Opini

Merajut Toleransi di Hari Natal

 

Pohon – pohon beserta ragam hiasan dengan aksen sudah terlihat jelas di seluruh penjuru kota. Itu pertanda, sebentar lagi  perayaan suci umat segera tiba. Dengan penuh kasih dan kebahagiaan mereka mempersiapkannya. Layaknya umat Muslim yang tengah bersiap mempersiapkan Hari Raya Idul Fitri.

Setiap agama mempunyai hari-hari suci yang diyakini dan dipercaya oleh agama masing-masing. Hari suci itu pun dirayakan dengan sedemikian rupa. Untuk hari raya yang sebentar lagi dirayakan oleh teman-teman Kristen ini, menarik untuk sedikit dikupas. Mengapa tidak, untuk sekedar mengucapkan selamat Natal saja menjadi sebuah kontroversi. Masyakarakat Muslim kali ini dihadapkan dengan 2 pilihan.

Pilihan pertama, merupakan suatu hal yang lumrah saja mengucapkan Natal dalam konteks toleransi beragama. Menghargai, menghormati, teman-teman non Muslim yang sedang merayakannya dengan memberikan ucapan selamat. Piilihan kedua, larangan mengucapkan selamat Natal pun mulai berseliweran di mana-mana.

Tidak sedikit pandangan miring dan negatif tersemat kepada masyarakat Muslim yang mencoba mengucapkan selamat Natal. Banyak alasan-alasan yang memunculkan sebab timbulnya pelarangan tersebut. Masalah aqidah, kepercayaan, hingga kata menyerupai kafir pun sudah siap tersemat bagi orang yang menghalalkan ucapan Natal.

Memang, di setiap tahun, dari tahun ke tahun hanya sekedar mengucapkan Natal saja menjadi kontroversi. Lalu, bagaimana pandangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkenaan dengan hal ini? Pada tanggal 22 Desember 2017, di kantor MUI Jalan Proklamasi, Jakarta Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’aruf Amin menjelaskan, saat ini MUI belum memutuskan atau menyampaikan fatwa perihal ucapan Natal. Sebab, masih ada perbedaan pendapat di masyarakat.

Ketua MUI mempersilahkan bagi umat yang mau mengikuti pendapat membolehkan ucapan Natal, atau bagi yang mau mengikuti pendapat mengharamkan ucapan Natal juga dipersilakan. Pilihannya ada pada umat Muslim sendiri. Masyarakat dibiarkan memilih pendapat mana yang sekiranya cocok dengan diri.

Di lain kesempatan, Khalifah ke – 4 Jemaat Muslim , Hazrat Mirza Tahir Ahmad r.h. pernah menyampaikan pandangannya tersendiri berkenaan dengan Natal. Beliau menyampaikan terkait dengan nilai keagamaan, perayaan Natal adalah perayaan suci umat Kristen, yang hanya boleh dirayakan oleh umat Kristen, bukan umat Muslim.

Namun, bukan berarti menjadikan pemahaman sempit. Tidak dilarang jika mengucapkan bahkan memberikan hadiah kepada orang-orang Kristen yang sedang merayakan Natal. Jika diundang untuk memakan hidangan Natal hal tersebut pun tidak terlarang.

Di sinilah penulis menarik kesimpulan, nilai keagaaman perayaan Natal adalah milik umat Kristen. Bagi umat Muslim, tidak ada salahnya untuk sekedar memberikan ucapan selamat kepada teman–teman dari umat Kristen yang sedang merayakannya. Bentuk ucapan tersebut adalah bentuk menghormati dan menghargai teman–teman yang sedang berbahagia di hari raya-nya.

Teringat ucapan Hazrat Ali Bin Abu Thalib r.a., “Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”. Ya, walaupun berbeda agama, keyakinan hingga perayaan, dia tetap saudara dalam kemanusiaan.

Lalu, bagaimana? Mengucapkankah? Atau diam seribu bahasa karena takut ada pelabelan yang mengarah ke haram, kafir, dan sejenisnya? Sulit memang, ingin mengucapkan tapi takut. Tidak mengucapkan seperti acuh. Coba tanyakan kepada hati nurani, menurut pandangan pribadi, sebuah ucapan natal sejatinya tidak akan pernah menggores dan menodai nilai keagamaan terlebih keimanan.

Ucapan natal sejatinya adalah bentuk toleransi antara umat beragama. Betapa bahagianya ketika ada umat non Muslim yang ikut mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” di hari Lebaran. Pastinya, teman-teman Kristen pun akan merasakan hal yang sama ketika hari raya yang sudah di depan mata, mendapatkan ucapan untuk perayaannya. Mari, merajut toleransi di Hari Natal nanti. Selamat hari Natal untuk teman-teman yang merayakannya.

https://www.viva.co.id/berita/nasional/990228-mui-tak-larang-umat-islam-ucapkan-selamat-natal

https://muslim.or.id/11051-alasan-terlarangnya-mengucapkan-selamat-Natal-bagi-muslim.html

sumber gambar       : http://www.pulse.ng/communities/religion/in-lagos-why-we-shut-down-churches-mosques-state-govt-explains-id4040102.html

 

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar