Opini

Pahlawan Idaman Bangsa Zaman Now

hari pahlawan 2017
Penulis Satria Utama

Tanggal 10 Nopember diperingati sebagai oleh seluruh rakyat Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat kita mendengar kata , pikiran kita akan tertuju kepada sosok-sosok pejuang kemerdekaan yang mengangkat senjata dan mempertaruhkan nyawanya dalam melawan kaum penjajah.  

Perjuangan secara fisik (baca: peperangan) begitu kuat tertanam dalam ingatan kita jika membicarakan perjuangan kemerdekaan. Terkadang kita lupa bahwa tidak sedikit pahlawan yang juga menyumbangkan buah pikirannya dan ikut memiliki andil dalam perjuangan kemerdekaan bangsa kita.

Sebutlah W. R. Supratman dengan gubahan lagu Indonesia Raya-nya, Bahrum Rangkuti dengan tulisan kritikannya pada pemerintahan penjajah, Ki Hadjar Dewantara dengan sekolah yang didirikannya untuk mencerdaskan rakyat Indonesia, hingga puncaknya proklamasi kemerdekaan oleh Ir. Soekarno dan Dr. Moh. Hatta. Selain itu masih banyak pahlawan lainnya yang telah mencurahkan pikirannya untuk terbentuknya negara ini.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa penulis berusaha mengarahkan perhatian pada para pahlawan yang berjuang bukan secara fisik? Bukan kepada para pejuang yang mengorbankan nyawanya? Tanpa bermaksud mengecilkan arti pengorbanan nyawa para pahlawan yang telah gugur di medan perang. Akhir-akhir ini pandangan tentang menjadi pahlawan dengan mengorbankan nyawa begitu kuatnya digembar-gemborkan oleh beberapa kelompok untuk tujuan yang tidak baik.

Masih jelas di ingatan kita tentang beberapa aksi bom bunuh diri yang terjadi di negeri ini. Mulai dari bom Bali, hingga bom kampung Melayu dan Sarinah. Tidak hanya itu, propaganda untuk menjadi “pahlawan agama” yang begitu gencar, oleh kelompok (yang mengaku) muslim, menyebabkan seorang anak yang belum mencapai usia belasan harus tewas mengenaskan saat bergabung dengan ISIS.

Kenapa bisa terjadi hal-hal seperti itu? Kenapa kata “perjuangan” harus selalu dikaitkan dengan mengangkat senjata? Kenapa untuk menjadi “pahlawan” harus berarti mengorbankan nyawa? Sebegitu tidak berharganyakah kehidupan di dunia ini sehingga orang berlomba untuk mencari jalan pintas menuju akhirat?

Di masa yang damai dan jauh dari peperangan ini, ada kelompok yang berusaha menghidupkan lagi kenangan heroik peperangan masa perjuangan. Sayangnya kali ini untuk tujuan yang sama sekali berbeda dengan perjuangan kemerdekaan. Melalui mimbar-mimbar ceramah, kelompok tersebut berusaha menanamkan pikiran bahwa perjuangan itu hanya berupa kontak fisik yang berujung pada pengorbanan nyawa salah satu fihak, yang diserang atau yang menyerang.

Pertanyaannya, bagaimana cara kita menjadi pahlawan di zaman now?

Berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan, pahlawan yang dibutuhkan sekarang bukan lagi pahlawan  yang berani mati, namun pahlawan yang berani hidup. Berani hidup dan berdiri tegak menghadapi segala bentuk kesulitan hidup. Mengerahkan segala daya dan upaya untuk memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Mulai dari keluarganya, tetangganya hingga lingkungannya.

Suatu tindakan pengecut dan egois jika seorang ayah sekaligus suami meledakkan dirinya di tengah keramaian dan meninggalkan anak-istrinya demi menjemput bidadari yang entah ada atau tidak baginya. Meninggalkan kewajibannya sebagai ayah untuk mendidik anak-anaknya. Meninggalkan tugasnya sebagai suami untuk  menjaga kehormatan istrinya.

Alangkah mulianya jika dia memilih untuk hidup dan berjihad setiap hari dengan bekerja keras membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Pulang dalam keadaan lelah namun tetap menyisakan tenaga untuk mengajak anak-istrinya menjalankan ibadah berjamaah di rumah.

Jika saja para jihadis yang terlanjur mati sia-sia menyadari hal itu, tentu mereka tidak akan meninggalkan bidadari yang sudah mendampinginya dalam wujud seorang istri. Mereka juga akan sangat betah tinggal di istana berwujud rumah yang senantiasa dihiasi dengan tawa ceria anak-anak dan kesejukan hawa surgawi yang muncul dari denyut ibadah yang berlangsung di dalamnya.

Mereka akan mempunyai sejuta alasan untuk tetap hidup, berjuang, dan menjadi pahlawan keluarga mereka masing-masing. Mereka bukan lagi merupakan orang-orang yang dalam peribahasa sunda disebut sebagai “Moro Julang Ngaleupaskeun Peusing”, yaitu orang yang melepaskan apa yang sudah dimilikinya demi mengejar sebuah ilusi semu yang tidak pasti.

Jadi bagi para pencari bidadari surga, berhentilah mengejar ilusi itu karena kenikmatan surgawi bukanlah berupa pemenuhan syahwat duniawi. Mulailah memahami bahwa kedekatan pada Sang Maha Pencipta adalah puncak kenikmatan di surga, dan tentu saja pencapaian ke arah itu bukan dengan jalan bunuh diri ataupun membunuh sesama.

Mulailah temukan bidadari kalian di dunia ini dan jadikan mereka bidadarimu di surga kelak. Bangunlah istana kalian di dunia ini walau itu hanya berupa rumah kecil sederhana, namun senantiasa dipenuhi dengan kedamaian dan kasih sayang para penghuninya.

Berhentilah menjadi manusia egois yang ingin mencari surgamu sendiri, namun jadilah pahlawan hidup yang senantiasa hadir menunjukkan jalan ke surga bagi keluargamu dengan mengajarkan Islam yang penuh kasih. Kelak pada saatnya nanti kalian bisa bersama lagi menikmati kedekatan pada Illahi di alam surgawi. Cag.

Sumber Gambar: http://thebusinessanswer.com/helping-others-key/

Tentang Penulis

Satria Utama

Tinggalkan komentar