Akhlaq Faḍi'l-Lāh Qureta

Menjadi laki-laki Beradab

NAMUN perintah menutup aurat yang ditujukan kepada perempuan ini, tidak boleh menjadikan kita lupa bahwa laki-laki pun harus menundukkan pandangannya terlebih dulu. Artinya, laki-laki diwajibkan lebih dulu untuk menjaga kesucian dirinya dengan menjaga pandangannya yang akhirnya akan terjaga pula pemikirannya dari hal-hal kotor.✨?

DI Indonesia, setiap ada kasus perkosaan, secara ‘menakjubkan’ akan ada saja—bahkan lumayan banyak—yang menyalahkan korban. Entah menyalahkan cara berpakaian korban yang dianggap ‘mengundang syahwat’ atau seperti baru-baru ini, menyalahkan korban karena berjalan sendirian.

Komentar-komentar ini tak hanya keluar dari mulut laki-laki, yang seolah bangga dengan nafsu birahinya yang tak terkendali. Sangat disayangkan, komentar ini juga keluar dari mulut para perempuan yang—menurut saya—sebenarnya adalah penegasan atas rasa inferior dalam diri mereka.

Sebagai seorang muslimah, saya cukup dibuat malu bahwa komentar-komentar menyalahkan korban ini harus lahir dari mereka yang mengaku beragama Islam dan bangga dengan ilmu keislaman mereka yang sebenarnya memprihatinkan.

Mereka menutup mata dengan fakta tingginya kasus perkosaan di Arab , negara (yang katanya) menerapkan hukum Islam. Padahal seperti diketahui bersama, kaum perempuan di Arab sudah memakai hijab yang rapat, pakai cadar, dan ditutup dengan jubah panjang lebar berwarna hitam, untuk menutup setiap lekuk tubuhnya agar tak memancing .

Tetapi ternyata hal itu tidak mengurangi jumlah kasus perkosaan di sana. Kenapa? Karena hanya perempuan yang dituntut untuk menerapkan kesucian, sementara laki-lakinya tidak.

Dalam Al-Qur’ān jelas tertulis bahwa perintah untuk memelihara kesucian terlebih dulu ditujukan kepada kaum lelaki dengan menundukkan pandangannya. Allāh swt. berfirman:

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki, mereka hendaklah menundukkan mata mereka dan memelihara aurat mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya, Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan.”[1]

Dijelaskan dalam tafsirnya bahwa mata adalah pintu masuk semua jahat ke dalam hati . Oleh karena itulah mengapa kita, laki-laki terlebih dahulu, diharuskan menundukkan pandangannya, mengendalikan anggota tubuhnya tersebut, untuk menghalangi pemikiran jahat yang tak pantas masuk dan menggerogoti hati.

Barulah setelah laki-laki yang mendapat perintah untuk menundukkan mata dan memelihara auratnya, perintah selanjutnya jatuh kepada perempuan.

“Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan bahwa mereka hendaknya menundukkan mata mereka dan memelihara aurat mereka, dan janganlah mereka menampakkan kecantikan mereka, kecuali apa yang dengan sendirinya nampak darinya, dan mereka mengenakan kudungan mereka hingga menutupi dada mereka…”[2]

Dari sini bisa disimpulkan dua hal. Pertama—bahwa perintah untuk menundukkan pandangan, untuk memelihara aurat, untuk menjaga pardah, adalah kewajiban laki-laki dan perempuan. Sebelum menuntut perempuan untuk menutup auratnya, laki-lakilah yang diperintahkan lebih dulu untuk menundukkan matanya.

Kedua—betul bahwa kemudian perintah untuk menutup auratnya menjadi lebih banyak untuk perempuan. Kenapa? Karena setiap bagian perempuan itu indah dan mampu menarik perhatian laki-laki.

Oleh karena itu, perempuan diharuskan menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah, telapak tangan dan kaki, juga yang dengan sendirinya tampak—seperti cara berjalan dan lain-lain, adalah untuk menjaga dirinya dari pemikiran dan tindakan buruk laki-laki yang memang mampu goyah dengan hal-hal kecil semacam itu.

Namun perintah menutup aurat yang ditujukan kepada perempuan ini, tidak boleh menjadikan kita lupa bahwa lelaki pun harus menundukkan pandangannya terlebih dulu. Artinya, laki-laki diwajibkan lebih dulu untuk menjaga kesucian dirinya dengan menjaga pandangannya yang akhirnya akan terjaga pula pemikirannya dari hal-hal kotor.

Aturan Islam ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang logis dan sesuai dengan ilmu pengetahuan. Apabila dipahami dan diterapkan seutuhnya, maka negara- akan mencapai kemajuan dan peradaban yang sama gemilangnya dengan negara-negara lain yang tak menerapkan hukum Islam.

Bahkan, negara-negara Islam tak ada yang masuk dalam daftar 10 kota teraman bagi perempuan untuk jalan-jalan sendirian.[3] Bukankah ini sebuah hal yang memalukan dan memprihatinkan? Negara-negara (yang katanya) menerapkan hukum Islam (yang mereka yakini apabila diterapkan dengan versi mereka) akan menjadikan negara mereka aman bagi siapa saja, mengapa hal itu tak dirasakan kaum perempuan?

Sayangnya, bagaimana Islam sebenarnya menyusun aturan mengenai hal ini bukan hanya tidak dipahami, tetapi justru dikesampingkan layaknya bukan sebuah aturan. Dalam kasus Yuyun dan kasus-kasus perkosaan lainnya, ada orang-orang—bahkan setingkat pejabat—yang justru menyalahkan korban, tidak hanya mencederai rasa keadilan. Lebih jauh, pernyataan ini mencederai logika berpikir.

Mereka seharusnya malu menyatakan hal ini. Karena pernyataan ini malah hanya menegaskan bahwa wajar bila laki-laki memerkosa, wajar bila laki-laki tak bisa mengendalikan nafsu birahinya sebagaimana binatang. Bukankah ini sebuah aib besar?

Lebih memalukan lagi apabila pernyataan semacam ini keluar dari mulut-mulut yang mengaku beragama Islam dan membawa-bawa ajaran Islam. Padahal, Rasulullah saw. sendiri sangat memuliakan perempuan dan tak segan menghukum mati bagi siapapun yang melecehkan dan menyerang perempuan.

Sebagai penutup, saya ingin kutip sebuah cerita Rasulullah saw. dan sepupu beliau yaitu Fadhl bin Abbas.

Fadhl bin Abbas membonceng Rasulullah saw. pada hari Arafah. Fadhl yang saat itu masih sangat muda memandang dan mengawasi para perempuan di Arafah. Maka Rasulullah saw. berkali-kali menggerakkan tangannya untuk memalingkan wajah Fadhl dari memandang mereka. Namun Fadhl berkali-kali memandang ke arah mereka lagi. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Anak saudaraku, pada hari ini barangsiapa mampu mengendalikan pendengaran, penglihatan, dan lisannya, niscaya ia akan diampuni Allāh.[4]

Perhatikan, Rasulullah saw. bukannya turun dan memerintahkan para wanita yang dipandangi Fadhl agar menutup auratnya, tetapi Fadhl-lah yang beliau coba palingkan pandangannya. Fadhl-lah yang Rasulullah saw. berusaha untuk kendalikan. Dan inilah karakter manusia—terutama laki-laki— yang diajarkan Rasulullah saw..

_
Qureta.com

 

[1] Al-Qur’ān Sūrah (QS) An-Nūr {24}:31

[2] QS 24: 32

[3] EscapeHere.com | The 10 Safest (and Coolest) Cities for Women to Travel Alone; akses pada hari Jumat, tanggal 13 Mei 2016, pukul 05.40 WIB.

[4] Ḥadīts Riwayat (HR) Aḥmad, Ibnu Sa‘ad, Abu Ya‘la, Ibnu Khuzaimah, Aṭ-, dan Al-Baihaqī.

Tentang Penulis

Lisa Aviatun Nahar