Tauhid

Menguji logika ketuhanan ruang | Qureta.com

“TATKALA dasar premis dan argumen akan ketuhanan segala sesuatu terbukti tidak sah sehingga konklusi akhirnya dibuatnya negatif, satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah ini adalah…”

Menanggapi tulisan Dedy Ibmar:
“Ruang adalah Tuhan Yang Sebenarnya”;
“Sekali Lagi tentang Ruang dan Tuhan Yang Sebenarnya”

 

. Sebuah kata yang tidaklah asing di kita. Semenjak kecil pun kita telah mengakrabi kumpulan lima huruf ini. Ruang tidur, ruang makan, ruang belajar, ruang , ruang tamu, semuanya tentu sudah terekam dengan kuat dalam ingatan kita. Oleh sebab itu, saat mendengar kata tersebut, bukanlah kesulitan bagi kita untuk memvisualisasikannya.

Menyoal ruang, Mas Dedy Ibmar mengemukakan satu pendapat yang boleh dibilang cukup menarik. Menurut apa yang disebutnya sebagai perenungan, ruang (lebih tepatnya: ruang kosong) pada hakikatnya adalah wujud Tuhan. Pendapat demikian ditariknya dari “kenyataan” bahwa ruang kosong—vacuum dalam istilah ilmiahnya—memiliki ciri yang utama: satu, tetap, dan melampaui segala hal.

Bayangkan, sederhananya, sebuah ruang tak berpenghuni di rumahmu atau, lebih hebatnya, angkasa raya di luar atmosfer bumi! Nah, ruang-ruang kosong berjenis sama yang eksis di mana-mana ini, sahut Mas Idmar, tak lain dan tak bukan adalah Tuhan sendiri.

Bila diperhatikan lebih lanjut dari artikel beliau berjudul “Ruang adalah Tuhan Yang Sebenarnya”, Mas Ibmar tampak sangat terpengaruh oleh paham waḥdat al-wujūd atau panteisme Ibnu ‘Arabī. Waḥdat al-wujūd inilah yang sejatinya melandasi pemikiran Mas Idmar bahwa vacuum ialah Tuhan.

Adapun perbincangan fisikawi dalam artikel beliau di atas, kalimat-kalimat itu merupakan penjelas belaka bagi paham asasinya, sedangkan kutipan Al-Kindī dan Al-Fārābī dalam artikel kedua beliau di bawah titel “Sekali Lagi tentang Ruang dan Tuhan Yang Sebenarnya” hanya sebatas sudut pandang lain untuk menerangkan gagasan pokok tadi.

Dalam tulisan ini, sesuai judulnya, penulis akan mencakapi kedua artikel Mas Ibmar terebut lewat diskursus logika filsafat. Dialektika fisika sudah panjang lebar dijabarkan Mas Iskandar Gumay dalam “Sekiranya Tuhan adalah Ruang, Dia akan Musnah”. Jadi, tidak perlulah penulis merebut jatah orang lain, ha ha ha. ✨?

 

Bangunan Logika

Dengan merujuk pada ketiga keterangan Ibnu ‘Arabī, Al-Kindī, dan Al-Fārābī—terutama yang pertama, Mas Ibmar terlihat berhasrat menyediakan legitimasi bagi ketuhanan vacuum yang beliau perkatakan. Beliau, untuk maksud ini, menggunakan silogisme kategorial. Berikut adalah perinciannya:

  • Premis mayor (+): Segala sesuatu selain Tuhan adalah Tuhan juga.
  • Premis minor (+): Vacuum adalah sesuatu.
  • Konklusi (+): Vacuum adalah Tuhan.

Pola pikiran Mas Ibmar bisa pula dijelaskan melalui salah satu aturan inferensia dalam logika matematika: modus Ponens. Kita misalkan:

p: Segala sesuatu selain Tuhan adalah Tuhan juga.
q: Vacuum adalah Tuhan.

Konklusi yang ingin ditarik beliau berdasarkan modus Ponens ialah sebagai berikut:

H1(+):  p
H2(+):  p → q
K(+):   q

Apabila masing-masing premis dalam silogisme kategorial dan masing-masing argumen dalam modus Ponens positif, konklusi yang lahir pasti akan positif jua. Akan tetapi, andaikata premis mayor dan argumen pertama negatif, konklusinya pun ikut negatif. Nah, untuk membuktikan apakah keduanya positif atau negatif, kita akan memeriksa kesahan basis yang menopang mereka, yakni ketiga penjelasan Ibnu ‘Arabī, Al-Kindī, dan Al-Fārābī.

 

Waḥdat al-Wujūd Ibnu ‘Arabī

Meskipun tidak pernah mencetuskan secara langsung nama waḥdat al-wujūd, ungkapan-ungkapan Syaikh Akbar dalam berbagai kitab beliau amat fundamental bagi paham ini. Misalkan saja, beliau berujar dalam Fuṣūṣ al-Ḥikam (1946:88):

“Mahasuci Dia Yang menciptakan segala sesuatu dan Dia sendirilah yang menjadi hakikat perwujudan segala sesuatu itu (‘ainuhā).”

Selanjutnya:

“Wahai Pencipta segala sesuatu dalam diri-Nya sendiri! Engkau menyatu (jāmi‘) dengan tiap sesuatu kala Engkau menciptakannya.”

Tiada syak-wasangka bahwa Syaikh Akbar Ibnu ‘Arabī adalah seorang master agung. Namun, terlepas darinya, beliau tetaplah manusia biasa yang tidak bebas dari kekeliruan. Dari ujaran beliau, terdapat setidaknya dua natijah krusial yang dapat kita ambil:

Pertama adalah fragmentasi Tuhan. Artinya, ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu, Dia memenggal-menggal wujudnya hingga wujud asli-Nya tidak tersisa lagi untuk masuk ke dalam wujud tiap-tiap sesuatu itu. Jadi, segala sesuatu secara keseluruhan dan satu-kesatuan merupakan satu wujud Tuhan, sedangkan tiap-tiap sesuatu merupakan entitas parsial dari sebuah kumulasi ketuhanan.

Kedua adalah replikasi Tuhan. Sama dengan fragmentasi, wujud asli Tuhan tidak lagi berbekas. Bedanya dalam replikasi ialah, kala Tuhan menciptakan segala sesuatu, Dia memperbanyak wujud-Nya menjadi Tuhan-Tuhan banyak yang identik satu sama lain untuk masuk ke dalam wujud tiap-tiap sesuatu itu. Dengan kata lain, tiap-tiap sesuatu adalah Tuhan dengan ketuhanan yang independen dan holistik.

Kedua natijah ini jelas-jelas saling bertentangan. Nah, suatu pernyataan yang melahirkan dua natijah yang saling kontradiktif dikenal dengan nama ambiguitas. Ambiguitas secara formal diketagorikan ke dalam logical fallacy. Karenanya, waḥdat al-wujūd tidak boleh ditetapkan untuk mendasari premis atau logika manapun.

Dalam konteks waḥdat al-wujūd, ibarat Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Jamaah Ahmadiyah, lebih mengena untuk diterima. Beliau bersabda dalam kitab Tauḍīḥ-e-Marām (2009a:89).

“Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia seperti hakikat perwujudan segala sesuatu itu (ka ‘ainihā). Alam ini bagai istana yang berlantaikan jubin dari kaca. Air dengan energi yang kuat mengalir di bawahnya. Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.

“Alam ini tampak bagi mata yang bercacat seolah-olah segala sesuatu itu ialah Dia. Mereka menganggap bahwa matahari, bulan, dan bintang adalah wujud-wujud yang memberikan pengaruh dengan sendirinya, padahal tidak ada satupun wujud yang memberikan pengaruh, kecuali Dia.”

Dengan mengucapkan ini, Ḥaḍrat Aḥmad ingin menyampaikan bahwa segala sesuatu selain Tuhan adalah makhluk semata. Akan tetapi, segala sesuatu tersebut tidaklah diciptakan-Nya tanpa tujuan. Sebaliknya, Tuhan membuat mereka sebagai refleksi yang menandakan eksistensi-Nya.

Sebagaimana lukisan yang indah nan menawan menampilkan jiwa artistik pelukisnya yang tinggi, begitu jualah tiap-tiap sesuatu di alam raya ini menyuguhkan pemandangan akan sifat-sifat-Nya secara khas. Dengan demikian, para salik yang hendak mencari keberadaan-Nya dapat tertuntun dan tidak tersesat. Mengenai hikmah yang mendalam tersebut, Ḥaḍrat Aḥmad dalam kitab Al-Istiftā’ (2005:116) menyairkan:

“Orang-orang yang berakal dengan alam melihat-Nya, sedangkan dengan-Nyalah orang-orang arif telah melihat segala sesuatu.”

Para saintis sudah sejak dahulu mengonfirmasi kebenaran ini. Sebagai contoh, Edmund Carl Kornfeld (1919-2012), Guru Besar Kimia Organik dari Harvard University, pernah mengungkapkan (Allahdin, 1991:12-13):

“I subscribe to that statement unreservedly. It is my firm conviction that there is a God, and that He planned, created and sustains the universe.”

Selanjutnya:

“We will admit that we must believe in a supreme creative intelligence in Nature, or as the only alternative to this we must believe that the universe as we find it has come about as the result of chance, and chance alone. To one who has seen marvellous complexity and yet the pervading order in organic chemistry – especially that in living systems – the idea of chance is repugnant to the extreme.

“The more one studies the science of molecular structure and interrelation, the more one is convinced of the necessity of a planner and designer of it all. The simplest man-made mechanism requires a planner and a maker. How a mechanism ten thousand times more involved and intricate can be conceived of as self-constructed and self-developed is completely beyond me.”

Seorang Guru Besar Botani dari Michigan State University, Irving William Knobloch (1909-1999), juga pernah mengekspresikan (Allahdin, 1991:15):

“I believe in God…because I do not think that the mere chance could account for the emergence of the first electrons or protons, or for the first atoms, or for the first amino acids, or for the first protoplasm, or for the first seed, or for the first brain. I believe in God, because to me His Divine Existence is the only logical explanation for the things as they are.”

Masih banyak sebenarnya contoh-contoh lain yang bisa disampaikan. Singkatnya, testimoni ilmuwan-ilmuwan ini mengafirmasi perkataan Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmad tadi. Yakni, Tuhan menjadikan tiap sesuatu di sebagai tanda yang menunjukkan keberwujudan-Nya, bukan berarti bahwa tiap sesuatu itu adalah Tuhan.

Emanasi Al-Fārābī

Kini kita beranjak menuju teori (lebih tepatnya: hipotesis) emanasi atau faiḍ Abū Naṣr Al-Fārābī. Dari perspektif bahwa seluruh alam merupakan emanasi atau percikan pancaran dari wujud-Nya, Al-Fārābī sungguh benar. Tuhan adalah wujud merdeka yang tidak membutuhkan siapapun dan apapun untuk menopang-Nya, justru segala sesuatu selain-Nya memerlukan-Nya sebagai penyokong dan penunjang wujud mereka masing-masing.

Lagi-lagi, kata Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad begitu menarik untuk dikutip. Beliau berbicara dalam kitab Barāhīn-e-Aḥmadiyya Ḥiṣṣah Sōm(2009b:191—192):

“Sesungguhnya, Dia adalah asal-muasal (mabda’) dan sumber (maṣdar) dari segala pancaran (fuyūḍ). Dia pun penyebab utama (‘illat al-‘ilal) dari segala cahaya serta mata air (chasymah) bagi segala jenis rahmat. Wujudnya sungguh merupakan penyangga (qayyūm) hakiki bagi segenap alam raya. Dia ialah pengurus (qawwām) dan pelindung (penāh) bagi segala apa yang berada di ketinggian langit dan di kedalaman bumi.

“Dia-lah yang telah mengeluarkan segala sesuatu dari kegelapan ketiadaan (ẓulmatkhānah ’adam) dan memakaikannya jubah keberadaan (khil‘at-e-wujūd). Tidak ada wujud lain yang berdiri dengan sendirinya, tetap, atau bukan penerima rahmat-Nya. Langit dan bumi ini serta segala apa yang berada di dalamnya, baik manusia, hewan, pohon, batu, ruh, maupun tubuh, semuanya telah mengambil wujudnya masing-masing (mustafīḍ) dari pancaran rahmat-Nya.”

Adapun berkenaan dengan pernyataan Al-Fārābī bahwa wujud immaterial pertama, yaitu Tuhan, berpikir tentang diri-Nya sehingga timbul wujud immaterial kedua, lalu wujud immaterial kedua memikirkan dirinya dan wujud immaterial pertama sehingga timbul wujud immaterial ketiga, dan seterusnya hingga wujud immaterial kesebelas, hipotesis beliau ini telah difalsifikasi oleh sains modern. Untuk itu, marilah kita telaah pertama-tama dari sisi Al-Fārābī dalam kitabnya, Ārā’u Ahl al-Madīnat al-Fāḍilah (1986:61—62).

Seperti baru saja diberitahukan, hipotesis emanasi Al-Fārābī berpangkal dari Tuhan selaku wujud immaterial pertama yang berpikir (ya‘qilu) tentang diri-Nya sendiri. Pemikiran ini menghasilkan wujud immaterial kedua yang belum teridentifikasi. Barulah saat wujud immaterial kedua berpikir tentang dirinya dan wujud immaterial pertama, muncullah wujud immaterial ketiga dalam bentuk langit pertama (as-samā’ al-ūlā).

Kemudian, saat wujud immaterial ketiga berpikir tentang dirinya dan wujud immaterial pertama, muncullah wujud immaterial keempat dalam bentuk bintang-bintang (kurrat al-kawākib). Saat wujud immaterial keempat berpikir tentang dirinya dan wujud immaterial pertama, muncullah wujud immaterial kelima dalam bentuk planet Saturnus (kurrat az-zuḥal).

Hatta, saat wujud immaterial kelima berpikir tentang dirinya dan wujud immaterial pertama, muncullah wujud immaterial keenam dalam bentuk planet Jupiter (kurrat al-musytarī). Saat wujud immaterial keenam berpikir tentang dirinya dan wujud immaterial pertama, muncullah wujud immaterial ketujuh dalam bentuk planet Mars (kurrat al-marīkh).

Syahdan, saat wujud immaterial ketujuh berpikir tentang dirinya dan wujud immaterial pertama, muncullah wujud immaterial kedelapan dalam bentuk matahari (kurrat asy-syams). Saat wujud immaterial kedelapan berpikir tentang dirinya sendiri dan wujud immaterial pertama, muncullah wujud immaterial kesembilan dalam bentuk planet Venus (kurrat az-zuhrah).

Sesudahnya, saat wujud immaterial kesembilan berpikir tentang dirinya dan wujud immaterial pertama, muncullah wujud immaterial kesepuluh dalam bentuk planet Merkurius (kurrat al-‘uṭārid). Saat wujud immaterial kesepuluh berpikir tentang dirinya dan wujud immaterial pertama, muncullah bulan (kurrat al-qamar).

Sampai sini, benda-benda langit yang immaterial terhenti. Barulah sehabis bulan, bumi dan benda-benda material yang mengisinya terbentuk dan dikitari oleh kesepuluh benda langit immaterial tadi.

Dipandang dari kaca mata sains modern, hipotesis di atas invalid dengan beberapa alasan sebagai berikut:

  • Materi dalam terminologi fisika adalah setiap benda bermassa yang menempati ruang. Jadi, benda-benda langit, baik matahari, bintang, maupun planet, merupakan benda-benda bermateri, bukan tidak bermateri.
  • Proposisi tata surya yang diajukan Al-Fārābī bersifat geosentris, tidak sesuai dengan fakta akan heliosentrisme. Selain itu, susunan planet-planet tata surya dari hipotesis emanasi tersebut juga kontradiktif dengan bukti-bukti astronomi kontemporer.
  • Hipotesis nebular Emanuel Swedenborg, Immanuel Kant, dan Pierre Simon-Laplace tentang kosmogoni tata surya, walaupun sudah banyak bagiannya yang dimodifikasi oleh penemuan-penemuan mutakhir, secara luas diterima oleh ilmiah. Hipotesis ini beserta modifikasi-modifikasi modernnya—yang didasarkan pada kalkulasi matematis dan komputasi berpresisi tinggi—mementahkan hipotesis emanasi Al-Fārābī.

Atas dasar ini, hipotesis emanasi Al-Fārābī tidak absah untuk dijadikan dastūr asāsī bagi premis atau argumen apapun.

 

Penciptaan dari Ketiadaan Al-Kindī

Oh ya, ada satu yang terlewat: ketidakterbatasan alam secara potensial dan keterbatasannya secara aktual dalam creatio ex-nihilo yang dipaparkan Al-Kindī. Sekiranya diperhatikan dengan saksama, konsep yang tertuang dalam Al-Falsafat Al-Ūlā tersebut tidak berkaitan secara langsung dengan pembahasan soal ketuhanan ruang. Namun, bolehlah dan tidak mengapa kita diskusikan, kembali, dari alur pikiran Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad.

Hadhrat Ahmad sejatinya sudah menyinggung hal ini secara implisit dalam kalimat ternukil di atas bahwa:

“Dialah yang telah mengeluarkan segala sesuatu dari kegelapan tidak adanya dan memakaikannya jubah keberadaan.”

Maknanya, segala sesuatu pada dasarnya memiliki potensi keberwujudan yang laten dalam ilmu Tuhan. Taktala kunfayakūniyyat-Nya terfirmankan, potensi itu mengejawantah menjadi wujud sesuatu yang sifatnya konkret. Istilah-istilah “kegelapan tidak adanya” dan “jubah keberadaan” mengindikasikan pemikiran yang sama. Singkatnya, ada mufakat antara Al-Kindī dan Hadhrat Ahmad.

 

Ketuhanan Vacuum Runtuh

Kini, deskripsi Ibnu ‘Arabī dan Al-Fārābī yang ditempatkan sebagai dasar bagi bangunan tempat dan argumen Mas Ibmar sudah terbukti ketidaksahannya. Oleh sebab itu, konklusi dari silogisme kategorial akan berubah negatif. Berikut adalah detailnya:

Premis mayor (–): Segala sesuatu selain Tuhan bukan Tuhan.
Premis minor (+): Vacuum adalah sesuatu selain Tuhan.
Konklusi (–): Vacuum bukan Tuhan.

Adapun modus Ponens, ia sekarang berubah menjadi modus Tollens karena argumen pertamanya negatif. Konklusinya pun begini:

H1(–):  –p
H2(+):  p → q
K(–):    –q

Dengan demikian, tersingkaplah tabir bahwa rumusan Mas Ibmar akan ketuhanan vacuum jelas-jelas tidak benar menurut kaidah logika formal.

 

Penutup

Taktala dasar premis dan argumen akan ketuhanan segala sesuatu terbukti tidak sah sehingga konklusi akhirnya dibuatnya negatif, satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah ini adalah menempatkan vacuum pada kedudukan asalnya, yaitu sebagai makhluk Tuhan yang terkreasi dari khāliqiyyat-Nya.

Vacuum memang bukan Tuhan dan tidak akan pernah menjadi Tuhan. Seandainya vacuum dengan segala variasinya ialah Tuhan, apakah vacuum cleaner patut dinamai Tuhan jua? He he he. ✨?

Akhirulkalam, merupakan dambaan penulis untuk mengkhatamkan tulisan ini dengan menukil beberapa bait syair Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Dalam halaman-halaman pertama Barāhīn-e-Aḥmadiyyah Ḥiṣṣah Awwal (2009c:14), ia menulis:

“Panorama alam raya yang menakjubkan berkesinambungan mengumandangkan bahwa, pastilah ada sosok pendiri dan pembangunnya.
“Tidak bersekutu Dia dan tiada pula berpasangan, tidak ada yang mencampuri pekerjaan-Nya ataupun berbagi rahasia-Nya.
“Dialah pencipta alam raya ini, tetapi Dia sendiri melampauinya dan berdiri mandiri darinya.”

_
Qureta.com

Tentang Penulis

R. Iffat Aulia Ahmad A.

Seorang musafir yang terdampar di persimpangan ruang dan waktu, yang duduk termangu menatap segala kericuhan zaman, menengadah ke langit di tengah keheningan, memandang takjub Sang Markaz-ud-Dā’irāt.