Opini

MUI Bilang Haram, Berarti Tidak Boleh!

fatwa MUI

Terkadang, masyarakat Indonesia terutama yang beragama merasa tidak aman kalau makanan dan obat hanya lulus uji dari BPOM tetapi tidak lulus sertifikat halal dari , atau ada fatwa misalnya untuk obat yang mengandung alkohol atau menggunakan vaksin. “MUI kan udah bilang alkohol itu . Pokoknya kalau yang ada alkoholnya aku ga mau!”.

Penulis yang memiliki latar belakang farmasi ini berpendapat kalau pasien memiliki niat meminum obat yang mengandung alkohol agar mabuk atau agar ketagihan, nah itu yang tidak boleh karena kalau begitu seharusnya MUI juga memfatwakan hal yang sama pada obat Dextromethorphan yang juga sering digunakan agar peminum obat tersebut “ngefly”. Formula yang disetujui untuk membuat obat pasti akan sesuai kadarnya, tidak berlebihan, dan sedapat mungkin lebih banyak manfaatnya ketimbang efek buruk.

Sama halnya dengan organisasi masyarakat atau yang sering disingkat dengan ormas, hanya akan diizinkan oleh negara apabila ormas tersebut memiliki peran positif terhadap proses  pembangunan negara. Jamaah Muslim yang sudah difatwakan MUI sesat pada keputusan fatwa MUI Nomor 11/MUNAS VII/MUI/15/2005 sampai sekarang masih dipertahankan oleh negara. Itu artinya Ahmadiyah masih berperan positif dalam pembangunan Indonesia, misalnya saja Ahmadiyah mendapatkan rekor MURI karena memiliki anggota pendonor mata terbanyak di Indonesia.

Apakah dengan tidak mengikuti fatwa MUI, lalu kita menjadi pembangkang? Tentu tidak.
Perlu diketahui MUI adalah gerakan masyarakat. Dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia tidak berbeda dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan lain di kalangan umat Islam, yang memiliki keberadaan otonom dan menjunjung tinggi semangat kemandirian. Dalam kaitan dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan di kalangan umat Islam, Majelis Ulama Indonesia tidak bermaksud dan tidak dimaksudkan untuk menjadi organisasi supra-struktur yang membawahi organisasi-organisasi kemasyarakatan tersebut, dan apalagi meletakkan posisi dirinya sebagai wadah tunggal yang mewakili kemajemukan dan keragaman umat Islam. (wikipedia)

Mengenai fatwa, apakah sudah tahu apa arti dari fatwa? Fatwa dalam bahasa Arab artinya “nasihat”, “petuah”, “jawaban” atau “pendapat”. Adapun yang dimaksud adalah sebuah keputusan atau nasihat resmi yang diambil oleh sebuah lembaga atau perorangan yang diakui otoritasnya, disampaikan oleh seorang mufti atau ulama, sebagai tanggapan atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh peminta fatwa (mustafti) yang tidak mempunyai keterikatan. Dengan demikian peminta fatwa tidak harus mengikuti isi atau hukum fatwa yang diberikan kepadanya (wikipedia). Jadi, sebenarnya fatwa boleh diikuti atau dilakukan, tetapi tidak dilakukan juga tidak apa-apa, itu kan nasehat. Jadi jangan jadi galak, hanya karena orang lain tidak sependapat denganmu dan tidak mau mengikuti fatwa.

Jadi, kalau MUI bilang haram, berarti gak boleh! Ya, gak boleh kalau langsung dilaksanakan begitu saja. Kita harus tetap tabayyun. Tidak semua ulama di MUI mewakili kemajemukan Islam di Indonesia karena Indonesia tidak akan menjadi Indonesia kalau Indonesia tidak beragam. 

Semoga Bhineka kita tetap Tunggal Ika.

Selamat ulangtahun yang ke 72 negeriku, Indonesia.
*ciee telat 20 hari ngucapinnya

Sumber Gambar: http://tns.thenews.com.pk/the-power-of-fatwa/

Tentang Penulis

Faima Shahnai Tahirah