Opini

Nikmat Tuhan Manakah yang Kamu Dustakan?

nikmat allah

“Maka Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”

Sebaris firman Allah SWT itu begitu jelas terngiang di kepala. Mengapa tidak, dalam surah Ar – Rahman pun berulang – ulang firman itu diutarakan. Ya, memang, nikmat Tuhan manakah yang dapat kita dustakan?

Begitu banyak nikmat dari Allah Taala yang senantiasa dicurahkan untuk makhluk – Nya yang paling sempurna. Banyak nikmat dari Allah Taala baik yang tersirat hingga yang tersurat. Namun para manusia? Masihkan nikmat itu didustakan?

Mari menelisik kehidupan di dunia ini yang begitu banyak tersaji kenikmatan cuma – cuma tanpa bayaran. Allah Taala dengan sifat Ar – Rahman-Nya memberikan dunia ini dari sarana hingga prasarananya kepada seluruh makhluk di muka bumi ini tanpa pengecualian.

Keindahan bumi yang begitu terstruktur dengan segala aksen – aksen alam yang membuat para penghuni bumi dapat menikmatinya, siapakah pembuatnya? Belum lagi, nikmat udara yang senantiasa dihirup bersama perdetiknya tanpa kekurangan dan serba berkecukupan, siapakah pemberinya?

Jawabannya hanyalah satu, Allah Taala, Sang Azza wa jalla. Dia, menciptakan dunia ini dengan segala sarananya tanpa mengenal suku, agama, ras, budaya. Itulah Sifat Maha Pengasih Allah Taala.  Setiap saat, setiap waktu, Allah Taala selalu memberikan kasih-Nya kepada siapa pun.

Setiap individu – individu di muka bumi ini pun masih diberikan kenikmatan lainnya. Nikmat yang berbeda pada masing – masing individu. Pertama, Nikmat kesehatan yang pastinya banyak diterima oleh setiap manusia. Mungkin, kala diri sehat, rasanya bukanlah suatu kenikmatan yang besar.

Tapi, jika dicoba direnungi, ketika diri sedang diuji dalam sakit. Pastinya mulut secara tidak sadar akan bergumam, betapa nikmatnya diri sewaktu Allah Taala memberikan kesehatan. Kesehatan terasa menjadi kenikmatan yang begitu besar. Tidak ada lagi nikmat sehat yang dapat didustakan ketika manusia diuji dalam sakit.

Yang kedua, ada nikmat dunia yang mencakup harta, tahta, dan keluarga. Untuk nikmat dunia ini rasanya setiap individu mempunyai ekspektasi yang berbeda – beda. Untuk manusia yang lebih memilih menggunakan kacamata duniawi, rasanya kenikmatan dunia ini tidak akan pernah ada habisnya.

Kata puas dan cukup dirasa sulit hinggap dibenaknya. Sebanyak apa pun harta, setinggi apa pun tahta, hingga sebahagia apa pun keluarga, mereka akan tetap terus, terus dan terus menambah nikmat dunia itu. Mungkin seperti sabda Rasulullah SAW,

“Kenikmatan dunia layaknya seperti manusia meminum air laut dalam kondisi dahaga”

Rasa haus akan nikmat duniawi dirasa tidak akan pernah hilang. Dan, bagi manusia yang sudah terbuai dan terlena habis dalam kondisi ini, tidak jarang memudarkan keberadaan Tuhannya. Sehingga nikmat yang didapatinya pun hanya akan diakui sebagai hasil jerih payahnya. Bukan, bukan nikmat dari Tuhannya. Naudzubilah hi mindzalik.

Untuk Para manusia yang memilih menggunakan kacamata ukhrawi, nikmat dunia ini akan dianggap sebagai sarana dalam mencapai keridhaan Allah Taala kelak. Harta, tahta, hingga keluarganya hanyalah titipan nikmat dari Allah Taala. Maka, sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi para manusia ini untuk menjaga dan menularkan nikmat – nikmat dunia yang Allah Taala berikan. Nikmat harta, sebagian harta yang mereka dapati, entah banyak, entah sedikit akan selalu ada bagian atau hak untuk saudara – saudara lain yang lebih membutuhkan.

Nikmat tahta, ini pun menjadi nikmat sekaligus amanah tersendiri. Dengan tahtanya, entah luar biasa atau biasa, akan menjadikan dirinya lebih bertanggung jawab dan lebih adil kepada golongan yang di bawahnya. Nikmat Keluarga, entah keluarga besar atau keluarga kecil, senantiasa dinikmati dan dijaga keharmonisan hingga kebahagiannya. Nikmat dunia ini senantiasa menjadi pengingat dirinya pada Pencipta – Nya. Firman Allah Taala,

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ   senantiasa bergumam dimulutnya. Karena Allah lah sang Maha Pemberi kenikmatan baginya.

Saat diri mulai memahami dialah Sang Maha Pemberi, ada suatu kenikmatan yang paling besar didapati. Yaitu Nikmat Ukhrawi, ini level tertinggi dari suatu kenikmatan. Kenikmatan ini sangat sulit didapati jika bukan dengan dan hati. Inilah tujuan utama dari doa dalam ayat Al – Fatihah yang kerap kali dibaca. “Yaitu jalan orang – orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka“.  Kenikmatan besar yang datang sendiri dari Allah SWT.

Hanya para manusia yang mendalami keberadaan penciptanya yang dapat menikmati nikmat ukhrawi. Bagi para manusia yang belum berani melepaskan kacamata duniawi, rasanya sulit untuk mencicipi kenikmatan ukhrawi yang begitu menancap di hati dan kekal abadi.

Apa pun yang dihadapi, senang atau sedih, sehat atau sakit, kaya atau miskin, yang ada hanya ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Diri selalu berusaha menjalani kehidupan di bumi ini dengan seimbang antara urusan dunia dan akhirat. Namun, apa pun hasilnya, sebaik hingga seburuk apa pun, rasa syukur tetap ada untuk sang penciptanya, karena, nikmat tuhan manakah yang dapat didustakan?

Ahh, bahaginya bagi para manusia itu, teringat firman Allah Taala yang tersemat di cincin jari Khalifah Rohaniku,

أليس الله بكاف عبده

alaisallahu bikafin ‘abdahu (Tidakkah Allah cukup bagi hambanya?)’

Sumber Gambar: https://www.irishtimes.com/news/health/get-kids-moving-1.2329270

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar