Opini

Nikmat-Nikmat untuk Orang Beriman

nikmat orang beriman
Penulis Abdurahman

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَآأُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ

Seorang manusia yang beramal saleh, tidak mengetahui -nikmat apa saja yang tersembunyi baginya (QS. Al-Sajadah:18). Jadi, Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa -nikmat itu tersembunyi, yang tidak ada contohnya di antara -nikmat dunia. Ini suatu kenyataan bahwa -nikmat dunia tidaklah tersembunyi dari kita. Kita mengetahui susu, delima, anggur, dan lain-lain, serta senantiasa memakan benda-benda itu. Jadi dari itu diketahui bahwa -nikmat bagi manusia yang beramal saleh adalah lain, dan namanya saja sama dengan benda-benda ini. Jadi barang siapa yang menganggap bahwa surga adalah kumpulan benda-benda dunia, berarti dia tidak mengetahui satu huruf pun Alquran suci.

Dalam penjelasan ayat ini, Nabi kita Muhammad saw. bersabda bahwa surga dan nikmat-nikmatnya merupakan benda-benda yang tidak pernah terlihat, tidak pernah terdengar, dan tidak pula pernah terlintas di dalam hati. Padahal, nikmat- nikmat dunia kita saksikan dengan mata dan kita dengar dengan telinga, serta di dalam hati pun nikmat itu terlintas. Jadi, tatkala Allah Ta’ala dan rasul menyatakan benda-benda itu sebagai benda-benda asing, maka kita jauh meninggalkan Al-Quran jika kita beranggapan bahwa di dalam surga nanti yang akan ada ialah susu dunia ini juga, yang diperah dari sapi-sapi. Seakan-akan di sana terdapat gerombolan ternak penghasil susu. Di atas pohon-pohon bergelayutan sarang-sarang lebah, dan malaikat mencari lalu mengambil madu lalu menuangkannya ke dalam sungai.

Apakah pemikiran serupa itu sesuai dengan ajaran ini? Yaitu, ajaran yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa benda-benda itu menyinari ruh serta melipatgandakan makrifat ilahi dan merupakan makanan rohani. Walaupun seluruh makanan-makanan itu telah diungkapkan dalam bentuk jasmani, namun beriringan dengan itu telah dijelaskan bahwa sumber utama benda-benda tersebut adalah ruh dan kebenaran. Janganlah ada yang beranggapan demikian dengan alasan, di dalam ayat Alquran berikut ini didapati bahwa nikmat-nikmat yang akan dianugerahkan di surga itu akan dikenali oleh para ahli surga setelah melihatnya, sebab nikmat-nikmat itu telah mereka peroleh juga sebelumnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الّذِيْنَ أَمَنُوْ وَعَمِلُواالصَّلِحَتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّا تٍ تَجرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْأَ نهَر كُلَّمَأ رُزِقُوْمِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوْاهَذَاالَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوْا بِهِ مُتَشَا بِهٌا

Yakni, sampaikanlah khabar suka kepada orang-orang yang dan beramal saleh dan yang tak mempunyai cela sedikitpun, bahwa mereka adalah pewaris surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di akhirat, ketika mereka akan mendapat buah-buahan yang telah mereka peroleh dari pohon di dalam kehidupan di dunia ini juga, mereka berkata, ” ini juga buah-buahan yang telah diberikan kepada kami dahulu,” sebab mereka akan mendapat buah-buah itu sama dengan buah buahan sebelumnya (QS. Al-Baqarah:26). Anggapan yang dimaksudkan dengan buah-buah yang dahulu itu merupakan nikmat-nikmat jasmani dunia adalah keliru sekali serta bertentangan dengan arti dan logika sebenarnya dari ayat terdahulu. Melainkan dalam ayat ini Allah Ta’ala menerangkan bahwa orang-orang yang dan beramal saleh, mereka telah membangun sebuah surga dengan tangan mereka sendiri yang pohon-pohonnya adalah dan sungai-sungainya adalah amal-amal saleh. Buah-buah surga yang demikian itulah yang akan mereka makan di masa mendatang, dan buah-buah itu akan lebih nyata dan lebih lezat. Dan dikarenakan mereka secara rohani telah memakan buah-buah itu di dunia, oleh karenanya mereka akan mengenali buah-buah tersebut di alam nanti, serta mereka akan berkata, “tampaknya ini adalah buah-buahan yang kami makan sebelumnya.”

Dan mereka akan menemukan buah-buah tersebut sama seperti makanan mereka terdahulu. Jadi, ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa orang-orang yang biasa memakan makanan kecintaan serta kasihsayang tuhan di dunia, makan itulah yang akan mereka dapati nanti dalam bentuk jasmani. Dan dikarenakan mereka telah mencicipi kelezatan cinta dan kasih sayang, serta mengetahui benar keadaannya. Oleh sebab itu ruh mereka ingin kembali ke zaman lampau. Yaitu, ketika mereka duduk menyendiri di pojok-pojok tertentu mengenang kekasih hakiki mereka dengan kecintaan di dalam kegelapan malam, dan mereka menikmati kenangan itu.

Ringkasnya, di sini makanan-makanan rohani tidak disinggung sedikitpun. Sekiranya di dalam hati seseorang timbul pemikiran bahwa sejak di dunia, orang-orang arif sudah memperoleh makanan-makanan itu secara rohani, maka bagaimana mungkin dapat dinyatakan benar bila mengatakan bahwa itu adalah nikmat-nikmat yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun di dunia, tidak pernah terdengar, dan tidak pernah terlintas didalam hati seseorang, sehingga dalam hal demikian timbul pertentangan di antara kedua ayat tersebut maka jawabannya adalah, pertentangan itu akan timbul jika yang dimaksudkan di dalam ayat ini adalah nikmat-nikmat dunia. Padahal di dalam ayat ini yang dimaksudkan bukan nikmat-nikmat dunia. Apa pun yang diperoleh seorang arif dalam bentuk makrifat, itu merupakan nikmat alam ukhrawi yang contohnya telah diperlihatkan terlebih dahulu untuk membangkitkan seleranya.

Hendaklah kita ingat bahwa orang yang mempunyai hubungan dengan tuhan bukanlah berasal dari ‘dunia’. Itulah sebabnya dunia membencinya. Melainkan, dia berasal dari ‘langit’. Oleh karena itu, ia menerima nikmat-nikmat samawi. Jadi, memang benar bahwa nikmat-nikmat tersebut tersembunyi dari telinga, hati dan mata dunia. Akan tetapi, seseorang yang kehidupan duniawi-nya telah mengalami maut, dan mangkuk itu diminumkan kepadanya secara rohani yaitu mangkuk di alam ukhrawi akan di nikmati secara jasmani. Maka pada saat itu jugalah yang akan diberikan kepadanya dalam bentuk jasmani. Akan tetapi, ini pun benar, bahwa dia dari segi mata dan tenlinga dunia akan dianggap tahu-menahu perihal nikmat tersebut. Dikarenakan dia dahulu berada di dunia namun, bukan dari kalangan dunia. Oleh karena itu dia pun akan menyaksikan bahwa nikmat-nikmat ukhrawi tersebut bukanlah nikmat-nikmat dunia.

Ketika di dunia, matanya tidak pernah menyaksikan nikmat semacam itu. Tida pula telinganya mendengar nikmat demikian, dan tidak pernah terlintas dalam hati. Akan tetapi, di sisi kehidupan kedua, dia telah menyaksikan contoh-contoh nikmat ukhrawi yang bukan dari berasal dunia, melainkan yang merupakan suatu kabar dari alam yang akan datang. Dia memiliki hubungan serta kaitan dengan alam itu. Dengan dunia, dia tidak sedikitpun mempunyai kaitan.

Sumber Gambar: https://w-dog.net/wallpaper/boys-summer-happiness-nature/id/337101/

Tentang Penulis

Abdurahman

Tinggalkan komentar