Opini

Moderasi Agama ala Ahmadiyah  

perdamaian
Penulis Akhmad Reza

“Sebagai seorang , saya akan membuatnya benar-benar jelas, bahwa tidak mengizinkan kekejaman atau penindasan dengan cara dan dalam bentuk apapun. Ini merupakan perintah mutlak dan tanpa pengecualian.”

(Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Pemimpin Tertinggi Jema’at Ahmadiyah Internasional ke-V)

Artikel ini dibuat untuk menanggapi tulisan dari Oman Fathurahman yang berjudul Tantangan Moderasi Agama, dalam harian Kompas (30/05/18). Penulis sepakat bahwa sikap moderat dalam beragama harus terus digaungkan. Terlebih saat ini urgensinya sangat mendesak karena pengerasan dalam sikap keberagamaan semakin menguat.

Pada Februari hingga Juli 2012 lalu, berturut-turut surat dilayangkan kepada Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad,  Presiden Barack Obama, Perdana Menteri Kanada, Stephen Harper, Raja Abdullah dari Arab Saudi dan pemimpin negara lainnya.

Yang melayangkan surat adalah Pemimpin Tertinggi Jema’at Ahmadiyah Internasional ke-V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad. Pemimpin tertinggi komunitas Ahmadiyah sedunia ini merasa prihatin dengan yang  semakin terancam dengan konflik-konflik tak berkesudahan di Timur Tengah.

Kepada Presiden Republik Islam Iran, Hazrat Masroor memeringatkan, “dengan rasa menyesal, jika kita sekarang mengamati keadaan dunia saat ini, kita menemukan bahwa fondasi untuk dunia lain telah diletakkan” (2014:159).

Sedangkan kepada Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, Ia menulis,  “permohonan Saya kepada Anda adalah bukan menghantarkan dunia ke dalam cengkeraman Perang Dunia, buatlah upaya maksimal untuk menyelamatkan dunia dari bencana global, daripada menyelesaikan sengketa dengan kekuatan” (2014: 154).

Jika saja, kita jernih menilai, tanpa prasangka, maka beginilah Ahmadiyah mempraktekkan moderasi dalam beragama. Mereka proaktif menampilkan wajah Islam . Di bidang sosial peran mereka menonjol. Donor darah adalah aktivitas yang sering kita temui di masjid-masjid milik Ahmadiyah. Bahkan, anggotanya yang sudah wafat pun masih bermanfaat bagi warga sebangsanya. Pasalnya, mereka kerap mewakafkan agar matanya bisa didonorkan. Jaya Suprana dari Museum Rekor Indonesia (MURI) baru-baru ini memberikan penghargaan kepada Ahmadiyah sebagai organisasi paling aktif mendonorkan mata. Bahkan rekor yang mereka pecahkan bukan rekor Indonesia, tapi rekor dunia (merdeka.com, 23/07/17).

Satu hal yang perlu diklarifikasi dari tulisan Oman adalah pandanganya terkait persekusi yang menimpa Ahmadiyah. Ia menekankan bahwa kita harus mengutuk kekerasan yang menimpa Ahmadiyah. Akan tetapi prinsip moderat dalam kasus Ahmadiyah ini memang tidak terpenuhi“di satu sisi, jemaah Ahmadiyah tetap mengklaim sebagai bagian dari Islam, tetapi di sisi lain, pemeluknya secara ekstrem diajarkan untuk tidak bermakmum shalat di belakang Muslim lain di luar kelompoknya, dan masjid Ahmadiyah tidak bisa digunakan oleh Muslim lainnya.”

Penulis tidak akan terjebak dalam apologetik, tapi marilah kita telisik tuduhan sesuai faktanya. Anggapan semisal anggota Ahmadiyah (disebut ) tidak mau bermakmum dengan muslim lainnya adalah anggapan klise yang berulangkali dituduhkan pada komunitas ini. Faktanya, secara historis orang-orang Ahmadi bermakmum seperti biasa dengan orang-orang non Ahmadi. Pelarangan justru pertama kali datang dari tokoh-tokoh agama yang berfatwa bahwa para Ahmadi tidak lagi berstatus sebagai Muslim alias kafir. Mereka kemudian bergerak lebih jauh dengan melarang para Ahmadi memasuki masjid-masjid mereka, dan melarang para Ahmadi untuk menjadi makmum atau imam bagi orang non Ahmadi.

Terkait poin kedua bahwa masjid Ahmadiyah tidak bisa dipergunakan oleh Muslim lainnya adalah pandangan yang keliru. Faktanya, siapa saja boleh beraktivitas di masjid milik Ahmadiyah dan hal ini sudah berlangsung lama tanpa perlu digembar-gemborkan.

Disebut masjid milik Ahmadiyah, karena dalam menjalankan roda organisasinya, digerakkan oleh iuran dari anggota, tidak dari bantuan pemerintah atau lembaga lain. Oleh karenanya, masjid pun merupakan hasil jerih keringat mereka.

Ahmadiyah kerap disalahpahami, padahal Ahmadiyah adalah wajah Islam moderat, seperti NU dan Muhammadiyah. Pesan-pesan Ahmadiyah adalah pesan Islam “rahmatan lil ‘alamin.” Dakwah Ahmadiyah yang sudah tersebar di hampir 200 negara ini selalu mengusung tema love for all, hatred for none.  Bahkan Bung Karno sendiri memiliki pendapat tentang Ahmadiyah :

“Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting di dalam pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula di dalam propaganda Islam di benua Eropa khususnya, di kalangan kaum intelektuil seluruh dunia umumnya. Buat jasa ini – cacad saya tidak bicarakan di sini – ia pantas menerima salut penghormatan dan pantas menerima terima kasih. (Di Bawah Bendera Revolusi, hal. 389).

Jika Oman menyeru tokoh-tokoh agama untuk menyuarakan sikap moderat dalam agama, Ahmadiyah sudah melakukannya jauh-jauh hari. Namun, seperti diungkap H. Jansen, dalam bukunya “Islam Militan,”  “Ironisnya, gerakan yang telah bekerja begitu keras untuk menyebarkan Islam ini telah dinyatakan sebagai sekte nonmuslim di Pakistan, tempat pusat kegiatannya” (Jansen, 1983: 123).

Referensi :

Ahmad, Mirza Masroor. 2014. Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian.Neratja Press .

Jansen.G.H. 1983.Islam Militan. Pustaka : Bandung

http://www.reviewofreligions.org/6230/letters-sent-to-world-leaders/#canada

Sumber Gambar: http://www.loveforallhatredfornone.org/6303-2/

Tentang Penulis

Akhmad Reza