Akhlaq Faḍi'l-Lāh Muhammad Nurdin

Pacaran, Nikahin Aja!

dan diciptakan untuk saling berbagi dan saling mengisi, kecuali sebagian orang yang punya selera yang berbeda dari ini. Di setiap nadi umat telah terpatri sebuah kompas suci sebagai kemudi untuk menemukan pasangan sejati. Anda mungkin sedang mencari, mungkin juga sudah menjalani, mungkin juga masih senang menyendiri. Tapi, apapun keadaan Anda hari ini, kodrat Ilahi pasti akan tergenapi.

Pacaran. Setiap anak manusia di dunia ini tahu tentangnya. Bisa jadi, Anda adalah salah seorang pelaku dari aktivitas yang sangat masif ini. Bisa jadi juga, Anda hanya bisa mengamati, mencermati, bahkan gigit jari dengan mereka yang berpacaran. Pacaran, katanya, bisa menjadi jalan untuk menggenapkan kodrat bahwa tiap manusia berpasangan. Itulah sebabnya, jalan-jalan tanpa ikatan pacaran, seperti mengatakan “ya” tanpa keikhlasan.

Terlalu banyak manusia di dunia ini yang terobsesi untuk berpacaran. Fenomena pacaran terjadi hampir di setiap lapisan. Tua, muda, remaja bahkan anak-anak yang baru mengetahui faktor prima dari angka delapan juga turut meramaikan. Ada apa sih dengan pacaran? Ia begitu ramai dibicarakan, dan ramai pula diamalkan. Mungkin saja, sebab manusia butuh akan kasih sayang, untuk itulah ditempuh jalan pacaran karena disana tersedia kasih sayang secara gratisan.

Cinta. Katanya menjadi asal-muasal aktivitas pacaran. Setiap kita haus cinta, dan mungkin saja pacaran sebagai pelepas dahaga. Laki-laki dan perempuan saling merajut kasih, merancang mimpi dan merapihkan janji, meskipun banyak sekali yang kandas ditelan bumi. Memang begitulah yang namanya cinta, deritanya selalu di akhir cerita. Tapi anehnya, terlalu banyak orang yang tidak ada kapok-kapoknya. Mungkin itulah kekuatan cinta.

Kita hidup berhadapan dengan sebuah kodrat Ilahi yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Setiap fenomena di dunia ini telah dikendalikan oleh sebuah kodrat Ilahi, termasuk matangnya buah-buahan. Setiap kita pasti suka buah. Apalagi Anda yang fanatik menjalankan pola hidup “food combining”. Tentunya, buah yang enak adalah buah yang matang. Tapi, ini tak berlaku untuk ibu hamil, karena bagi mereka, yang “mengkal” itu yang enak. Tahukah Anda, bahwa buah yang matang di pohon itu berbeda dengan yang matang di pasar, meskipun sama-sama matang? Yang matang di pohon itu, matang sesuai dengan kodrat Ilahi yang mengharuskan ia matang. Sedang yang matang di pasar, matang dengan cara dipaksa matang sesuai kehendak manusia.

Kodrat Ilahi itu butuh kematangannya alias butuh tempo untuk penggenapannya. Tapi manusia tetaplah manusia, sumber segala salah dan lemah. Saat muncul keinginan untuk mempercepat penggenapan kodrat Ilahi, segala macam upaya pun dilakukan. Mungkinkah, pacaran itu kodrat Ilahi yang dipaksakan untuk terjadi?

Kita pasti sepakat bahwa penggenapan kodrat Ilahi yang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan berpasangan akan terjadi dalam bentuk rumah tangga. Pada titik inilah kodrat Ilahi mencapai kematangannya. Pertanyaan sederhannya, sudah siapkah kita berumah tangga?

Pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab bukan? Apalagi mereka yang masih kesulitan memahami konsep persamaan linear dua variabel itu seperti apa? Boro-boro mau ngurusin rumah tangga, Pekerjaan Rumah (PR) pun masih dikerjakan di sekolah.

Berpacaran, membuat Anda jadi terlibat dalam urusan orang lain yang hanya berstatus “pacar” itu. Mengetahui aktivitasnya, keadaannya, bahkan sudah makan atau belum pun menjadi “insting” harian Anda. Bukankah Anda sudah mulai berumah tangga pada titik ini? Secara tidak sadar Anda sudah mulai berumah tangga, meskipun Anda tak mau disebut demikian.

Anda sepertinya kehilangan fokus dalam mengemudikan kehidupan Anda. Anda terlalu terburu-buru untuk bisa menyelesaikan tahapan Anda. Padahal, jalan yang Tuhan berikan kepada kita masih terlalu panjang. Tuhan sebenarnya menginginkan kita agar menikmati tiap tahapannya. Bukannya memaksakan diri untuk melompati tahapan-tahapan yang penuh arti itu. Kalau Tuhan berkehendak Anda mahir memainkan logika matematika, janganlah melompatinya lalu masuk ke tahapan di mana tidak ada logika dalam cinta.

Cinta. Cinta itu sesuatu yang amat suci. Sebab cinta adalah anugerah terbesar dari Sang Ilahi Rabbi. Tapi, cinta pun punya kematangannya sendiri. Kita perlu waktu hingga ia bisa kita nikmati. Kita perlu waktu hingga setiap tahapan yang penuh arti dalam hidup kita bisa dilewati bukan dilompati.

Anda berobsesi untuk pacaran? Untuk apa? Untuk belajar lebih banyak tentang dinamika percintaan. Sepertinya Anda terlalu banyak menonton sandiwara percintaan di televisi. Meskipun itu sandiwara, tak sedikit kalangan muda-mudi yang terinspirasi hingga mereka makin terobsesi untuk berpacaran. Kalau Anda sudah siap berpacaran, berarti Anda sudah siap menyakiti atau disakiti. Sebab, pacaran adalah fatamorgana dari indahnya sebuah rumah tangga. Ia tak benar-benar nyata, karena sekalipun Anda menentapkan sebuah janji, kekuatan hukumnya hanya berlaku untuk Anda berdua.

Mungkin Anda menganggap saya sensi dengan menulis ini. Tapi, saya hanya ingin menarik nalar Anda melihat pacaran dari segala segi. Anda mungkin alergi jika saya mengeluarkan Kitab Suci untuk membahas ini. Untuk itulah, saya mengajak Anda untuk bernalar sebagai rasa syukur atas akal yang telah Tuhan beri.

pernah memberikan sebuah hikmah kepada kita umatnya perihal kehidupan ini. Beliau menasehatkan kepada kita, “Janganlah masuk ke lubang yang sama dua kali.” Sebagai manusia yang berakal harusnya kita punya rasa “jera”. Jera untuk masuk ke lubang kenistaan. Kecuali masuk ke lembah kebahagiaan. Seribu satu kali pun kita terjerembab masuk ke dalamnya kita takkan pernah terluka.

Bukankah pacaran lebih banyak membawa luka? Anehnya, Anda tak penah kenal jera. Mungkin Anda kehilangan kendali untuk mengemudikan nalar Anda. Anda seperti seseorang yang benar-benar berdahaga akan cinta. Kalau memang kondisinya seperti itu, tak perlu lagi berpacaran, NIKAHIN AJA! Sekiranya Anda memang sudah siap berumah tangga.

Saya khawatirnya, bukan batin Anda yang sedang berdahaga tapi nafsu Anda. Lebih khawatirnya lagi, Anda sudah siap menjalin asmara dengan pujaan hati Anda, tapi Anda tidak siap bertanggung jawab menjadi sebuah penggenapan dari kodrat Ilahi bahwa laki-laki dan perempuan berpasangan.

Masih mau berPACARAN? NIKAHIN AJA!

 

Yang teramat lemah,
Muhammad Nurdin

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia

2 komentar

Tinggalkan komentar