Opini

Menjaga Lisan dan Tangan, Berteman Sabar

menjaga lisan
Penulis Adi Nasir

Ada sesuatu yang mengganjal dalam benak saya akhir-akhir ini. Sebegitunya sampai sering tanpa sadar saya merasa resah dengan ganjalan itu, pintu besi parkiran kantor saya pun takkan bisa ditutup lagi nampaknya.  Ya, ganjalan itu karena kamu. Iya, kamu. Sabar ya, jangan terburu nafsu dulu. Aku resah karena aku sayang kamu, dan semua orang. Sebentar aja kok, tak sampai seabad ini.

Hari Jum’at pagi yang lalu, selagi menunggu bangjo (abang – ijo, lampu lalu lintas warna merah – hijau) simpang PLN Bulungan – Blok M, macet pagi hari dan berada di antara barisan pemotor dan kendaraan lainnya. Yah, macam mana lagi harus berkesah karena semua itu, resikonya seperti itu. Nikmatilah, selagi mengalaminya, pikir saya.

Begitu lampu hijau menyala, semua kendaraan beranjak maju. Namun yang mengusik saya adalah tetiba seorang pengendara motor jangkung merangsek dari atas trotoar. Saya yang terselang barisannya saja kaget, apalagi pengendara yang berada di dekat motor jangkung itu. Astagfirullah, batin saya, cukup dalam hati saja. Mau pergi ke kantor, bukan cari perkara. Nanti tidak bikin nyaman. Memang tidak ada yang mengalami kecelakaan sih, namun ini menjadi ganjalan di benak saya.

Saya ingat dalam sebuah ceramah pimpinan Jamaat Ahmadiyah Internasional, Mirza Masroor Ahmad bahwasanya sebagai Muslim harus menjaga lisan dan tangannya. Dengan lisan, ujaran langsung, sampaikanlah hal-hal yang baik dan membangun. Hal ini berlaku dalam hubungan pribadi dan masyarakat, sesuai dengan adab yang diajarkan Rasulullah SAW, salahsatunya yakni adab kepada makhluk Allah, misalnya kepada orang tua, guru, karib kerabat, tetangga, dan masyarakat secara umum. Termasuk juga bagaimana berinteraksi dengan binatang dan tumbuhan. Adab dalam hubungan terhadap sesama makhluk mencakup:

  • Menahan diri untuk tidak menyakiti,
  • Mencurahkan kemurahan hati dan dermawan (jiwa, kedudukan harta dan Ilmu),
  • Menampakkan wajah yang ramah, ceria dan berseri.

Janganlah sekali-kali engkau meremehkan perbuatan baik sedikitpun, walaupun sekedar menemui saudaramu dengan wajah yang ceria”  H.R. Muslim (2626) dan At-Tirmidzi (1833)

Dengan tangan, kerjakanlah hal-hal yang dapat memberikan manfaat positif, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Tiada unsur pemaksaan kehendak yang dapat saja mengakibatkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, dan mengakibatkan kerugian yang belum dapat dibayangkan.

Paling tidak saya bermimpi setelah mengetahui itu; seandainya semua orang, baik Muslim ataupun non-Muslim mengamalkannya, yakin saya negeri ini benar-benar damai. Tanpa berusaha memaksakan kehendak, semuanya dilalui dengan penuh kesadaran tinggi bahwa apa yang tengah dilakukan benar-benar bermanfaat untuk semua orang. Jalan raya di kala bangjo menyala, ya diikuti dengan sabar. Pasti ada tujuan demi kebaikan bersama, kok.

Murni saya menulis ini untuk kamu, dan pembaca lainnya. Pastinya semua masih ingin pergi dan pulang kantor atau tujuan lainnya dengan selamat, kan? Menatap kembali keluarga ataupun orang-orang yang kita kasihi di rumah. Kalau pun terburu-buru, lihatlah itu sebagai cikal bakal cerita yang akhirnya belum tentu enak. Naik ke trotoar, ada hak penjalan kaki yang ter-rampas olehmu. Yakin deh pasti ngedumel, beneran. Dan yang (buruk) lainnya menanti. Amit-amit dah! Kamu mau kan bantu aku menghilangkan ganjalan ini di kemudian hari? Allah pahalamu, aamiin!

sumber :

http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/adab-dan-akhlak-mulia

http://reviewofreligions.org/8733/the-key-to-peace-global-unity/#sthash.A52djXif.dpuf

Sumber Gambar: http://www.istockphoto.com/photos/hands-covering-mouth?excludenudity=true&sort=mostpopular&mediatype=photography&phrase=hands%20covering%20mouth

Tentang Penulis

Adi Nasir

Tinggalkan komentar