Opini

Merenungi Makna Wahyu Pertama Imam Mahdi

wahyu

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسولَ فَأُولٰئِكَ مَعَ الَّذينَ أَنعَمَ اللَّهُ عَلَيهِم مِنَ النَّبِيّينَ وَالصِّدّيقينَ وَالشُّهَداءِ وَالصّالِحينَ ۚ وَحَسُنَ أُولٰئِكَ رَفيقًا

Artinya: Dan, barangsiapa taat kepada dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang kepada mereka memberikan nikmat, yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang saleh. Dan, mereka itulah sahabat yang sejati. (QS An-Nisa: 70)

yang disebutkan di atas adalah salah satu bukti yang tertulis di dalam Alquran bahwa siapapun orang yang dapat taat dan patuh seutuhnya kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah SAW dapat dikaruniai rahmat sebagai nabi. Pengertian nabi sebagaimana yang telah kita ketahui bersama adalah seseorang yang telah mendapat dari Allah Ta’ala. Ini artinya, siapapun orangnya, dia masih memiliki kesempatan untuk menerima dari Allah Ta’ala asalkan dia taat kepada Allah dan Tidak terkecuali pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Beliau as. atas berkat kecintaan dan ketaatannya luar biasanya kepada Allah Ta’ala dan , telah mendapat wahyu juga dari Allah Ta’ala.

Wahyu pertama yang turun kepada beliau as. berbunyi:

أَلَيسَ اللَّهُ بِكافٍ عَبدَهُ

Artinya: Apakah Allah tidak cukup bagi hamba-Nya? (QS Az-Zumar: 37)

Wahyu ini turun kepada beliau as. ketika ayahanda beliau yang bernama Hadhrat Mirza Ghulam Murtadha wafat pada tahun 1876. Pada saat itu, beliau as. merasa sangat sedih dan kehilangan atas wafatnya ayahanda beliau yang sangat beliau cintai. Oleh karena rasa duka yang mendalam yang dialami oleh beliau as., Allah Ta’ala pun langsung menurunkan wahyu ini kepada utusan-Nya tersebut.

Dengan wahyu ini, Allah Ta’ala seakan-akan ingin mengatakan kepada utusan-Nya tersebut bahwa, “Engkau tidak perlu khawatir, walaupun engkau telah kehilangan ayahandamu, Aku akan tetap terus ada bersamamu dan engkau akan terus mendapati Aku berada di sekitarmu, karena Aku sendiri pun telah lebih daripada cukup bagimu”. Menurut riwayat, pada saat mendapatkan wahyu tersebut, beliau as. merasa jauh lebih ikhlas untuk melepaskan kepergian ayahandanya.

Bagi seluruh anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah, wahyu pertama yang didapatkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. ini tentu menjadi salah satu ayat dalam Al-Quran yang dihafal oleh mereka. Wahyu ini mereka anggap sebagai bukti bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. adalah seorang utusan Allah. Namun, mungkin masih banyak pula dari antara mereka yang beranggapan bahwa wahyu ini hanyalah berkonteks pada saat kewafatan ayahanda beliau as. saja. Padahal, jika kita merenungi lebih dalam makna dari wahyu ini, terdapat pesan universal yang ingin disampaikan Allah Ta’ala kepada umat manusia melalui beliau as.

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, beliau berkata,

Suatu hari kami duduk-duduk di sisi Nabi saw., lalu diturunkanlah kepada beliau saw. surat Al-Jumu’ah (ayat 3—4). Maka aku pun bertanya, kepada siapa kalimat ‘dan, lain dari antara mereka, yang belum bergabung dengan mereka’ itu merujuk ya Rasulullah? Kemudian Rasulullah saw. meletakkan tangannya di atas bahu Hadhrat Salman Al-Farisi dan bersabda: Jika iman telah naik ke bintang Surayya, maka seseorang dari antaranya lah yang akan membawanya kembali.” (Sahih-ul-Bukhari, Kitabut Tafsir).

Dalam ini, Rasulullah saw. menjelaskan kepada kita tentang dua hal yaitu, keadaan umat manusia di akhir zaman dan juga tugas dari yang datang di akhir zaman. Pertama, Rasulullah saw. menjelaskan keadaan manusia di akhir zaman, yaitu mereka akan melupakan imannya seakan-akan imannya telah naik ke bintang Surayya. Lalu kedua, secara tersirat dijelaskan bahwa tugas dari di akhir zaman ini adalah untuk mengembalikan iman-iman umat manusia yang hilang tersebut kembali ke setiap jiwa manusia.

Seperti yang kita dapat lihat bersama, di zaman sekarang ini banyak sekali orang yang telah melupakan agamanya, meninggalkan imannya, dan menyekutukan Tuhannya. Orang-orang telah larut dalam keindahan duniawi yang sangat fana ini. Begitu banyak dari mereka yang begitu mencintai hal-hal duniawi dan melupakan Tuhannya. Bahkan, ketika mereka kehilangan hal-hal duniawi mereka itu, mereka akan sangat terpukul dan bahkan dapat mengutuk Tuhannya. Naudzubillah min dzalik.

Melihat keadaan zaman yang sudah memenuhi nubuatan Rasulullah saw. dalam hadits di atas, diutuslah seorang utusan Allah yang akan menggenapi juga nubutan Rasulullah saw. tersebut. Beliaulah yang akan mengembalikan iman tersebut ke dalam setiap jiwa manusia. Dan kunci dari tugas besar beliau itu adalah wahyu pertama beliau as. Dengan wahyu tersebut, orang-orang yang telah mengenal dan mengimani beliau as. sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau’ud diminta untuk terus mengingat bahwa sesungguhnya hanya dengan mengimani Allah Ta’ala, hal itu sudah mencukupi bagi kehidupannya.

Allah Ta’ala sendiri sudah lebih daripada cukup bagi seorang hambanya karena memang tujuan akhir kehidupan manusia adalah untuk mencapai kedekatan dengan Tuhannya. Itulah mengapa wahyu ini menjadi kunci bagi dakwah Imam Mahdi as. di dunia ini karena tugas utama dari beliau as. diutus ke dunia ini adalah untuk mengembalikan iman yang sudah hilang tersebut kembali ke setiap jiwa manusia.

  Sumber Gambar: http://masyarakattanpariba.com/mtr/kita-punya-allah-swt/

Tentang Penulis

Mubarik Ahmad

Tinggalkan komentar