Akhmad Reza Kemanusiaan

Menyongsong Tahun Baru dengan kontribusi nyata

Clean The City Menyongsong Tahun Baru dengan kontribusi nyata | tahun baru pesta alternatif kebersihan

Clean The City

Oleh Akhmad Faizal Reza

 

APA yang kita senantiasa lakukan melewati pergantian tahun? Apakah cukup dengan riuh rendah bunyi terompet, gegap gempitanya bunyi petasan, kembang api dan perbuatan sia-sia lainnya. Lantas, apa bedanya kita dengan non muslim, sementara kita dijuluki “Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-naas”—artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (QS 3:111)”

Jadi alih-alih larut dalam suka cita, seorang mukmin semestinya memberikan kontribusi positif pada setiap kesempatan. Apalagi, Tahun baru jatuh pada hari Jumat, sebuah hari istimewa bagi umat muslim ketimbang hari-hari lainnya. Namun, orang-orang non muslim hanya sekadar tahu bahwa hari Jumat ini adalah hari yang bergandengan dengan hari Sabtu.

Sementara orang mukmin senantiasa memperhatikan sabda Hadhrat Rasulullah saw. yang diriwayatkan Hadhrat Abu Hurairah r.a., katanya, Hadhrat Rasulullah saw. bersabda, “Di dalam hari Jumat terdapat waktu khas apabila seorang muslim mendapatkan peluang itu pada waktu yang ditentukan dan ia sedang menunaikan shalat, kemudian pada waktu itu juga ia memanjatkan doa kepada Allāh swt., maka doanya itu selalu dikabulkan oleh Allāh swt., sambil memberi isyarah dengan tangan beliau menunjukkan bahwa waktu tertentu yang berberkat itu sangat pendek sekali.”

Setiap tahun kita menyampaikan selamat tahun baru kepada sesama teman kita, tetapi bagi seorang mukmin tahun atau hari menjadi berberkat apabila hari itu menjadi sarana terkabulnya taubah baginya dan menjadi sarana kemajuan bagi ruhaninya.

Seperti biasanya, setiap perayaan malam tahun baru pastinya akan menyisakan sampah-sampah yang berserakan di lokasi-lokasi perayaan. Volume sampah naik drastis dibanding hari-hari biasanya. Contohnya di kota Bandung, menurut data terakhir, ada kenaikan 200 persen sampah dibanding hari-hari biasa. Di kota Bekasi, diperkirakan ada sekitar 300 meter kubik sampah yang dihasilkan dari acara Tahun Baru (republika.co.id; http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/16/01/02/o0azai394-wow-bekasi-luncurkan-aplikasi-online-untuk-sampah). Sementara di DKI Jakarta, total sampah malam Tahun Baru mencapai 700 ton (Kompas.com; http://megapolitan.kompas.com/read/2016/01/01/16522611/Malam.Tahun.Baru.di.Jakarta.Sisakan.700.Ton.Sampah).

Sebagai bentuk kepedulian dan aksi nyata Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) adalah gerakan “Clean The City” (CTC) yang sudah dilaksanakan dalam berbagai kesempatan, namun khusus menyambut Tahun Baru 2016 gerakan ini berjalan massif dan berlangsung di banyak kota di Indonesia.

Tercatat CTC diselenggarakan di 42 Kota/Kabupaten secara serentak. Sekitar 3000 anggota JAI ikut terlibat sebagai wujud rasa cinta kepada kota dan lingkungannya sekaligus mengamalkan keindahan Ajaran Islam tentang kebersihan, sesuai dengan sabda Nabi saw., bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari Iman. (HR Muslim)”

Seusai menunaikan sholat Subuh, para pemuda, kaum bapak-bapak, kaum ibu-ibu, bahkan anak-anak, berkumpul di lokasi-lokasi perayaan Tahun Baru malam sebelumnya. Dengan peralatan yang dibawa dari rumah masing-masing, seperti sapu, kantong plastik. Mereka bergegas memunguti dan membersihkan sampah-sampah yang berserakan di berbagai lokasi perayaan.

Gerakan Clean The City tidak akan berhenti menjadi gerakan yang spontan dan insidental semata. Jemaat Ahmadiyah Indonesia akan terus menggelar gerakan CTC ini di seluruh pelosok Nusantara pada kesempatan-kesempatan lainnya.

Selamat Tahun Baru!

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia

Tinggalkan komentar