Aqidah Iffat Aulia Ahmad Scribd

Pembahasan Klasik Tentang Nabi dan Rasul

Penulis Raja Pena

NABI dan rasul pada hakikatnya sama. Dua istilah tersebut tidak mencerminkan perbedaan, tetapi dipergunakan sesuai dengan konteks yang saling berhubungan. Tulisan Iffat Aulia Ahmad (11.137 kata—atau lebih).

Penulis: Iffat Aulia Ahmad (tinggal di Gambir, Jakarta Pusat, DKI Jakarta)
Judul: Pembahasan klasik tentang ; Menjawab lima poin dan yang lainnya tentang perbedaan antara (11.137 kata—atau lebih)

Media/link: Scribd.com; rilis: «2-Sep-2013»; akses: «09:41 18-Sep-2013»

CATATAN: Tulisan berisi pembahasan klasik tentang dan . Tulisan dibuat dalam rangka menjawab lima poin yang terdapat di http://al-atsariyyah.com/5-perbedaan-antara-nabi-dan-rasul.html dan dua poin lainnya yang diambil dari beberapa situs tetang perbedaan antara nabi dan rasul. Tulisan ini telah melewati penyuntingan ulang oleh admin RajaPena.org.

Perbedaan antara nabi dan rasul
Bagian I: Pembahasan Klasik tentang Nabi dan Rasul
PENDAHULUAN
SEKITAR enambelas hari yang lalu, saya menerima sebuah e-mail dari Maulānā Luthfi Julian Putra yang diforward dari milist Ahmadi-Indo berkenaan dengan perbedaan antara nabī (nabi) dan rasūl (rasul). Penulis e-mail itu adalah Bapak Darisman Broto dari Kebayoran. Beliau sejatinya hanya menyalin sebuah artikel yang ditulis oleh seorang ghair Ahmadi yang berisi lima poin yang menurut ghair Ahmadi itu adalah dalil-dalil yang membuktikan bahwa nabi dan rasul adalah dua personifikasi yang berbeda. Setelah saya cek, saya menemukan artikel itu pada aslinya, terdapat di http://al-atsariyyah.com/5-perbedaan-antara-nabi-dan-rasul.html. Ternyata, seusai dicermati, saya mendapati bahwa argumentasi-argumentasi penulis tersebut dibangun di atas pondasi yang sangat lemah dan rapuh, bahkan cenderung sembrono. Saya sudah melakukan riset dari buku-buku para ‘ulamā’ (ulama) mutaqaddimīn yang menyanggah argumentasi-argumentasi penulis itu. Untuk lebih jelasnya, pembaca bisa melihatnya di bagian pembahasan nanti.
Saya sebenarnya cukup menyesal karena baru bisa menyelesaikan tulisan ini pada hari ini, sekitar enambelas hari setelah saya mendapat e-mail itu. Saya seharusnya bisa menyelesaikannya dalam jangka waktu tiga-empat hari, atau maksimal satu minggu. Berhubung saya harus masuk sekolah, maka sebagai konsekuensinya adalah saya harus mengerjakan tugas-tugas dan menghadapi ulangan-ulangan yang tentunya amat sangat melelahkan. Oleh karena itu, saya mohon maaf jika kehadiran tulisan ini sedikit terlambat.
Satu hal yang saya harap dari para pembaca adalah, janganlah sekali-kali menganggap bahwa tulisan ini adalah karya Iffat Aulia Ahmad. Iffat Aulia Ahmad hanyalah seorang bocah enambelas tahun yang bodoh lagi pandir, tak memiliki ilmu sedikitpun. Anggaplah tulisan ini adalah karya Khalīfah, Ḥaḍrat Mirzā Masrūr Aḥmad atba.; semata-mata karena kecintaan dan ketaatan terhadap beliau-lah saya dapat menyelesaikan tulisan ini. Saya teringat kutipan syair seorang Arab Badui yang dikutip oleh ibnu ‘Arabī dalam al-Fuṣūṣ:
قد تخللت مسلك الروح مني # وَ بِذَا سمي الخلييل خليلا
“Engkau telah merasuk ke dalam suluk roh dariku.
Oleh karena itu, seorang kekasih dinamakan kekasih.”
Sesungguhnya di dalam ketaatan kepada seorang Khalīfah terdapat samudera ilmu jasmani dan rohani yang tiada bertepi. Sebagai khātimah bagian ini, alangkah baiknya bila saya cantumkan doa yang diajarkan kepada Ḥaḍrat Masīḥ Mau’ūd a.s. dalam I‘jāz al-Masīḥ. Semoga Allāh meniupkan ruh keberkatan dalam tulisan ini dan semoga Dia menjadikan hati manusia tertarik kepadanya.
أللهم انفخ روح بركات في كلامنا و اجعل أفئدة الناس تهوي إليه
آمين أللهم يا ناصر الربانيين
TERMINOLOGI Aḥmadiyyah tentang Nabi dan rasul
Al-Jamā‘ah al-Islāmiyyah al-Aḥmadiyyah berpandangan bahwa nabi dan rasul pada hakikatnya sama. Dua istilah tersebut tidak mencerminkan perbedaan, tetapi dipergunakan sesuai dengan konteks yang saling berhubungan. Pendiri Aḥmadiyyah, Ḥaḍhrat Mirzā Ghulām Aḥmad a.s. bersabda:
“Hal ini perlu diingat bahwa kata nabi secara literal berarti seseorang yang menyingkapkan ilmu-ilmu ghaibiyyah setelah diberitahu oleh Tuhan. Oleh karena itu, konotasi ini dijustifikasi di mana pun terlaksana. Seorang nabi haruslah menjadi seorang rasul. Karena, apabila ia bukan seorang rasūl, maka ia tidak bisa menjadi penerima ilmu-ilmu ghaibiyyah sebagaimana diindikasikan oleh ayat:
فَلاَ يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهۤ, أَحَدًا . إِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ .
“«Falā yuẓhiru ‘alā ghaibihī aḥadā[n]. Illā manir-taḍā mir-rasūl[in].” Dia tidak menampakkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diriḍai-Nya.’ (Al-Qur’ān Sūrah {QS} [Al-Jinn] 72:27—28)
“Karenanya, setiap orang yang diutus oleh Tuhan disebut sebagai rasul.”
Lagi:
“Kata nabi sama-sama terdapat dalam bahasa Arab dan Ibrani. Dalam bahasa Ibrani, kata itu diucapkan ‘nabī’ yang berasal dari akar kata nabā’, yang berarti menubuatkan ilmu-ilmu yang diperoleh dari Tuhan. Seorang nabi tidaklah harus menjadi musyarri‘. Semata-mata karunia Tuhan-lah kabar-kabar gaib disingkapkan.”
Sabda-sabda beliau a.s. di atas sangat jelas menerangkan pondasi pendapat Aḥmadiyyah tentang masalah ini. Kita beranggapan bahwa kedua kata itu sejatinya adalah mutarādif (sinonim). Sama seperti kita menyebut seseorang gubernur jika kita memandangnya menurut kacamata politik. Dari sisi pemerintahan, kita menyebutnya kepala daerah tingkat satu. Dua istilah itu disandang oleh satu orang secara bersamaan dalam satu waktu. Demikian juga pangkat kenabian dan kerasulan disandang oleh seseorang dalam waktu yang sama secara serempak.
Sebenarnya apa arti nabi itu? Secara singkat, definisi itu telah disebutkan di atas. Namun, beliau a.s. menjelaskan lebih lanjut:
“Sepanjang yang saya tahu, nabi adalah ia yang secara sendirian turun firman Tuhan atasnya di dalam suatu bentuk yang mengatasi segala keraguan dan turun dalam satu jumlah yang sangat banyak meliputi pengetahuan-pengetahuan yang diketahui oleh manusia.”
Lagi:
“Ketika komuni wahyu itu, dalam pembawaan dan banyaknya, mencapai titik kesempurnaan, titik kepenuhan, tidak ada ketidakbecusan serta cacat yang tertinggal di dalamnya, dan meliputi ilmu-ilmu ghaib di atas pengetahuan manusia, dengan kata lain, hal itulah yang didenotasikan sebagai nabī, sebagaimana disepakati oleh seluruh nabī.
“Mendapat firman Tuhan yang mencakup ilmu-ilmu ghaib dan nubuatan-nubuatan yang luar biasa dalam keagungan, seseorang yang berkomunikasi dengan khalayak ramai seraya menggunakan kata-kata ini, disebut sebagai nabi dalam terminologi Islam.”
Sabda-sabda beliau ini memberikan penerangan yang sempurna kepada kita. Bila seseorang mengaku mendapat wahyu-wahyu dan ilhām-ilhām secara terus-menerus dari Allāh, yang mana hal itu melenyapkan keraguan di dalam hatinya, dan dia diperintah untuk memproklamasikan bahwa dirinya telah diutus, maka orang yang mendapat karunia itu disebut nabī. ibnu Barrī berkata:
المخبر عن الله تعالى، فإن الله أخبره بتوحيده، و أطلعه على غيبه و أعلمه أنه نبي
“Nabī adalah seorang pengabar dari Allāh Ta‘ālā. Sebab Allāh mengabarkannya dengan tauhīd-Nya, menyibakkan kepadanya keghaiban-Nya, dan memberitahukannya bahwa ia adalah nabī-Nya.”
Bagaimana cara Allāh menampakkan kegaiban-Nya kepada seorang nabi dan mengajarkannya ilmu-ilmu rohaniah? Kita membaca:
وَ مَآ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْۤ إِلّيْهِمْ .
 “«Wa mā arsalnā qablaka illā rijālan-nūḥī ilaihim». Dan tidaklah Kami mengutus sebelum engkau kecuali para laki-laki yang kami berikan wahyu kepada mereka….” (QS [Al-Anbiyā’] 21:8)
Seorang nabi pastilah memiliki sifat-sifat wajib, yang salah satunya adalah tablīgh, yakni menyampaikan. Hal ini menjadi wajib karena wahyu-wahyu yang ia terima ditujukan kepada umatnya, bukan semata-mata untuk kepentingannya sendiri. Ada yang bersifat tabsyīrī (kabar gembira), ada pula yang bernada indzārī (kabar pertakut). Wahyu berfungsi sebagai penolong akal pada masalah-masalah spiritual, sebagaimana pengalaman adalah penolong akan dalam masalah-masalah materil. Wahyu adalah tuntunan. Tanpa adanya wahyu, manusia tidak mampu membedakan antara yang baik dan yang benar, mereka akan cenderung egois dan mementingkan kepentingan personalnya (Homo economicus). Jika hal ini tak terbendung dan dibiarkan terus-menerus, mereka bertransformasi tak ubahnya persis seperti serigala yang saling terkam satu sama lain (Homo homini lupus). Wahyu adalah sesuatu yang dengannya rūḥānīyyat manusia dapat hidup dan eksis. Oleh karena itu, wahyu disebut dalam al-Qur’ān sebagai roh. Kita membaca:
يُلْقِى الرُّوْحَ مِنْ أَمْرِه, عَلٰى مَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِه, لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ .
“…«Yulqīr-rūḥa min amrihī ‘alā may-yasyā’u min ‘ibādihī liyuŋdzira yaumat-talāq[i]». Dia meniupkan roh dengan membawa perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan manusia tentang hari pertemuan.” (QS [al-Mu’min] 40:16)
Al-‘Allāmah Abū Su‘ūd menafsirkan ayat ini dengan:
أي ينزل الوحي الجاري من القلوب منزلة الروح من الأجساد
“Yakni, Dia menurunkan wahyu yang mengalir dari hati  sama seperti kedudukan roh terhadap jasad.”
Dan beliau menyebutkan pula sebelumnya bahwa wahyu itu adalah “الرزق الروحاني”—rizqi rūhānī.
Ṣāḥib al-Khāzin dalam tafsir beliau mengatakan:
يلقي الروح أي ينزل الوحي، سماه وحيا لأن به تحيا الأرواح كما تحيا الأبدان بالأرواح
“Meniupkan roh artinya menurunkan wahyu. Dia menamakannya wahyu karena dengannya, roh dapat hidup, sebagaimana badan dapat hidup dengan roh.”
Oleh sebab itu, mustahil bagi seorang nabi untuk mempunyai sifat katm, yakni mennyembunyikan apa yang ia terima dari Allāh. Apalagi, segala sesuatu yang datang dari Tuhan adalah ni‘mat (nikmat). Dan nikmat itu haruslah disebarkan agar orang banyak pun dapat mencicipi kasih sayang Ilahi itu. Tuhan berfirman:
وَ أَمَّا بِنِعمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ .
“«Wa ammā bini’mati rabbika faḥaddi». Dan berkenaan dengan nikmat dari Rabb engkau maka ceritakanlah!” (QS [Aḍ-Ḍuḥā] 93:12)
Nah, ketika seorang nabi diperintahkan untuk menyampaikan wahyu-wahyu yang ia terima dan membimbing serta menuntun manusia dengannya, maka ia disebut sebagai rasul. Kita membaca:
يٰۤأَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ، وَ إِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَه، .
“«Yā ayyuhar-rasūlu balligh mā uŋzila ilaika mir-rabbika, wa il-lam taf‘al famā ballaghta risālatah». Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb engkau. Dan jika tidak kamu kerjakan, maka kamu tidak menyampaikan risalah-Nya….” (QS [al-Mā’idah] 5:68)
Taktala seorang rasul telah diutus ke tengah-tengah manusia, seperti yang sudah diterangkan di atas, ia wajib mengabarkan dan menginformasikan berita-berita ghaibiyyah yang ia terima, baik itu berupa perintah, larangan, kabar gembira, kabar pertakut, dan al-umūr al-mustaqbaliyyah (perkara-perkara yang akan terjadi di masa mendatang). Oleh karena itu, juga seperti yang sudah diterangkan dalam definisi-definisi di atas, ia disebut sebagai nabi.
Pada bagian selanjutnya, saya akan membahas dan mengupas dalil-dalil yang dijadikan argumentasi-argumentasi untuk membuktikan bahwa nabi dan rasul adalah dua pribadi yang berlainan. Detail argumentas-argumentasi tersebut dapat dibaca di link yang saya tampilkan di atas. Selain itu, ada dua poin tambahan yang saya tambahkan juga setelah saya melakukan perburuan di internet.
رب زدني علما و ارزقني فهما
ربي علمني ما هو خير عندك ، رب أرني أنوارك الكلية، رب أرني حقائق الأشياء
آمين اللّٰهم يا ولي المتألهين
———
BAGIAN II: Menjawab Poin-poin Sanggahan
1.                  PERKATAAN “Jenjang kerasulan lebih tinggi daripada jenjang kenabian karena tidak mungkin seorang itu menjadi rasul kecuali setelah menjadi nabi” adalah sama sekali mengada-ngada dan tidak mendasar. Allāh subḥānaHū wa Ta‘ālā (swt.) befirman tentang nabī Mūsā a.s.:
وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ مُوْسٰۤى ، إِنَّه كَانَ مُخْلَصًا وَّكَانَ رَسُوْلًا نَّبِيًّا .
“«Wadzkur fīl-kitābi Mūsā, innahū kāna mukhlaṣaw-wakāna rasūlan-nabiyyā». Dan ceritakanlah kisah Mūsā seperti tercantum dalam Alkitab. Sesungguhnya ia seorang mukhlaṣ, seorang rasul lagi nabi.” (QS [Maryam] 19:52][1]
Dalam ayat ini, kata «rasūl» adalah “khabar kāna awwal.” Sedangkan «nabī» adalah “khabar kāna tsānī.” Pendahuluan kata “rasūl” di depan “nabī” ini menunjukkan bahwa rasūl-lah sejatinya yang termasuk nabi, bukan nabi yang termasuk rasul. Mengapa? Karena al-Qur’ān disusun dengan suatu tertib yang khas, satu kata mengikuti kata yang lain, sehingga membentuk suatu pertalian yang kuat.
Allāh berfirman:
وَ لَقَدْ وَصَّلْنَا لَهُمُ الْقَوْلَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ .
“«Wa laqad waṣṣalnā lahumul-qaula la‘allahum yatadzakkarūn». Dan sesungguhnya telah Kami turunkan perkataan secara berturut-turut kepada mereka, supaya mereka mendapat pertolongan.” (QS [Al-Qaṣaṣ] 28:52)
Aabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān mengatakan, sembari mengutip syi‘r al-Akhal, bahwa kata وصل(waṣala) pada aslinya bermakna «و أصله من وصل الحبال بعضها ببعض », “Yakni menghubungkan satu tali dengan yang lainnya.”
Ar-Rāghib al-Ishfahānī dalam al-Mufradāt menafsirkan ayat ini dengan «أكثرنا لهم القول موصولا بعضه ببعض», “Kami memperbanyak perkataan kepada mereka dengan bersambungan satu dengan yang lainnya.”
Setelah mengetahui bahwa al-Qur’ān dirancang dengan susunan tartīb yang rapi dan saling bersambungan, maka penempatan kata “rasūl” di depan kata “nabī” ini jelas menunjukkan bahwa Mūsā a.s. pada awalnya adalah seorang rasul, kemudian menjadi nabi.
Al-‘Allāmah Abū Su‘ūd menafsirkan ayat dari sūrah Maryam di atas dengan sangat jelas «أرسله الله إلى الخلق فأنبئهم عنه», “Allāh mengutusnya kepada manusia, lalu Dia mengabarkan berita-berita kepada mereka melaluinya (Mūsā).”
Jadi, “risālah” itu pada hakikatnya adalah uṣūl, sedangkan furū‘-nya adalah “nubuwwah.”
Ḥaḍrat Mirzā Basyīrud-Dīn Maḥmūd Aḥmad r.a. bersabda dalam Tafsīr Kabīr:
“Mafhūm yang benar dari tafsīr ayat itu adalah seperti yang Jemaat kita sebutkan, yakni bahwa rasūl adalah orang yang diutus dan dibangkitkan, sedangkan nabī adalah orang yang memberitakan dan mengabarkan. Dan ini adalah ṣaḥīḥ dengan sempurna.
“Ketika seseorang pada awalnya adalah mursal lalu dijadikan nabī, yakni bahwa dia pada awalnya diutus kemudian mengabarkan kepada manusia tentang berita-berita Ilahiyah yang diembannya, maka teranglah bahwa maqām risalah itu terdahulu sebelum nubuwwah, ketika mustahil bagi seseorang untuk menjadi seorang nabi sebelum ia menjadi seorang rasul.
“Misalnya, ketika Allāh berfirman kepada nabi kita ‘Wahai Muḥammad! Aku membangkitkan engkau untuk mengadakan iṣlāḥ terhadap dunia,’ maka beliau menjadi rasul. Dan ketika Nabi saw. bersabda ‘Wahai para penduduk Mekkah, saya memberitakan dan mengabarkan kepada kalian ini dan ini dari Allāh,’ maka beliau menjadi nabi.
“Dan sebagai contoh lagi, ketika Allāh berfirman kepada nabi ‘Īsā a.s. ‘Wahai ‘Īsā, Aku mengutus engkau kepada manusia,’ maka beliau menjadi rasul. Dan ketika nabi ‘Īsā a.s. mengatakan ‘Wahai manusia, Aku mengabarkan kepada kalian bahwa Allāh telah menyuruh kalian untuk melakukan ini,’ maka beliau menjadi nabi.
“Hal itu disebabkan oleh bahwa rasul adalah orang yang memperoleh suatu risalah dan nabi adalah orang yang mengabarkan risalah itu ketika wajib baginya untuk mendengar terlebih dahulu kemudian mengabarkan apa yang ia dengar. Jika tidak, bagaimana mungkin ia menyampaikan terlebih dahulu baru kemudian mendengar setelahnya?
“Oleh karena itu, kapan saja kata nabī dan rasūl terdapat di dalam al-Qur’ān secara bersamaan, kata rasul selalu terdahulu di depan nabī.
“Muḥammad bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kamu melainkan dia adalah rasul Allāh dan khātaman-nabiyyīn. Dan sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui atas segala sesuatu.” (QS [Al-Aḥzāb] 33:41)
“Yakni orang-orang yang mengikuti rasul-lagi-nabi yang ummī itu….” (QS [Al-A‘rāf] 7:158)
“Maka berimanlah kepada Allah dan Rasūl-Nya-lagi-nabi yang ummī….” (QS [Al-A‘rāf] 7:159)
“Anda lihat bahwa Allāh menyebut kata “rasūl” sebelum “nabī” di setiap tempat itu. Dan Allāh pun berfirman dengan hal yang sama tentang itu mengenai nabi Isma‘īl a.s. bersamaan dengan fakta—menurut pengertian mayoritas—bahwa beliau tidak membawa kitab apa pun dan beliau hanyalah seorang pengikut bagi syariat (syariat) yang dibawa oleh nabi Ibrāhīm. Dan tidak ada yang beriman kepada nabi Ibrāhīm a.s. kecuali: nabi Isma‘īl a.s., nabi Ishāq a.s., nabi Lūth a.s., dan beberapa pelayan beliau. Seandainya nabi Isma‘īl a.s. datang secara langsung sesudah nabi Ibrāhīm a.s. dengan membawa kitab yang terpisah, maka siapakah yang beramal dengan syariat beliau? Maka jelaslah bahwa apa yang al-Qur’ān sebutkan juga mengenai nabi Isma‘īl a.s. membantah apa yang disebutkan oleh para ghair Ahmadi seputar nabi dan rasul.
“Sejatinya, nabi dan rasul adalah sesuatu yang sama. Karena rasul berarti yang diutus, sedangkan nabi berarti seseorang yang datang dengan menerima banyak berita. Dan dari antara hal-hal yang jelas adalah bahwa seseorang yang Allāh bangkitkan sebagi seorang rasūl, pastilah dia mendapat suatu risālah. Dan seseorang yang mengabarkan kepada manusia kabar-kabar ghaib, ia pasti merupakan seseorang yang diutus dari Allāh juga. Orang yang diperintah dari sisi Allāh dinamakan rasul karena dia diutus dari sisi Allāh. Dan dia dinamakan nabi karena dia mengkabarkan kabar-kabar ghaib kepada manusia. Maka, seseorang yang Allāh Ta‘ālā utus sebagai seorang rasūl, niscaya ia juga merupakan seorang nabī, karena Allāh tidak membangkitkan seseorang dengan tanpa suatu risalah apa pun. Dan seorang nabi pastilah juga merupakan seorang rasul. Karena, seandainya ia tidak diutus, maka dia adalah muftarī (pengada-nada) dengan tanpa keraguan sedikit pun. Padahal orang-orang yang diperintah dari sisi Allāh bukanlah para pengada-ngada.”
“Al-‘Allāmah Jalāl-ud-Dīn as-Suyūthī r.h. mengatakan dalam Tadrīb ar-Rāwī:
هما بمعنى و هو الأولى
‘Nabi dan rasul bermakna satu dan inilah yang paling benar.’
“Adalah suatu hal yang sangat aneh bahwa, guru-guru agama semenjak SD telah menanamkan bahwa ada empat sifat wajib bagi nabī, yang salah satu di antaranya adalah tablīgh. Tapi, di satu sisi, mereka mengajarkan juga bahwa seorang nabi tidak harus menyampaikan (tablīgh) wahyu yang ia terima. Betapa janggalnya hal ini!
“Sebenarnya, kata nabi itu adalah sebutan untuk para rasul yang diutus dari kalangan manusia. Allāh Jalla Sya’nuHu berfirman:
‘Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu.’ (QS [Az-Zukhrūf} 43:7)
“Kita membaca dalam Ṣaḥīḥ Muslim berkenaan dengan riwayat keislaman Ḥaḍrat ‘Amr ibnu ‘Abāsah:
فقلت له ما أنت قال أنا نبي فقلت وما نبي قال أرسلني الله
‘Aku bertanya Siapakah engkau? Beliau menjawab: Saya adalah nabī. Aku bertanya: Apakah nabi itu? Beliau menjawab: Allāh mengutus aku.’[2]
“Dalam Ṣaḥīḥ Bukhārī, nabi Muḥammad saw. mengajarkan suatu doa kepada Ḥaḍratal-Barrā’ ibnu ‘Āzib r.a.:
أللهم أسلمت وجهي إليك وفوضت أمري إليك وألجأت ظهري إليك رغبة ورهبة إليك لا ملجأ ولا منجا منك إلا إليك اللهم آمنت بكتابك الذي أنزلت وبنبيك الذي أرسلت
‘Ketika Ḥaḍrat al-Barrā’ r.a. mengulangi doa ini, beliau mengucapkan و رسولكbukan ونبيك. Kemudian Nabī (saw.) menegur لا ونبيك الذي أرسلت, “Tidak! Tetapi: Dan nabi Engkau yang Engkau utus.”’[3]
“Dengan dua keterangan dari ḥadīṡ ini, jelas bahwa kata nabi itu pada hakikatnya merupakan sebutan bagi para rasul yang diutus dari kalangan manusia. Lantas adakah para rasul yang diutus bukan dari kalangan manusia? Para malaikat pun disebut sebagai rasul dalam al-Qur’ān. Allāh berfirman:
‘Segala puji kepunyaan Allāh, Yang menciptakan seluruh langit dan bumi, Zat yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan… (QS [Fāir] 35:2)
‘Allāh memilih rasūl-rasūl-Nya dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allāh Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS [Al-Ḥajj] 22:76)’
“Salah satu tugas dari rasul malaikat itu adalah menyampaikan risalah dan mandat dari Tuhan kepada rasul manusia. Fakhr-ud-Dīn ar-Rāzī mengatakan:
و أكثر الأنبياء مطبقون على أنهم إنما جائتهم الرسالة من عند الله بواسطة الملك
‘Kebanyakan para nabi disepakati bahwa risalah dari Allāh datang kepada mereka melalui perantaraan malaikat.’
“Oleh karena rasul malaikat bertugas menyampaikan risalah kepada malaikat, juga membantu dan menolong-nya, maka jelaslah bahwa kedudukan rasul malaikat sejatinya adalah khaddim bagi rasul manusia. Dan oleh karena rasul malaikat adalah khaddim bagi rasul manusia, maka sebagaimana yang ‘Abd-ul-Qāhir al-Baghdādī tulis:
فقال جمهور أصحابنا بتفضيل الأنبياء على الملائكة
‘Kesepakatan para sahabat kami mengatakan bahwa para nabi lebih mulia daripada malaikat.’
“Jadi, perkataan ‘Tidak mungkin seorang itu menjadi rasul kecuali setelah menjadi nabi’ adalah aneh dan nyeleneh.
“Perkataan «Oleh karena itulah, para ulama menyatakan bahwa nabi Muḥammad saw. diangkat menjadi nabi dengan lima ayat pertama dari QS Al-‘Alaq dan diangkat menjadi rasul dengan dengan tujuh ayat pertama dari QS Al-Mudaṡṡir» adalah benar-benar ilegal dan tidak berdasarkan sama sekali.
“Kita sama-sama mengetahui bahwa QS Al-Mudaṡṡir ini diturunkan setelah masa fatrah wahyu selama empat puluh hari setelah turunnya wahyu pertama yang merupakan QS Al-‘Alaq. Kedua sūrah ini tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan sebagaimana disebutkan di atas. Tapi, sebenarnya, jika kita benar-benar menelaah kedua surat ini dengan seksama, maka akan jelaslah bagi kita bahwa kedua surat ini mengisahkan pengutusan nabi Muḥammad saw. sebagai seorang rasul. Mengapa? Sebabnya adalah bahwa Allāh banyak mempergunakan fi‘il Amr yang menandakan perintah. Al-‘Allāmah Abū Ḥayyān menafsirkan perintah «اقرأ» sebagai berikut:
و مفعول اقرأ محذوف ، أي اقرأ ما يوحى إليك
Maf‘ūl dari «Iqra’» adalah maḥdzūf (terhapus), yakni: Bacakanlah apa yang diwahyukan kepada engkau.’
“Jelas, ini adalah perintah untuk menyampaikan risalah yang diemban oleh nabi Muḥammad saw..
“Ibn ‘Athiyyah al-Andalusī menafsirkan «قم فأنذر» sebagai berikut:
بعثة إلى جميع الخلق
‘Suatu pembangkitan/pengutusan untuk segenap manusia.’
“Jelas sekali bahwa nabi Muḥammad saw., melalui ayat ini, diperintah untuk mengumumkan risalah yang diembannya. Mandat ini adalah risalah sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
“Ibn ‘Athiyyah juga menafsirkan «و ربك فكبر», sebagai berikut:
عظمه بالعبادة و بث شرعه
‘Agungkanlah Dia dan sebarkanlah syariat-Nya!’
“Lagi-lagi, ayat ini menunjukkan pengutusan nabi Muḥammad saw. dan penzahiran misi-misi yang disematkan ke pundak beliau.
“Beliau juga menafsirkan «و ثيابك فطهر» sebagai berikut:
قال الجمهور؛ هذه الألفاظ استعارة في تنقية الأفعال و النفس و العرض
Jumhūr berkata: Kata-kata ini adalah isti‘ārah dalam pemurnian perbuatan-perbuatan, jiwa, dan maksud/tujuan.’
“Pengemban risalah memang seharusnya berbuat demikian dalam menyampaikan risalah, dan demikianlah memang yang terjadi.
“Ḥaḍrat Abū Salāmah r.a. menafsirkan «الرجز» di sini sebagai berhala-berhala.[4] Menyingkirkan dan menghancurkan berhala-berhala adalah satu tugas yang termaktub dalam risalah yang dibawa oleh nabi Muḥammad saw. dan harus beliau sebarkan dan laksanakan.
“Ibn ‘Athiyyah menafsirkan sebagai «و لربك فاصبر» berikut:
على الأذى من الكفار
‘Terhadap penderitaan yang diprakarsai oleh orang-orang kafir.’
“Inilah konsekuensi bagi seorang rasul yang wajib hukumnya untuk dihadapi.
“Jadi, jelaslah sudah bahwa ayat-ayat dari kedua sūrah tersebut mengandung perintah bagi nabi Muḥammad saw. untuk mengumandangkan risalah beliau kepada khalayak ramai, bukan seperti yang diklaim oleh pihak ghair di atas yang terkesan sangat memaksakan.
“Tentang pendapat al-‘Allāmah as-Safārinī dan al-Ḥāfiẓ ibnu Kaīr, saya menghormati pendapat kedua ulama besar tersebut. Tetapi, tentu sebagai manusia, beliau berdua mungkin saja mengemukakan pendapat yang salah. Meskipun beliau berdua salah dalam ijtihād, toh dalam ḥadīṡ disebutkan bahwa seorang mujtahid yang salah tetap mendapat ganjaran satu pahala.
“Sebenarnya, apa itu nubuwwah? ibnu Hazm al-Andalusī mendefinisikannya seperti ini:
بعثة قوم قد خصهم الله تعالى بالحكمة و الفضيلة و العصمة لا لعلة إلا أنه شاء ذلك
‘Pembangkitan/pengutusan suatu kelompok manusia yang Allāh telah mengkhususkan mereka dengan hikmah, keutamaan, dan kesucian. Bukan untuk satu tujuan tertentu melainkan karena Allāh telah berkehendak demikian.’
“Definisi ini sangat jelas menunjukkan keidentikan dan similaritas antara nubuwwah dan risālah. Sebab itu, beliau berkata lagi:
إن مجيئ الرسل قبل أن يبعثهم الله تعالى واقع في باب الإمكان، و أما بعد أن بعثهم الله عز و جل ففي حد الوجوب
‘Sesungguhnya, kedatangan para rasul sebelum Allāh Ta‘ālā membangkitkan mereka berada pada pintu imkān (kemungkinan). Tetapi, setelah Allāh ‘azza wa jalla membangkitkan mereka, maka hukumnya wajib.’
“Di lain tempat, beliau bersabda pula:
فإذا قد أثبتنا أن النبوة قبل مجيئ الأنبياء واقعة في حد الإمكان، فلنقل الآن بحول الله تعالى و قوته على وجوبه إذا وقعت و لا بد
‘Maka, setelah kita menjelaskan bahwa nubuwwah terletak dalam kemungkinan sebelum kedatangan para nabī, maka hendaknya kita mengatakan, dengan kekuasaan dan kekuatan Allāh, akan hukumnya yang wajib jika hal itu telah benar-benar terjadi (datangnya para nabī) dan itu adalah pasti.’
“Lihatlah bagaimana beliau mengidentikkan rasul dengan nabi. Bahkan beliau dengan terang menyatakan bahwa maqam nubuwwah belum wajib hukumnya sampai diutusnya para rasul, yakni mandat untuk mengemban risālah. Ada dua poin krusial yang dapat kita ambil dari keterangan-keterangan beliau ini:
·         Nabi dan rasul sejatinya adalah satu personifikasi yang sama;
·         Maqām nubuwwah tidak dapat terlaksana dan befungsi sebelum seseorang mendapat mandat sebagai rasul untuk mengemban risālah.
“Keterangan-keterangan di atas adalah bukti yang irrefutable bahwa nabi dan rasul sejatinya adalah dua sebutan yang penyebutannya terkondisikan terhadap kondisi-kondisi yang melahirkan dua penyebutan tersebut untuk satu orang yang sama. Dan nabi sejatinya adalah istilah untuk rasul yang terpilih dari kalangan manusia. Oleh sebab itu, seseorang tidak bisa dikatakan sebagai nabi sebelum ia diutus oleh Tuhan dan memperoleh maqam risālah.”
2.                  PERKATAAN “Rasūl diutus kepada kaum yang kāfir, sedangkan nabi diutus kepada kaum yang telah beriman” adalah gharīb jiddan. Saya baru pertama kali mendengarnya. Orang yang mengatakan demikian pasti sangat jarang mengkhatamkan al-Qur’ān, apalagi bertafakkur dan bertadabbur.
Allāh berfirman:
“Dan tiada seorang pun nabi datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokannya.” (QS 43:7)
Bentuk kalimat yang digunakan di sini adalah persis sama dengan yang tertulis dalam QS Yāsīn:
“Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu! Tiada seorang pun rasul datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokannya.” (QS [Yāsīn} 36:31)
Para nabi tidak hanya didustakan dan diperolok-olok saja, bahkan sebagian mereka ada yang dibunuh. Kita membaca:
“Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allāh. Hal itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allāh dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu terjadi karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (QS [Al-Baqarah] 2:62)
“Katakanlah ‘Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allāh jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (QS 2:92)
`
“Sesungguhnya orang-orang yang kāfir kepada ayat-ayat Allāh dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih.” (QS [Āli ‘Imrān] 3:22)
“Yang demikian itu karena mereka kāfir kepada ayat-ayat Allāh dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar…” (QS 3:113)
“Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar…” (QS 3:182)
“Dan pembunuhan mereka terhadap nabi-nabi tanpa alasan yang benar….” (QS [An-Nisā’] 4:156)
Bagaimana dengan para rasul? Ternyata, mereka pun mengalami perlakuan yang sama dengan para nabi. Mereka pun bukan sekedar menjadi kāfir di mata orang-orang yang mendustakan, bahkan sebagian dari antara mereka pun dibunuh. Kita membaca:
“Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu pelajaran yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang di antara mereka kamu dustakan dan beberapa orang yang lain kamu bunuh?” (QS 2:88)
Keterangan-keterangan dari al-Qur’ān di atas membuktikan dengan sejelas-jelasnya bahwa nabi dan rasul itu satu orangnya.
Berkenaan dengan ḥadīṡ yang dikutip oleh penulis ghair Ahmadī, itu tidak ada pertaliannya dengan topik yang sedang dibahas. Ḥadīṡ itu menerangkan sistem kepemimpinan rohaniah yang berlangsung di dalam Banī Isrā’īl (Bani Israil). Nah, jika kita memperhatikan dengan seksama, gerangan apa yang menyebabkan diutusnya para nabi secara konsekutif di dalam Bani Israil? Jawabannya adalah karena mereka memiliki moral dan rohaniah yang rendah sehingga selalu membutuhkan quwwat qudsiyyah dan nafs nāiqah para nabī. Mereka bukanlah suatu umat yang mandiri dan teguh, sebaliknya keras kepala dan senantiasa membutuhkan bimbingan. Terbukti, meskipun ribuan nabi diutus untuk mengadakan iṣlaḥ bagi mereka, mereka malah semena-mena membunuh mereka karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka.
3.                  PERKATAAN “Para rasul diutus dengan membawa syariat baru” adalah salah. Di poin pertama sudah saya jelaskan bahwa nabi Isma‘īl a.s. pun disebut sebagai seorang rasūl, namun beliau hanya mengikuti dan menjalankan syariat nabi Ibrāhīm a.s..
Ayat-ayat yang dikutip untuk mendukung pemahaman sang penulis pada dasarnya tidak mendukung sama sekali. Penulis terkesan terlalu memaksakan legitimasi ayat-ayat untuk menyokong pemahaman beliau. Baiklah, kita bahas ayatnya satu per satu.
Penulis tidak mengutip ayat QS Al-Mā’idah itu secara lengkap dan utuh. Terjemah utuhnya adalah sebagai berikut:
“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’ān dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allāh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allāh menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allāh-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”
Ayat ini sejatinya menerangkan peran al-Qur’ān sebagai penjaga kitab-kitab terdahulu dalam artian bahawa al-Qur’ān telah mempertahankan kebenaran-kebenaran yang terdapat pada kitab-kitab itu dengan mencakup kesemuanya itu di dalam wujudnya. Al-Qur’ān di satu sisi juga meninggalkan segala cacat dan kekurangan yang terdapat pada kitab-kitab terdahulu, itu karena sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan zaman. Sebaliknya, al-Qur’ān memenuhi seluruh kebutuhan manusia sepanjang zaman. Dan al-Qur’ān juga mendapat proteksi ilahiyah terhadap kemurnian dan keasliannya. Oleh karena itu, kita wajib berhukum kepada al-Qur’ān tentang segala permasalahan.
Apabila kita tidak teliti membaca, maka ḍamīr «كم» (kam) akan terkesan merefer kepada rasūl, padahal tidak ada kata rasul sama sekali dalam ayat itu. Sedangkan kata «شرعة» (syir‘ah) dan «منهاج» (manḥāj) merujuk kepada al-Qur’ān. Abū al-‘Abbās ibnu Yazīd al-Mubarrad, sebagaimana dikutip oleh asy-Syaukanī, mengatakan bahwa syir‘ah berarti permulaan jalan dan manḥājberarti jalan yang berkesinambungan. Abū al-Ḥusain Aḥmad ibnu Fāris mengatakan bahwa syir‘ah adalah musytaqq dari syir‘ah yang berarti hukum dalam perkara agama. Hadhrat ibnu al-‘Abbās(ra) menafsirkan syir‘ah sebagai الدين (ad-dīn) yakni agama, sedangkan manḥājberarti الطريق (aarīq), yakni pathway.
Ḥaḍrat al-Muṣliḥ al-Mau‘ūd r.a. menyimpulkan bahwa syir‘ah adalah hukum yang mengatur perkara-perkara keagamaan, sedangkan manḥājmengatur perkara-perkara duniawi. Semua keterangan ini menunjukkan bahwa kedua kata itu merefer pada al-Qur’ān, bukan kepada syariat-syariat para rasul.
Penulis beranggapan bahwa nabi ‘Īsā a.s., selaku seorang rasūl, beliau datang dengan syariat tersendiri dan mengubah beberapa hukum syariat nabi Mūsā a.s.. Dengan berkata seperti ini, penulis sama saja memansukhkan pernyataan beliau selanjutnya yang berbunyi:
“Adapun para nabī, mereka datang bukan dengan syariat baru, akan tetapi hanya menjalankan syariat rasul sebelumnya. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada nabi-nabi Bani Israil, kebanyakan mereka menjalankan syariat nabi Mūsā a.s..”
Sejatinya, ‘Īsā a.s., sama seperti para rasul sesudah Mūsā a.s., hanya menjalankan syariat beliau. Kita membaca:
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Alkitab kepada Mūsā, dan Kami menyusulinya berturut-turut sesudah itu dengan rasūl-rasūl…” (QS 2:88)
Ayat ini dengan terang membantah argumentasi penulis tersebut. Para rasul di atas berfungsi sebagai pengikut dan pelaksana  syariat nabi Mūsā a.s., bukan penyandang syariat yang berbeda-beda. Kita mengetahui bahwa ‘Īsā a.s. termasuk di antara para rasul tersebut. Kita membaca:
“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan ‘Īsā ibnu Maryam….” (QS 5:47]
Semua nabi Bani Israil yang diutus setelah nabi Mūsā a.s. berhukum dan tunduk kepada Taurāt.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurāt di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, yang dengannya diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allāh….” (QS 5:45)
Poin pertama yang kita dapat adalah bahwa ‘Īsā a.s. hanyalah seorang pengikut syariat mūsawiyyah, yang tunduk dan berhukum berdasarkan apa yang ada di dalam Taurāt. Setelah ini jelas, maka perkataan beliau—“Dan untuk menghalalkan bagi kalian sebagian yang dulu diharamkan untuk kalian”—pasti mengandung mafhūm yang lain.
Ḥaḍrat al-Muṣliḥ al-Mau‘ūd r.a. menerangkan:
‘Īsā a.s. datang untuk menggenabi nubuwat-nubuwat para nabi terdahulu yang tercantum dalam Taurāt. Tetapi, beliau tidak membawa hukum beliau, hanya menjadi pengikut Mūsā a.s. dalam hal ini. Beliau sendiri sadar akan terbatasnya wewenang beliau.
“Beliau bersabda, ‘Janganlah kamu menyangkan, bahwa aku datang untuk meniadakan humum Taurāt atau kitab para nabī. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurāt, sebelum semuanya terjadi. (Matius 5:17—18)’
“Ungkapan ‘Dan untuk menghalalkan bagi kalian sebagian yang dulu diharamkan untuk kalian’, oleh karena itu, tidaklah merefer kepada perubahan atau modifikasi apa pun dalam hukum mūsawī. Ungkapan itu hanyalah ditujukan kepada hal-hal yang orang-orang Yahudi sendiri mengharamkannya untuk diri mereka. Di tempat lain, al-Qur’ān berkata:
‘Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas memakan makanan yang baik-baik yang dahulunya dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allāh. (QS 4:161)’
“Dan:
‘Dan tatkala ‘Īsā datang membawa keterangan dia berkata, Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertaqwalah kepada Allāh dan taatlah kepadaku. (QS 43:64)’
“Kedua ayat ini menunjukkan bahwa ada pertentangan-pertentangan antara firqah-firqah Yahudi mengenai kehalalan dan keharaman hal-hal tertentu. Dan disebabkan oleh kelaliman dan pelanggaran mereka, mereka telah mencabut diri mereka sendiri dari berkat-berkat ilahiyah tertentu itu. Oleh karena itu ‘Īsā a.s. datang untuk sebagai hakim untuk menentukan di dalam perkara-perkara yang mereka telah menyimpang dari jalan yang benar, dan untuk memberitahukan kepada mereka bahwa berkat-berkat yang mereka telah dicabut darinya akan dikembalikan asalkan mereka mengikuti beliau.
“Ibn Kaīr mengutip para ulama bahwa:
لم ينسخ منها شيئا، و إنما أحل لهم بعض ما كانوا يتنازعون فأخطأوا، فكشف لهم عن المغطى في ذلك
‘Beliau [‘Īsā a.s.] tidak memansukhkan apa pun dari Taurāt. Beliau hanya menghalalkan sebagian yang mereka saling bertentangan mengenainya maka mereka salah. Maka beliau menyingkapan hal-hal yang tertutup bagi mereka dalam perkara ini.’
“Abū Ḥayyān al-Andalusī mengutip sebagian mufassir:
حرم عليكم إشارة إلى ما حرمه الأحبار بعد موسى و شرعوه ، فكأن عيسى رد أحكام التوراة إلى حقائقها التي نزلت من عند الله
‘Kata «apa yang diharamkan atas kamu» adalah suatu isyarat yang mengarah kepada apa-apa yang para sarjana Yahudi haramkan dan inovasi dalam syariat. Jadi, seolah-olah Īsā a.s. mengembalikan hukum-hukum Taurāt kepada pengertian-pengertiannya yang benar sama seperti dengan apa yang Allāh turunkan.”
Nawwāb Shiddīq Ḥasan Khān mengutip Wahb ibnu Munabbih:
و عن وهب أن عيسى كان على شريعة موسى و كان يسبت و يستقبل بيت المقدس ، و قال لبني إسرائيل إني لم أدعكم إلى خلاف حرف مما في التوراة إلا لأحل لكم بعض الذي حرم عليكم و أضع عنكم الآصار
“Dari Wahb bahwa Īsā a.s. mengikuti syariat Mūsā a.s.. Beliau melaksanakan Sabat, menghadap Bait al-Maqdis. Dan beliau bersabda kepada Bani Israil: Sesungguhnya aku tidaklah menyuruh kalian untuk menyelisihi bahkan satu huruf pun dari Taurāt. Aku hanya menghapus beban yang dipundakkan atas kalian sebagai hasil inovasi kalian setelah Mūsā a.s..”
Keterangan-keterangan ini rasanya cukup untuk mematahkan argumentasi sang penulis yang dibangun berdasarkan ayat QS Āli ‘Imrān tadi. Sekarang kita beralih ke ḥadīṡ yang dikutip untuk menunjang pemahaman sang penulis.
Setelah saya cek, ternyata al-Bukhārī tidak mengeluarkan ḥadīṡ dengan matan yang dikutip oleh sang penulis. Namun benar adanya bahwa al-Imām Muslim ibnu Ḥajjāj mengeluarkan ḥadīṡ ini dalam Ṣaḥīḥ beliau, Kitāb al-Masājid Wa Mawāḍi‘ aṣ-ṣalāt. Juga bukan dari Ḥaḍrat Jābir ibnu ‘Abdil-Lāh r.a., melainkan Ḥaḍrat Abū Hurairah r.a..
“Yaḥyā ibnu Ayyūb, Qutaibah ibnu Sa‘īd, dan ‘Alī ibnu Ḥujr menceritakan kepada kami, mereka berkata; Isma‘īl (yakni ibnu Ja‘far) menceritakan kepada kami; dari al-‘Alā’, dari ayahnya, dari Ḥaḍrat Abū Hurairah r.a. bahwa Ḥaḍrat Rasūlul-Lāh saw. bersabda, «Aku diunggulkan di atas para nabi dengan enam hal; Aku dianugerahi perkataan yang singkat lagi padat (al-Qur’ān), aku ditolong dengan ketakutan dalam hati musuh, harta rampasan perang dihalalkan untukku, bumi dijadikan suci dan masjid untukku, aku diutus untuk seluruh umat manusia, dan para nabi dicap denganku.»”[5]
Ḥadīṡ ini tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah nabi dan rasul. Ḥadīṡ ini menjelaskan keutamaan dan keunggulan Ḥaḍrat Rasūlul-Lāh saw. dibanding nabi-nabi yang lain. Ucapan “Yang mana perkara ini telah diharamkan atas umat-umat sebelum beliau” sama sekali tidak berdasar. Pertama, interpretasi demikian tidak relevan dengan siyāq ḥadīṡ. Kedua, sekalipun kita kerucutkan poin kepada penghalalan harta rampasan perang saja, itu pun tidak berarti bahwa hal itu diharamkan bagi umat-umat terdahulu. Dalam Bible kita membaca bahwa ketika Bani Israil bertempur dan menang melawan bangsa Midian, Allāh berfirman mengenai hukum rampasan perang:
“Hitunglah jumlah rampasan yang telah diangkut, yang berupa manusia dan hewan—engkau ini dan Imām Eleazar serta kepala-kepala puak umat itu. Lalu bagi dualah rampasan itu, kepada pasukan bersenjata yang telah keluar berperang, dan kepada segenap umat yang lain.” (Bilangan 31:26—27)
Segala puji bagi Allāh Yang telah mematahkan helah mereka!
4.                  SAYA menangkap bahwa yang dimaksud penulis dengan nabi-nabi setelah Nūḥ a.s. adalah nabi-nabi yang tunduk dan patuh kepada syariat beliau, sebagaimana pengertian dan pemahaman penulis yang membedakan nabi dengan rasul. Seandainya yang diyakini penulis itu benar—sesuatu yang telah, sedang, dan akan kami buktikan kesalahannya—maka Nūḥ a.s. pun terkategorikan sebagai seorang nabī, artinya beliau tidak membawa syariat dan hanya menjalankan hukum-hukum dari seorang nabi musyarri‘ sebelum beliau. Mengapa? Karena huruf «و» (wau) yang digunakan di sini adalah «عطف العام على الخاص», yakni kata sambung yang berfungsi menjadikan sesuatu yang general sebagai penjelas sesuatu yang partikular. Nah, kata «النبيّين» atau para nabi yang bersifat umum di sini adalah penjelas dan penafsir dari entitas Nūḥ a.s.. Maka, menurut ayat ini, Nūḥ a.s. adalah seorang nabī. Dan menurut penulis tersebut, berdasarkan silogisme ini, Nūḥ a.s. tidak membawa syariat alias hanya menjadi nabi pengikut saja. Tentu ini kontradiktif dengan fikiran beliau yang tertuang dan mengatakan bahwa Nūḥ a.s. adalah nabi musyarri‘.
Sang penulis beristidlāl dengan ḥadīṡ syafā‘at bahwa Nūḥ a.s.-lah rasul pertama yang diutus oleh Allāh. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan dari pernyataan beliau bahwa para utusan sebelum Nūḥ a.s. hanyalah nabī, bukan rasul. Benarkah demikian? Dalam sebuah ḥadīṡ yang diriwayatkan oleh ibnu Ḥibbān, kita membaca:
“Muḥammad ibnu ‘Umar ibnu Yūsuf mengabarkan kepada kami; Muḥammad ibnu ‘Abd-ul-Malik ibnu Zanjawayh menceritakan kepada kami; Abū Taubah menceritakan kepada kami, Mu‘āwiyah ibnu Sallām menceritakan kepada kami; dari saudaranya Zayd ibnu Sallām, dia berkata:
Aku mendengar Abū Sallām berkata, ‘Saya mendengar Ḥaḍrat Abū Umāmah r.a. bahwa seorang laki-laki berkata, «Wahai Rasūlul-Lāh saw.! Apakah Ādam seorang nabi?»
‘Beliau bersabda, «Benar, mukallam
‘Laki-laki itu berkata lagi, «Berapakah selang waktu antara beliau dengan Nūḥ?»
‘Beliau bersabda, «Sepuluh abad.»’”[6]
Dalam Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk, Aṭ-Ṭabarī menyebutkan suatu ḥadīṡ yang menyerupai ḥadīṡ ini dengan tambahan «كلمه الله قبلا», “Allāh menyampaikan kalām-Nya (berkata-kata) kepada Ādam secara langsung berhadap-hadapan.”[7]
Di sini, Rasūlu’l-Lāh saw. menyebut Ādam a.s. sebagai nabi mukallam. Kita menjumpai dalam al-Qur’ān:
“Rasūl-rasūl itu Kami muliakan sebagian di antara mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata langsung dengan mereka dan Allāh meninggikan sebagian di antara mereka beberapa derajat…” (QS 2:254)
Ini sangatlah menarik bahwa baik nabi maupun rasul, Allāh bercakap-cakap langsung dengan mereka. Apa maksudnya ini? Ini adalah indikasi yang jelas bahwa nabi dan rasul itu sejatinya sama. Fakhrud-Dīn ar-Rāzī berkata:
أجمعت الأمة على أن بعض الأنبياء أفضل من بعض
“Umat ini telah berijmak bahwa sebagian dari antara para nabi lebih mulia daripada sebagian yang lain.”
Dengan pernyataan ini, kita mengetahui pandangan Ar-Rāzī bahwa nabi dan rasul itu sama. Jika tidak, pasti beliau akan menulis «بعض الرسل» sama seperti yang tertulis dalam ayat, bukan «بعض الأنبيآء».
Ternyata, suatu hal yang sangat mencengangkan bahwa Nabi saw. menyebut Ādam sebagai Awwal-ur-Rusul, yang pertama dari antara para rasul. Kita membaca dalam Tārīkh ad-Dimasyq:
“Abū Naṣr Muḥammad ibnu Ḥamd ibnu ‘Abdul-Lāh al-Kibrītī; Abū Muslim Muḥammad ibnu ‘Alī Mahrābazdannahwī memberitakan kepada kami; Abū Bakr ibnu al-Muqri’ memberitakan kepada kami; Abū ‘Urūbah al-Ḥarrānī menceritakan kepada kami; Zakariyyā ibnu al-Ḥakam menceritakan kepada kami; Abū al-Mughīrah menceritakan kepada kami; Haffān ibnu Rifā‘ah menceritakan kepada kami; ‘Alī ibnu Yazīd menceritakan kepadaku; dari al-Qāsim Abū ‘Abdir-Raḥmān, dari Ḥaḍrat Abū Umāmah r.a., bahwa Ḥaḍrat Abū Dzarr r.a. berkata, ‘Aku berkata, «Wahai nabi Allāh! Siapa nabi yang pertama itu?»
‘Beliau bersabda, «Ādam.»
‘Aku berkata lagi, «Apakah Ādam itu seorang nabī?»
‘Beliau bersabda, «Beliau adalah nabi mukallam, yang pertama di antara para rasūl.»’”[8]
Ada lagi ḥadīṡ lain yang mirip dengan yang di atas seperti dinukil oleh aabranī dalam al-Ausa:
“Al-‘Abbās ibnu amdān menceritakan kepada kami, dia berkata; ‘Muḥammad ibnu ‘Īsā ad-Dāmighānī menceritakan kepada kami, dia berkata, «Salamah ibnu Fadhl menceritakan kepada kami; dari Mīkāl, dari Layts, dari Ibrāhīm at-Taymī, dari ayahnya, dari Ḥaḍrat Abū Dzarr r.a.—beliau berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasūlu’l-Lāh saw.! Bukankah Tuan pernah melihat Ādam? Apakah beliau seorang nabī?’
“Beliau menjawab, ‘Ya, seorang nabi lagi rasul. Allāh bercakap-cakap kepada beliau secara langsung dengan saling berhadap-hadapan. Dia berkata kepada kepada beliau, Tinggallah engkau dan istri engkau di dalam kebun.‘”»’”[9]
“Muḥammad ibnu Abbān menceritakan kepada kami, ‘Muḥammad ibnu ‘Īsā ad-Dāmighānī menceritakan kepada kami; Salamah ibnu Fadhl menceritakan kepada kami; dari Mīkā’īl, dari Lai, dari Ibrāhīm at-Taimī, dari ayahnya, dari Ḥaḍrat Abū Dzarr r.a.—beliau berkata, «Aku berkata, “Wahai Rasūlu’l-Lāh saw.! Bukankah Tuan pernah melihat Ādam? Apakah beliau seorang nabī?”
«Beliau menjawab, “Ya, seorang nabi lagi rasul. Allāh bercakap-cakap kepada beliau secara langsung dengan saling berhadap-hadapan dengan beliau. Dia berkata kepada kepada beliau, ‘Tinggallah engkau dan istri engkau di dalam kebun.'”»’”[10]
Dalam kedua ḥadīṡ ini, kata “nabī” didahulukan di depan kata “rasūl”. Tapi, hal ini tidak melegitimasi bahwa maqām nubuwwah itu terdahulu daripada maqām risālah. Karena kedua-duanya itu ḍa‘īf yang munkar dan mu‘allal sehingga tidak bisa dipergunakan sebagai dalil. Aabranī berkomentar seusai mencantumkan ḥadīṡ yang pertama:
لم يروه عن إبرٰهيم التيمي إلا ليث ، و لا رواه عن ليث إلا ميكال و هو شيخ كوفي ، لا نعلمه أسند حديثا غير هذا
“Tidak ada yang meriwayatkannya dari Ibrāhīm at-Taymī kecuali Layts. Dan tidak ada yang meriwayatkannya dari Layts kecuali Mīkāl dan dia adalah Syaikh dari Kūfah. Kami tidak mengetahui apakah ia mengisnadkan ḥadīṡ selain ini.”
Dan pada ḥadīṡ yang kedua:
لم يروه عن إبرٰهيم التيمي إلا ليث ، و لا عن ليث إلا ميكآئيل ، و لا عن ميكآئيل إلا سلمة بن الفضل
“Tidak ada yang meriwayatkannya dari Ibrāhīm at-Taymī kecuali Layts. Juga tidak ada dari Layts kecuali Mīkā’īl (Mīkāl). Juga tidak ada dari Mīkā’īl kecuali Salamah ibnu al-Fadhl.”
Dari keterangan ini, kita mengetahui ada tiga orang rawī yang mutafarrid (bersendirian) dalam meriwayatkan. Menurut ilmu al-Mushthalahah, tafarrud itu adalah salah satu sebab ‘illat dalam ḥadīṡ. Kedua ḥadīṡ ini munkar karena ada rawī tunggal yang banyak kesalahan dan lemah ketsiqahannya, yakni Salamah bin al-Fadhl.
Ibn ‘Adī al-Jurjānī mengutip al-Imām al-Bukhārī «ضعفه إسحاق بن إبرٰهيم الحنظلي», yakni Isḥāq ibnu Ibrāhīm al-Ḥanzhalī mengkategorikannya (Salamah ibnu al-Faḍl) ḍa‘īf. Al-Ḥanzhalī, menurut al-Mizzī dalam Tahdzīb al-Kamāl dan al-Ḥāfiẓ dalam Tahdzīb at-Tahdzīb, adalah seorang yang terpercaya, hāfizh, mujtahid, dan termasuk ulama yang mumpuni dalam hapalan, keilmuan, dan kefaqihannya. Tauīq dan taḍ‘īf orang seperti beliau adalah maqbūl di kalangan muḥaddiīn.
Kembali kepada Salamah. Al-Bukhāri mengatakan lagi «في حديثه بعض المناكير», yakni di dalam ḥadīṡ Salamah terdapat beberapa yang munkar. ibnu Ḥibbān dalam al-Majrūḥīn menyatakan «ضعفه ابن راهويه», yakni ibnu Rāhawayh menggolongkannya ḍa‘īf. Mengenai Isḥāq ibnu Rāhawayh, al-Imām Aḥmad ibnu Ḥanbal menyatakan «إذا حدثك أبو يعقوب أمير المؤمنين فتمسك به», “Apabila Abū Ya‘qūb (Isḥāq ibnu Rāhawayh), Amīr al-Mu’minīn, menceritakan sesuatu, maka berpegang-teguhlah dengannya.”
Ibn ‘Adī dan ibnu Ḥibbān juga telah memasukan kedua ḥadīṡ tersebut dalam kitab-kitab mereka masing-masing. ibnu ‘Adī dalam al-Kāmil dan ibnu Ḥibbān dalam al-Majrūḥīn.
Sampai di sini, jelaslah sudah bahwa Ādam a.s. adalah rasul juga, karena nabi dan rasul itu satu adanya.
Sebagai tambahan, apa sesungguhnya makna mukallam itu? Perlu diketahui sebelumnya bahwa ungkapan “Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata langsung dengan mereka” dan “Allāh meninggikan sebagian di antara mereka beberapa derajat” adalah satu kesatuan, karena ḥarf «و» di sini mengsignifikasikan مطلق الجمع (kombinasi absolut). Jadi, para rasul yang ditinggikan itu adalah karena Allāh bercakap-cakap langsung dengan mereka, dan taklīm Allāh ini pasti akan melahirkan pengangkatan derajat. Kedua hal ini, meskipun sejatinya satu, adalah faktor mengapa Allāh memuliakan sebagian dari antara para rasul di atas yang lain. Diagramnya adalah sebagai berikut:
Lantas, apakah tafḍīl atau pegutamaan yang lahir dari taklīm Allāh yang melahirkan Raf‘ Darajah itu? Al-‘Allāmah al-Alūsī menyatakan:
و قيل؛ المراد التفضيل بالشرائع ، منهم من شرع و منهم من لم يشرع
“Dan dikatakan: Maksud dari tafdhīl adalah dengan membawa syariat. Di antara mereka ada yang membawa syariat, di antara mereka ada yang tidak bawa.”
Sekarang kita fokus pada ḥadīṡ syafā‘at. Dalam matan al-Bukhārī disebutkan mengenai Nūḥ a.s. «أول رسول بعثه الله إلى أهل الأرض», “Rasūl pertama yang Allāh bangkitkan kepada penduduk bumi.”[11]
Yang menarik adalah, ibnu Khuzaymah menyebutkan suatu ḥadīṡ yang mirip dengan ḥadīṡ tersebut tetapi menggunakan «فإنه أول الأنبياء»—“Karena beliau adalah yang pertama di antara para nabī”[12]—berkenaan dengan Nūḥ a.s., demikian juga al-Bazzār dalam al-Baḥr az-Zakhkhār.[13]
Dalam al-Fatḥ al-Kabīr, ada ‘zā’idah’ dari Ibnu ‘Asākir bahwa «أول نبي أرسل نوح»—“Nabī pertama yang diutus adalah Nūḥ”[14]—pun tersebut dalam Tafsīr Ibnu Abī Ḥātim.[15]
Dalam Musnad Aḥmad disebutkan «رأس النبيّين»—“Kepala para nabī.”[16]
Jadi, Nūḥ a.s. tidaklah mutlak seorang rasul saja, tetapi juga seorang nabi. Namun, mengapa beliau disebut sebagai nabi atau rasul pertama sedangkan kita mengetahui bahwa Ādam a.s.-lah nabi atau rasul pertama?
Kuncinya sebenarnya terletak pada kata «إلى أهل الأرض». Ini menunjukkan bahwa Nūḥ a.s. adalah nabi yang pertama kali diutus ketika manusia mulai terpencar ke seluruh penjuru bumi. Kita membaca:
“Wahai Nūḥ! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka, kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.” (QS [Hūd] 11:49)
Al-Baiḍawī mengatakan berkenaan dengan umat-umat:
سموا أمما لتحزبهم أو لتشعب الأمم منهم
“Mereka dinamakan umat-umat karena terhimpunnya mereka ke dalam kelompok-kelompok atau tercerai-berainya suku-suku dari umat-umat yang terdapat di antara mereka.”
Satu hal yang hendaknya diingat adalah, ayat ini jelas-jelas menyatakan bahwa bukan hanya keturunan Nūḥ a.s. yang diselamatkan dan dilipatgandakan di muka bumi, tetapi keturunan-keturunan orang-orang beriman yang beserta beliau di dalam perahu juga dibuat maju dan dilipatgandakan. Hanya saja, karena keturunan Nūḥ a.s. menjadi lebih beradab dan mempunyai lebih banyak sumber daya material di tempat alokasi mereka setelah banjir besar, mereka tersebar ke negeri-negeri lain dan menaklukkan bangsa-bangsa yang kurang berperadaban dibanding mereka, yang seiring dengan berjalannya waktu, mereka terabsorbsi dengan keturunan Nūḥ a.s., dan sebagai konsekuensinya adalah mereka menjadi punah. Hal ini diisyaratkan pada:
“Dan Kami menjadikan keturunannya menjadi orang-orang selamat yang tersisa.” (QS [Aṣ-Ṣaffāt] 37:77)
Siapakah keturunan beliau itu? Di dalam ḥadīṡ ada terdapat:
“Abū Bakr Muḥammad ibnu ‘Abdil-Bāqī mengabarkan kepada kami; Abū Muḥammad al-Jauharī memberitakan kepada kami; Abū al-Qāsim ‘Abd-ul-‘Azīz ibnu Ja‘far ibnu Muḥammad al-Khiraqī memberitakan kepada kami; Aḥmad ibnu al-Ḥasan ibnu ‘Abd-il-Jabbār memberitakan kepada kami; Sulaimān ibnu ‘Umar ar-Raqī ibnu al-Aqa‘ memberitakan kepada kami; Muḥammad ibnu Salamah memberitakan kepada kami; dari Sulaimān ibnu Qaram, dari az-Zuhrī, dari Sa‘īd ibnu al-Musayyab, dari Ḥaḍrat Abū Hurairah (r.a.), dari Ḥaḍrat Nabī saw.:
“Nūḥ memiliki tiga orang anak: Sām, Ḥām, dan Yāfits. Sām adalah bapak orang-orang Arab, Persia, Romawi, penduduk Syām, dan penduduk Mesir. Yāfits adalah bapak orang-orang yang bermata sipit serta Ya’jūj-dan-Ma’jūj. Ḥām adalah bapak dari orang-orang yang berkulit hitam ini (Sudan).”[17]
Ketiga anak nabi Nūḥ a.s. ini sudah ada sebelum banjir besar dan mereka menyertai beliau di dalam perahu. Ibnu Katsīr berkata dalam al-Bidāyah:
و الصحيح أن أولاده الثلاثة كانوا معه في السفينة ، هم و نساؤهم و أمهم
“Dan telah ṣaḥīḥ bahwa ketiga anak beliau berada bersama beliau di dalam perahu. Mereka, istri-istri mereka, dan ibu mereka.”
Berdasarkan riwayat-riwayat ini, terbuktilah sudah bahwa maksud penyebutan Nūḥ a.s. sebagai nabi atau rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi adalah karena di masa beliau-lah umat manusia mulai tersebar dan terpencar ke seluruh bumi, meskipun ini benar bahwa sudah terdapat suku-suku aboriginal di pelosok-pelosok dunia.
Satu hal lagi yang mendukung pendapat yang saya kemukakan adalah ḥadīṡ Nabī saw. tentang Dajjāl. Dalam Sunan Abī Dāwūd ada tertulis:
إنه لم يكن نبي بعد نوح إلا وقد أنذر الدجال قومه
“Tidak ada seorang pun nabi setelah Nūḥ kecuali ia telah memperingatkan kaumnya tentang Dajjāl.”[18]
Pertanyaannya adalah, mengapa nabi-nabi sebelum Nūḥ a.s. tidak memperingatkan kaumnya tentang Dajjāl? Jawabannya adalah karena Nūḥ a.s. adalah nabi pertama yang kaumnya tersebar dan tersiar ke seluruh dunia, dan beliau pun pasti mengetahui akan hal itu. Maka dari itu, beliau mewasiatkan kaum beliau supaya berhati-hati dan waspada terhadap kedatangan Dajjāl yang disifatkan sebagai berikut:
فأخرج فأسير في الأرض فلا أدع قرية إلا هبطتها في أربعين ليلة . غير مكة وطيبة
“Maka, aku akan keluar dan menjelajahi bumi. Aku tidak akan meninggalkan satu kota pun melainkan aku menetap di dalamnya selama empat puluh malam, selain Makkah dan ayyibah (Madīnah).”[19]
Seorang nabi adalah orang yang mendapat kabar-kabar gaib dari al-adhrah al-Ilāhiyyah. Kewajibannya adalah menyampaikan kabar-kabar itu kepada umatnya, baik yang berupa kabar suka maupun kabar pertakut. Nūḥ a.s. telah mengetahui bahwa suatu saat keturunan dan umat beliau akan tersebar ke seluruh dunia. Oleh sebab itu, beliau mewanti-wanti mereka akan kedatangan Dajjāl pada suatu zaman nanti. Seandainya beliau mengetahui bahwa keturunan dan umat beliau tidak akan tersebar ke berbagai negeri, apalah gunanya peringatan beliau? Apalah faedahnya mendeskripsikan Aceh kepada seseorang yang hendak berpetualang ke Irian?
5.                  JAWABAN untuk nomor ini sudah tercakup di dalam jawaban nomor kedua, jadi tidak perlu diulangi lagi.
SELAIN kelima argumentasi di atas, sebenarnya masih ada beberapa argumentasi lain yang sering dipergunakan sebagai bukti bahwa nabi dan rasul adalah dua personifikasi yang berbeda. Salah satunya adalah sebuah ḥadīṡ panjang yang diriwayatkan oleh Ḥaḍrat Abū Dzarr al-Ghifārī r.a. di dalam Ṣaḥīḥ ibnu Ḥibbān[20] bahwa jumlah para nabi adalah seratus duapuluh ribu, sedangkan jumlah para rasul adalah tiga ratus tigabelas orang. Dalam Syu‘ab al-Īmān[21] disebutkan seratus duapuluh empat ribu nabi, demikian juga terdapat dalam al-Muntazham Fī Tārīkhil-Mulūk Wal-Umam.[22]
Ḥadīṡ di atas sesungguhnya ḍa‘īf jiddan, sangat lemah. Di dalam sanādnya ada Ibrāhīm ibnu Hisyām ibnu Yaḥyā ibnu Yaḥyā al-Ghassānī ad-Dimasyqī. ibnu Abī Hātim menjulukinya “Kadzdzāb” dalam al-Jarḥ Wa at-Ta‘dīl. Ad-Dzahabī menyebutkan dalam al-Mīzān bahwa ia adalah matrūk, yang ditinggalkan.
Ḥadīṡ ini juga diriwayatkan dari Yaḥyā ibnu Sa‘īd al-Qursyī dalam as-Sunan al-Kubrā[23] oleh al-Baihaqī dan al-Ḥilyah oleh Abū Nu‘aim[24]. Ḥadīṡ ini ḍa‘īf seperti yang disebutkan oleh ibnu ‘Adī dalam al-Kāmil dan ibnu Ḥibbān dalam al-Majrūḥīn.
Ibn ‘Adī berkata:
يحيى بن سعيد يعرف بهذا الحديث ، و هذا حديث منكر من هذا الطريق عن ابن جريح ،  و هذا الحديث ليس له من الطرق إلا رواية أبي إدريس الخولاني و القاسم ابن محمد عن أبي ذر و الثالث حديث ابن جريح ، و هذا أنكر الروايات
“Yaḥyā ibnu Sa‘īd dikenal dengan ḥadīṡ ini. Dan ini adalah ḥadīṡ munkar dari jalan ibnu Juraiḥ. Dan ḥadīṡ ini tidak memiliki jalur lain kecuali riwayat Abū Idrīs al-Khūlānī, al-Qāsim ibnu Muḥammad dari Abū Dzarr, dan yang ketiga adalah ḥadīṡ ibnu Juraiḥ. Dan ini adalah semunkar-munkarnya riwayat.”
Ibn Ḥibbān berkata:
شيخ يروي عن ابن جريح المقلوبات ، و عن غيره من الثقات المزلقات ، لا يحل الاحتجاج به إذا انفرد
“Dia adalah seorang syaikh yang meriwayatkan banyak ḥadīṡ yang terbalik-balik dari ibnu Juraiḥ juga dari iqah-iqah lain yang acap kali menggelincirkan. Tidak boleh berhujjah dengannya jika dia bersendirian dalam meriwayatkan.”
Ḥadīṡ ini juga diriwayatkan oleh al-Imām Aḥmad dalam Musnad[25] melalui jalur al-Mas‘ūdī, dengan tidak menyebut jumlah para nabī. Ini pun ḍa‘īf jiddan karena ‘Ubaid ibnu al-Khasykhāsy adalah seorang yang majhūl dan Abū ‘Umar ad-Dimasyqī seorang yang ḍa‘īf. Al-Mas‘ūdī sendiri, menurut ibnu Ḥajar al-Haitsamī dalam Majma‘ al-Baḥrain, adalah seorang yang iqah, namun berikhtilā (kacau).
Al-Imām Aḥmad juga menyebutkan satu ḥadīṡ yang mirip dengan ḥadīṡ di atas dengan rawī-rawī yang sama pula, hanya saja Wakī‘ di sini digantikan oleh Yazīd ibnu Hārūn[26]. Bedanya adalah jumlah rasul yang disebut di sini adalah tiga ratus limabelas orang. Demikian juga tersebut dalam Musnad aayālisī[27], juga dalam al-Baḥr az-Zakhkhār dengan menyebut bahwa para nabi-lah yang berjumlah tiga ratus limabelas orang[28]. Pun Al-Baihaqī menyebut ḥadīṡ yang mirip dalam Syu‘ab al-Īmān[29].
An-Nasafī dalam Baḥr al-Kalām menyebutkan angka yang lebih fantastis lagi bahwa menurut beberapa kabar, jumlah para nabi adalah satu juta dua ratus ribu. Setelah menjelaskan riwayat-riwayat yang saling berselisih, beliau menjelaskan:
“Keselamatan dalam masalah ini bahwa engkau berkata, ‘Aku beriman kepada Allāh dan segala apa yang datang dari sisi-Nya. Serta aku beriman kepada segenap nabi dan rasul.’ Hingga engkau tidak beritiqad bahwa seorang yang bukan nabi adalah nabi dan seorang nabi adalah bukan nabi.”
Masih ada lagi beberapa yang dijadikan sebagai dalil untuk mensahkan bahwa nabi dan rasul adalah dua pribadi yang berlainan. Mari kita simak ḥadīṡ-ḥadīṡ itu:
Pertama kita disuguhkan dengan sebuah riwayat panjang dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Di sini hanya akan disebutkan secara parsial saja yang langsung mengena dengan topik pembahasan:
عرضت علي الأمم فأخذ النبي يمر معه الأمة و النبي يمر معه النفر و النبي يمر معه العشرة و النبي يمر معه الخمسة و النبي يمر وحده
“Ditampakkan kepadaku umat-umat. Terlihat seorang nabi berjalan sedang bersamanya ada satu umat. Dan ada juga seorang nabi berjalan sedang bersamanya ada satu kelompok. Dan ada juga seorang nabi berjalan sedang bersamanya ada sepuluh orang. Dan ada juga seorang nabi berjalan sedang bersamanya ada lima orang. Dan ada juga seorang nabi yang berjalan sendirian.”[30]
Lagi:
عرضت علي الأمم فجعل يمر النبي معه الرجل والنبي معه الرجلان والنبي معه الرهط والنبي ليس معه أحد
“Ditampakkan kepadaku umat-umat. Terlihat seorang nabi berjalan sedang bersamanya ada seorang laki-laki. Dan ada juga seorang nabi berjalan sedang bersamanya ada dua orang laki-laki. Dan ada juga seorang nabi berjalan sedang bersamanya ada satu golongan. Dan ada juga seorang nabi berjalan sedang bersamanya tidak ada siapa pun.”[31]
Lagi:
عرضت علي الأمم فرأيت النبي ومعه الرهيط والنبي ومعه الرجل والرجلان والنبي ليس معه أحد
“Ditampakkan kepadaku umat-umat. Maka aku melihat seorang nabi yang bersamanya ada satu golongan, seorang nabi yang bersamanya ada seorang dan dua orang laki-laki, dan seorang nabi yang tidak ada siapa pun bersamanya.”[32]
Dengan ḥadīṡ-ḥadīṡ ini, mereka berpendapat bahwa seorang nabi bisa aja tidak mempunyai pengikut sama sekali. Namun seorang rasul pasti memiliki pengikut. Benarkah demikian?
Dalam ḥadīṡ-ḥadīṡ lain disebutkan bahwa seorang nabi pasti memiliki para sahabat dan ḥawārī. Kita membaca:
ما من نبي بعثه الله في أمة قبلي إلا كان له من أمته حواريون وأصحاب يأخذون بسنته ويقتدون بأمره
“Tidak ada seorang nabi pun yang Allāh bangkitkan di antara umat sebelumku melainkan ia memiliki para sahabat dan ḥawārī dari umatnya yang senantiasa berpegang pada sunnahnya serta memimpin dengan perintahnya.”[33]
Lagi:
لم يكن نبي قط إلا له في أمته حواريون من أصحابه يتبعون أمره ويهتدون بسنته
“Tidak ada sama sekali seorang nabi pun kecuali dia memiliki para ḥawārī yang senantiasa mengikuti perintahnya dan mendapat petunjuk berkat sunnahnya dari kalangan para sahabatnya yang terdapat di dalam umatnya.”[34]
Lagi:
لم يكن نبي قط إلا وله من أصحابه حواري وأصحاب يتبعون أثره ويقتدون بهديه
“Tidak ada sama sekali seorang nabi pun kecuali dia memiliki paling tidak seorang ḥawārī dari antara para sahabatnya serta para sahabat yang senantiasa mengikuti aarnya dan memimpin dengan petunjuknya.”[35]
Lagi:
ما بعث الله نبيآ إلا له حواري فذكر الخلفآء
“Allāh tidak pernah membangkitkan seorang nabi pun kecuali ia paling tidak memiliki seorang ḥawārī’. Lalu beliau menyebutkan khalīfah-khalīfah.”[36]
Ḥadīṡ ini juga dinukil oleh Ibnu ‘Asākir dalam At-Tārīkh.[37]
Setelah menyimak ḥadīṡ-ḥadīṡ ini, kita mengetahui bahwa wajib hukumnya, dan memang demikian adanya, bagi seorang nabi untuk memiliki pengikut, meski hanya satu orang saja. Seorang nabi pasti memiliki sejumlah sahabat, dan dari antara mereka ada beberapa ḥawārī yang merupakan teman-teman dekat serta para pemegang rahasia dan kepercayaan sang nabī. Dari antara mereka inilah yang nantinya akan meneruskan tugas dan perjuangan nabi tersebut dengan dipilih sebagai khalīfah.
Lalu, bagaimana dengan ḥadīṡ-ḥadīṡ yang menyebut bahwa ada seorang nabi yang akan berjalan sendirian di hari kiamat? Perlu diingat bahwa ḥadīṡ-ḥadīṡ itu diceritakan oleh Ḥaḍrat Nabī saw. dalam rangkaian peristiwa Isrā’ yang beliau alami. Dalam redaksi At-Tirmidzī[38] dan An-Nasā’ī[39] kita membaca:
لمآ أسري بالنبيّ صلّى الله عليه وسلّم
“Ketika Nabī saw. mengalami peristiwa Isrā’.”
Oleh karena itu, kata yang beliau pergunakan adalah «عرضت علي الأمم», yang menurut Ibnu Manẓūr berarti «أراه إياه», “Menampakkan atau memperlihatkan kepadanya.” Dan ini bersesuaian dengan ayat:
“…Dan tidaklah Kami jadikan ru’yā yang Kami tampakkan kepada engkau kecuali sebagai percobaan bagi manusia…” (QS [Banī Isrā’īl] 17:61)
Kita sudah sangat familiar dengan pembahasan Isrā’ ini. Menurut al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar, Isrā’ di sini bukanlah isrā’ yang terjadi di Makkah ketika pintu-pintu langit dibukakan satu persatu dan Nabī saw. bertemu dengan para nabi, serta hal-hal lainnya. Melainkan, Isrā’ ini terjadi di Madīnah setelah Hijrah. Al-Ḥāfiẓ juga menerangkan bahwa kejadian ini merupakan dalil yang sah dan membenarkan pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa Isrā’ terjadi beberapa kali (ta‘addud). Namun tetap, menurutnya, bahwa Isrā’ ini pun terjadi di saat Nabi saw. tidur. Karenanya, beliau tidaklah melihat dengan mata zahir, tetapi tepat seperti apa yang dinarasikan oleh Al-Qur’ān:
“Dan hati tidaklah berdusta tentang apa yang ia lihat.” (QS [An-Najm] 53:12)
Karena merupakan sebuah ru’yā, maka ḥadīṡ-ḥadīṡ di atas tidak bisa diartikan secara letterlijk. Hal-hal yang kontradiktif harus dinyatakan dalam bentuk ta’wīl (takwil).Al-Jurjānī dalam at-Ta‘rīfāt menyebutkan bahwa takwil secara bahasa bermakna ‘kembali,’ sedangkan secara istilah bermakna mengalihkan lafaz dari maknanya yang zahir kepada makna lain (batin) yang terkandung di dalamnya apabila makna yang lain itu sesuai dengan al-Qur’ān dan as-Sunnah. Al-Ghazālī dalam al-Musaṣfā malah menuturkan bahwa ta’wīl menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditunjukkan oleh lafaz ẓahir. Ingatlah bahwa rukya para nabi adalah wahyu yang ṣādiq dan ṣāliḥ. Persoalannya hanya bagaimana hal itu ditakwilkan dan dita‘bīrkan sesuai dengan kaedah-kaedah al-Qur’ān dan as-Sunnah.
Ibn Sirīn mengutip ḥadīṡ bahwa «إذا أشكل عليكم الرؤيا فخذوا الأسمآء», “Jika kamu kesulitan dalam menakwilkan rukya, maka ambillah nama-nama”[40]. Ini adalah keterangan yang sangat jelas untuk kita. Dalam ḥadīṡ-ḥadīṡ yang menceritakan tentang Isrā’ di atas, kita disuguhi suatu kenyataan bahwa ada seorang nabi yang berjalan sendirian. Ada juga yang berjalan bersama seorang laki-laki, dua orang, lima orang, sepuluh orang, dan seterusnya. Ini merupakan suatu perselesihan dengan ḥadīṡ yang mengatakan bahwa setiap nabi pasti memiliki paling tidak satu ḥawārī. Bagaimana kita menyingkronisasinya? Menurut hemat saya, kesulitan itu terletak pada kata «الرجل». Dari kata inilah akan terbentuk kata-kata «الرجلان, الخمسة, الرهيط, العشرة, الرهط, النفر», dan terakhir «الأمة». Bila kita mengartikan «الرجل» secara harfiah, yakni seorang laki-laki, maka kita akan menemukan kontradiksi. Tetapi, berdasarkan ḥadīṡ Ibnu Sirīn di atas, jika kita mendapatkan kesulitan, yang kontradiksi adalah salah satu di antaranya, maka kita harus mengambil arti dari sisi yang lain. Saya berpendapat bahwa kata «الرجل» di sini bermakna «الرجلان»(ar-Rajlān) yang memiliki arti «الجماعة». Dan kata «الجماعة» ini merujuk kepada apa yang disebut dalam ḥadīṡ:
وكان النبي يبعث إلى قومه خاصة ، وبعثت إلى الناس عامّة
“Dahulu seorang nabi dibangkitkan hanya untuk kaumnya saja, tetapi aku dibangkitkan untuk seluruh umat manusia.”[41]
Setiap nabi memiliki kaum. Kaum itu bisa terdiri dari satu qabilah saja, atau gabungan beberapa qabilah. Kata «الرجل» (satu orang laki-laki) mengindikasikan bahwa nabi yang berjalan bersama dengannya hanya memiliki satu qabilah yang merupakan bagian dari satu kaum yang besar. Demikian juga kata «الرجلان» mengindikasikan bahwa nabi itu memiliki dua qabilah yang juga masih dalam lingkup satu kaum yang besar. Kata «الخمسة» mengindikasikan bahwa nabi itu membawahi lima qabīlah. Kata «الرهيط» adalah taṣghīr dari «الرهط» sebutan untuk suatu kumpulan manusia yang berjumlah kurang dari sepuluh. Seorang nabi yang «الرهيط» berjalan bersamanya, berarti ia memiliki kurang dari sepuluh qabilah. Seorang nabi yang «العشرة» berjalan bersamaan dengannya berarti ia diutus untuk sepuluh qabīlah. Kata «الرهط» mengindikasikan suatu kumpulan manusia dari tigapuluh atau tujuhpuluh sampai dengan sepuluh nabi yang berjalan bersamanya berarti memiliki jumlah qabilah demikian. Kata «النفر» bermakna «المجمع من الناس» “Kumpulan yang besar dari sekelompok manusia.” Puncak dari semuanya adalah yang bermakna «العدد الكثير» “Jumlah yang banyak.” Nah, seusai kita mengetahui satu per satu makna dari kata-kata itu, lalu bagaimanakah penjelasan implementatifnya?
Seorang nabi yang diutus kepada suatu umat, yang merupakan gabungan yang besar dari banyak qabilah, biasanya adalah nabi musyarri‘ atau bisa juga seorang nabi yang bertugas memelihara dan membimbing umat nabi musyarri‘ itu secara keseluruhan. Misalnya, nabi ‘Īsā a.s. yang diutus kepada dua belas qabilah Bani Israil yang sejatinya merupakan satu umat dari seorang nabi musyarri‘, yakni nabi Mūsā a.s.. Nabi-nabi yang hanya diutus kepada satu, dua, lima, atau sepuluh qabilah pasti bukan merupakan nabi musyarri‘, melainkan hanya menjalankan syariat seorang nabi musyarri‘, dan itupun terbatas dan tidak menyeluruh kepada satu umat secara penuh dan keseluruhan. Misalnya nabi Yaḥyā a.s. yang diutus hanya kepada dua qabilah Bani Israil di Palestina pada zaman beliau, Yehuda dan Benyamin, serta beberapa anggota Lewi dan Simeon, untuk menyiarkan kabar suka akan kedatangan Al-Masīḥ a.s.. Lantas, bagaimana dengan nabi yang berjalan sendirian sebagaimana tersebut dalam ḥadīṡ-ḥadīṡ di atas?
Hal itu berarti bahwa nabi yang demikian itu merupakan seorang nabi pengikut dan pembantu yang hidup sezaman dengan seorang nabi musyarri‘. Ia tidak memiliki satu qabīlah secara partikular dan spesifik karena ia sejatinya tergolong di dalam umat nabi musyarri‘ itu. Ia dibangkitkan dan diutus sebagai pembantu bagi nabi musyarri‘ itu. Misal yang konkrit adalah nabi Hārūn a.s. yang diutus untuk membantu nabi Mūsā a.s.. Kita membaca dalam Kitābu′l-Lāh:
“Dan jadikanlah seorang wazīr (pembantu/penolong) untukku dari antara keluargaku. Yaitu Hārūn, saudaraku.” (QS [āhā] 20:30—31)
Takwil ini sama sekali tidak bertentangan dengan al-Qur’ān dan as-Sunnah. Justru menghilangkan kerancuan dan kontradiksi antara ḥadīṡ-ḥadīṡ yang mengatakan bahwa ada nabi yang berjalan sendirian (tidak memiliki pengikut sedikit pun) dengan ḥadīṡ-ḥadīṡ yang mengatakan bahwa paling tidak ada seorang pengikut bagi setiap nabi. Malahan, ini adalah takwīl yang kuat dan benar, sesuai dengan al-Qur’ān, as-Sunnah, siyāq dan sibāq ḥadīṡ.        
و اٰخر دعوانآ أن الحمد لله ربّ السّمٰوٰت العلىتم بمننه و كرمه
———
CATATAN Kaki
[1]       Keterangan bahwa ‘basmalah’ adalah ayat pertama dari setiap sūrah dalam Al-Qur’ān sudah saya bahas dalam [postingan] Bahasa Inggris di blog saya ini:
[2]       Ṣaḥīḥ Muslim, “Kitāb Ṣalāt al-Mufassirīn, Bāb Islāmu ‘Amr ibnu ‘Abasah,” nomor 832.
[3]       Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, “Kitābu’l-Wuḍū’, Bāb Faḍlu Man Bāta ‘Alā’l-Wuḍū’,” nomor 244.
[4]       Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, “Kitābu’t-Tafsīr, Bāb Qauluhu «و الرجز فاهجر», nomor 4926.
[5]       Ṣaḥīḥ Muslim, “Kitābu’l-Masājid Wa Mawāḍi‘’ṣ-Ṣalāt,” nomor 523.
[6]       Ṣaḥīḥ Ibnu Ḥibbān, “Kitābu’t-Tārīkh, Bāb Bad’ al-Waḥy, Dzikr al-Ikhbār ‘Ammā Kāna Baina Ādam Wa Nūḥ Ṣalawātu’l-Lāh ‘Alayhimā Mina’l-Qurūn,” nomor 6190.
[7]       Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, 1/151.
[8]       Tārīkh Madīnatu’d-Dimasyq, 7/445.
[9]       Al-Mu‘jam al-Ausa, “Bābu’l-‘Ain, Man Ismuhu’l-‘Abbās,” nomor 4259.
[10]     Al-Mu‘jam al-Ausa, “Bābu’l-Mīm, Mas Ismuhu Muḥammad,” nomor 7335.
[11]     Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, “Kitābu’t-Tafsīr, Bāb Qaulu’l-Lāhi Ta‘ālā «و علم آدم الأسماء كلها», nomor 4776.
[12]     At-Tauḥīd Wa Ibātu Ṣifāti Rabbi ‘Azza Wa Jalla, nomor 459.
[13]     Al-Baḥr az-Zakhkhār, Musnad Ḥaḍrat Anas ibnu Mālik r.a., nomor 6223.
[14]     Al-Fatḥu’l-Kabīr, 1/471.
[15]     Tafsīr ibnu Abī Ḥātim, Tafsīr Sūrah al-A‘rāf, “Bāb Qauluhu «لقد أرسلنا نوحا إلى قومه»,” nomor 8622.
[16]     Musnad Aḥmad, Musnad Ḥaḍrat Anas ibnu Mālik r.a., nomor 13590.
[17]     Tārīkh Madīnat ad-Dimasyq, 62/277.
[18]     Sunan Abī Dāwūd, “Kitāb as-Sunnah, Bāb Fī’d-Dajjāl,” nomor 4756.
[19]     Ṣaḥīḥ Muslim, “Kitābu’l-Fitan, Bāb Fī Qiṣṣat al-Jassāsah,” nomor 2942.
[20]     Ṣaḥīḥ ibnu Ḥibbān, “Kitāb al-Birr Wa al-Ihsān, Dzikr al-Istiḥbāb li al-Mar’i,” nomor 361.
[21]     Syu‘ab al-Īmān, Bāb Fī al-Īmān Bi Rusuli’l-Lāh Ṣalawātu’l-Lāh ‘Alaihim, nomor 131.
[22]     Al-Muntaẓam Fī Tārīkh al-Mulūk Wa’l-Umam, 2/142.
[23]     Sunan al-Baihaqī, “Kitābu’s-Siyar, Bāb Mubtadi’a’l-Khalq,” nomor 17711
[24]     Ḥilyat al-Auliyā’, 1/166—168
[25]     Musnad Aḥmad, Musnad al-Anṣār, nomor 21546.
[26]     Ibid, nomor 21552.
[27]     Musnad Abī Dāwūd aayālisī,Musnad Abī Dzarr, nomor 480.
[28]     Al-Baḥru’z-Zakhkhār, Musnad Abī Dzarr, nomor 4034.
[29]     Syu‘abu’l-Īmān, “Bāb Fī’ṣ-Ṣiyām,” nomor 3576.
[30]     Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ar-Riqāq, Bāb Yadkhulu al-Jannah Sab‘ūna Alfan Bi Ghayri Hisāb, nomor 6541.
[31]     Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, “Kitābu’ibb, Bāb Man Lam Yariq,” nomor 5752.
[32]     Ṣaḥīḥ Muslim, “Kitāb al-Īmān, Bāb ad-Dalīl ‘alā dukhūli awā’ifi’l-Muslimīn al-Jannata bi ghairi ḥisāb wa lā ‘adzāb,” nomor 220.
[33]     Ṣaḥīḥ Muslim, “Kitābu’l-Īmān, Bāb Bayānu Kaun an-Nahy ‘Ani’l-Munkar mina’l-Īmān,” nomor 50.
[34]     Al-Mu‘jam al-Ausa, “Bāb al-Mīm man ismuhu mas‘adah,” nomor 9103.
[35]     Musnad Aḥmad, Musnad Ḥaḍrat ‘Abdu’l-Lāh ibnu Mas‘ūd r.a., nomor 4402.
[36]     At-Tārīkh al-Kabīr, “Bāb Ismā‘īl,” nomor 334.
[37]     Tārīkh Madīnatu’d-Dimasyq, 31/9.
[38]     Al-Jāmi‘u’l-Kabīr, “Kitāb Shifat al-Qiyāmah wa’r-Raqā’iq wa’l-Wara‘ ‘an Rasūli’l-Lāh ṣalla’l-Lāhu ‘alaihi wa sallam,” nomor 2446.
[39]     As-Sunan al-Kubrā, “Kitābu’ibb, Bāb al-Kayy,” nomor 7560.
[40]     Muntakhab al-Kalām Fī Tafsīr al-Aḥlām, halaman 16.
[41]     Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, “Kitāb at-Tayammum, Bāb at-Tayammum,” nomor 335.
DAFTAR Pusaka
Ad-Dimasyqī, Abū al-Qāsim ‘Alī ibnu al-Ḥasan. 1997 M/1418 H. Tārīkh Madīnat ad-Dimasyq v. 7. Beirut: Dār al-Fikr
Ad-Dimasyqī, Abū al-Qāsim ‘Alī ibnu al-Ḥasan. 1997 M/1418 H. Tārīkh Madīnat ad-Dimasyq v. 31 Beirut: Dār al-Fikr
Ad-Dimasyqī, Abū al-Qāsim ‘Alī ibnu al-Ḥasan. 1997 M/1418 H. Tārīkh Madīnat ad-Dimasyq v. 62. Beirut: Dār al-Fikr
Ad-Dimasyqī, Abū al-Fidā Ismā‘īl ibnu ‘Umar ibnu Katsīr. 1998 M/1419 H. Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah v. 1. Kairo: Hijr
Ad-Dimasyqī, Abū al-Fidā Ismā‘īl ibnu ‘Umar ibnu Katsīr. 1997 M/1418 H. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm v. 3. Riyādh: Dār Thayyibah
Adz-Dzahabī, Syams-ud-Dīn Muḥammad ibnu Aḥmad. 1995 M/1416 H. Mīzān al-I‘tidāl Fī Naqd ar-Rijāl v. 1. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah
Aḥmad, Ḥaḍrat Mirzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd. 2005 M/1426 H. At-Tafsīr al-Kabīr v. 5. London: asy-Syirkah al-Islāmiyyah
Aḥmad, Ḥaḍrat Mirzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd. 1998. The Holy Qur’ān With Translation And Commentary v. 2. London: Islām International Publications Limited
Aḥmad, Ḥaḍrat Mirzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd. 1998 M. The Holy Qur’ān With Translation And Commentary v. 3. London: Islām International Publications Limited
Aḥmad, Ḥaḍrat Mirzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd. 1998 M. The Holy Qur’ān With Translation And Commentary v. 4. London: Islām International Publications Limited
Aḥmad, Ḥaḍrat Mirzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd. 1998 M. The Holy Qur’ān With Translation And Commentary v. 5. London: Islām International Publications Limited
Aḥmad, Ḥaḍrat Mirzā Ghulām. 2007 M. A Misconception Removed. London: Islām International Publications Limited
Aḥmad, Ḥaḍrat Mirzā Ghulām. 2006 M. Divine Manifestations. London: Islām International Publications Limited
Aḥmad, Ḥaḍrat Mirzā Ghulām. 2005 M. The Will. London: Islām International Publications Limited
‘Alī, Maulawī Sher. 2004 M. The Holy Qur’ān: Arabic Text And English Translation. London: Islām International Publications Limited
Al-Alūsī, Abū al-Fadhl Maḥmūd. 1353 H. Rūḥu’l-Ma‘ānī Fī Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm Wa as-Sab‘al-Maānī v. 3. Beirut: Idārah aibā‘ah al-Munīriyyah
Al-Andalusī, Abū Ḥayyān Muḥammad ibnu Yūsuf. 1993 M/1413 H. Al-Baḥru’l-Muḥī v. 8. Beirut: Dāru’l-Kutub al-‘Ilmiyyah
Al-Andalusī, Abū Muḥammad ‘Abdu’l-Ḥaqq ibnu ‘Aiyyah. 2002 M/1423 H. Al-Muḥarrar al-Wajīz Fī Tafsīr al-Kitāb al-‘Azīz. Beirut: Dār ibnu Ḥazm
Al-Anṣārī. Ibnu Hisyām. 2000 M/1421 H. Mughnī al-Labīb ‘An Kutub al-A‘ārīb v. 3. Kuwait: as-Silsilah at-Turātsiyyah
Al-‘Asqalānī, Aḥmad ibnu ‘Alī ibnu Ḥajar. 2001 M/1421 H. Fatḥ al-Bārī Bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī v. 11. Riyāḍ: Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah Anā’ an-Nasyr
Al-‘Asqalānī, Aḥmad ibnu ‘Alī ibnu Ḥajar. 2008 m/1429 H. Tahdzīb at-Tahdzīb v. 1. Beirut: Mu’assasat ar-Risālah
Al-Baghdādī, Abū Bakr Aḥmad ibnu ‘Alī al-Khaīb. 2001 M/1422 H. Tārīkh Madīnat as-Salāmah v. 4. Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī
Al-Baiḍāwī, Abū al-Khair ‘Abdu’l-Lāh ibnu ‘Umar. 1998 M/1418 H. Anwār at-Tanzīl Wa Asrār at-Ta’wīl v. 3. Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turā al-‘Arabī
Al-Baihaqī, Abū Bakr Aḥmad ibnu al-Ḥusayn. 2003 M/1424 H. As-Sunan al-Kubrā v. 9. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah
Al-Baihaqī, Abū Bakr Aḥmad ibnu al-Ḥusain. 2000 M/1421 H. Syu‘ab al-Īmān v. 1. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah
Al-Baihaqī, Abū Bakr Aḥmad ibnu al-Ḥusain. 2000 M/1421 H. Syu‘ab al-Īmān v. 3. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah
Al-Bazzār, Abū Bakr Aḥmad ibnu ‘Amrū. 1997 M/1418 H. Al-Baḥr az-Zakhkhār v. 6. Madīnah: Maktabah al-‘Ulūm Wa al-Ḥikam
Al-Bukhārī, Abū ‘Abdi’l-Lāh Muḥammad ibnu Ismā‘īl. 1361 H. At-Tārīkh al-Kabīr v. 1. Hyderabad: Dā’irah al-Ma‘ārif al-‘Umāniyyah
Al-Bukhārī, Abū ‘Abdi’l-Lāh Muḥammad ibnu Ismā‘īl. 2006 M/1427 H. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Riyādh: Maktabah ar-Rusyd
Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid Muḥammad ibnu Muḥammad. 1413 H. Al-Mustaṣfā Min ‘Ilm al-Uṣūl. Madīnah: al-Jāmi‘ah al-Islāmiyyah
Al-Ḥanafī, Qāḍī al-Quḍāh Abū Su‘ūd ibnu Muḥammad. Tanpa tahun. Irsyād al-‘Aql as-Salīm Ilā Mazāyā al-Kitāb al-Karīm v. 3. Kairo: Maba‘ah as-Sa‘ādah
Al-Ḥanafī, Qāḍī al-Qudhāh Abū Su‘ūd ibnu Muḥammad. Tanpa tahun. Irsyād al-‘Aql as-Salīm Ilā Mazāyā al-Kitāb al-Karīm v. 5. Kairo: Mathba‘ah as-Sa‘ādah
Al-Hayamī, Syihāb-ud-Dīn Aḥmad ibnu Hajar. 1992 M/1413 H. Majma‘ al-Baḥrain Fī Zawā’id al-Mu‘jamayn. Riyāḍ: Maktabah ar-Rusyd
Al-Ibrāhīmī, Dr. Muḥammad aayyib. 2011 M/1432 H. I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm. Beirut: Dār an-Nafā’is
Al-Ishfahānī, Abū Nu‘aim Aḥmad ibnu ‘Abdi’l-Lāh. 2007 M/1428 H. Hilyat al-Auliyā Wa Thabaqāt al-Ashfiyā’ v. 1. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah
Al-Jurjānī, Abū Aḥmad ‘Abdu’l-Lāh ibnu ‘Adī. 1997 M/1418 H. Al-Kāmil Fī Ḍu‘afā’ ar-Rijāl v. 4. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah
Al-Jurjānī, Abū Aḥmad ‘Abdu’l-Lāh ibnu ‘Adī. 1997 M/1418 H. Al-Kāmil Fī Ḍu‘afā’ ar-Rijāl v. 9. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah
Al-Jurjānī, ‘Alī ibnu Muḥammad. 1985. At-Ta‘rīfāt. Beirut: Maktabah Lubnān
Al-Mishrī, Abū al-Faḍl Jamālu’d-Dīn ibnu Muḥammad. 1300 H. Lisān al-‘Arab v. 7. Beirut: Dār aṣ-Ṣādir
Al-Mizzī, Yūsuf ibnu ‘Abd-ir-Raḥmān. 2004 M/1425 H. Tadzhīb al-Kamāl Fī Asmā’ ar-Rijāl v. 1. Kairo: Dār al-Fārūq al-Ḥadīṡah
Al-Qanūjī, Nawwāb Ṣiddīq Ḥasan Khān. 1992 M/1422 H. Fatḥ al-Bayān Fī Maqāṣid al-Qur’ān v. 3. Beirut: al-Maktabah al-‘Aṣriyyah
An-Nasā’ī, Abū ‘Abd-ir-Raḥmān Aḥmad ibnu Syu‘aib. 2001 M/1421 H. As-Sunan al-Kubrā v. 7. Beirut: Mu’assasat ar-Risālah
An-Nasafī, Maymūn ibnu Muḥammad. 2000 M/1421 H. Baḥr al-Kalām. Damaskus: Maktabah Dār al-Farfūr
An-Naysābūrī, Abū al-Ḥusain Muslim ibnu Ḥajjāj. 1992 M/1412 H. Ṣaḥīḥ Muslim. Kairo: Dār al-Ḥadīṡ
An-Naysābūrī, Muḥammad ibnu Isḥāq ibnu Khuzaimah. 1988 M/1408. At-Tauḥīd Wa Ibāt Ṣifāt Rabb ‘Azza Wa Jalla. Riyāḍ: Dār ar-Rusyd
Ar-Rāghib, Abū al-Qāsim al-Ḥusain ibnu Muḥammad. 1999 M/1419 H. Al-Mufradāt Fī Gharīb al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Ma‘rifah
Ar-Rāzī, Fakhr-ud-Dīn ibnu al-‘Alā’. 1981 M/1401 H. Mafātīḥ al-Ghaib v. 5. Beirut: Dār al-Fikr
Ar-Rāzī, ibnu Abī Ḥātim. 1953 M/1372 H. Al-Jarḥ Wa at-Ta‘dīl v. 1. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah
Ar-Rāzī, ibnu Abī Ḥātim. 1997 M/1417 H. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm v. 5. Riyāḍ: Maktabah Nizār al-Bāz
As-Sijistānī, Abū Dāwūd Sulaimān ibnu al-Asy‘āts. 2009 M/1430. Sunan Abī Dāwūd v. 7. Damaskus: Dār ar-Risālah al-‘Ālamiyyah
As-Suyūī, Jalāl-ud-Dīn ‘Abd-ur-Rahmān ibnu Abī Bakr. 2003 M/1423 H. Ad-Durr al-Manūr Fī at-Tafsīr Bi al-Ma’ūr v. 5. Kairo: Markaz Hijr Li al-Buḥūts Wa ad-Dirāsāt al-‘Arabiyyah al-Islāmiyyah
As-Suyūī, Jalāl-ud-Dīn ‘Abd-ur-Raḥmān ibnu Abī Bakr. 1932 M/1351 H. Al-Fatḥ al-Kabīr Fī Ḍamm Ziyādat al-Jāmi‘ al-Kabīr v. 1. Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī
As-Suyūī, Jalāl-ud-Dīn ‘Abd-ur-Raḥmān ibnu Abī Bakr. 1994 M/1415 H. Tadrīb ar-Rāwī Fī Syarh Taqrīb an-Nawawī v. 1. Riyāḍ: Maktabah al-Kauar
At-Tamīmī, Muḥammad ibnu Ḥibbān. 1992 M/1422 H. Al-Majrūḥīn v. 1. Kairo: Dār al-Ma‘ārif
At-Tamīmī, Muḥammad ibnu Ḥibbān. 1992 M/1422 H. Al-Majrūḥīn v. 3. Kairo: Dār al-Ma‘ārif
At-Tamīmī, Muḥammad ibnu Ḥibbān. 1993 M/1414 H. Ṣaḥīḥ ibnu Ḥibbān v. 2. Beirut: Mu’assasat ar-Risālah
At-Tirmidzī, Abū ‘Īsā Muḥammad ibnu ‘Īsā. 1996. Al-Jāmi‘ al-Kabīr v. 4. Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī
Asy-Syaukanī, Muḥammad ibnu ‘Alī. 1994 M/1415 H. Fatḥ al-Qadīr al-Jāmi‘ Baina Faniyy ar-Riwāyah Wa ad-Dirāyah v. 2. Dār al-Wafā’: Lajnah at-Taḥqīq Wa al-Baḥ al-‘Ilmī
Asy-Syaybānī, Abū ‘Abdi’l-Lāh Aḥmad ibnu Ḥanbal. 1999 M/1420 H. Musnad Aḥmad v. 35. Beirut: Mu’assasat ar-Risālah
Asy-Syīrāzī, Abū Isḥāq Ibrāhīm ibnu ‘Alī. 1983 M/1403 H. At-Tabṣirah Fī Uṣūl al-Fiqh. Beirut: Dār al-Fikr
Aabarī, Abū Ja‘far Muḥammad ibnu Jarīr. 2001 M/1412 H. Jāmi‘ al-Bayān ‘An Ta’wīl Āyi al-Qur’ān v. 18. Kairo: Hijr
Aabarī, Abū Ja‘far Muḥammad ibnu Jarīr. 1969 M. Tārīkh ar-Rusul Wa al-Mulūk v. 1. Kairo: Dār al-Ma‘ārif
Aabrānī, Abū al-Qāsim Sulaimān ibnu Aḥmad. 1995 M/1415 H. Al-Mu‘jam al-Ausa v. 4. Kairo: Dār an-Nāsyir
Aabrānī, Abū al-Qāsim Sulaimān ibnu Aḥmad. 1995 M/1415 H. Al-Mu‘jam al-Ausa v. 7. Kairo: Dār an-Nāsyir
Aabrānī, Abū al-Qāsim Sulaimān ibnu Aḥmad. 1995 M/1415 H. Al-Mu‘jam al-Ausa v. 9. Kairo: Dār an-Nāsyir
Aaḥān, Dr. Mahmūd. 1415 H. Taysīr Musalaḥat al-Ḥadīṡ. Alexandria: Markaz al-Hady Li ad-Dirāsāt
Aayālisī, Sulaimān ibnu Dāwūd. 1999 M/1420 H. Musnad Abī Dāwūd aayālisī v. 1. Kairo: Hijr
Az-Zabīdī, Murtaḍā al-Ḥusain. 1965 M/1385 H. Tāj al-‘Urūs Min Jawāhir al-Qāmūs v. 1. Kuwait: Maba‘ah Ḥukūmat Kuwait
Aẓ-Ẓāhirī, ibnu Ḥazm. 1996 M/1416 H. Al-Fiṣal Fī al-Milal Wa an-Nihal v. 1. Beirut: Dār al-Ḥabīl
Farid, Malik Ghulam. 1987 M. Al-Qur’ān Dengan Terjemahan Dan Tafsir Singkat. Jakarta: Guna Bakti Grafika
Ibn ‘Arabī, asy-Syaikh al-Akbar Muy-id-Dīn. 1980 M/1400 H. Fuṣūs al-Ḥikam. Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī
Ibn Sirīn, Muḥammad. 2002 M/1423 H. Muntakhab al-Kalām Fī Tafsīr al-Aḥlām. Beirut: Dār al-Ma‘rifah
Ibn Zakariyyā, Abū al-Ḥusain Aḥmad ibnu Fāris. 1979 M/1399 H. Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah v. 3. Beirut: Dār al-Fikr
Lembaga Alkitab Indonesia. 2007 M. Alkitab. Jakarta: Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia
Mujamma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah. 2004 M/1425 H. Al-Mu‘jam al-Wasī. Kairo: Maktabah asy-Syurūq ad-Dauliyyah
Nazir, Qazi Mohammad. Tanpa tahun. Truth Prevails. Rabwah: Naẓīr Isyā‘at Wa Taṣnīf
Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’ān. 1998. Al-Qur’ān Dan Terjemahnya. 1986 M/1407 C. Bandung: Gemah Risalah Press

Tentang Penulis

Raja Pena