Opini

Mengenali Kelemahan Diri Menurut Imam Al-Ghazali

kelemahan diri
Penulis Abdul Hakim

Dalam diri manusia, terdapat berbagai macam kelebihan di samping tentunya kelemahan-kelemahannya. Dengan kelebihan-kelebihannya tersebut, Tuhan menginginkan manusia untuk mengadakan perbaikan-perbaikan sehingga ia memiliki kepribadian yang bersih dan suci.

Apabila seseorang mempunyai pandangan yang tajam atau hati yang bersih, niscaya ia akan melihat kelemahan-kelemahan pribadiya sendiri. Dengan begitu, ia akan segera bertindak untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan dirinya tersebut. Akan tetapi, kebanyakan orang sulit sekali untuk melihat atau mengerti kelemahan yang ada dalam dirinya. Mereka dapat melihat kelemahan saudara-saudaranya atau orang lain walaupun sebesar kismis. Sayangnya, ia tidak dapat melihat kelemahan yang ada pada dirinya walaupun sebesar pohon kelapa.

Sebuah pepatah mengatakan:

“Kuman di seberang lautan tampak, tetapi gajah di pelupuk mata tidak tampak.”

Untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan tersebut, ada beberapa hal yang dapat diterapkan seperti diuraikan oleh seorang wali, , dalam kitab Ihya ‘Ulum ad-Din, sebagai berikut:

  1. Menghadap kepada seorang guru yang benar-benar mampu mengetahui atau memeriksa dan paham mengenai kelemahan yang sangat pelik sangat dianjurkan. Guru itu akan mengemukakan apa yang ada dalam diri kita karena kecintaannya yang begitu besar kepada para muridnya. Guru itu akan menasihati dan memberi arahan serta membimbing para muridnya untuk mengatasi hal tersebut. Di situlah para murid harus taat dan melaksanakan petunjuk guru mereka tersebut. Bila hal ini sungguh-sungguh dikerjakan, ia akan memperoleh hasilnya dengan baik.

  1. Mencari seorang kawan yang benar-benar baik dalam berbicara dan berperilaku, jujur, taat beragama, serta mempunyai ahlak yang terpuji juga sangat krusial. Oleh karena itu, kita hendaknya menjadikan teman kita itu sebagai pengawas dalam hidup kita sehari-hari. Dengan demikian, ia akan memperingatkan kita dan senantiasa berusaha mengajak dan mengawasi kita. Hal ini pernah dilakukan oleh orang-orang suci zaman dahulu. Sebagai contoh, Hadhrat Umarra pernah berkata, “Semoga Allah memberikan rahmat kepada orang yang telah menunjukan cacatku kepadaku.” Umarra pernah bertanya kepada Salman Al-Farisira tentang kelemahan-kelemahan beliau. Umarra bertanya, “Wahai Salman, berita apakah yang sampai kepadamu tentang diriku yang tidak kamu senangi?” Salmanra pun memohon maaf karena tidak bisa memberikan jawaban. Akan tetapi Umarra terus mendesaknya hingga akhirnya Salmanra menjawab, “Telah sampai kepadaku bahwa engkau suka mengumpulkan dua lauk pauk dalam satu hidangan dan engkau mempunyai dua macam pakaian pada waktu siang dan pada waktu malam.” Umarra bertanya lagi, “Apakah hanya itu? Tidakkah engkau mendengar yang lain?” Jawab Salmanra, “Tidak.” Beliau lalu berkata, “Keduanya telah saya bereskan.”

Demikianlah Umarra selalu curiga dengan dirinya sendiri walaupun beliau memiliki kedudukan yang tinggi di pandangan umatnya. Semakin tinggi ketakwaannya, akan sedikit sekali kesombongannya.

Ada dua hal yang dapat kita pelajari dari riwayat ini, yaitu :

Semakin tinggi jabatan seseorang, seharusnya semakin ia semakin rendah hati.

Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin bagus ahklaknya.

Dua hal ini adalah cara yang ampuh untuk menghindarkan diri kita dari kesombongan.

  1. Mengetahui kelemahan sendiri dari ucapan seseorang yang tidak menyukai diri kita juga sangat penting. Dalam hal ini, apabila kita menghadapi suatu permasalahan yang serius dengan lawan kita, ia pasti akan selalu menyampaikan tentang keburukan-keburukan yang ada pada diri kita. Oleh karena itu, ucapan-ucapan lawan kita terkadang membawa manfaat dari teman dekat kita yang selalu memuji dan menyanjung kita serta menyembunyikan kelemahan-kelemahan kita. Pada kenyataanya, apa yang dikatakan lawan itu sangat sulit diterima. Akan tetapi, bagi orang yang bijaksana, ia akan berusaha mengambil manfaat dari apa yang di katakan lawan-lawanya. Dengan demikian, ia dapat mengadakan perbaikan-perbaikan pada dirinya serta berusaha positif dari hati, ucapan, dan perbuatannya untuk menyikapi ucapan-ucapan lawan atau musuh tersebut. Selain itu, kita pun harus selalu berusaha semaksimal mungkin untuk tidak sekali-kali berprasangka buruk atau berpikiran negatif kepada semua orang, baik itu orang tua, keluarga, saudara, teman, musuh, maupun orang lain yang kita kenal atau yang tidak kita kenal sekalipun. Sebab, prasangka buruk atau pikirn negatif hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam menjalani hidup sebagai mahluk Tuhan yang bersosial.

  1. Bergaul dalam lingkungan masyarakat di mana kekurangan-kekurangan kita akan tampak. Dalam masyarakat, terdapat banyak orang dengan beragam sifat dan karakter sehingga mereka mampu menilai pribadi kita. Terkadang terdengar dari orang lain suatu berita mengenai kita yang sudah menyebar di masyarakat umum. Dengan demikian, kita akan tahu sejauh mana masyarakat memandang pada akhlak kita itu.

Demikianlah beberapa cara yang dapat telah dikutip dalam kita Ihya ‘Ulum ad-Din karangan Imam Al-Ghazali guna mengetahui kelemahan- kita yang hendaknya direnungi serta diperbaiki sedikit demi sedikit sehingga kita menjadi manusia yang lebih baik. Kita harus pula selalu berusaha berpikir, berbicara, dan berbuat hal-hal yang positif sehingga kita benar-benar akan menjadi orang yang berbuat ihsan karena kita hanyalah mahluk AllahSWT yang sangat lemah yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Semoga Allah Taala selalu membimbing, memberkahi, dan menunjukan jalan kebenaran-Nya sehingga kita dapat memberikan yang terbaik bagi diri kita semua. Amin.

Sumber Gambar: http://www.vancouverchurchofchrist.org/2016-02-07-brian-felushko-be-humble/

 

Tentang Penulis

Abdul Hakim

Tinggalkan komentar