Opini

Para Khalifah Yang Lupa

khalifah

Dan ingatlah ketika engkau berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang di muka bumi”. Mereka berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami bertasbih dengan pujian Engkau dan kami mensucikan Engkau?”. berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”

(QS Al-Baqarah:31)

Sejak sebelum diutusnya Adam ke dunia, bahkan para malaikat pun merasa heran, dari begitu banyaknya jenis makhluk hidup dengan sifat-sifat kasih sayang yang pernah terlahir di bumi, mengapa justru manusia yang dipilih oleh Allah Ta’ala sebagai khalifah? Betapa tidak, makhluk dengan kecerdasan serta keterampilan tinggi namun dalam kesehariannya justru saling menumpahkan darah antar sesamanya tersebut, bagaimana mungkin bisa dipercaya untuk menjaga keberlangsungan dunia? Sampai-sampai para malaikat yang senantiasa tunduk patuh pun harus bertanya langsung kepada Allah Ta’ala.

Gambaran “kebingungan” para malaikat tersebut tentunya dikisahkan dalam bingkai kiasan, namun sesungguhnya secara tegas dan nyata Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Allah Ta’ala juga telah membekali Adam dengan berbagai ilmu serta kualitas pengetahuan yang bahkan berada diluar jangkauan kemampuan malaikat tertinggi sekalipun, bawa pada nyatanya Adam juga mampu memahami serta mewujudkan kualitas-kualitas tersebut, membuat para malaikat begitu kagum, sehingga mereka pun begitu yakin untuk tunduk menghormat kepada seorang makhluk yang pada awalnya mereka anggap sebagai makhluk liar perusak tatanan alam semata, meskipun demikian, nyatanya hanya iblis yang menolak untuk tunduk menghormati Adam, kesombongannya di hadapan Allah Ta’ala membuatnya menjadi terlaknat dan harus beranjak dari kemuliaan, setelah sempat bersumpah akan menunjukkan betapa manusia adalah sekedar boneka lumpur yang tidak lebih perkasa dari dirinya dan bahwa manusia pada awalnya hanyalah makhluk buas yang tak lebih baik darinya, maka ia yakin bahwa tidak akan lama hingga anak cucu Adam akan menjadi makhluk terlaknat yang serupa dengannya, sebuah sumpah yang akan dipegang iblis hingga datangnya kiamat kelak.

Kata “khalifah” jika dirujuk secara akar bahasa dapat diartikan sebagai wakil, ataupun pengganti. Adam pada kenyataannya telah menjadi perwakilan dari umat manusia untuk meyakinkan para malaikat bahwa manusia bukanlah makhluk yang terpuruk seluruhnya, melainkan dengan kuasa Allah Ta’ala mampu menjadi perwujudan berbagai sifat-sifat kemuliaan Illahi yang bahkan diluar kuasa para malaikat untuk menirunya, maka sifat tersebut jugalah yang menjadikan Adam sebagai panutan yang pantas bagi para manusia di bumi pada masa tersebut untuk mengingatkan kepada mereka bahwa mereka pun diberi kemampuan oleh Allah Ta’ala untuk dapat menjadi lebih dari sekedar makhluk yang hanya makan, minum, berkembangbiak, dan mati begitu saja layaknya hewan.

Namun bagi Adam as., meskipun kepadanya telah dibekali kemampuan untuk menjadi cerminan beragam sifat-sifat agung, sebuah cermin tetaplah cermin, seindah apapun bingkainya, kelemahan menanti di setiap sudut dan lekukannya, iblis sangat paham hal tersebut, bahwa kealpaan akan membuat manusia terjerumus pada kehancuran, bagi Iblis, manusia tetaplah bukan sebuah makhuk yang jauh lebih mulia darinya.

Syahdan, dengan perantaraan kealpaan kepada satu saja perintah Tuhan, Iblis menyadarkan Adam akan kelemahan sifat manusiawinya, namun sungguh Allah Ta’ala Maha Pengampun, Maha Penyayang, Maha Mengetahui bahwa lupa adalah keterbatasan alami manusia, sehingga tidak akan dibiarkan-Nya begitu saja anak cucu Adam yang telah dimuliakan surga untuk menjadi perwakilan sifat-sifat iblis yang hina.

Maka dengan perantaraan para serta Rasul yang diturunkan dalam tiap-tiap zaman yang masing-masing terus menggantikan pendahulunya sesuai dengan nizam Allah Ta’ala, umat manusia terus menerus diingatkan bahwa mereka terlahir suci dan mengemban tugas mulia sebagai satu-satunya makhluk yang dikodratkan untuk terus menerus menjadi perwujudan sederhana dari sifat-sifat agung Illahi di muka bumi.

Janji Allah Ta’ala adalah akan selalu ada utusan-utusan yang datang sebagai pembimbing di antara manusia hingga kiamat nanti, yang akan terus membawakan peringatan akan kodrat mereka sebagai perwujudan agung sifat-sifat Ilahi, dan bahwa kehidupan sejati mereka bukanlah di alam ini, hanya tinggal bagaimana umat manusia mampu mengenali para utusan tersebut, serta mengenali hakikat ruhnya kembali.

Salah satu sifat Allah Ta’ala adalah Al-Mutakkalim, Yang Maha Berbicara, sehingga merupakan Hak Allah Ta’ala untuk terus menurunkan wahyu serta petunjuk bagi umat manusia sebagai wujud nyata sifat-Nya yang Ar-Rahman serta Ar-Rahiim, hingga tiba saat ditiupnya sangkakala Israfil di suatu hari nanti. Akan selalu ada utusan-Nya yang ditunjuk sebagai pencegah umat manusia untuk terjerumus menjadi perwakilan iblis.

Pada akhirnya, segala ketentuan Ilahi sejak zaman azali akan selalu terbukti, manusia akan selalu menjadi khalifah di muka bumi, tidak peduli berapa kaum yang telah berlalu dengan mulia maupun hina, pilihan selalu kembali kepada manusia, apakah mereka akan benar-benar mengimani janji Allah Ta’ala? Atau malah mengingkari kodratnya dan justru menjadi para khalifah yang lupa? Terus menerus bergelimang dalam tipu daya kenikmatan dunia, sembari mendustakan kemuliaan ruhani yang telah dijanjikan kepadanya? Mari kita ambil sebuah cermin dan renungkan kembali seluruhnya.

sumber gambar: https://www.google.co.id/search?q=desert+silhouette&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwj4x5aKjsXWAhWMOo8KHWq-BwMQ_AUICigB&biw=1366&bih=638#imgrc=62xR3dTybwMAQM:

Tentang Penulis

Irfan Sukma Ardiatama

Tinggalkan komentar