Facebook Muhammad Abdulloh Peristiwa

Mimpi Bocah Manislor

Penulis Raja Pena

“TAHUN 1953, seorang mubaligh bernama Hasan Basari memberikan pemaparan mengenai Ahmadiyah. Sekarang mayoritas penduduk desa Manislor meyakini Ahmadiyah. Pada waktu saya kecil, saya belum tahu apa itu Aḥmadiyyah.” Penulis: Muhammad Abdulloh (661 kata)

Penulis: Muhammad Abdulloh (tinggal di , )
Judul: Mimpi Bocah (661 kata)
Media: Facebook; rilis: «27-Jan-2013»; akses: «06:34 12-Okt-2013»
CATATAN: Tulisan ini telah melewati penyuntingan ulang oleh admin RajaPena.org.

masjid-ahmadiyah-manislor-2
SAYA dilahirkan delapanbelas tahun lalu di sebuah desa kecil Manislor, kecamatan , kabupaten Kuningan, provinsi Jawa Barat. Tahun 1953, seorang mubaligh bernama Hasan Basari memberikan pemaparan mengenai Aḥmadiyyah. Sekarang mayoritas penduduk desa Manislor meyakini Aḥmadiyyah. Pada waktu saya kecil, saya belum tahu apa itu Aḥmadiyyah. Yang saya ingat, ketika pagi datang, saya pergi sekolah dan sore madrasah. Lambat laun saya tahu sedikit demi sedikit tentang Aḥmadiyyah.

Ketika Mirzā Ṭāhir Aḥmad, khalifah keempat datang ke Indonesia dan mengunjungi Manislor, saya dan teman-teman madrasah menyambut beliau dengan menyanyikan lagu “Aḥmadiyyah Zindahbād!”

Saya kurang tahu siapa beliau, dan kenapa ribuan orang bergembira dan berkumpul menyambut kedatangan beliau. Saya ingat banyak orang tinggi, tegap, gagah memakai topi dan kacamata, mengawal orangtua yang dikerubuti banyak orang. Ketika beliau meninggalkan Manislor semua orang bersedih. Saya semakin penasaran dan bertanya kepada orang-orang.

Setelah mendapatkan penjelasan dari orang tua dan yang lainnya, saya mulai mengenal sosok  beliau dan Aḥmadiyyah. Inilah awal mula saya semangat mengikuti acara-acara Aḥmadiyyah. Di antaranya Kursus Pendidikan Agama. Awalnya saya takut karena salah satu acaranya menginap bersama tanpa didampingi oleh orang tua. Hizeb (kelompok) pun disatukan dengan cabang dari luar Manislor. Tapi setelah mengikuti kegiatan selama satu dua kali, saya mulai merasakan keberanian dan kesenangan tersendiri.

Seperti teman-teman, belajar, mandi, makan, tidur, semuanya dilakukan bersama-sama. Ketika acara makan, semua hizeb melakukan beres-beres, hizeb yang paling rapih dipanggil lebih dahulu. Hingga panggilan kelima, hizeb saya pun belum dipanggil-panggil. Uhhh… Akhirnya, salah satu dari kelompok saya, anak dari Indramayu mengajak keluar dan mengambil makanan tanpa dipanggil. Hizeb kitapun keluar sambil tertawa-tawa. Kenakalan dan keseruan pada saat KPA itu membekas.

Walaupun kami “nakal” tapi alḥamduli′l-Lāh banyak ilmu yang kita dapatkan. Ketika penutupan, kami yang pada awalnya tidak mau satu hizeb, tidak tahu siapa mereka, namun ketika acara berakhir,  jujur dari hati yang paling dalam timbul rasa enggan untuk berpisah dan ingin selalu bersama mereka.

Sekitar tahun 2004, menjadi awal mula isu-isu yg memprovokasi orang-orang non Aḥmadiyyah untuk menyerang dan membubarkan Aḥmadiyyah Manislor. Banyak ormas-ormas yang mendatangi Manislor untuk menghancurkan Aḥmadiyyah. Tapi Aḥmadiyyah Manislor tidak gentar. Justru dari sana, Manislor mulai tersiar ke seluruh pelosok Indonesia. Gencarnya berita Manislor bukan berarti malah menjadi aman dan terkendali, setiap tahun memasuki bulan Romaḍōn banyak sekali kejadian-kejadian yang membuat warga Manislor geram. Penyerangan membuat aset-aset jemaat rusak dan hilang, puncaknya masjid Jemaat pernah disegel.

Kami tak surut melanjutkan ibadah kami terhadap Allāh, kami tetap melaksanakan ṣalāt, dan kegiatan-kegiatan lainnya di rumah-rumah warga. Sekali lagi walaupun Manislor selalu mendapatkan hujatan, penyerang, penyegelan, bahkan pembakaran masjid, saya malah bertambah yakin terhadap Aḥmadiyyah untuk selalu beribadah kepada Allāh swt.. Dari sana timbul dari hati yang paling dalam, rasa keteguhan hati, bahwa inilah kebenaran.

Masa Aṭfal saya pun berpaling ke Khuddām. Saya lebih giat lagi mencari ilmu tentang Jemaat. Acara-acara baik dari cabang, wilayah, maupun nasional, rutin saya ikuti, seperti tarbiyat, ristahnata, malam khuddām, Ijtima. Semuanya sangat bermanfaat dan berkesan bagi saya.

Khususnya Ijtima Nasional yang acaranya sangat menyenangkan, ditambah rasa kagum saya bisa mengenal dan berjumpa khudam-khudam dari kota bahkan provinsi lain. Dapat bertukar pikiran ataupun informasi. Acara yang mengambil tempat di alam dan berkemah itupun merupakan salah satu hobi saya. Di samping hobi saya bisa bersilaturahmi, dua-duanya dapat. Yang paling penting, saya dapat mendapatkan ilmu rohani yang dapat membimbing saya kepada kebaikan dan kebenaran. Seperti halnya ketika Afal, setiap acara hampir semuanya berkesan. Yang saya sayangkan ketika ijtima 2010  di Ranca Upas, Ciwidey, Bandung, Jawa Barat, sebelum acara selesai ada penyerangan terhadap jemaat Cisalada, dalam hati pun menangis ingin rasanya pergi ke sana dan ikut mempertahankan.

Saya tidak bisa membayangkan apabila saya tidak dilahirkan di dalam golongan Aḥmadiyyah. Mungkin sekarang saya menjadi salah satu penentang Aḥmadiyyah. Minimal, saya tak acuh dan tak mau tahu Aḥmadiyyah. Saya sangat bersyukur sekali kepada Allāh swt. yang telah memberikan karunia yang sangat besar kepada saya dan jutaan orang di luar sana yang telah meyakini Aḥmadiyyah.

Saya dan Aḥmadiyyah tidak akan pernah terlepaskan walau hujatan, serangan, fitnah, datang menghadang. Impian saya? Saya ingin sekali suatu saat dapat menemui Khalifah.[]

Tentang Penulis

Raja Pena

Tinggalkan komentar