Opini

Pelopor Perdamaian Dunia Ialah Pemilik Kejujuran Hati

kejujuran hati

bagi sorang muslim merupakan perhiasan yang sangat mahal harganya atas setiap perkataan yang diucapkan serta tindakan yang dilakukan. Mereka yang selalu mengutamakan adalah mereka yang selalu mendapatkan kedamaian dalam hidupnya. Sebaliknya dengan mereka yang sudah terbiasa dengan kebohongan, maka tidak akan pernah ada ketenangan di dalam kehidupannya. Prestasi dari adalah surga. Mereka yang berhasil mengumpulkan amal dalam hidupnya, adalah mereka yang akan terselamatkan dari pertanyaan .

Kejujuran bukan hanya sebatas persoalan ucapan semata, melainkan juga atas nilai dari sebuah tindakan. Di Indonesia, khususnya dalam dunia perpolitikan, nilai kejujuran seakan terlihat semakin menurun. Banyak terdengar ucapan-ucapan kegelisahan dari masyarakat akan kejujuran para wakil rakyat yang semakin terlupakan. Hal ini sungguh sangat disayangkan, mereka yang terpandang sebagai perwakilan justru malah mengecewakan. Perlunya penanaman sikap dan sifat kejujuran terhadap diri seseorang memang senantiasa harus dibangkitkan.

Kejujuran memang sangat identik dengan ciri khas keagamaan. Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan sifat kebohongan kepada umatnya, kecuali agama kebohongan itu sendiri. Islam sebagai Agama Rahmatan Lil’Alamin senantiasa mengajarkan dan menanamkan nilai kejujuran disetiap kepribadian umatnya. Pentingnya nilai kejujuran tertulis dengan jelas di dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab :70 yang artinya berbunyi :“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar”. Ayat tersebut telah mengingatkan kepada setiap manusia, khususnya orang-orang yang beriman agar senantiasa berkata yang benar dan mengutamakan kejujuran didalam kehidupannya. Kejujuran ini nantinya juga akan menambah nilai ketakwaan seseorang kepada Allah Swt.

Seperti telah diriwayatkan dibeberapa hadits, dan juga menurut Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (dalam Riwayat Hidup Rasulullah s.a.w, 1992 : 260), bahwa Rasulullah SAW sendiri begitu tegar dalam menyikapi persoalan kejujuran. Sehingga hal tersebut menjadikan beliau terkenal di antara kaum beliau sebagai “Orang Tepercaya” dan “Orang Benar”. Rasulullah s.a.w. memandang kebenaran sebagai dasar segala keluhuran budi, kebaikan, dan perilaku yang benar. Beliau mengajarkan bahwa seseorang yang Muttaqi adalah orang yang teguh memegang kebenaran sehingga ia terhitung bertakwa oleh Tuhan.

Begitu pentingnya nilai kejujuran, sebuah pun akan tercipta ketika kejujuran diterapkan. Jika kalian ingin menjadi pelopor dunia, maka landaskanlah terlebih dahulu pikirian dan perbuatan kita pada nilai kejujuran. Akan tetapi memang tidak bisa dipungkiri ketika kita hidup di zaman yang penuh dengan rintangan terkadang sadar ataupun tidak sadar, kita telah membuat kebohongan sebagai Tuhan kita dalam kondisi serba kesulitan. Kebohongan inilah yang menjadi salah satu penyakit dan penghancur zaman. Komunikasi yang harmonis juga akan terjalin karena adanya kejujuran. Membiasakan diri untuk berkomunikasi jujur juga sangat membutuhkan kekuatan. Mereka yang bertahan pada keindahan kejujuran dalam hatinya adalah mereka yang berjuang meninggalkan kebohongan dalam kehidupannya.

Kebohongan saat ini sudah banyak mengantarkan para pemimpin maupun wakil rakyat pada jeruji besi. Mereka terbiasa dengan tindakan dan perkataan yang salah menurut ajaran Tuhan tetapi mereka benarkan. Kebohongan ini seakan menjadi kebiasaan bahkan menghasilkan keturunan. Hendaknya kita senantiasa membiasakan diri dalam berbuat kebaikan dengan dilandaskan sikap kejujuran dan keikhlasan, agar setiap pekerjaan yang kita lakukan terasa ringan dan dapat terselesaikan. Jangan sampai kebohongan membinasakan hidup kita, dan tidak mengantarkan kita pada surga yang dijanjikan untuk mereka para pemilik kejujuran. Wahai kalian para pemilik kebohongan, ingat kurungan akan menanti setiap kalian.

 

Sumber Gambar: http://enallaktikidrasi.com/2017/07/skopos-zois-mathoume-agapame/

Tentang Penulis

Fatimah Zahrah Br Surbakti

Tinggalkan komentar