ahmadiyah Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad memerintahkan seluruh anggota Ahmadiyah untuk  melaksanakan puasa senin-kamis supaya Indonesia meraih kemerdekaan. Semua orang Islam pasti tahu, ada saat-saat waktu tertentu ketika doa pasti dikabulkan. Salah satunya adalah doa dari orang yang sedang berpuasa dan ketika orang tersebut berbuka puasa. Pada surat kabar “Kedaoelatan Rakjat” edisi Selasa Legi, tanggal 10 Desember 1947 dengan judul Memperhebat Penerangan Tentang Repoeblik, Gerakan Ahmadiyah Toeroet Membanto tertulis:

”Betapa besarnya perhatian gerakan Ahmadiyah tentang perdjoeangan kemerdekaan bangsa kita dapat diketahoei dari soerat-soerat kabar harian dan risalah-risalah dalam bahsa Oerdoe jang baroe-baroe ini diterima dari India. Dalam soerat-soerat kabar terseboet, didjoempai banyak sekali berita-berita dan karangan-karangan jang membentangkan sedjarah perdjoeangan kita, soal-soal jang berhoeboengan dengan keadaan ekonomi dan politik negara, biografi pemimpin-pemimpin kita, terdjemahan dari Oendang-Oendang Dasar Negara Repoeblik dll “.

“Selain itoe tercantoem djoega beberapa pidato jang pandjang lebar, mengenai seroean dan andjoeran kepada pemimpin-pemimpin negara Islam, soepaja mereka dengan serentak menyatakan sikapnya masing-masing oentoek mengakoei berdirinya pemerintahan Repoeblik Indonesia. Hal jang mengharoekan ialah soeatoe perintah oemoem dari Mirza Bashiroeddin Mahmoed Ahmad, pemimpin gerakan Ahmadiyah kepada pengikoet-pengikoetnya di seloeroeh doenia jang djoemlahnya 82 djoeta orang soepaya mereka selama boelan September dan Oktober jang baroe laloe ini, tiap-tiap hari Senin dan Kemis berpoeasa dan memohonkan do’a kepada Allah SWT goena menolong bangsa Indonesia dalam perdjoangannya, memberi semangat hidoep oentoek tetap bersatoe padoe dalam cita-citanya, memberi ilham dan pikiran kepada pemimpinnya goena memadjoekan negaranya menempatkan roe’b (ketakoetan) di dalam hati moesoehnya serta tercapainya sekalian tjita-tjita bangsa Indonesia”.

Kemudian, Khalifah ke 4 Ahmadiyah Mirza Thahir Ahmad menyatakan bahwa Pancasila merupakan sebuah “Golden Values” (Sinar Islam, 1985). Karena Pancasila sendiri merupakan ajaran yang diserap dari Al Quran. Dan sekarang, Khalifah ke 5 Ahmadiyah Mirza Masroor Ahmad yang memimpin Ahmadiyah sejak tahun 2003 pun terus membimbing para anggotanya untuk taat pada negara setempat. Intinya, sampai hari kiamatpun seluruh anggota Ahmadiyah akan memperjuangkan keutuuhan suatu negara. Beliau menyatakan:

“ As citizens of any country, we Ahmadi Muslims, will always show absolute love and loyalty to the State. Every Ahmadi Muslim has a desire for his chosen country to excel and should always endeavour towards this objective. Whenever a country requires its citizens to make sacrifices the Ahmadiyya Muslim Jamaat will always be ready to bear such sacrifices for the sake of the nation .”

Apa buktinya? baru-baru ini Ahmadiyah meraih rekor MURI sebagai komunitas dengan pendonor mata terbanyak di Indonesia dan di dunia! (lebih lanjut)  Inilah penjelasan mengapa Khalifah Ahmadiyah (yang sudah berusia lebih dari 100 tahun dan berganti lima kali kepemimpinan) bisa diterima di 210 negara di dunia, termasuk di Indonesia, sedangkan Khalifah HTI (yang bahkan Khalifah pertama pun belum jadi-jadi) malah dibubarkan oleh 17 negara di dunia.