Fiqih Mumtazah Akhtar

Menjawab EraMuslim.com | Khitan pada Perempuan bukanlah ajaran atau tradisi Islam

PROLOG:

sigit pranowo Menjawab EraMuslim com Khitan pada Perempuan bukanlah ajaran atau tradisi Islam apakah perempuan harus khitan

Sigit Pranowo-Lc di EraMuslim.com

Di situs eramuslim.com tanggal 19 Oktober 2014, ada pertanyaan mengenai /sunat pada . Apakah dianjurkan dalam agama ? Ustadz Sigit Pranowo Lc. memberikan pandangan bahwa Sunat pada anak perempuan dianjurkan dalam agama dan merupakan bagian dari ajaran . Dalam tulisan ini, kami memberikan tanggapan atas pandangan Ustadz Sigit, bahwa Khitan/Sunat pada perempuan bukanlah merupakan ajaran atau tradisi .

 

Oleh Mumtazah Akhtar

 

Menjawab EraMuslim com Khitan pada Perempuan bukanlah ajaran atau tradisi Islam apakah perempuan harus khitan

Ilustrasi perempuan dikhitan dari JadiPintar.com

BANYAK Ulama dalam Islam melakukan pembenaran terhadap tradisi-tradisi leluhur yang mengatasnamakan agama. Salah satu yang menjadi sorotan ialah khitan atau sunat pada perempuan yang dihubung-hubungkan dengan ajaran Islam. Khitan pada perempuan merupakan proses pemotongan organ seksual eksternal perempuan dengan berbagai alasan yang tak masuk akal.

Baru-baru ini WHO (World Health Organization) menyusun Interagency Statement yang diserukan pada seluruh negara, organisasi nasional dan internasional, masyarakat sipil, dan komunitas perlindungan hak-hak anak-anak dan perempuan, untuk mengakhiri segala macam praktik sunat pada perempuan.

Praktik ini bukan hanya dinilai tidak bermanfaat, bahkan sudah termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia, khususnya kaum hawa.

Akan tetapi, meski telah dilakukan pelarangan secara menyeluruh, tradisi ini masih menjadi kontroversi mengingat pendapat beberapa pemuka agama yang mengatakan bahwa sunat pada perempuan dianjurkan dalam Islam.

Tak ada satupun ayat dalam yang mendukung tradisi ini.

Bahkan, hal ini tak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw..

Kebingungan dan kesalahan penafsiran ini berawal dari munculnya yang lemah dan tidak otentik yang menyebutkan tentang praktik khitan pada perempuan.

Sebagaimana telah dikutip dari laman ReviewOfReligions.com, dalam Shahih Bukhari, Kitab Hadits yang paling otentik dan terpercaya, tak ada satupun yang menyebutkan tentang tradisi ini.

Kitab yang memenuhi syarat otentik kedua setelah Bukhari, yaitu Shahih , lagi-lagi tidak merekam apapun yang mendukung praktik sunat pada perempuan.

Sesungguhnya, dari enam Kitab Ḥadīts, lima di antaranya tak pernah menyebutkan mengenai hal ini.

Hanya dalam kitab ke-enam, Sunan Abu Dawud yang mendukung tradisi ini. Perihnya, dalam catatan Hadits Abu Dawud tentang tradisi ini, disebutkan bahwa “Hadits ini Dha‘if (lemah, tidak memenuhi syarat)”.

Demikian pula dalam catatan Islamic Law terhadap Abu Dawud, menyebutkan bahwa, “catatan tradisi sunat pada perempuan memiliki versi yang berbeda-beda dan masing-masing di antara mereka tidak memenuhi syarat, tidak kokoh, dan penuh dengan keraguan.”

Pada kenyataannya, praktik sunat pada perempuan ini telah ada sejak zaman Mesir Kuno, dan berlangsung hingga kini di Timur Tengah, beberapa bagian di Afrika, Indonesia, dan dilaksanakan juga oleh beragam suku bangsa dan aliran kepercayaan/agama.

Sanderson mengemukakan sebuah pernyataan dari Herodotus, bahwa praktik sunat pada perempuan telah dilakukan sejak 500 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus. Hal ini mengindikasikan bahwa praktik ini sudah ada jauh sebelum turunnya wahyu Islam.

Akan tetapi, timbul pertanyaan, mengapa tradisi ini dihubung-hubungkan dengan ajaran Islam?

Professor Ellen Gurrenbaum menjelaskan bagaimana Sunat pada perempuan ini memiliki kaitan dengan Islam:

“Di lembah Nil, diyakini bahwa praktik tersebut dimulai dan disebarkan oleh kaum Nasrani kelompok ‘Nile Valley Kingdom’ di Sudan pada abad ke-enam. Kemudian datanglah orang-orang Arab yang bermigrasi, pada awalnya kelompok pengembara melakukan perkawinan antarsuku dengan pribumi lembah Nil. Kemudian, identitas Arab semakin diperkuat ketika para cendekiawan Islam dan para Sufi berhasil menyebarkan agama Islam di bagian Utara Sudan, yang kemudian menjadi agama yang dominan selama ±1500 tahun. Sehingga praktik Khitan baik sebelum datangnya agama Islam atau diluar Islam, berhasil dileburkan kedalam sistem kepercayaan Islam di Sudan.”

Walau bagaimanapun, tradisi ini tak pernah didukung dan dianjurkan dalam Islam. Kita ketahui bahwa Rasulullah saw. memiliki beberapa anak perempuan.

Namun, pernahkah kita temui keterangan bahwa Rasulullah saw. melakukan sunat pada anak-anak perempuan beliau?

Tak ada satupun keterangan yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. melaksanakan tradisi tersebut dalam . Rasulullah saw. dikenal sangat disiplin dalam menerapkan hukum Islam dalam , sama halnya dengan apa yang beliau saw. perintahkan kepada seluruh umat Muslim di dunia. Hal ini jelas membuktikan bahwa tradisi sunat pada perempuan tak pernah ada dalam ajaran atau tradisi Islam.

Praktik sunat pada perempuan ini merupakan kejahatan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang harus segera diakhiri.

Terlebih lagi jika dikaitkan dengan ajaran suci yang dibawa oleh Rasulullah saw., ini merupakan suatu kesalahan.

Jangan sampai diterima oleh masyarakat awam sebagai bagian dari ajaran atau tradisi Islam.

Sahabat Rasulullah saw., Abu Shuraih Khuwailad bin Amr Khuzai r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ya Allāh, saya mengumumkan dosa besar bagi orang yang mengabaikan perlindungan hak atas dua manusia lemah: Anak yatim dan Perempuan.” (HR An-Nisā’i)

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia

Tinggalkan komentar