Khilafah Opini Sejarah

Menjawab @felixsiauw: Filsafat Yunani dan Keruntuhan Khilafah Turki

Penulis Denz Asad

TERTARIK dengan pernyataan Mas Felix Siauw dalam twitternya yang menyebutkan, “lengkap kemunduran berpikir kaum muslimin tatkala diserang oleh Persia dan Yunani yang menyusup dalam pikir kaum .”

Pernyataan mas Felix tersebut selintas memang ada benarnya tapi kalau kita kembali melihat kembali apa itu Filsafat (terutama Yunani), kejadian-kejadian dan sejarah kaum Muslimin secara objektif, hal tersebut ternyata tidak bisa dijadikan alasan. Hal itu mungkin saja merupakan salah satu hal yang mewarnai pemikiran orang Islam namun bukan hal yang benar-benar menyebabkan umat Islam menjadi mundur dan menjauh dari ajaran yang sebenarnya.

Jika kita ingin membahas filsafat secara lengkap, takkan cukup kiranya 100 halaman artikel ini mengupasnya. Saya tidak akan secara dalam membahas Filsafat, karena saya bukanlah seorang yang sangat ahli mengenai Filsafat, namun saya hanya mencoba sedikit melihatnya dengan cara pandang yang sedikit berbeda dengan orang lain pada umumnya. Filsafat seperti yang kita tahu, berasal dari bahasa Yunani: Φ-ι-λ-ο (filo) dan σ-ο-φ-ί-α (sofia); berarti, kecintaan/kesukaan kepada ilmu/hikmah/kebijaksanaan.

Pergerakan ini dimulai kira-kira 600—500 SM di Yunani. Banyak sekali cabang filsafat ini, namun secara umum Filsafat Yunani yang akrab dengan orang Islam khususnya para pemikir Islam, dapat dikenali dengan dua cabang besarnya, yaitu filsafat yang menekankan pada materi dan yang menekankan pada luar materi atau metafisik. Aristoteles merupakan salah satu pencetus Filsafat yang menjadikan materi (logika, akal) sebagai landasan, dari itupun muncul ilmu ilmu yang kita kuasai sekarang seperti , biologi, dan lain-lain. Sedangkan di lain pihak, Plato merupakan filsuf yang mencetuskan filsafat metafisik, dari itupun muncul beberapa cabang ilmu yang sampai saat masih digunakan seperti tatanegara, , spiritualisme, dan lain-lain. Tidak dapat dipungkiri banyak sekali pemikir Islam yang kita kenal sekarang yang mempelajari dan terpengaruh dangan cara berpikir filosof besar Yunani tersebut—contohnya adalah Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Sina, dan lain lain—dan memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu . Filsafat Persia kurang lebih bercorak tidak jauh beda dengan filsafat Yunani, hanya mungkin lebih menitikberatkan kepada aspek metafisik, spiritualisme, dan mistikismenya.

Nah, kita kembali ke pertanyaan utamanya, apakah hal tersebut yang membuat (cara pikir) umat Islam mundur atau lengkap kemundurannya? Saya bisa jawab: tidak juga. Hal yang menyebabkan mundurnya umat Islam sebenarnya adalah karena dirinya sendiri. Loh kok bisa? Begini, hal yang menyebabkan umat Islam mundur adalah karena sudah ditinggalkannya secara bertahap namun pasti ajaran luhur Islam yang benar, yang murni karena kecintaan mereka yang besar akan harta-benda duniawi dan kekuasaan. Seperti kita tahu, selepas masa Khulafā’ur-Rāsyidīn, kemudian peristiwa memilukan terbunuhnya Imam Husain oleh Yazid di Karbala, praktis semua hal mengenai dunia muslim mengalami kemunduran. Memang ada beberapa pembaharu yang muncul namun karena benih perpecahan sudah semakin dahsyat dan kuatnya tarikan duniawi, kemunduran ini tidak terbendung. Puncaknya, kemunduran Islam ini, ketika muncul khilafah-khilafah yang berbentuk kerajaan, monarki, turun-temurun. Padahal kita tahu, kekhalifahan Islam yang benar bukanlah hal yang diwariskan secara keturunan dan bergelimang harta dunia, namun kekhalifahan yang berdasarkan nubuwat, wahyu, dan tuntunan Allāh Ta‘ālā.

Menjawab @felixsiauw Filsafat Yunani dan Keruntuhan Khilafat Turki -- islamic_golden_age | BANYAK sekali pemikir Islam yang kita kenal sekarang yang mempelajari dan terpengaruh dangan cara berpikir filosof besar Yunani tersebut—contohnya adalah Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Sina, dan lain lain—dan memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

BANYAK sekali pemikir Islam yang kita kenal sekarang yang mempelajari dan terpengaruh dangan cara berpikir filosof besar Yunani tersebut—contohnya adalah Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Sina, dan lain lain—dan memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Nah, di lain pihak, kalau kita mau mempelajari filsafat dengan objektif dan tanpa prasangka, dapat kita temukan bahwa filsafat, utamanya filsafat Yunani, itu adalah bagian dari agama itu sendiri. Agama meliputi seluruh aspek yang dibahas oleh filsafat. Sedangkan filsafat, boleh jadi, hanya membahas satu aspek saja dalam agama. Orang orang yang agamanya fanatik berpikir bahwa filsafat itu haram karena mengandalkan logika atau akal, padahal dalam agama (Islam), kita diwajibkan juga menggunakan akal, tidak menghilangkannya. Dengan indahnya, Islam menekankan untuk selalu menggunakan akal dan keimanannya, untuk hal yang ghaib, secara baik dan proporsional. Maka, sejatinya tidak ada pemisahan filsafat dengan agama. Lebih jauh lagi jika kita membahas Socrates, Bapak Filsafat Yunani, akan kita temui hal-hal yang akan membuat kita berpikir ulang mengenai filsafat. Filsafat Plato dan Aristoteles berasal dari filsafat Socrates. Dalam perjalanannya Socrates mengajarkan mengenai etika, ahlak, logika, hikmah, bahkan jika jeli akan kita temukan ajaran tauhid, ajaran mengenai keesaan Tuhan. Socrates sering sekali menerima vision atau pandangan-pandangan gaib. Uniknya, vision kalau dalam bahasa agama, bisa diidentikan dengan wahyu. Maka simpulannya apa? Simpulannya, Socrates tak lain dan tak bukan merupakan utusan Allāh juga, seorang Nabi. Sebagian besar orang akan berkerut dahinya dan merasa hal ini aneh, namun jika kita sadar dalam Ḥadīts ada riwayat yang menyebutkan bahwa Allāh telah mengutus 124.000 nabi di seluruh dunia, tidak hanya di dunia Arab, maka hal itu justru sangat masuk akal.

Jika kita boleh membahas mengenai apa lagi penyebab lengkap mundurnya umat Islam? Jawabannya: rendahnya atau hilangnya rasa toleransi dalam menyikapi perbedaan cara pikir. Sehingga tidak ada sebuah pembelajaran, hikmah atau ilmu, yang didapat seperti hal yang selalu diteladankan ketika bersama sahabat-sahabatnya. Yang muncul dari ini adalah anarkisme, kebodohan, fanatisme, dan egoisme yang melengkapi kemunduran umat Islam hingga saat ini.

Jadi, Mas Felix Siaw, filsafat itu (terutama Yunani) beragam dan malah banyak yang begitu sesuai dengan ajaran Islam. Terlepas dari itu, filsafat atau aliran berpikir apapun, tidak serta-merta bisa menyebabkan suatu kaum mundur atau lengkap kemundurannya. Justru, kaum yang telah meninggalkan ajaran agama yang benar akan memilih filsafatnya sendiri sesuai dengan hawa nafsu dan keinginannya sendiri. Orang yang benar dan cerdas beragama tidak akan terpengaruh paham apapun yang dipelajarinya, sebaliknya hal itu malah akan meluaskan wawasannya, menambah ilmunya, mempercantik keimanannya, dan memperkuat toleransinya. Salām.

 

Penulis: Denz Asad; editor: Rām DMX

Tentang Penulis

Denz Asad

Tinggalkan komentar