Kebangsaan

PEMUDA PENGGERAK PERUBAHAN

Pemuda

TIDAK terasa sudah 88 tahun sejak Kongres Sumpah di Jakarta –saat itu Batavia- dilaksanakan. Sejak hari itu, sumpah menjadi simbol pergerakan-pergerakan yang terjadi pada masa pra-kemerdekaan. Persatuan yang digelorakan oleh pada masa itu menghasilkan hasil terbesar; kemerdekaan pada tahun 1945.

Setiap tahunnya masyarakat Indonesia merayakan peringatan Sumpah Pemuda yang dirayakan pada tanggal 28 Oktober. Sumpah pemuda selalu menjadi reminder bahwa penggerak utama perubahan yang terjadi pada suatu , tergantung daripada para pemudanya.

Kongres Sumpah Pemuda pada saat itu dilaksanakan di Batavia selama dua hari, 27 dan 28 Oktober 1928. Kongres tersebut dihadiri oleh perwakilan-perwakilan pemuda, seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, Pemuda Muslim, dan lain sebagainya.

Salah satu pembahasan yang dibahas dalam kongres tersebut ialah mengenai pendidikan nasionalisme kepada anak-anak dalam rangka pelaksanaan awal pergerakan Indonesia menuju langkah kedepan. Langkah yang menuju ke satu tujuan dan menentukan nasib kita sekarang; kemerdekaan Indonesia.

Pemuda-pemuda pada zaman itu memang menjadi kisah inspiratif bagi pemuda dewasa ini terutama bagi penulis. Bagaimana sekumpulan pemuda yang bergabung di Batavia dapat melaksanakan suatu pertemuan yang amat megahnya hingga selalu menjadi perayaan dalam kalender tahunan Indonesia.

Keprihatinan

Pada zaman itu, pemuda adalah sekelompok anak muda yang mempunyai progress. Yang mana setiap pergerakan atau perbuatan akan mempunyai hasil. Akan berbeda kondisinya jika kita membicarakan mengenai kondisi-kondisi yang ada dalam jiwa pemuda Indonesia dewasa ini.

Pada saat penulis masih menjabat sebagai salah satu birokrat dalam organisasi kemahasiswaan di universitas penulis, penulis menemukan beberapa hal yang menarik, terutama tingginya sifat apatis yang hadir dalam diri mahasiswa/i. Baik karena tuntutan atau memang hadir karena diri sendiri.

Selain itu, sifat hedonisme dengan gaya sosialita kerap kali ditemui dalam masyarakat. Yang memprihatinkan ialah hal tersebut bukanlah dilakukan oleh orang yang sudah cukup umur, namun pemuda-pemudi dengan umur-umur remaja yang mana seharusnya mereka mengemban ilmu untuk kemajuan bangsa.

Kondisi-kondisi seperti ini –apatis, , hedonis- merupakan ancaman bagi pemuda-pemudi di Indonesia. Tidak adanya kepedulian antar sesama atau antar golongan, kurang memanusiakan manusia, tidak adanya tata krama adalah sebagian kecil dari permasalahan yang akan penulis bahas dalam tulisan kali ini.

Hal-hal dalam uraian tersebut menjadi alasan utama keprihatinan pihak pada seluruh lini terhadap pemuda. Acap kali para aktivis-aktivis bertanya kepada penulis mempertanyakan hakikat pemuda dan peran mahasiswa bagi negara yang sekarang terkikis dengan budaya yang menciptakan kenyamanan mereka dalam jangka waktu sementara.

 Penggambaran Toleransi

Tanpa kita sadari pemuda Indonesia dewasa ini telah kehilangan sifat toleransi antar sesama. Banyaknya kejadian-kejadian intoleransi yang berdasar isu SARA justru digerakkan, didorong serta didukung oleh para pemuda yang ada di Indonesia.

Seperti yang penulis lihat dan kaitkan dengan pergerakan yang akan dieksekusi pada tanggal 4 November 2016 nanti, banyak sekali pemuda-pemudi yang tersulut emosi karena termakan isu SARA itu sendiri, sangat disayangkan argumentasi yang dipegang tergolong lemah.

Apabila kita kaitkan toleransi dengan momen sumpah pemuda pada tahun 1928, sesungguhnya Batavia adalah sebuah icon toleransi yang terbilang besar. Bagaimana momen sumpah pemuda menyatukan pemuda-pemudi dari seantero nusantara untuk bersatu menyatakan sumpahnya untuk setia kepada negara.

Tidak memandang suku, agama, ras maupun golongan, pemuda-pemudi di Nusantara bergerak menuju Batavia untuk menggerakkan suatu perubahan. Yakni menggelorakan sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal persatuan dan kesatuan bangsa.

Penggerak Perubahan

Penerus pendiri jemaat islam ahmadiyah ke-II yakni Hazrat Mirza Basyir-ud-diin Mahmud Ahmad pernah berkata, bahwa “reformasi terhadap suatu bangsa tidak dapat dilakukan tanpa adanya perubahan dari pemuda-pemudi nya”. Sama seperti yang diucapkan Sukarno, “Beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia”

Dari dua petuah tersebut di atas, kita dapat melihat bagaimana peran pemuda dapat merubah nasib suatu bangsa. Sejak Indonesia merdeka, seluruh revolusi yang terjadi di negeri ini dipelopori oleh para pemudanya. Pemuda yang benar-benar bergerak demi kemajuan bangsa dan negara.

Jadi, apabila negara ini mempunyai tujuan untuk maju maka para pemuda yang ada di Indonesia harus mendorong negara ini untuk maju dengan segala kemampuan yang ia punya. Baiknya kesampingkan rasa egois, apatis dan lain sebagainya demi kemajuan bangsa dan negara.

Penulis berharap kedepannya pemuda-pemudi yang ada di negara ini dapat berkontribusi secara penuh, mengkhidmati hidupnya demi kemajuan bangsa dan negara. Bukan hanya mendorong golongannya untuk maju dengan cara menendang kelompok lain diluar golongannya, tapi dapat mengamalkan Bhineka Tunggal Ika demi kemajuan masyarakat banyak.

Tentang Penulis

Sadiq Adhetyo

Tinggalkan komentar