Fiqih Lisa Aviatun Nahar Opini

Pandangan Ahmadiyah tentang Ziarah Kubur

Oleh Lisa Aviatun Nahar

 

Usai ziarah kubur, Khalifah Ahmadiyah bersedakah kepada kaum papa di luar kompleks pekuburan Hadhrat Khawaja Moinuddin di New Delhi 2005

Usai ziarah kubur, bersedakah kepada kaum papa di luar kompleks pekuburan Hadhrat Khawaja Moinuddin di New Delhi, 2005. (Alislam)

MASYARAKAT mengenal tradisi ziarah kubur pada waktu-waktu tertentu. Salah satunya pada momen menjelang bulan suci Ramaḍān maupun sebelum dan paska hari raya Idul Fitri.

Tradisi ziarah kubur ini banyak dijalankan oleh masyarakat, salah satunya masyarakat Nahḍatul ‘Ulamā’ yang merupakan salah satu komunitas besar di Indonesia. Dan, walau sudah berjalan sekian tahun namun hingga hari ini pro dan kontra belum lepas mengiringi tradisi ini.

Lantas bagaimana pandangan dari komunitas lain seperti Jemaat Muslim berkaitan dengan tradisi ziarah kubur ini?

Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmad a.s. ternyata juga melakukan ziarah kubur. Dalam perjalanannya ke Delhi pada tahun 1905, beliau a.s. mengunjungi makam orang-orang suci.

Dalam salah satu sabda-sabdanya yang terkumpul dalam buku Malfūẓāt, antara lain beliau berkata, “Pergi ke suatu tempat hanya untuk jalan-jalan, tidaklah benar. Di sini ada kuburan beberapa orang waliullah suci. Kita akan mendatanginya.”

Lalu, beliau a.s. meminta seseorang untuk mendaftar nama-nama orang suci yang kuburannya akan dikunjungi. Beliau pun lalu bersabda, “Di kuburan, terdapat suatu [suasana] rohaniah. Dan melakukan ziarah ke kuburan pada waktu pagi merupakan sebuah sunnah. Itu pekerjaan yang berpahala, dan darinya manusia menjadi ingat akan kedudukannya. Manusia merupakan musafir di dunia ini. Hari ini berada di atas tanah, dan besok berada di bawah tanah. (Malfūẓāt Jilid VIII, Additional Nāẓir Isyā‘at London, 1984, ṣafḥah 166—167)”

Dalam kesempatan lain, Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmad a.s. mendapat pertanyaan mengenai mendatangi makam. Beliau pun menjelaskan, “Pergi ke kuburan (ziarah) untuk melakukan nazar dan mengajukan permintaan-permintaan, tidaklah benar. Ya, pergi ke sana lalu mengambil pelajaran/hikmah, dan mengingat maut yang akan terjadi pada diri sendiri, adalah dibenarkan. (Malfūẓāt Jilid V, ṣafḥah 433)”

Atas dasar inilah, Jamaah Muslim Ahmadiyah pun melakukan ziarah, mengunjungi makam Almarhum Bapak Presiden NKRI K.H. Abdurrahman Wahid di Jombang pada tahun 2013 lalu. Karena, sesuai dengan sabda Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang dikenal dengan gelar al-Ḥaḍrat al-Ḥaḍrat al-Masīḥ al-Mau‘ūd a.s., berziarah mengunjungi makam adalah amalan yang berpahala dan tentu saja memiliki manfaat rohani. Asalkan niat yang mendasarinya tak menjadikan kegiatan ini sebagai sarana menjauhkan manusia pada keimanan akan ketauhidan Allāh Ta‘ālā, tak ada alasan menganggapnya sebagai bid‘ah.

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia

Tinggalkan komentar