Opini

Nikah Muda, Kenapa Tidak ?

nikah
Penulis Ummu Sayyal

Suatu kesempatan di pojokkan masjid kampus.

“Dik, setelah wisuda Mas lamar ya?!”

Yuli  lantas memandang pria asal Solo itu dalam-dalam.  Hampir  saja ia menelan bulat-bulat potongan Momogi dan Tutty Frutty di mulutnya.

Aku yang fokus memainkan kursor di sebelahnya ikut-ikutan shock. Pikirku, ah paling jawaban sahabatku ini mau berkarir dulu atau mau membahagiakkan orang tua dulu.

Tetiba, tanpa penolakan yang berarti, Yuli pun mengangguk.  Senyumnya manis sekali. “Insya Allah”,  ucapnya lugu.

“Ehm,  adeuuh euy adeuuh euy”  itu saja yang bisa kulontarkan sebagai bentuk  dukungan atas lelakon mengejutkan yang baru saja aku saksikan.

Tak perlu menunggu lama. Selepas wisuda, mereka benar-benar menunaikan akadnya.  Selama 4 tahun kita duduk di satu kelas yang sama dan berteman seperti biasa.  Sungguh tak ada tanda-tanda  akan bersanding.

Drama-drama kecil saat saling bantu menyelesaikan skripsi, rupanya membuat dua sahabatku ini merasa saling tertarik dan enggan berada dalam hubungan yang belum sah. Ternyata, begitu instan.

Memutuskan di usia 20-an, barangkali merupakan satu hal yang sangat meragukan bagi sebagian orang.

Sebab, bukan soal dua orang yang dipersatukan di KUA. bisa lebih rumit dari semua itu bukan?

Nikah katanya harus punya modal. Sehingga, mereka perlu banyak waktu untuk mempersiapkan segalanya.

Tapi.  Kedua sahabat ku tidak. Mereka memilih menentang arus. Mengawali dan membangun segala sesuatunya dari nol.  Kok bisa?

Yakin.

Mereka cukup butuh keyakinan. Keyakinan lah yang membuat mereka berani mengambil keputusan jauh melampaui jamannya.

Lalu,  “Kapan kamu siap nikah?” Banyak pemuda-pemudi single yang ragu untuk menjawabnya. Sebab, banyak hal yang dipikirkan.

Tapi. Nikah bukan untuk dipikirkan. Nikah adalah kebaikan yang harus disegerakkan.  Ini adalah soal keyakinan. Juga, soal kesiapan.

Saat jodoh datang mendekat, yakinlah itu jodoh kita. Bersiaplah untuk menjemputnya. Lalu kawal lah ia sampai pelaminan.

Dan itulah yang telah terjadi dengan sahabatku. Mereka tidak mau berlelah-lelahan dengan hubungan yang tidak halal dan tidak pasti.

Mereka telah membuktikan bahwa Tuhan melebarkan pintu-pintu rizki-Nya saat dua insan telah dipersatukan.

Sadar ada wanita yang harus ia bahagiakan.  Wahyu menjadi lebih bersemangat mencari kerja dan ia memperoleh apa yang dia harapkan.

3 tahun lebih tanpa kabar.  Aku dan yuli kembali dipertemukan melalui aplikasi pesan instan.

Walhasil,  kami pun larut mengunggah kembali masa-masa klasik sebelum  menjadi emak-emak.  Aku begitu menikmati ceritanya.

Ia Benar-benar berani mengambil keputusan yang benar. Kini,  ia pun bahagia dengan pilihannya.

Seseorang pernah berkata kepadaku:

“Jika ada lelaki baik yang melamar,  jangan menolak. ”

Jadi,  masih mau menunda?

Sumber Gambar: https://b2smbi.com/when-it-comes-to-attracting-smbs-think-marriage-not-dating/

Tentang Penulis

Ummu Sayyal