Opini

Merayakan Tahun Baru Secara Islami

 

Menghitung hari, sesaat lagi masyarakat di seluruh dunia menikmati kemerihaan pergantian tahun. Sebut saja di negeri tercinta ini, beragam aksen-aksen perayaan sudah mulai dijajakan para penjual; mulai dari terompet, kembang api, hingga petasan sudah mulai terlihat di seluruh penjuru kota. Dan faktanya, tidak sedikit masyarakat yang tergoda untuk membelinya sebagai persiapan untuk merayakan pergantian tahun nanti. Yah, setahun sekali, kata mereka.

Tidak sedikit orang-orang yang berkumpul bersama. Ada yang di rumah, di villa, hingga turun ke jalan ikut menyaksikan hitungan mundur menuju tahun baru. Kembang api dan petasan pun siap meluncur tepat di pukul 24:00. Itulah tanda puncak perayaan yang dinantikan. Kiranya, begitulah kemeriahan pesta pergantian tahun.

Secara kasat mata, memang sangat mengasyikkan. Berkumpul bersama dalam suatu kemeriahan. Namun, pernahkah terbesit kata laghau dalam hal ini? Tidakkah perayaan yang membutuhkan hasrat untuk merogoh kocek lebih dalam ini sejatinya adalah tindakan laghau atau kesia-siaan belaka? Adakah manfaat yang tertinggal setelah tradisi perayaan tahun baru ini?

Alih-alih mendapatkan manfaat, yang kita dapatkan justru adalah kelelahan semata. Bagaimana tidak? Kita harus tetap terjaga sepanjang malam, setidaknya hingga pergantian tahun tiba. Belum lagi materi yang sudah terhambur begitu saja dalam satu malam untuk membeli perlengkapan pesta, makanan, minuman, sewa vila, bensin untuk berkendara di jalan, dan lain sebagainya. Sejatinya, di situlah letak kesia-siannya.

Lalu, adakah perayaan tahun baru yang jauh dari kata laghau?

Pemimpin dan Khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad atba, dalam khutbah Jumat tanggal 30 Desember 2016 di Masjid Baitul Futuh London membahas cara Islami dalam perayaan Tahun Baru. Beliau menyampaikan,

“keagungan seorang mukmin tidak hanya menjauhi dan melepaskan diri dari kegiatan-kegiatan yang laghau (sia-sia) dan hura-hura menyambut tahun baru tesebut, tetapi juga untuk melakukan audit atau pemeriksaan terhadap diri sendiri dan mengevaluasi tahun yang telah berlalu. Apa yang sudah kita peroleh, dan apa yang hilang dari kita tahun ini? Apa kerugian kita dan apa yang telah kita raih dalam perspektif agama  dan kerohanian?”

Dalam khutbah Jumatnya, Hazrat Mirza Masroor Ahmad atba, sedikitnya memberikan 38 pertanyaan guna untuk mengevaluasi diri dalam sepanjang tahun yang telah dijalani. Semua pertanyaan pun berkisar dengan akhlak dan kewajiban sebagai hamba Tuhan yang sejati. Pertanyaan pertama yang terlihat sederhana tapi sangat luas pemahamannya adalah:

“Apakah salat kita, puasa kita, pengorbanan harta kita, pekerjaan kita demi kemanusiaan dan pengorbanan waktu kita untuk mengkhidmati Jemaat adalah benar-benar demi Allah, atau untuk pamer ke orang-orang?”

Sepintas, pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat sederhana. Namun sejatinya, Hazrat Mirza Masroor Ahmad atba menjelaskan bahwa jika ibadah kita hanya untuk pamer belaka, maka itu sama halnya dengan syirik atau menyekutukan Allah Taala. Mengapa demikian? Itu karena ibadah tersebut menyimpan dan mengalirkan kemauan atau kehendak yang tersembunyi di balik amal perbuatan yang dilakukan. Astagfirullah al adzim, lalu apa gunanya setiap ibadah sepanjang tahun ini?

Alih-alih mendapat rida Allah Taala, ibadah kita tersebut justru menumbuhkan berhala-berhala kecil di dalam hati. Rasa ingin diakui pihak lain, sehingga secara tidak sadar pun menggugurkan nilai ibadah sejati. Kumpulan berhala-berhala kecil di hati menjadikan diri jatuh dalam perosok dosa paling besar yaitu syirik. Naudzubillah hi mindzalik.

Dalam khutbah yang sama, Hazrat Mirza Masroor Ahmad atba pun bertanya lagi,

“Sudahkah di tahun sebelumnya kita habiskan untuk menjaga diri dari kebohongan dan melangkah pada jalan kebenaran dan kejujuran ? Apakah ketika kita mengalami kerugian pribadi, meskipun begitu kita tidak berbohong?”

Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad pun pernah menyampaikan,

“Berkata benar memiliki nilai yang sangat tinggi pada saat hidup, kekayaan, atau kehormatan seseorang berada dalam bahaya.” Masih terngiang satu kalimat yang sering terdengar ketika ada dalam situasi yang sulit, yaitu berbohong demi kebaikan. Astagfirullah, sejatinya kata itu hanyalah bisikan nafsu pribadi untuk menghalalkan kebohongan. Padahal tidak ada kebaikan di dalam kebohongan. Sejatinya, kegelapan tentunya tidak akan pernah bersatu dengan cahaya. Demikian pula dengan kebohongan dengan kebaikan.

Isi khutbah Khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah yang ke-V di atas tak hanya menanyakan masalah syirik dan bohong saja, tetapi masih banyak lagi pertanyaan–pertanyaan lainnya yang berkenaan dengan akhlak dan kewajiban sebagai hamba Allah sejati.

Sejatinya, masih banyak hal yang harus kita evaluasi, dan banyak hal yang harus kita perbaiki. Inilah perayaan tahun baru secara islami. Bercermin pada tindakan sepanjang tahun yang telah dijalani, dan berharap bisa menjadikan diri kita lebih baik lagi.

 

Sumber: Khutbah Jumat tanggal 30 Desember 2016, Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad atba di Masjid Baitul Futuh London

Sumber gambar : https://www.inspiradata.com/tahun-baru-2017-ditunda-benarkah/

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar