Sejarah

“Menghitung Hari” ¦ dari Kisah-kisah sejati Ḥaḍrat Maulana Rahmat Ali H.A.O.T.–r.a. di Indonesia 1925—1950

menanti

rahmat ali haotMESJID Gang Gerobak, Petodjo Oedik, , di pengujung tahun 1950. Adzan Ẓuhūr baru saja dikumandangkan oleh Djian Sulaeman, murid kesayangan Ḥaḍrat Rahmat Ali H.A.O.T.–rāḍiya’l-Lāhu ‘anhu. Djian muda berasal dari Kampung Warung Mangga di pinggir Sungai Cisadane, Tangerang.

Belum sempat ṣalāt, tiba-tiba petugas PTT (perusahaan pos dan telekomunikasi zaman Hindia Belanda) datang pakai sepeda ontel. Sebuah surat diterima Djian bersama dua bundel besar suratkabar. Satu bundel suratkabar Al-Badr dari , India, dan satu bundel lagi suratkabar Al-Fazl dari Rabwah, Pakistan.

Pada masa itu, kadang kiriman datangnya enam bulan sekali, kadang setahun sekali. Malah pada zaman Perang Dunia Kedua, sebelum pisahnya India dan Pakistan, kontak surat-menyurat dari Qadian, India, terputus sama sekali. Termasuk juga terputusnya tunjangan hidup para “bapak utusan”—sebuah sebutan populer muballigh yang berasal dari markas besar Jemaat Rabwah-Pakistan pada masa tersebut. Kondisi tanpa uang tunjangan para ‘bapak utusan’ ini berlangsung sekitar tiga tahun.

Djian menyerahkan surat kepada Sang Maulana yang berasal dari Anjuman Rabwah. Bundel Al-Badr dan Al-Fazl dibawa langsung ke kamar kerjanya.

Usai ṣalāt Ẓuhūr, Sang Maulana membuka surat sambil dikelilingi para “murid”. Ada Mr. Moertolo, Sirati Kohongia, Supardja, Bahrum Rangkuti, Raden Jusuf Achmadi, Gomar, Satiri, Entoy Mohammad Toyyib, dan Djian
Sulaemen sendiri.

“Entah kenapa, hati saya tidak enak,” kata Djian dalam hati.

Maulana Rahmat Ali pun selesai membaca surat seperti biasa, para sahabat tidak ada yang berani membuka suara sebelum Maulana sendiri memulai berbicara. Tidak lama, Maulana mengemukakan kalau beliau dipanggil pulang ke Rabwah oleh Yang Mulia Ḥaḍrat Khalīfatu’l-Masīḥ Masih Kedua r.a..

“Tuan mau cuti ke Rabwah?” tanya Djian seperti tanpa dipikir lagi.

“Saya dipanggil pulang, bukan cuti,” ungkap Maulana.

“Jadi, Tuan akan meninggalkan kita semua? Untuk selamanya?” tanya Djian yang airmatanya sudah meleleh.

“Apa begitu Tuan?” ungkap Satiri menimpali sembari juga dengan air mata yamg bercucuran.

Sedang Gomar, jawara Betawi itu, tak bisa bicara. Dia bisanya menangis tersedu-sedu.

DJIAN adalah tukang cukur pribadi Maulana Rahmat Ali. Djian memiliki lapak, berpraktek di dekat Stasiun Kereta Api Duri, ditempuh dengan jalan kaki sekitar setengah jam dari Mesjid Gang Gerobak—mesjid Ahmadiyah pertama di Betawi yang pada kemudiam hari sampai sekarang dengan nama Masjid Al-Hidayah Jalan Balikpapan I Nomor 10 sekarang. Kawasannya dinamakan Gang Gerobak karena pada masa itu banyak gerobak air dan gerobak dagang.

Dalam surat Ḥaḍrat Khalīfatu’l-Masīḥ II r.a. tidak dijelaskan kapan Sang Maulana harus kembali, tapi kapal laut yang akan berlayar ke Pakistan akan datang sebulan lagi. Karena itu, waktu untuk Maulana Rahmat Ali tinggal di Jakarta menyisakan sebulan lagi. Dalam jangka sebulan itu, para sahabat beliau bergelisah, sedih tak karuan.

Adapun Djian, setiap pergantian hari maka ia mencoret di dinding dapur masjid bahwa sebagai tanda ‘sekian hari’ lagi Maulana Rahmat Ali bersama mereka. Coret-coret hitungannya di dinding papan dapur itu berasal dari arang bekas kayu bakar. Mencoretnya bagaikan orang yang menghitung poin pemilih di pilkada. Dari hitungannya itulah kadang Djian berguman sendiri bahwa Tuan Maulana tinggal sekian hari dan tinggal sekian hari. Gumamannya selalu diiringi air mata. Adapun Gomar, malah sakit beberapa lama, namun sembuh tatkala mengantar Sang Maulana ke Pelabuhan Tanjung Periuk.

Ketika hari keberangkatan Maulana tiba, ada ketiga murid beliau berjalan mondar-mandir ke depan mesjid dan ke belakang dekat dapur. Sesekali mengusap-usap koper kulit Maulana dan berkali-kali menyalami sambil mencium tangan Sang Maulana. Sedang murid-murid beliau yang lain berdiri, tetap diam menahan diri. Rombongan pengantar pun berangkat dengan meminjam mobil truk tentara. Pengangkutan pulang-perginya diurus oleh Hamid Sukardjo.

Setelah sampai di pelabuhan, Maulana menaiki kapal setelah bersalaman dengan semua pengantar. Bunyi pertama dari suara trompet kapal melengking, penumpang sudah diatas semua, termasuk Maulana. Bunyi yang kedua terdengar, petanda tali penghambat kapal dilepas semua. Lalu kapal meninggalkan pelabuhan setelah ada bunyi terompet tiga kali berturut-turut.

“Itu! Tuan masih kelihatan!” seru Djian kepada kedua sahabatnya, Gomar dan Satiri. Yang dibalas dengan anggukan oleh Gomar dan Satiri sambil mengurai derai airmata. Mereka saling membesarkan hati dalam menghadapi kesedihan ini. Sementara rombongan pengantar sudah pada pulang semua.

Syahdan, kapal kian menjauh dan tampak mengecil. Djian mengambil prakarsa menaiki tangga gudang pelabuhan sambil berteriak dari atas, memanggil kedua sahabatnya. Mereka bertiga di atas. “Kapalnya Tuan kelihatan lagi!” kata mereka serempak.

Perlahan, makin lama makin kecil dan kemudian tinggal kelihatan asap kapal saja. “Asap kapalnya Tuan masih kelihatan!” kata mereka serempak lagi.

Ketika asap kapal itu pun menghilang di kaki langit yang menjingga itu, mata ketiga sang murid ini semakin nanar. Mereka sepertinya belumlah percaya kalau Sang Guru yang mereka khidmati hampir seperempat abad di Gang Gerobak itu, betul-betul telah pergi. Yah, pergi. Dan tak pernah kembali lagi ke negeri yang dia amat cintai ini.

Editor: A. Shaheen Mallarangeng

Gambar: Wikipedia, http://www.barokahmuslim.com/qadha-shalat-sunah-fajar-setelah-sholat-subuh/

Tentang Penulis

Rahmat Ali Daeng Mattiro

1 komentar

Tinggalkan komentar