Akhlaq Faḍi'l-Lāh Al-Qur’ān Ḥadīts Kebangsaan Opini

Pandangan Islam Ahmadiyah Tentang Cinta Tanah Air (5/5)

Tanah Air dan Dedikasi untuk Negeri ini

Cinta Tanah Air dan Dedikasi untuk Negeri ini

Donor darah untuk cinta tanah air | Ini adalah bukti jamaah peduli akan nasib bangsa ini, meski sebagian orang-orang di dalamnya memiliki minat yang tinggi untuk menumpahkan darah para pengikut . (Foto: Warta Ahmadiyah)

SETIAP orang rela berkorban demi cinta. Bangsa [negara] kita bisa mencapai titik merdeka, dimana darah ditumpahkan, tidak mungkin dapat terjadi tanpa adanya rasa cinta akan tanah air. Indonesia tanah air beta adalah semangat cinta akan negeri ini melebihi cinta manapun. Cinta membuat seseorang menjadi berani untuk menghadapi ketakutannya. Bukankah ketakutan akan kehilangan nyawa yang satu-satunya ini adalah ketakutan paling luhur dalam hidup kita? Tapi bagi sang pecinta, nyawa pun ia rela korbankan demi cintanya. Yah, cinta yang tulus yang sekarang bermutasi menjadi cinta yang bermodus.

Era pertumpahan darah sudah berakhir. Tapi, semangat cinta tanah air tetap menjadi konskuensi logis kita sebagai penerus para pejuang yang telah berkorban nyawa demi kemerdekaan, demi generasi-generasi penerusnya. Tugas kita sebagai generasi penerus adalah mengisi kemerdekaan ini dengan semagat cinta tanah air. Turut andil dalam setiap ide dan aksi nyata untuk kemajuan bangsa ini adalah wujud nyata semangat cinta tanah air.

Jamaah Muslim Ahmadiyah, jamaah yang telah didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, menyeru kepada pengikutnya untuk senantiasa mengorbankan harta, jiwa, raga, waktu, dan kehormatan untuk kepentingan agama nusa dan bangsa. Para pengikut jamaah Ahmadiyah selalu memulai acara-acara keagamaannya dengan ikrar tersebut, supaya apa yang menjadi rencana kedepannya, adalah semata-mata ditujukan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa. Jamaah Ahmadiyah memiliki gairat yang begitu tinggi untuk membawa NKRI tercinta ini menjadi lebih baik dan lebih maju lagi.

Tak banyak orang tahu bahwa para pengikut Ahmadiyah begitu antusiasnya menyemarakkan program donor darah rutin. Ini adalah bukti jamaah Ahmadiyah peduli akan nasib bangsa ini, meski sebagian orang-orang di dalamnya memiliki minat yang tinggi untuk menumpahkan darah para pengikut Ahmadiyah. Bukankah setetes darah Anda sangat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan? Jangankan setetes darah, berapa liter darahpun dapat disediakan semata-mata perwujudan simpati jamaah Ahmadiyah kepada kemanusian.

Di saat bersimpati akan kemanusian menjadi barang yang amat langka, para pengikut Ahmadiyah bergerak lebih maju menjadi pendonor mata terbesar di negeri ini. Jemaat Ahmadiyah memiliki mimpi yang cerah tentang , tentang berbagi harapan kepada mereka yang hampir tak memiliki harapan untuk menikmati negeri tercinta ini. Jemaat Ahmadiyah mengajarkan kepada para pengikutnya bahwa setelah matipun kita bisa mengkhidmati kemanusian. Kedua bola mata ini akan hancur ditelan bumi, maka akan sangat bermanfaat seandainya ia digunakan oleh mereka yang mendambakan bisa melihat bumi nusantara yang katanya indah ini. Bukankah itu akan menjadi amal yang tidak ada putusnya, sepanjang karunia penglihatan ini disyukuri dan digunakan untuk kebaikan?

Putra-putri jamaah Ahmadiyah sudah dididik sedari kecil dalam medan pengkhidmatan kepada tanpa mengharap imbalan apapun. Jamaah Ahmadiyah telah mempersiapkan generasi-generasi terbaiknya untuk membangun negeri ini dengan dasar “amanah”. Amanah adalah barang langka yang sulit ditemukan dalam diri anak bangsa. Jamaah Ahmadiyah senantiasa mengajarkan kepada para pengikutnya untuk menjaga amanah dimana pun mereka berada. Amanah adalah bukti keimanan mereka kepada pendiri Jamaah Ahmadiyah sebagaimana tertuang dalam syarat bai’at yang keempat, “Tidak akan mendatangkan kesusahan apapun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk umumnya dan kaum muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apapun juga.”[1]

Bukankah prinsip sederhana dari amanah adalah membuat aman kehidupan ini? Yah, setiap orang merasa kehidupannya aman, bukan cuma untuk satu dua orang. Barang langka ini akan anda temukan dengan mudah dalam pribadi para pengikut Jemaat Ahmadiyah.

 

Penulis: Muhammad Nurdin; editor: Raam DMX

 

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Bagian 4 | Bagian 5

[1] Syarat-syarat Bai’at dalam Jemaat Ahmadiyah

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin