Peristiwa

Mitos dan Sejarah di seputar Gerhana

Penulis Rafiq Ahmad
Mitos dan Sejarah di seputar Gerhana

dan di seputar Gerhana

Kearifan lokal China mempercayai bahwa terjadi disebabkan kemarahan seekor naga yang berukuran besar sedang murka hingga mampu melahap bulan mentah-mentah. Istilah dalam bahasa China disebutkan sebagai “CHIH ” atau memangsa. Demi menyelamatkan bulan, manusia kemudian membuat semacam keributan di bumi. Tujuannya adalah agar sang naga kembali memuntahkan bulan. Salah satu caranya adalah dengan memukul-mukul alat musik perkusi, membunyikan petasan besar atau apa saja yang serba berisik. Tradisi ini masih dilestarikan hingga sekarang.

Bagi orang Jepang, gerhana bulan adalah saat dimana para dewa mulai menebarkan racun hitam pekat ke seluruh penjuru dunia. Saking pekatnya racun tersebut hingga langit malampun menjadi gelap total. Masyarakat Jepang dahulu biasanya langsung mengambil tindakan serentak dengan melindungi sumur-sumur mereka. Menutupi sumber air minum tersebut dengan benda apa saja. Sejumlah laki-laki yang memiliki nyali kemudian berjaga ditepian sumur lengkap dengan samurai hingga gerhana bulan lewat.

Dikabarkan suatu kali di Prancis , Raja Louis tewas dalam histeria dan ketakutan menyayat. Ini karena di saat dia sedang tidur mendadak terbangun dalam gulita, terlebih ketika melongok keluar jendela tak dijumpainya tampilan bulan. Louis tewas setelah sebelumnya berteriak-teriak keras bahwa setan sebentar lagi akan turun ke dunia.

Siapa tak kenal Colombus sang penjelajah lautan? Dalam pelayarannya, Colombus terdampar di Jamaica karena kapalnya mengalami kerusakan sangat parah. Colombus tahu perbaikan akan menyita banyak tenaga dan waktu di tempat asing tersebut. Anak buahnya yang tak seberapa, tak mungkin hanya fokus memperbaiki kapal saja. Mereka juga harus mencari bahan makanan selama proses perbaikan berlangsung. Hal ini tentu akan makin memperlama keberadaan mereka di Jamaica. Kebetulan sekali gerhana bulan terjadi, sehingga Colombus kemudian menggunakan ilmu pengetahuannya untuk membohongi masyarakat. Colombus berkata pada penduduk lokal bahwa mereka harus segera membantu dirinya dan crew kapal mencarikan makan dan minum sebelum dewa junjungannya marah dan bulan ditelannya bulat-bulat. Semula penduduk tak percaya, namun ketika bulan benar-benar menghilang, penduduk ketakutan. Mereka lantas berduyun-duyun secara sukarela melayani colombus sang pelayan dewa, hingga kapalnya berhasil kembali berlayar. Lengkap dengan berbagai perbekalan berlimpah.

Raksasa Bathara Kala diyakini sebagai pemangsa balita di tanah Jawa. Di desa, ketika gerhana bulan terjadi, buru-buru para laki-laki membunyikan kentongan titir bersahut-sahutan mengajak warga untuk waspada. Beberapa sesepuh menghunus keris pusaka dan berjaga di depan rumah, sementara para nenek membantu ibu-ibu muda menyembunyikan balita-balita mereka ke dalam gentong atau tempayan. Ada juga yang diletakkan di bawah kolong tempat tidur.

Jumat 20 Maret 2015 lalu di London juga terjadi , Khalifah Islam Ahmadiyah, Mirza Masroor Ahmad, memimpin shalat gerhana dan dalam khutbah setelahnya mengenai esensi gerhana dikatakan bahwa di dunia saat ini orang menganggap bahwa gerhana hanyalah tontonan semata, mereka menempuh perjalanan jauh hanya untuk dapat menyaksikan pemandangan gerhana dengan jelas, namun bagi mukmin sejati tidaklah pantas melakukan hal seperti itu.

Menurut ajaran Nabi Muhammad saw. gerhana merupakan suatu peringatan, oleh karenanya mukmin sejati harus mengarahkan perhatiannya untuk mengingat Allah Ta’ala, memohon ampunan dan bersedekah.

Dalam meriwayatkan sabda Rasulullah saw., Huzur mengatakan:

“Tanda gerhana yang Allah tunjukkan ini bukan terjadi karena kehidupan atau kematian seseorang, sebaliknya, Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya melalui hal-hal tersebut. Jadi ketika kalian menyaksikannya, maka bergegaslah untuk mengingat Allah dan meminta ampunan-Nya.”

Kemudian pada hari itu, selama khutbah Jumat, Huzur mengatakan bahwa menurut sabda Rasulullah saw. peristiwa gerhana matahari dan bulan telah dinubuatkan sebagai tanda kedatangan Nabi Isa yang dijanjikan. Pada tahun 1894, tanda ini telah tergenapi di masa kehidupan Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, yang mendukung pendakwaannya sebagai Imam Mahdi dan Almasih Yang Dijanjikan. Huzur mengatakan bahwa ratusan orang percaya kepada pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud saat mereka menyaksikan gerhana matahari dan bulan.

Tentang Penulis

Rafiq Ahmad

Tinggalkan komentar